Biografi dan Profil Mooryati Soedibyo – Kisah Sukses Pendiri Mustika Ratu Paling Lengkap

InfoBiografi.Com – Mooryati Soedibyo merupakan pendiri dan pemilih salah satu merk kosmetik terkenal asal Surakarta yaitu Mustika Ratu. Mustika Ratu sendiri sudah berdiri sejak tahun 1975 di Indonesia yang saat ini dikenal oleh masyarakat Indonesia sebagai salah satu perusahaan kosmetik terkenal. Lebih lengkapnya simak biografi dan kisah sukses Mooryati Soedibyo pendiri Mustika Ratu.

Baca Juga : Profil Keluarga Sosrodjojo – Pendiri Teh Botol Sosro

Biografi dan Profil Mooryati Soedibyo

Mooryati Soedibyo berasal dari keluarga ningrat bangsawan Surakarta. Mooryati Soedibyo lahir di kota Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 5 januari 1928. Ayahnya bernama KRMTA Poornomo Hadiningrat dan ibunya bernama GRA. Kussalbiyah, dan kakek Mooryati Soedibyo merupakan raja Kasunanan Surakrta yaitu Pakoe Boewono X.

Sejak kecil, Mooryati Soedibyo tinggal di keraton Surakarta yang sangat kental dengan tradisinya. Sejak kecil ia sudah mendapatkan pelajaran mengenai tata krama, pelajran seni, bahasa dan sastra jawa. Ia juga mendapatkan pelajaran mengenai tumbuh-tumbuhan berkhasiat dan diajarkan tentang cara meramu jamu dan kosmetik yang berasal dari bahan alami. Pengetahuan inilah yang menjadi modal awal Mooryati Soedibyo dalam membangun perusahaan Mustika Ratu.

Di usia remaja, Mooryati sudah pandai menari dalam keraton Surakarta, ia juga pandai meracik jamu tradisional resep keraton yang berasal dari bahan alami, bahkan ia kerap membagikan resep tersebut ke teman-temannya.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Di tahun 1965, Mooryati menikah dengan Soedibyo Purbo Hadiningrat, dan kemudian mengikuti suaminya bertugas di Sumatera Utara. Sebagai ibu rumah tangga, membuat Mooryati mencari kesibukan lain dirumah dengan menekuni hobinya sejak di Surakarta yaitu meracik jamu dan kosmetik dari bahan tradisional yang kemudian dibagikan keteman-temannya.

Kemudian jamu dan kosmetik buatannya banyak digemari dan banyak dipesan. Akhirnya Mooryati Soedibyo memiliki ide untuk berbisnis jamu dan kosmetik dari bahan alami. Dengan modal awal 25ribu rupiah, ia mulai berbisnis pembuatan jamu dan kosmetik kecil-kecilan di garasi rumahnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Mooryati dibantu oleh dua rekannya. Namun usahanya tidak langsung naik, ada banyak percobaan dan kegagalan yang ia temui dalam meracik jamu dan kosmetik buatannya. Untuk bahan bakunya, terkadang ia sering mencari sendiri dan membuat garasi rumahnya penuh dengan bahan baku pembuatan jamu dan kosmetik yang baunya tidak sedap.

Untuk pemasaran, awalnya kosmetik buatannya ditawarkan secara door to door. Perlahan namun pasti, bisnis jamu dan kosmetik miliknya mulai berkembang. Dua tahun kemudian, tepatnya di tahun 1975, Mooryati Soedibyo akhirnya mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Mustika Ratu yang memproduksi jamu dan kosmetik dari bahan tradisional.

Berkat usahanya, di tahun 1978 Mustika Ratu mulai mendistribusikan produk kosmetiknya ke salon-salon kecantikan yang menjadi agennya dan merambah ke wilayah Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung dan Medan secara komersial.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Nama Mustika Ratu semakin dikenal banyak orang lewat artikel-artikel di surat kabar dan majalah yang merekomendasikan jamu dan kosmetik buatan Mooryati Soedibyo. Selain itu ia juga gencar beriklan di media eletronik sehingga membuat usahanya semakin banyak dikenal orang. Hal ini membuat Mooryati harus mengembangkan usahanya. Hingga akhirnya Mooryati Soedibyo membeli mesin pembuatan pil yang berasal dari Taiwan.

Di tahun 1980’an Mooryati membangun pabrik Mustika Ratu di wilayah Ciracas, Jakarta Timur dan mampu menampung 150 karyawan. Saat itu, pabrik miliknya merupakan pabrik kosmetik terbesar dan pertama di Indonesia.

Pasar bisnis Mustika Ratu juga diperluas dengan mengekspor produknya keluar negeri seperti di Malaysia, Australia, Timur Tengah hingga Eropa. Sampai saat ini, produknya sudah di ekspor ke 20 negara di dunia dan berkembang hingga menjadi 800 jenis produk.

Selain dikenal sebagai pengusaha sukses melalui PT Mustika Ratu, Mooryati Soedibyo juga dikenal sebagai pendiri Yayasan Puteri Indonesia yang rajin mengadakan konters Puteri Indonesia setiap tahunnya.

Mooryati Soedibyo juga pernah menjabat sebagai wakil ketua MPR di tahun 2004 hingga 2009.

Mooryati Soedibyo merupakan alumni Universitas Saraswati dan Universitas Terbuka Sebelas Maret, dan mendapatkan gelar doktornya di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi dan menjadi peraih gelar doktor tertua di Indonesia yang masuk dalam rekor MURI Indonesia.

Baca Juga : Profil Jogi Hendra Atmadja Pemilik PT Mayora TBK

Bersama pernikahannya dengan Soedibyo Purbo Hadiningrat, Mooryati memiliki lima orang anak yaitu Djoko Ramiadji, Putri Kuswinu Wardani, Dewi Nur Handayani, Haryo Tejo Baskoro, dan Yulia Astuti. Kini. Mooryati mewariskan usaha kosmetiknya pada Purti Kuswisnu Wardani dan menikmati masa tua di rumahnya yang beralamat di Jakarta. Mooryati Soedibyo juga masuk di urutan nomor 7 dalam daftar 99 wanita paling berpengaruh di Indonesia di tahun 2007 versi majalah Globe Asia.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Mooryati Soedibyo Kisah Sukses Pendiri Mustika Ratu . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Keluarga Sosrodjojo – Pendiri Teh Botol Sosro Paling Lengkap

InfoBiografi.Com – Teh Botol Sosro merupakan salah satu merk dagang dari PT. Sinar Sosro yang paling banyak dikenal. PT. Sinar Sosro adalah perusahaan yang bergerak di bidang minuman ringan, terutama berbahan dasar teh. Beberapa jenis merk dagang teh dalam botol yang banyak dikenal seperti Teh botol Sosro, Fruit Tea Sosro, S-Tee, Tebs, Country Choice dan Air Mineral Prim-A. PT Sinar Sosro merupakan perusahaan minuman teh siap minum dalam kemasan botol yang pertama di Indonesia dan di dunia.

