Biografi Susilo Wonowidjojo – Pengusaha Terkaya Indonesia Pemilik PT.Gudang Garam

Biografi Susilo Wonowidjojo – Dilansir dari majalah Forbes, Susilo Wonowidjojo menjadi orang terkaya di Indonesia nomor 4 dibawah Prajogo Pangestu dengan total kekayaan senilai US$6,6 miliar (Rp92,557 triliun). Susilo Wonowidjojo merupakan pemilik dari perusahaan rokok Gudang Garam yang dibangun oleh ayahnya bernama Surya pada tahun 1958.

Dibawah kepemimpinannya, Gudang Garam berhasil menjadi pabrik rokok yang terkenal dan terbesar di Indonesia. Lebih lengkapnya, simak informasi lengkap dalam biografi Susilo Wonowidjojo dalam artikel ini.

Baca Juga : Profil Prajogo Pangestu – Pengusaha Kaya Indonesia

Biodata Lengkap Susilo Wonowidjojo

Nama Lengkap : Susilo Wonowidjojo
Nama Lain : Cai Daoping
Tempat, Tanggal Lahir : Kediri, 18 November 1956
Pekerjaan : Pengusaha
Pasangan : Melinda Setyo
Anak : Indra Wonowidjojo, tiga lainnya dirahasiakan
Orang Tua : Surya Wonowidjojo (Ayah), Tan Siok Tjien (Ibu)
Saudara :

(1)Rahman Halim (Alm)
(2) Sigit Sumargo Wonowidjojo
(3) Wurniati Wonowidjojo
(4) Juni Setiati Wonowidjojo
(5) Sujati Wonowidjojo
(6) Suarto Wonowidjojo

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Profil Lengkap Susilo Wonowidjojo

Susilo Wonowidjojo (Cai Daoping) adalah pengusaha kelahiran Kediri, 18 November 1956 yang merupakan pengusaha keturunan Toonghoa yang mewarisi usaha ayahnya Surya Wonowidjojo (Tjoa Ing Hwie) seorang pengusaha rokok asal Fujian, China. Surya menetap di Sampang, Madura, sejak 1926, dan memulai usahanya sebagai pedagang keliling.

Lalu Surya pindah ke Kediri dan bekerja di pabrik rokok Cap 93 milik pamannya, Tjoa Kok Tjiang. Kemudian, pada usia 35 tahun, Surya membuat perusahaan rokok sendiri bersama 50 mantan karyawan pamannya.

Surya mendirikan pabrik rokok klobot dengan label Ing Hwie, yang merupakan cikal bakal perusahaan Gudang Garam. Pabrik tersebut ia dirikan pada pada 26 Juni 1958 di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi yang ia pimpin sendiri hingga akhir hayat.

Sepeninggal Surya, pabrik rokok berada dibawah kepemimpinan putra pertamanya bernama Tjoa To Hing atau Rachman Halim (kakak Susilo). Rachman Halim wafat pada 27 Juli 2008.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Setahun kemudian, Susilo yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden direktur ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Gudang Garam menggantikan kakaknya. Jauh sebelum kakaknya wafat, Susilo telah dipersiapkan sebagai sebagai pewaris dari PT Gudang Garam. Seperti pada tahun 1979, ia berperan penting mengembangkan mesin khusus untuk memproduksi rokok kretek. Kemudian tahun 2002, rokok kretek mild yang mengandung nikotin dan tar berkadar lebih rendah pertama hadir lewat hasil pikir Susilo.

Bersama rekan bisnisnya yang bernama Buana Susilo, Susilo Wonowidjojo merumuskan penemuan metode filter rokok dan mendapatkan hak paten di Amerika Serikat pada 2002. Riset ini menjelaskan cara pembuatan rokok saring dalam arah memanjang yang sedikitnya terdiri dari dua bagian saringan yang berbeda.

Ditangannya, PT Gudang Garam semakin dikenal sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan banyak jenis produk rokok Gudang Garam beredar di pasaran. Produksinya mencapai 70 miliar batang tiap tahun dengan pangsa pasar Gudang Garam bukan hanya di nasional, tetapi juga pangsa Internasional.

