Profil Ratna Sarumpaet – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Paling Lengkap

Posted on

Profil Ratna Sarumpaet – Ratna Sarumpaet merupakan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang memulai karier dari dunia drama dan theater, ia berperan mulai dari penulis, pemain juga drama director. Ia juga banyak mengambil tema tentang HAM, perlawanan terhadap kekerasan pada wanita, dan kebebasan berpendapat dan berkumpul.

Seniman sekaligus aktivis HAM ini terkenal dengan pementasan monolog “Marsinah Menggugat” yang pernah dicekal di jaman Orde Baru. Pada 10 Maret 1998, seperti ditulis dalam akun facebooknya, ia memimpin demonstrasi Alinasi Pro Demokrasi untuk menuntut Presiden Soeharto mundur. Bahkan yang terbaru, pada 2016, ia juga sering mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dianggap sering menggusur pemukiman warga. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil lengkap Ratna Sarumpaet.

Baca Juga : Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK

Profil Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet merupakah kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara pada 16 Juli 1949 dan lebih akrab dipanggil Sarumpaet. Ia tumbuh dalam keluarga Kristen dan aktif secara politik di Sumatera Utara. Sarumpaet menjadi Mualaf setelah menikah dengan seorang pengusaha Arab-Indonesia, Achmad Fahmy Alhady.

Sarumpaet pernah berkuliah di Fakultas Teknik Arsitektur serta di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, namun ia tidak sempat menyelesaikan studinya karena lebih memilih dunia teater sebagai pilihan karirnya.

Pada tahun 1969, setelah belajar berteater di Bengkel Teater Rendra selama 10 bulan, ia kemudian mendirikan sebuah panggung teater bernama “Satu Panggung Merah” pada tahun 1974.

Vokal, kritis dan berani merupakan kesan pertama yang melekat pada sosok Ratna Sarumpaet. Ia sering berkutat di organisasi Sosial Kemasyarakatan demi membela nasib kaum-kaum yang terpinggirkan. Belakangan ini ia lebih dikenal sebagai seorang aktivis.

Pada pemilu 1997, Ratna bersama kelompok teaternya bergabung dalam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kampanye tersebut, di sepanjang jalan Warung Buncit, Ratna dan kawan-kawan mengusung sebuah keranda bertuliskan DEMOKRASI sambil mengumandangkan kalimat tahlil ‘La Illah haillallah’ dan mereka dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Akibat ulah tersebut, Ratna dan rombongannya ditangkap dan di interogasi selama 24 jam.

Baca Juga : Profil Lengkap Anies Baswedan 

Di tahun 90’an, Ratna juga dikenal sebagai aktivis yang terlibat dalam kasus Marsinah dan membela penderitaan rakyat Aceh yang terjebak perang antara TNI dan GAM. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah antara dirinya dengan administrasi pemerintahan Orde Baru kala itu.

Hingga akhirnya pada september 1997, Kepolisian RI menutup kasus pembunuhan Marsinah dengan alasan bahwa DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi. Namun, setelah penutupan kasus tersebut, Ratna menulis Monolog “Marsinah Menggugat”, yang dianggap provokatif, dan monolog tersebut mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

Pada akhir 1997, Ratna melakukan perlawanan bersama 46 LSM, Ratna membentuk sebuah kelompok bernama Siaga dan merupakan kelompok pertama yang secara terbuka menyerukan agar Soeharto turun dari jabatannya. Ketika sedang melakukan pertemuan dengan Siaga, Ratna bersama teman-temannya di tangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya dan di tahan di LP Pondok Bambu.

Saat kejadian tersebut, LP Pondok Bambu dikawal ketat karena mendapat kecaman dari mahasiswa yang ingin membebaskan Ratna. Setelah 70 hari ditahan, ia dibebaskan sehai sebelum Soeharto resmi lengser.

Pada tahun 2019, Ratna kembali tersandung kasus hukum dengan berbohong bahwa wajahnya babak belur akibat dipukuli oleh orang yang tidak bertanggung jawab.Pernyataan itu dianggap tudingan kepada lawan kubu politiknya.

Kasus tersebut merupakan salah satu kasus terbesar di tahun politik 2019. Akibat pernyataan bohong tersebut, ia divonis dua tahun penjara pada 11 Juli 2019. Namun pada 26 Desember 2019, ia dinyatakan bebas bersyarat setelah mendekam dari Lapas perempuan kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur, terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Baca Juga : Profil Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ratna Sarumpaet Aktivis HAM. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.