Teh Botol Sosro merupakan bisnis yang dijalankan oleh Soejipto Sosrodjojo. Berkat usahanya, ia menjadi salah satu pengusaha sukses dari bisnis minuman yang terkenal di Indonesia. Lebih lengkapnya, simak profil lengkap Keluarga Sosrodjojo berikut ini.

Baca Juga : Profil Aksa Mahmud Pendiri Bosowa Grup

Profil Keluarga Sosrodjojo

Usaha penjualan teh berawal dari ayahnya Sosrodjojo yang memiliki kebun teh sendiri di wilayah Slawi, Jawa Tengah. Ketika itu harga daun teh merosot, akhirnya membuat Sosrodjojo menjual teh kering dalam bentuk kemasan siap seduh yang dipasarkan pada tahun 1940.

Pada awal bisnisnya, produk teh kering tersebut diberi merk Teh Cap Botol dimana penyebarannya masih di seputaran wilayah Jawa Tengah. Teh kering yang dijualnya merupakan campuran dari teh hijau dan bunga melati sehingga ketika diseduh rasanya sangat enak dan segar namun cara meracik minuman teh yang buruk maka kerap menenggelamkan cita rasa tehnya. Karena penjualannya sudah memperlihatkan kesuksesan dan mulai dikenal di jawa tengah, maka pemasarannya diperluas ke wilayah Jakarta.

Baca Juga : Profil Jogi Hendra Atmadja Pemilik PT Mayora TBK

Memulai Usaha Teh di Jakarta

Di tahun 1953, Sosrodjojo memboyong anak-anaknya ke Jakarta yaitu Soetjipto, Soegiharto, Soemarsono dan Surjanto untuk mengkampanyekan cara meracik teh yang pas sehingga menghasilkan rasa teh yang enak. Sosrodjojo juga mewariskan kebun teh beserta pabriknya yang berada di Jawa Tengah kepada empak anaknya.

Surjanto saat itu diserahi tugas untuk memasarkan kemasan teh cap botol ke pasar dan pusat keramaian. Masih di tahun 1953, dengan mengendarai mobil dan memutar lagu-lagu serta pengeras suara, mereka mengundang pengunjung dan membagikan teh gratis.

Kala itu, trik kampanye mereka dilakukan dengan mendemonstrasikan cara menyeduh Teh Cap Botol yang benar. Namun, untuk menghasilkan segelas teh dibutuhkan waktu 30 menit, mulai dari merebus air hingga menyeduh teh. Cara tersebut dinilai tidak efektif karena membuat orang menjadi bosan menunggu.

Trik selanjutnya, mereka menghilangkan sesi merebus air dan menyeduh teh, mereka menggantinya dengan menyiapkan panci-panci beriisi air teh yang dibawa dari kantor lalu dibagikan kepada pengunjung. Namun cara ini ternyata dianggap kurang efektif karena pada saat itu jalanan berlubang di Jakarta yang membuat air teh dalam panci berceceran di mobil.

Disitulah akhirnya membuat mereka harus kembali berinovasi. Akhirnya dicara ketiga, mereka sudah menyiapkan teh siap minum yang dimasukkan dalam botol bekas limun yang sebelumnya sudah dibersihkan. Lalu selanjutnya disuguhkan kepada calon pembeli di pasar atau di tempat keramaian.

Cara ketiga inilah yang dinilai cukup efisien dan menjadi cara promosi teh cap botol yang dianggap cukup sukses oleh keluarga Sosrodjojo.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Teh Cap Botol Sosro

Hingga akhirnya ditahun 1969, penjualan Teh Cap Botol sudah mulai dilakukan dengan cara pengemasan dalam botol. Awalnya, botol-botol teh tersebut diberi label Teh Cap Botol Soft Drink Sosrodjojo.

Awalnya, proses pengemasan teh dalam botol dilakukan secara manual dengan memakai gayung dan corong, selain itu desain botol juga masih sangat sederhana.

Ditahun 1972, label ‘Teh Cap Botol Soft Drink Sosrodjojo’ disederhanakan menjadi ‘Teh Cap Botol Sosro’, dengan kata “Cap” diperkecil sehingga sekilas orang membacanya sebagai ‘Teh Botol Sosro’, yang kemudian di kenal luas di Indonesia.

Di tahun 1974, pengiriman Teh Botol Sosro mencapai 2400 botol. Sehingga didirikan PT Sinar Sosro di kawasan Ujung Menteng Jakarta dengan pabrik yang mampu memproduksi 6000 botol perjam. PT Sinar Sosro juga memiliki ribuan hektar teh yang berada di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Awal proses penjualannya, Soetjipto Sosrodjojo memberikan harga 25 rupiah ditingkat agen dan pengecer. Namun pedagang kaki lima boleh menjual dua kali lipat dari harga agen.

Lalu tahun 1981, PT Sinar Sosro melakukan terobosan besar dengan membagi-bagikan kotak pendingin kepada para pengecer di wilayah ITC Cempaka Mas hingga pasar senen.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Rantai Distribusi dengan sistem perjualan yang baik dan tertata rapi yang dijalankan oleh PT Sinar Sosro membuat distribusi teh botol sosro tersebar hingga ke kabupaten dan kota di seluruh wilayah Indonesia.

Tak heran ditahun 1984, dalam satu bulan Sosro sudah bisa menjual hingga 960.000 teh botol dan berhasil menguasai 80 persen pasar minuman sejenis.

Selain itu, sosro juga mampu merebut pengaruh di berbagai restoran cepat saji. Pada saat kepemilikan McDonald Indonesia diakuisisi oleh PT Rekso Nasional Food yang merupakan milik keluarga Sosrodjojo pada tahun 2009. Keuntungan yang dicapai oleh Sosro pada tahun 2008 mencapai 1,8 triliun rupiah.