Hingga tahun 2013, ia mengelola setidaknya 208 hektar area produksi yang tersebar di Kediri dan Pasuruan. Selain itu Gudang Garam menguasai seperlima pasar tembakau di Indonesia dan memperkerjakan sekitar 36.000 pekerja.

Menurut Majalah Forbes, kekayaan Susilo Wonowidjojo mencapai angka US$6,6 miliar (Rp92,557 triliun), dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia tahun 2019.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Itulah informasi yang diberikan tentang Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Prajogo Pangestu – Kisah Sukses Sopir Angkot Jadi Pengusaha Kaya Indonesia

Profil Prajogo Pangestu – Prajogo Pangestu merupakan pendiri Barito Pacific Lumber yang memulai karirnya menjadi sopir angkot. Menurut majalah Forbes, Prajogo menjadi orang kaya di Indonesia nomor 3 setelah Eka Tjipta Widjaja. Prajogo Pangestu memulai karirnya menjadi pebisnis kayu pada 1970-an akhir.

Prajogo Pangestu merupakan pengusaha kelahiran Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1944, dengan nama Phang Djoem Phen. Prajogo terlahir dari keluarga miskin, sehingga Prajogo hanya menamatkan pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengubah nasib dengan merantau ke Jakarta. Namun, ia tidak terlalu beruntung hidup di ibu kota, karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Karena itulah, Prajogo memutuskan untuk kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Pada saat menjadi sopir angkutan umum, sekitar tahun 1960’an, Prajogo mengenal Bong Sun On alias Burhan Uray seorang pengusaha kayu asal Malaysia. Hingga pada tahun 1969, Prajogo bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group. Tujuh tahun kemudian, Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur kepada Prajogo.

Jabatan tersebut hanya dijalankan selama satu tahun, lalu ia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy. Dengan bermodal pinjaman dari BRI, yang kemudian berhasi dilunasi dalam setahun.

Ditangan Prajogo, CV Pacific Lumber Coy diubah menjadi PT Barito Pacific Lumber. Pada masa orde baru, perusahaan ini maju pesat menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia.

Perjalanan bisnisnya terus meningkat hingga ia bekerja sama dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Dibawah bendera Barito Group, bisnisnya berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, hingga perkayuan.

Di 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada 2008, perusahaan mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Baca Juga : Profil Lengkap Amry Gunakan – Pemilik Rabbani

Pada tahun 2011, Chandra Asri pun merger dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Berkat usahanya membangun bisnis, Prajogo masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2019, dengan total kekayaan sekitar US$7,6 miliar (Rp106,581 triliun). Kini, Barito Group dipegang oleh sang anak, yaitu Agus Salim Pangestu.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Prajogo Pangestu – Pengusaha Kaya Indonesia. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Ratna Sarumpaet – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Paling Lengkap

Profil Ratna Sarumpaet – Ratna Sarumpaet merupakan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang memulai karier dari dunia drama dan theater, ia berperan mulai dari penulis, pemain juga drama director. Ia juga banyak mengambil tema tentang HAM, perlawanan terhadap kekerasan pada wanita, dan kebebasan berpendapat dan berkumpul.

Seniman sekaligus aktivis HAM ini terkenal dengan pementasan monolog “Marsinah Menggugat” yang pernah dicekal di jaman Orde Baru. Pada 10 Maret 1998, seperti ditulis dalam akun facebooknya, ia memimpin demonstrasi Alinasi Pro Demokrasi untuk menuntut Presiden Soeharto mundur. Bahkan yang terbaru, pada 2016, ia juga sering mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dianggap sering menggusur pemukiman warga. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil lengkap Ratna Sarumpaet.

Baca Juga : Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK

Profil Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet merupakah kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara pada 16 Juli 1949 dan lebih akrab dipanggil Sarumpaet. Ia tumbuh dalam keluarga Kristen dan aktif secara politik di Sumatera Utara. Sarumpaet menjadi Mualaf setelah menikah dengan seorang pengusaha Arab-Indonesia, Achmad Fahmy Alhady.

Sarumpaet pernah berkuliah di Fakultas Teknik Arsitektur serta di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, namun ia tidak sempat menyelesaikan studinya karena lebih memilih dunia teater sebagai pilihan karirnya.