Hingga saat ini, PT Sinar Sosro dioperasikan oleh generasi ketiga keluarga Sosrodjojo dengan aset perusahaan mencapai puluhan triliun rupiah. Perusahaan Sinar Sosro hanya dikelola oleh keturunan Sosrodjojo yaitu Soetjipto Sosrodjojo bersama anaknya dan Soegihato Sosrodjojo bersama istri dan anak-anaknya.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Keluarga Sosrodjojo – Pendiri Teh Botol Sosro . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Aksa Mahmud – Kisah Pengusaha Sukses Pendiri Bosowa Grup Asal Sulawesi Selatan

Profil Aksa Mahmud – Bagi sebagian orang, nama Aksa Mahmud memang masih terdengar asing di telinga. Padahal ia merupakan salah satu pengusaha sukses asal Sulawesi Selatan yang dijuluki sebagai ayam jantan dari timur. Aksa Mahmud merupakan pendiri perusahaan Bosowa Grup yang kini telah memiliki puluhan anak perusahaan yang bergerak diberbagai bidang sektor usaha, mulai dari semen hingga dealer mobil. Namun saat ini, Aksa Mahmud lebih memilih berkarir sebagai politikus dan menyerahnya perusahaannya kepada sang anak.

Menurut majalah Forbes tahun 2018, Aksa Mahmud masuk daftar orang terkaya di Indonesia nomor 32 dengan total kekayaan mencapai 1 milyar dollar AS atau sekitar 13 triliun rupiah. Lebih lengkapnya, simak profil lengkap Aksa Mahmud berikut ini.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Aksa Mahmud

Aksa Mahmud memiliki nama lengkap Muhammad Aksa Mahmud adalah pria kelahiran Lapassu, Barru, Sulawesi Selatan pada 16 Juli 1945, dari pasangan H. Muhammad Mahmud (Ayah) dan H.Kambira (Ibu) yang keduanya berprofesi sebagai petani biasa. Meskipun berasal dari keluarga petani, Aksa Mahmud kecil lebih tertarik didunia perdagangan. Ia biasa mengikuti orang tuanya menjual hasil bumi ke kota, yang menjadi awal ia mengenal dunia bisnis.

Setelah lulus dari sekolah menengah atas di Makasar, Aksa Mahmud melanjutkan pendidikan tingkat tinggi di Fakultas Teknik Elektro, Universitas Hasanuddin. Di bangku kuliah, Aksa Mahmud aktif berorganisasi dan bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Makassar.

Aksa juga menjadi anggota aktif Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Di organisasai inilah ia kemudian bertemu dengan seniornya yakni Jusuf Kalla yang kemudian kelak menjadi kakak ipar dari Aksa Mahmud.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Setelah menikah dengan Siti Ramlah (Adik Jusuf Kalla), Aksa Mahmud masih bekerja di NV Hadji Kalla milik mertuanya. Namun tak lama kemudian, ia memutuskan untuk membangun usaha sendiri. Ia memiliki lima anak dari Siti Ramlah yaitu Erwin Aksa, Sadikin Aksa, Melinda Aksa, Atira Aksa, dan Subhan Aksa.

Pada tahun 1973, Aksa Mahmud mendirikan perusahaan sendiri bernama CV Moneter yang menjadi agen penyalur mobil Datsun di Indonesia Timur. Lalu, dengan bekal modal sebesar 5 juta hasil dari pinjaman bank BNI, ia membuka show room mobil Datsun di Makasar, dan usahanya sedikit demi sedikit mulai berkembang.

Di tahun 1980, PT Krama Yudha Tiga Berlian sebagai distributor Mitsubishi Indonesia menawarkan Aksa Mahmud untuk menjadi agen distribusi untuk wilayah Indonesia Timur. Titik inilah yang menjadi awal mula Aksa mengubah nama perusahaanya menjadi PT Bosowa Berlian Motor.

Bisnis otomotif yang dijalaninya berkembang pesat dan membuat perusahaannya berkembang cepat. Hingga di tahun 1995, Aksa Mahmud melebarkan usahanya di bidang industri semen dan mendirikan PT Semen Bosowa yang beroperasi di Maros.

Baca Juga : Profil Jogi Hendra Atmadja Pemilik PT Mayora TBK

Di tahun 2000, Aksa Mahmud kembali mendirikan anak perusahaan bernama PT Gowa Kencana Motor yang menjadi agen penyalur mobil merk Mercedes Bens di wilayah Indonesia Timur.

PT Bosowa juga banyak mengerjakan berbagai proyek infrastuktur mulai dari pemerintahan seperti pembangunan jalan Tol di Makasar dan Jabodetabek.

Dari awal tahun 2000an Bosowa Grup terus menerus melakukan ekspansi usaha di berbagai bidang dari otomotif, semen, infrastruktur, energi, jasa keuangan, dan lain-lain.

Berkat kerja kerasnya, membuat Aksa Mahmud masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai 1 milyar dollar AS atau sekitar 13 triliun rupiah di tahun 2018.

Setelah anak-anaknya dewasa, Aksa Mahmud mempercayakan Bosowa Grup kepada anak-anaknya, sedangkan ia memiliki untuk terjun ke dunia politik. Ia pun terpilih menjadi Anggota MPR RI Fraksi Utusan Daerah dari Sulawesi Selatan pada tahun 1999-2004. Tahun 2004, Aksa menjabat sebagai wakil ketua MPR hingga 2009. Ia juga termasuk dalam anggota KADIN (Kamar Dagang dan Industri Indonesia) dari tahun 1999. Hingga saat ini ia masih aktif sebagai politikus senior Partai Golkar.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Aksa Mahmud Pendiri Bosowa Grup . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Jogi Hendra Atmadja – Pengusaha Sukses Pemilik PT Mayora TBK

Profil Jogi Hendra Atmadja – Mendengar kata Mayora pasti banyak yang membayangkan jenis-jenis makanan yang sering dikonsumsi, seperti misalnya permen kopiko, permen kiss, biskuit hingga minuman instan seperti energen dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut merupakan produk dari PT Mayora Indah TBK yang didirikan oleh Jogi Hendra Atmadja.

PT Mayora Indah TBK merupakan perusahaan yang mengeluarkan produk makanan ringan sebagai produk andalannya. Perlu diketahui, pemilik PT Mayora yaitu Jogi Hendra Atmadja merupakan salah satu pengusaha yang masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan sekitar US$3 miliar (Rp42,071 triliun) di tahun 2019.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Jogi Hendra Atmadja

Jogi Hendra Atmadja merupakan pengusaha kelahiran Jakarta tahun 1946. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti.

Pasca lulus, Jogi Hendra Atmadja bersama dengan Drs. Raden Soedigdo dan Ir. Darmawan Kurnia mendirikan PT Mayora Indah pada tanggal 17 februari 1977 di Jakarta.

Mereka mendirikan perusahaan Mayora dengan memproduksi makanan ringan yang saat ini menjadi produk andalan perusahaan. Pabrik pertama PT Mayora didirikan di Tangerang. Sejak awal berdirinya Mayora, Jogi Hendra Atmadja sudah menjabat sebagai komisaris utama perusahaan Mayora. Ia juga memegang jabatan yang sama di tiga perusahaan lain seperti PT. Tunita Branindo, PT. Torabika Eka Semesta, dan PT. Kakao Mas Gemilang.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Sejak berdirinya PT Mayora, biskuit roma kelapa menjadi produk makanan ringan andalan perusahaan di akhir tahun 1970’an. Hingga membuat biskuit roma kelapa dikenal sebagai biskuit sejuta umat yang bersaing ketat dengan biskuit Khong Guan yang saat itu sudah banyak beredar di pasaran.

Setelah sukses dengan biskuit roma kelapa, Mayora melakukan ekspansi bisnis dengan mengeluarkan produk permen kopiko di akhir tahun 1980’an dan menjadi permen rasa kopi pertama di Indonesia.

Produk tersebut dengan cepat melejit ke posisi atas sebagai produk terlaris, karena saat itu dipasaran belum beredar produk yang sama.

Selain mengeluarkan produk makanan ringan, PT Mayora juga mengeluarkan produk minuman kemasan, seperti Teh Pucuk Harum. Demi menarik pasar minuman teh yang saat itu dikuasai oleh Teh Botol Sosro, membuat perusahaan secara barbar melakukan pengiklanan produk Teh Pucuk Harum.

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam

Sedangkan pada produk air mineral kemasan, PT Mayora Indah bekerja sama dengan PT Tirta Fresindo Jaya mengeluarkan produk air minel dengan merk kemasan Le Minerale.

Untuk memperkuat produksinya, PT Mayora mendirikan pabrik dibeberapa wilayah seperti di Makasar, Medan, Pasuruan, Ciawi dan Sukabumi. Dan tahun 2016, kembali mendirikan dua pabrik di Palembang dan Cianjur guna memperkuat produksi agar dapat bersaing dengan merk air mineral lain seperti Aqua.

Selain sukses di Indonesia, produk Mayora juga merambah pasar Luar Negeri hingga ke 90 negara. Pada tahun 2017, pendapat perusahaan juga naik hingga 17 triliun yang membuat pundi-pundi kekayaan Jogi Hendra Atmaja naik signifikan.

Ditahun 2016, total kekayaannya mencapai 10.6 triliun dan menempati posisi 35 dalam daftar orang terkaya di Indonesia, dan di tahun 2018 Jogi Hendra Atmaja kekayaannya naik tiga kali lipat dengan total sekitar 33.75 triliun rupiah. Sedangkan ditahun 2019, menurut majalah Forbes, total kekayaan Jogi Hendra Atmadja sendiri mencapai US$3 miliar (Rp42,071 triliun) dan masuk dalam 10 besar daftar orang terkaya di Indonesia.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Jogi Hendra Atmadja Pemilik PT Mayora TBK. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Dato Sri Tahir – Pengusaha Sukses Pendiri Mayapada Group Paling Lengkap

Profil Dato Sri Tahir – Tahir merupakan seorang pengusaha Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group yaitu sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia, meliputi perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS).

Tahir juga masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia. Menurut majalah Forbes, Tahir memiliki total kekayaan dari Tahir sekitar US$4,8 miliar (Rp67,314 triliun). Simak lebih lanjut profil lengkap Dato Sri Tahir sebagai pengusaha sukses Indonesia.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Dato Sri Tahir

Dato Sri Tahir memiliki nama lahir Ang Tjoen Ming, lahir di Surabaya pada 26 Maret 1952. Tahir lahir dengan lingkungan warganya yang tergolong tidak mampu dan dibesarkan oleh ayah dan ibu yang menghidupi keluarga dengan membuat becak. Pada tahun 1971, Tahir menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya.

Setelah lulus SMA, Tahir pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Namun, cita-citanya kandas pada saat Ayahnya mengalami sakit keras hingga tidak lagi mampu membiayai pendidikannya. Karena hal tersebut, akhirnya Tahir melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya.

Namun saat usianya 20 tahun, nasib baik datang untuk Tahir. Ia mendapatkan beasiswa sekolah bisnis di Nanyang Technological University, Singapura. Sembari kuliah di Singapura, Tahir mencari produk tiap bulan di Singapura untuk dijual di Surabaya. Ia membeli pakaian wanita dan sepeda di Singapura lalu menjualnya kembali di Indonesia.

Dari sinilah, ia mulai mendapatkan ide untuk kapitalisasi produk impor untuk membantu biaya sekolahnya. Di umur 35 tahun, Tahir kembali melanjutkan pendidikan keuangan di Golden Gates University, Amerika Serikat.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Dari garmen, Tahir muda mulai memasuki bisnis lain. Pada tahun 1986, Tahir mendirikan Mayapada Group dan merambatkan bisnisnya mulai dealer mobil, garmen, perbankan, sampai kesehatan. Namun, tahun 1990 bisnis perbankan Tahir maju pesat dan ia mulai meninggalkan bisnis garmennya.

Pada saat terjadi krisis moneter di tahun 1998 Bank Mayapada tidak kehilangan eksistensinya karena tidak mengambil kredit terlalu banyak dari bank asing. Dengan begitu, hingga saat ini bank Mayapada dapat melaju pesat dan memiliki nama besar.