Pada tahun 1969, setelah belajar berteater di Bengkel Teater Rendra selama 10 bulan, ia kemudian mendirikan sebuah panggung teater bernama “Satu Panggung Merah” pada tahun 1974.

Vokal, kritis dan berani merupakan kesan pertama yang melekat pada sosok Ratna Sarumpaet. Ia sering berkutat di organisasi Sosial Kemasyarakatan demi membela nasib kaum-kaum yang terpinggirkan. Belakangan ini ia lebih dikenal sebagai seorang aktivis.

Pada pemilu 1997, Ratna bersama kelompok teaternya bergabung dalam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kampanye tersebut, di sepanjang jalan Warung Buncit, Ratna dan kawan-kawan mengusung sebuah keranda bertuliskan DEMOKRASI sambil mengumandangkan kalimat tahlil ‘La Illah haillallah’ dan mereka dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Akibat ulah tersebut, Ratna dan rombongannya ditangkap dan di interogasi selama 24 jam.

Baca Juga : Profil Lengkap Anies Baswedan 

Di tahun 90’an, Ratna juga dikenal sebagai aktivis yang terlibat dalam kasus Marsinah dan membela penderitaan rakyat Aceh yang terjebak perang antara TNI dan GAM. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah antara dirinya dengan administrasi pemerintahan Orde Baru kala itu.

Hingga akhirnya pada september 1997, Kepolisian RI menutup kasus pembunuhan Marsinah dengan alasan bahwa DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi. Namun, setelah penutupan kasus tersebut, Ratna menulis Monolog “Marsinah Menggugat”, yang dianggap provokatif, dan monolog tersebut mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

Pada akhir 1997, Ratna melakukan perlawanan bersama 46 LSM, Ratna membentuk sebuah kelompok bernama Siaga dan merupakan kelompok pertama yang secara terbuka menyerukan agar Soeharto turun dari jabatannya. Ketika sedang melakukan pertemuan dengan Siaga, Ratna bersama teman-temannya di tangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya dan di tahan di LP Pondok Bambu.

Saat kejadian tersebut, LP Pondok Bambu dikawal ketat karena mendapat kecaman dari mahasiswa yang ingin membebaskan Ratna. Setelah 70 hari ditahan, ia dibebaskan sehai sebelum Soeharto resmi lengser.

Pada tahun 2019, Ratna kembali tersandung kasus hukum dengan berbohong bahwa wajahnya babak belur akibat dipukuli oleh orang yang tidak bertanggung jawab.Pernyataan itu dianggap tudingan kepada lawan kubu politiknya.

Kasus tersebut merupakan salah satu kasus terbesar di tahun politik 2019. Akibat pernyataan bohong tersebut, ia divonis dua tahun penjara pada 11 Juli 2019. Namun pada 26 Desember 2019, ia dinyatakan bebas bersyarat setelah mendekam dari Lapas perempuan kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur, terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Baca Juga : Profil Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ratna Sarumpaet Aktivis HAM. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK Terbaik dalam Pemberantasan Korupsi

Profil Novel Baswedan – Novel Baswedan merupakan salah satu penyidik terbaik yang pernah dimiliki KPK. Mengawali karier di kepolisian, dan kemudian memilih menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebagai Penyidik KPK ia banyak membongkar kasus besar dengan resiko besar yang kadang mengancam kehidupan pribadinya. Hingga pada 11 April 2017, Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Novel Baswedan merupakan cucu dari tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia pendiri BPUPKI, Abdurrahman Baswedan dan sepupu dari Anies Baswedan. Novel Baswedan dikenal di kalangan masyarakat anti korupsi sebagai penyidik KPK yang berani. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil lengkap Novel Baswedan.

Baca Juga : Profil Agus Rahardjo – Ketua KPK Periode 2015-2019

Profil Novel Baswedan

Novel Baswedan lahir di Semarang, 22 Juni 1977 yang merupakan lulusan Akademi Kepolisisan tahun 1998. Selang satu tahun kelulusannya, ia berkarier di Kepolisian Resor Kota Bengkulu. Pada tahun 2004, Novel dipercaya sebagai Kasat Reksrim Polres Bengkulu berpangkat Komisaris. Dari posisi tersebut, ia pun ditarik ke Bareskrim Mabes Polri selama kurang lebih dua tahun.

Pada Januari 2007, Novel mendapatkan tugas dari Mabes Polri di KPK sebagai penyidik anti korupsi. Karirnya sebagai penyidik KPK dinilai cukup gemilang. Terbukti Novel dipercaya menangani kasus-kasus besar dan berhasil menanganinya.

Novel berhasil membawa pulang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Ia juga mengungkap kasus wisma atlet yang turut menyeret anggota DPR Angelina Sondakh. Selain itu, Novel juga sukses menjebloskan Nunun Nurbaeti ke dalam penjara terkait kasus suap cek pelawat pada pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004 lalu. Tak berhenti sampai disitu, Novel juga turut membongkar kasus jual beli perkara Pemilukada dengan keterlibatan mantan Ketua MK Akil Mochtar.

Atas pencapaiannya yang gemilang, pada tahun 2012 Novel Baswedan resmi diangkat menjadi penyidik tetap KPK.

Baca Juga : Profil Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Novel baswedan kembali sukses membongkar korupsi simulator SIM di Polri yang merupakan korps asal Novel sebelum berada di KPK yang menjadi salah satu kasus fenomenal yang ia tangani. Dalam kasus tersebut, Novel sendiri yang memimpin seluruh operasi yang menyeret nama sejumlah petinggi Polri, mulai dari penyidikan hingga penggeledahan di markas Korlantas Polri. Bahkan, ketika opersai dijalankan saat itu Novel sempat mendapat perlawanan dari para seniornya di Polri yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.

Kasus tersebut mulai meretakkan kembali hubungan KPK dan Polri. Dari kejadian tersebut, Kepolisian kemudian menjerat Novel Baswedan dalam kasus penembakan tersangka pencurian sarang walet kala masih bertugas di Polres Bengkulu yang terjadi pada tahun 2004. Mei 2015 lalu Novel ditangkap di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Berbagai kalangan menilai terdapat kejanggalan dalam kasus ini.

Padahal pada kasus yang terjadi di tahun 2004 ini sidang etik Polri telah menyimpulkan bahwa Novel Baswedan bukanlah pelakunya. Namun kenyataannya kasus tersebut dibuka kembali, saat Novel sedang gencar-gencarnya mengungkap kasus korupsi yang ada di tubuh Polri. Novel menegaskan bahwa penahanan dirinya merupakan salah satu upaya kriminalisasi KPK.

Hal mengejutkan kembali terjadi pada Novel Baswedan. Kejadian terserbut terjadi pada Selasa, 11 April 2017, Novel diserang oleh orang tidak dikenal dengan cara menyiramkan air keras berjenis asam sulfat H2SO4 ke wajah Novel dan mengenai matanya. Kejadian tersebut terjadi ketika Novel pulang dari Masjid Jami Al-Ihsan Pegangsaan Dua seusai melaksanakan solat subuh. Kedua pelaku yang berboncengan mengendarai motor matik tersebut langsung melarikan diri.

Akibat kejadian tersebut, Novel langsung dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di hari yang sama ia dirujuk ke Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Jakarta Pusat. Sehari kemudian, Novel diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan intensif karena kornea mata Novel mengalami peradangan.

Misteri kasus penyerangan Novel Baswedan sedikit demi sedikit mulai terkuak pada akhir 2019 ini, polisi mengaku telah menangkap dua pelaku penyerangan terhadap Novel, dua pelaku disebut merupakan anggota polisi aktif.

Baca Juga : Profil Lengkap Anies Baswedan 

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes Paling Lengkap

Profil Orang Terkaya di Indonesia – Bukan hanya Amerika atau Eropa yang memiliki sederet nama orang terkaya di negaranya. Indonesia juga punya daftar nama-nama tersebut. Ditahun ini, majalah Forbes kembali merilis daftar urutan orang terkaya di Indonesia tahun 2019. Dari daftar tersebut, posisi pertama masih tetap diduduki oleh keluarga Hartono bersaudara. Namun, ada beberapa daftar konglomerat lainnya yang menempati posisi selanjutnya. Lalu, siapa saja orang terkaya di Indonesia lainnya? Simak informasi dan profil orang terkaya di Indonesia versi Forbes berikut ini.