Tahir juga dikenal sebagai sosok dermawan yang tidak segan menyumbangkan sebagian hartanya atas nama kemanusiaan. Seperti pada saat ia mengucurkan dana sebesar Rp1 triliun untuk pendidikan dan pelatihan calon tenaga kerja wanita (TKW) yang seharusnya tugas pemerintah dan perusahaan yang memberangkatkannya ke luar negeri. Tahir juga berkontribusi dengan menyumbangkan 10 unit armada bus tingkat Trans Jakarta ke Pemda DKI Jakarta, dan memberikan pengobatan gratis untuk anak-anak penderita kanker.

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam

Berkat kepeduliannya dalam dunia amal lewat Tahir Foundation, Dato Sri Tahir menjadi miliarder pertama Indonesia yang masuk dalam Bill & Melinda Gates Foundation, organisasi nirlaba buatan orang terkaya sejagad Bill Gates.

Setelah menghadapi krisis moneter, Bank Mayapada terus memperlihatkan proges yang semakin maju. Dengan investasi adaing dari US, UAE dan singapura, kini bank mayapda memiliki lebih dari 100 cabang di penjuru Indonesia. Bahkan pada tahun 2007, bank Mayapada mendapatkan predikat sebagai bank umum terbaik nomor 2 selain bank milik negara yang dikeluarkan oleh majalah InfoBank. Menurut Forbes, total kekayaan dari Tahir sekitar US$4,8 miliar (Rp67,314 triliun) dan masuk menjadi 10 besar daftar orang terkaya di indonesia.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Dato Sri Tahir Pendiri Mayapada Group. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Sri Prakash Lohia – Kisah Sukses Pendiri Indorama Corporation Paling Lengkap

Profil Sri Prakash Lohia – Sri Prakash Lohia adalah salah satu orang terkaya di Indonesia urutan ke lima versi majalah Forbes tahun 2019 dengan total kekayaan berkisar US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun). Sri Prakash Lohia merupakan pria keturunan India yang pindah ke Indonesia bersama ayahnya dan merintis Indorama Synthetics, yaitu perusahaan yang memproduksi benang pintal tahun 1976.

Meskipun saat ini, Lohia memilih tinggal di London untuk mengelola bisnis internasionalnya, ia tetap Warna Negara Indonesia, bahkan ia telah membuah sekolah politeknik bernama Polytechnic Engineering School Indorama. Selain Indorama Ventures, ia juga memiliki beberapa perusahaan di negara lain seperti Turki dan Nigeria. Simak profil lengkapnya berikut ini.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Biodata Sri Prakash Lohia

Nama : Sri Prakash Lohia
Lahir : Kolkata , 11 Agustus 1952
Orang Tua : Mohan Lal Lohia (Ayah) dan Kanchan Devi Lohia (Ibu)
Pasangan : Seema Lohia
Anak : Amit Lohia dan Shruti Hora
Tempat tinggal : London, Britania Raya
Warga negara : Indonesia
Pendidikan : Bachelor of Commerce
Organisasi : Indorama Corporation
Total Kekayaan : US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun)

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam.

Profil Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia, lahir Kolkata pada tanggal 11 Agustus 1952 dari pasangan Mohan Lal Lohia dan Kanchan Devi Lohia. Lohia lulus dari University of Delhi pada tahun 1971 dengan gelar Bachelor of Commerce.

Pada tahun 1973, Lohia pindah ke Indonesia bersama keluarganya. Ayahnya, Mohan Lal Lahia telah memiliki sebuah bisnis garmen kecil dan membuka usaha di Indonesia. Pada tahun 1974, Ayahnya mendirikan pabrik tekstil di kota Purwakarta, Jawa Barat.

Setahun beroperasi, pabrik tersebut mampu meraup keuntungan yang fantastis bagi Sri Prakash Lohia. Namun karakter dari Sri Prakash yang tidak langsung berpuas diri, ia kemudian berfikir untuk membuka bisnis lain.

Pada tahun 1976, Sri Prakash Lohia memulai sebuah perusahaan baru bernama Indorama Synthetics. Perusahaan tersebut awalnya memproduksi benang sintetis, tapi kemudian dia dan saudara laki-lakinya, Anil Prakash, mulai memperluas produk-produk mereka seperti serat poliester dan PET (poliester tingkat botol). Setelah itu pada tahun 1995, perusahaannya juga memproduksi produk-produk resin, dan keuntungannya mulai mengalir dalam jumlah yang sangat signifikan.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Dari satu perusahaan, Sri Prakash memperluas bisnisnya ke Indorama Shebin, ISIN Lanka, dan Indorama IPLIK, yang seluruh perusahaannya memproduksi produk-produk yang berkaitan dengan serat sintetis seperti polipropilen, resin PET, polietilen, dan sejenisnya. Kemudian, Lohia pun mendirikan Medisa Technologies yang membuat sarung tangan medis.

Tidak hanya sukses dalam industri serat sintetis, pada tahun 1995 Indorama merambah ke bisnis properti. 2016, Lohia membangun sebuah pabrik olefin baru di Afrika Barat, dan berkembang menjadi fasilitas olefin terbesar kedua di Afrika.

Pada tahun 2009, Indorama dikenal sebagai manufaktur serat sintetis terbesar di dunia, dan perusahaan kemudian didaftarkan di Bursa Efek Bangkok. Kesuksesan internasional Indorama kemudian berkembang ke area-area yang lebih luas di dunia, dan Indorama Synthetics menjadi Indorama Ventures.

Menurut Majalah Forbes, kekayaan Sri Prakash Lohia mencapai angka US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun), dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia tahun 2019.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Sri Prakash Lohia Pendiri Indorama Corporation . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Lengkap Amry Gunawan – Perjalanan Sukses Pendiri Rabbani

Profil Lengkap Amry Gunawan – Tidak banyak yang tahu jika Amry Gunawan merupakan salah satu pengusaha sukses dibidang fashion, ia seorang pemilik dan pendiri Rabbani, yaitu sebuah produsen yang memproduksi jilbab atau kerudung muslimah yang terkenal di Indonesia.

Amry Gunawan bersama istrinya Nia Kurnia memproduksi jilbab pada tahun 1994 di bawah bendera CV Rabbani Asyisa. Berikut ini profil lengkap Amry Gunawan.

Baca Juga : Profil Heppy Trenggono Pengusaha Kelapa Sawit .

Profil Amry Gunawan

Amry Gunawan merupakan pria kelahiran Bireun, Aceh Utara pada 2 Februari 1967. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah Atas, Amry merantau ke Bandung, Jawa Barat untuk menimba ilmu.

Di Bandung, Amry kuliah di Jurusan Ekonomi Universitas Padjajaran. Di kampus Amry aktif di organisasi kemahasiswaan dibidang kerohanian sehingga ia kemudian menjadi seorang aktivis. Di sini juga, Amry mempelajari lebih dalam masalah keagamaan.

Hingga akhirnya, Amry memutuskan untuk berhenti dari jurusan ekonomi dan membakar semua buku tentang ekonomi. Kemudian, Amry memilih untuk kuliah di jurusan Sastra Arab di Universitas yang sama.

Di usia 22 tahu, Amry mempersunting Nia Kurnia, seorang wanita kelahiran Sumedang, 14 Maret 1969 yang saat ini menjabat sebagai direktur CV Rabbani Asyisa. Ketika dipersunting Amry, ketika itu Nia Kurnia masih berstatus sebagai Mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Padjajaran, Bandung.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Perjalanan Karir

Amry sempat meminjam uang 60.000 dari guru mengajinya yang dibelikan mas kawin untuk menikahi Nia Kurnia. Setelah menikah, Amry melakukan berbagai jenis pekerjaan yang dianggapnya halal untuk menafkahi keluarga kecilnya.

Amry sempat melakoni pekerjaan dengan berjualan kaset dan buku islam di halaman masjid kampus pada 1991 dibawah bendera Pustaka Rabbani.

Sebagai modal usaha, Amry menggadaikan mahar istrinya, dan mertua nya dengan berbaik hati meminjamkan modal sebesar 100.000 kepada Amry.

Pada masa itu, belum banyak pemasok buku-buku Islam dari Jakarta ke Bandung. Hal ini menjadi kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik oleh Amry Gunawan. Berbekal dari modal menggadaikan mahar istri dan pinjaman dari mertuanya, ia gunakan untuk mencetak brosur dan membayar buku-buku yang ia jual.

Berkat ketekunannya, usahanya berjalan dengan lancar. Dalam waktu tiga bulan, ia sudah bisa mengembalikan modal yang ia pinjam dari mertuanya. Meskipun demikian, usahanya tidak selamanya selalu lancar. Ada pasang surut bisnis yang dialaminya yang dirasakan pada tahun 1994. Semakin banyak kompetitor dibisnis yang sama sehingga membuat keuntungan yang diterima Amry Gunawan menurun.

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Mulai Berjualan Jilbab dan Kerudung

Tak lama dari itu, Amry Gunakan memutuskan untuk berhenti dari bisnis berjualan buku. Lantas ia bersama istrinya memulai bisnis jilbab dan kerudung pada tahun 1994 dengan berbekal keahlian istrinya dibidang menjahit dan desain.

Pada saat itu peluang bisnis jilbab di Bandung masih sangat besar, ditambah dengan adanya pelarangan disekolah-sekolah yang membuat Amry berpikir, jika ada pelarangan biasanya membuat jilbab semakin diminati.

Naluri bisnis Amry Gunawan benar. Ketika itu permintaan jilbab semakin meningkat pesat di Bandung. Pada tahun 2000, Amry menciptakan model kerudung instan yang terbuat dari bahan kaus sebagai inovasi produknya, dan pada tahun 2003 ia kembali mengeluarkan kerudung atau jilbab kreasi yang ide tersebut didapatkannya ketika berkunjung ke Tanah Suci Mekkah.

Inovasi yang dilakukan oleh Amry Gunawan banyak disukai konsumen, sehingga membuatnya terus berkreasi untuk menciptakan model-model kerudung baru. Hampir 90% produknya merupakan jilbab atau kerudung dan selebihnya produk lain seperti gamis, baju koko dan perlengkapan muslim lainnya.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Label Rabbani

Amry Gunawan mendirikan outlet pertamanya dikawasan Sekeloa, Bandung dengan bangunan gedung berukuran luas 2×3 meter yang diberi nama Rabbani. Nama Rabbani berasal dari Al Qur’an surah Al Imran ayat 79 yang berarti pada pengabdi Allah yang mau mengjarkan dan diajarkan Kitaballah.

Hingga saat ini, Rabbani memiliki pabrik yang semuanya berada di Bandung. Total pabrik Rabbani saat ini yaitu 4 pabrik yang memproduksi kerudung dan jilbab.

Setiap pabrik perharinya mampu memproduksi 10ribu kerudung. Tak heran jika Rabbani menjadi produsen kerudung terbesar di Indonesia dan Asia.

Dalam struktur organisasi, Amry Gunawan berfokus dibidang marketing dan SDM, sedangkan istrinya Nia Kurnia sebagai direktur yang mengurusi bidang produksi dan keuangan perusahaan.

Amry dan istrinya lebih banyak menanamkan nilai-nilai islami dalam manajemen perusahaanya yang disebutnya sebagai manajemen jihad.

Untuk memperluas pangsa pasar, Rabbani juga bekerja sama dengan agen-agen yang membantu memasarkan produknya. Hingga saat ini Rabbani telah memiliki ribuan karyawan dengan outlet yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia hingga Malaysia.

Omset Rabbani mencapai ratusan milyar. Kesuksesannya membuat Amry Gunawan dijuluki sebagai Professor Kerudung Indonesia.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Lengkap Amry Gunakan – Pemilik Rabbani. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Heppy Trenggono – Pengusaha Kelapa Sawit Sukses Karena Sering Bersedekah

Profil Heppy Trenggono – Ir. H. Heppy Trenggono, M. Kom adalah founder dan CEO United Balimuda Group yang bergerak di bidang perkebunan sawit, industri makanan dan alat-alat berat. Heppy Trenggono juga dikenal sebagai pengusaha sukses karena sering bersedekah. Ia percaya sedekah mampu menyelamatkannya dari jeratan hutang yang menjeratnya beberapa tahun lalu.

Heppy Trenggono merupakan pengusaha dari Jawa tengah dan pemilik United Balimuda Group yaitu perusahaan yang bergerak dibidang kelapa sawit. Ia memiliki kebuh kelapa sawit di Wilayah Sumatera dan kalimantan dengan total luas pekebunannya mencapai 80.000 Ha. Selain bisnis kelapa sawit, ia juga memiliki bisnis alat-alat berat serta industri makanan. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil dan biografi lengkap Heppy Trenggono.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Biodata Heppy Trenggono

Nama Lengkap : Ir. H. Heppy Trenggono, M.
Tempat Lahir : Batang
Tanggal lahir : 20 April 1967
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pengusaha
Istri : Ir. Hj. Dewi Yuniati Asih
Awan

  • Jihan Putri Antyesti,
  • Apta Archie Inayasari,
  • Hana Claresta Nadien,
  • Jodie Bintang Mahardika.