10 Orang Terkaya di Indonesia

1. R Budi dan Michael Hartono

Berdasarkan informasi dari Forbes, Hartono bersaudara mendapatkan lebih dari 80 persen keuntungan dari investasinya di PT Bank Sentral Asia Tbk (BCA). Diketahui, jumlah kekayaan R Budi dan Michael Hartono berkisar USD 37,3 miliar (Rp523,091 triliun).

Tidak hanya dari investasinya di BCA, kekayaan Hartono juga bersumber dari pabrik rokok kretek Djarum yang dikelolanya. Perusahaan Djarum ini merupakan salah satu usaha warisan ayah mereka.

2. Widjaja Family

Orang terkaya di Indonesia nomor 2 menurut majalah Forbes yaitu dari keluarga kerajaan bisnis Widjaja Family. Dikutip dari Forbes, pendiri dan pencetus ide bisnis pertama muncul dari sesosok Eka Tjipta Widjaja. Eka merupakan seorang imigran Tionghoa yang menetap di Indonesia. Ia juga diketahui menikah dengan dua istri dan dikaruniai 15 anak.

Pengalaman bisnis Eka Tjipta Widjaja sudah dimulai sejak usia remaja dimulai dari menjual biskuit. Eka Tjipta Widjaja meninggal pada Januari 2019 di usia 95 tahun.

Saat ini, salah satu bisnisnya yaitu Sinar Mas telah memiliki minatnya di bidang kertas, real estate, jasa keuangan, agribisnis dan telekomunikasi. Jika di total jumlah kekayaan Widjaja Family berkisar US$9,6 miliar (Rp134,629 triliun). Baca : Biografi Eka Tjipta Widjaja

3. Prajogo Pangestu

Dikutip dari majalah Forbes, Prajogo Pangestu memulai karirnya menjadi pebisnis kayu pada 1970-an akhir. Darah bisnisnya merupakan turunan dari ayahnya yang merupakan seorang pedagang karet, Prajogo akhirnya mengikuti jejak sang ayah menjadi seorang pedagang.

Pada tahun 1993, PT Barito Pacific Timber, perusahaannya go public dan berganti nama menjadi Barito Pacific.

Ditahun 20007, Prajogo Pangestu mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri yang juga berada di Bursa Efek Indonesia. Empat tahun kemudian, Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia. Memerge dua perusahaan membuat Prajogo Pangestu menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Jumlah kekayaan Prajogo Pangestu sekitar US$7,6 miliar (Rp106,581 triliun).

4. Susilo Wonowidjojo

Dikutip dari Forbes, kekayaan Susilo Wonowidjojo dan keluarganya didapatkan dari usaha pembuatan kretek. Keluarga Susilo Wonowidjojo merupakan pemilih dari perusahaan rokok Gudang Garam yang dibangun oleh ayahnya bernama Surya pada tahun 1958.

Kemudian, perusahaan tersebut diambil alih oleh putra Surya sekaligus kakak dari Susilo Wonowidjojo, Rachman Halim. Namung, sang kakak hanya mampu menjalankan bisnis selama seperempat abad atau 25 tahun hingga kematiannya pada 2008 lalu. Setahun kemudian, Susilo Wonowidjojo ditunjuk sebagai presiden direktur dan saudara perempuannya Juni Setiawati menjadi presiden komisaris.

Menurut Forbes, kekayaan dari Susilo Wonowidjojo mencapai angka US$6,6 miliar (Rp92,557 triliun).

5. Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia merupakan pindahan dari India ke Indonesia bersama ayahnya. Kepindahannya di Indonesia ini menjadi awal karir dirinya didunia bisnis. Bersama ayahnya, mereka mendirikan Indorama sebagai perusahaan pembuat benang pintal.

Dikutip dari majalah Forbes, kekayaan Sri Prakash Lohia didapatkannya dari produksi PET dan petrokimia lainnya. Total kekayaan yang dimiliki oleh Sri Prakash Lohia berkisar US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun).