Pendidikan

  • SD Negeri Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
  • SMP Negeri Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
  • SMA Negeri I Pekalongan, Jawa Tengah
  • S1 Teknik Informatika Universitas Gunadharma, Jakarta (selesai 1996)
  • S2 Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (UI), Jakarta (selesai 2000)

Pendidikan non formal

  • Keys to the Vault , Keith Cunningham (Austin, Texas, 2008)
  • System Analist , Astra International (Jakarta, 1992)

Pekerjaan

  • Freelance sambil kuliah
  • United Tractor, System Analist (1989-1995)
  • Indomobil, Asisten Manager (1995-1999)
  • A Latief Corp, Direktur Teknik Lativi (1999-2004)
  • Mendirikan PT Balimuda Persada pada 2002 yang bergerak pada heavy equiepment
  • CEO PT United Balimuda (perkebunan, consumer goods, dan heavy equiepment)

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Profil Heppy Trenggono

Heppy Trenggono merupakan pria kelahiran Batang, Jawa Tengah pada 20 April 1967. Ayahnya berprofesi sebagai PNS dibidang pendidikan dan ibunya seorang pedagang yang meninggal saat usia Heppy masih 7 tahun.

Heppy Trenggono menikah dengan Ir Hj Dewi Yuniati Asih dan memiliki empat orang anak yaitu Jihan Putri Antyesti, Apta Archie Inayasari, Hana Claresta Nadien, Jodie Bintang Mahardika.

Pendidikan dasar dan menengah pertamanya ditempuh di Bawang, sedangkan pendidikan SMA dilanjutkan di SMA N 1 Pekalongan.

Setelah lulus dari SMA, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Gunadarma dengan memilih Jurusan Informatika dan selesai tahun 1996.

Setelah lulus dari kuliah, ia sempat berkarir di beberapa perusahaan besar seperti seperti menjadi System Analist di United Tractor dari tahun 1989 hiingga 1995.

Ditahun yang sama, ia bekerja di Indomobil sebagai Asisten Manager selama 4 tahun hingga 1999. Kemudian ia pindah ke Stasiun Televisi LaTivi (sekarang TVOne) selama 5 tahun sebagai direktur teknik.

Setelah mendapatkan banyak berbagai pengalaman, Heppy Trenggono memilih berhenti dari pekerjaannya dan mencoba tantangan baru hingga kemudian ia memutuskan untuk menjadi pengusaha dan fokus dengan perusahaan PT. Balimuda Persada yang ia bangun ketika masih bekerja di stasiun televisi.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Perjalanan Sebagai Pengusaha

Heppy memilih bidang usaha kelapa sawit, dengan alasan saat itu ada saudaranya yang menggeluti bisnis yang sama sehingga ia sudah terbiasa. Lambat laun, perusahaan yang dipimpinnya berkembang pesat, kemudian untuk memperluas ekspansi, Heppy memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke Bank Niaga yang saat itu untuk membeli alat berat untuk membantu usahanya.

Namun tidak lama dari peminjaman dana, usaha yang dijalankannya mengalami goncangan. Goncangan tersebut karena ia terlena dalam bisnisnya sehingga tidak dapat mengontrol diri dan ia tidak mampu melunasi hutang pinjaman yang kemudian bank Niaga memvonis dirinya memiliki pinjaman sebanyak 63 Milyar.

Inilah saat-saat paling berat dalam hidup Heppy Trenggono. Ia berusaha untuk melunasi hutang tersebut dan berpikir untuk menjual semua aset perusahaanya, namun ia juga mengetahui jika cara tersebut belum bisa melunasi semua hutang yang ia miliki. Sedangkan saat itu, ia hanya memiliki uang simpanan tersisa 1 milyar saja. Hingga ia kemudian mencicil sedikit demi sedikit hutangnya dari uang tabungannya.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Namun hal mengejutkan dilakukan oleh Heppy Trenggono, ia memilih untuk tidak mencari pinjaman lain untuk mengatasi utang di Bank, ia malah menyumbangkan sebagian tabungannya kepada fakir miskin atau kepada orang yang lebih membutuhkan lainnya. Saat itu ia berpikir dari hal tersebut ia dapat memperoleh manfaat dan pengalaman hidup yang berarti.

Namun, tindakan yang dilakukan Heppy Trenggono membuat perpecahan diperusahaanya hingga kemudian banyak karyawannya memilih mundur.

Dari hal tersebut, membuat Heppy sadar dan mencoba untuk bengkit kembali. Hingga akhirnya ia kembali memperbaiki bisnisnya dengan mengubah arah bisnis perusahaan. Jika dulu perusahaannya bergerak dibidang kontraktor kelapa sawit, diubahnya menjadi broker untuk perusahaan-perusahaan yang ingin terjun di bisnis kelapa sawit.

Dari perubahan yang ia lakukan, sedikit demi sedikit usahanya kembali menampakkan hasil. Sedikit demi sedikit ia mulai memiliki kebun sawit dan semakin besar, selain itu hutang di bank dapat dilunasi hanya dalam tempo tiga tahun.

Selain berfokus pada bisnis kelapa sawit, Heppy juga merambah ke bisnis alat berat dan industri makanan dengan mendirikan perusahaan HeppyFoods.

Saat ini, bisnisnya bernilan 7 Trilyun Rupiah dan tanpa hutang sama sekali. Hingga akhirnya ia memiliki 12 anak perusahaan dengan memiliki lebih dari 3000 pegawai.

Hingga sampai saat ini, Heppy masih rutin memberikan sarapan kepada para kaum dhuafa aau fakir miskin di rumahnya di Jl. Mampang Prapatan. Ia percaya, bahwa berbagi dengan sesama akan membawa manfaat yang berarti baginya.