Saat ini, perusahaan yang dibangunnya telah menjadi pembangkit tenaga listrik petrokimia. Perusahaan tersebut membuat produksi industri seperti bahan baku tekstil, sarung tangan medis hingga poliolefin pupuk.

Saat ini Lohia menetap di London dan masih tetap menjabat sebagai ketua, sedangnya putranya Amit ditunjuk sebagai wakil ketua.

6. Anthoni Salim

Anthoni Salim merupakan CEO dari perusahaan Indofood, yaitu perusahaan induk yang memproduksi makanan, perbankan dan telekomunikasi. Anthoni juga memiliki setidaknya 41% saham di perusahaan investasi First Pasific yang terdaftar di Hong Kong.

Meskipun termasuk orang terkaya di Indonesia, Anthoni sempat mengalami keterpurukan. Tepatnya pada saat krisis keuangan melanda Indonesia pada 1997-1998. Saat ini, ia kehilangan kendali aras Perusahaan Bank Central Asia yang telah diakuisisi oleh Hartono bersaudara.

Menurut Forbes, kekayaan dari Anthoni Salim masih berkisar US$5,5 miliar (Rp77,131 triliun).

7. Tahir

Tahir merupakan pendiri Mayapada Group, yaitu perusahaan yang berinvestasi di bidang real estate, rantai rumah sakit dan perbankan. Putrinya, Grace Tahir juga merupakan seorang presiden komisaris Propertindo Mulia Investama. Menurut Forbes, total kekayaan dari Tahir sekitar US$4,8 miliar (Rp67,314 triliun).

8. Boenjamin Setiawan

Boenjamin Setiawan merupakan seorang doktor di bidang farmakologi yang mendirikan Kalbe Farma, sebuah perusahaan farmasi yang kini terbesar di Indonesia. Awalnya, bersama kelima saudara kandungnya, Boenjamin mendirikan Kalbe Farma di sebuah garasi pada tahun 1966 silam. Hingga saat ini perusahaan tersebut telah tercatat sahamnya di Bursa Efek Indonesia dan masing-masing memperoleh 48% saham.

Namun, kekayaannya tidak hanya dari Kalbe Farma saja, ia juga mengendalikan Mitra Keluarga yang mengoperasikan sekitar 12 rumah sakit. Menurut majalah Forbes, jika di total, jumlah kekayaan Boenjamin sekitar US$4,35 miliar (Rp61,003 triliun). Baca : Biografi Boenjamin Setiawan

9. Chairul Tanjung

Chairul Tanjung merupakan salah satu orang terkaya Indonesia yang sebelumnya sudah masuk dalam deretan orang terkaya versi majalah Forbes. Chairul Tanjung dikenal berkat idenya dalam mengeluarkan kartu kredit, menjalankan stasiun televisi dan mengoperasikan hypermarket. Toko retail nya berada di bawah merek Carrefour dan Transmart.

Bukan hanya itu saja, perusahaan miliknya juga mengendalikan Wendy di Indonesia dan sejumlah waralaba seperti Mango, Versace dan Jimmy Choo.

Ditahun 2017, CT Corp menjual sekitar 49% sahamnya ke Prudential Financial AS yang berfokus pada pertumbuhan asuransi jiwa.

Menurut majalah Forbes, jika di total, jumlah kekayaan Chairul Tanjung berkisar US$3,6 miliar (Rp50,486 triliun). Baca biografi Chairul Tanjung

10. Jogi Hendra Atmadja

Jogi Hendra Atmadja merupakan kepala Mayora Group, yaitu perusahaan makanan terbesar di Indonesia. Produk Mayora Group seperti sereal, biskuit, permen, kopi dan lainnya.

Jogi Hendra Atmadja dan keluarganya merupakan imigran asal China di mana telah membuat biskuit sejak lama di rumahnya tahun 1948. Saat ini, Jogi Hendra Atmadja dan keluarganya berhasil memegang kendali atas PT Mayora Indah.

Menurut majalah Forbes, total kekayaan Jogi Hendra Atmadja sendiri sekitar US$3 miliar (Rp42,071 triliun).

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.