Baca Juga : Profil Michael Bambang Hartono

Tidak hanya diperusahaan, ia juga menerapkan prinsip ‘inspiring and giving the world’. Ia juga sering memberikan motivasi kepada karyawannya. Dengan gaya kepemimpinan yang dimilikinya, Heppy Trenggono menjadi teladan dan inspirasi bagi perusahaanya.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Heppy Trenggono Pengusaha Kelapa Sawit . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Ahmad Sahroni – Perjalan Karir Crazy Rich Tanjung Priok

Profil Ahmad Sahroni – Ahmad Sahroni dikenal sebagai Crazy Rich Tanjung Priok yang viral karena kekayaannya dan kehidupan pribadi yang menarik.

Ia dikenal sebagai pengusaha sukses di Jakarta serta politisi di Indonesia. Selain itu Ahmad Sahroni juga menggeluti bisnis transportasi, dan telah memiliki beberapa kapal tongkang pengangkut BBM, serta menjadi Ketua Klub Mobil Mewah Ferrari Indonesia.

Namun tidak banyak yang tahu, jika jauh sebelum ia menjadi milyader, Ahmad Sahroni memiliki perjuangan hidup yang cukup berat dan panjang. Untuk itu, berikut ini ulasan tentang profil dan biografi lengkap Ahmad Sahroni.

Baca Juga : Profil Michael Bambang Hartono

Profil Ahmad Sahroni

Ahmad Sahroni lahir di Jakarta pada 8 Agustus 1977. Ia berasal dari keluarga pas-pasan dan buka dari keluarga kaya yang hidup mewah. Ibunya bernama Hernawaty yang berprofesi sebagai penjual nasi padang di daerah pelabuhan Tanjung Priok. Ahmad Sahroni hidup bersama ibu dan neneknya. Karena masalah ekonomi, orangtua Sahroni bercerai, sehingga sejak kecil Ahmad Sahroni tidak telalu mengenal ayahnya.

Sahroni menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Tanjung Priok. Untuk membantu kehidupan dan biaya sekolahnya, pada saat sekolah dasar ia pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu dan ojek payung hingga menjadi tukang es.

Sahroni kemudian masuk SMA Negeri Baru Cilincing (Saai ini SMAN 114), dan dikelas dua, ia menjadi Ketua OSIS. Sahroni lulus SMA di tahun 1995 dan tidak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah karena masalah ekonomi.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Perjalanan Karir Ahmad Sahroni

Setelah lulus dari SMA, ia memutuskan untuk bekerja di daerah pelabuhan tanjung priok. Disana, ia bekerja sebagai buruh kasar, hingga kemudian ia menjadi supir ‘tembak’ dengan gaji seiklasnya di PT Millenium Inti Sentosa.

Beberapa tahun berprofesi sebagai seorang supir, Ahmad Sahroni memutuskan keluar dari perusahaan dan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah kapal pesiar Century yang berbendera Amerika Serikat. Selama tiga bulan bekerja, ia sudah berkunjung ke berbagai negara secara gratis.

Sekembalinya di Indonesia, ia bekerja sebagai pelayan di restoran di Jakarta, namun hanya beberapa bulan saja.

Selanjutnya ia kembali ke pekerjaan lamanya yaitu menjadi seorang supir namun bedanya, kali ini menjadi supir bos. Sembari bekerja sebagai supir, ia juga mempelajari cara bos nya menghasilkan uang melalui perusahaan yang dikelola. Sahroni mempelajari cara bagaimana perusahaan mencari pelanggan, memberi BMM hingga mengisi ke kapal.

Hingga suatu saat, bosnya menantang Sahroni untuk menagih utang klien perusahaan yang sudah lama tidak dibayar dengan imbalan akan diangkat sebagai pegawai tetap perusahaan. Dan akhirnya, berkat kemampuan dan strateginya, Sahroni berhasil menagih hutang ke klien tersebut.

Dari situlah titik balik kehidupannya. Tahun 2001, Sahroni resmi diangkat sebagai pegawai tetap di perusahaan. Ia merupakan pria yang mau belajar dan bekerja keras, semua pekerjaan dilakukan dengan ikhlas dan tidak pernah menyia-nyiakan pekerjaannya.

Berkat kerja kerasnya,berkat kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan penting, dalam waktu 2 tahun Sahroni berhasil duduk sebagai seorang direktut perusahan.

Tidak mau berada di zona nyaman, Sahroni terus belajar dan mencari informasi tentang mendirikan sebuah perusahaan. Setelah pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya cukup banyak, akhirnya Sahroni memutuskan untuk keluar dari PT Millenium Inti Sentosa meninggalkan jabatannya sebagai direktur dan memilih untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Mendirikan Usaha Rental Kapal

Berbekal ilmu dan pengetahuan di perusahaan sebelumnya, karirnya semakin sukses dengan mendirikan rental kapal dari bantuan pemodal.

Namun, bisnis yang ia jalankan tidak selalu mulus, ia pernah ditipu hingga harus menanggung hutang cukup banyak. Sampai akhirnya di tahun 2004, bisnisnya sukses dibawah naungan PT Eka samudra Lima. Hingga akhirnya, ia kembali mendirikan perusahaan PT Ruwanda Satya Abadi.

Sahroni sangat menjaga kepercayaan klien sehingga banyak mantan klien dari perusahaan tempatnya bekerja dulu menjadi pelanggan di perusahaannya. Selain menjadi bos penyuplai BBM terbesar di Tanjung Priok, Ahmad Sahroni juga melebarkan bisnisnya dibidang properti.

Karir Politik

Setelah sukses berkarir di dunia bisnis, Sahroni terjun ke dunia politik dengan bergabung di parta Nasdem, dan pada 2019 ia berhasil duduk di kursi DPR RI.

Meskipun saat ini, Ahmad Sahroni telah menjelma sebagai seorang milyader, ia tetap menjadi pribadi yang humble dan ramah dengan siapapun. Bahkan, ia tidak malu makan di warung pinggiran.

Selain itu, Sahroni juga tetap tinggal di daerah tanjung priok, yang menjadi tempat ia dibesarkan. Ia membangun rumas yang sangat besar dan luas, dengan luas sekitar 400 meter dengan 4 lantai. Di rumahnya juga terdapat lift untuk akses naik turun lantai.

Pengalaman masa lalunya yang cukup berat, membuat sahroni sangat menyayangi anaknya. Terbukti, meskipun memiliki kegiatan yang super sibuk, ia selalu menyisihkan waktunya untuk keluarga. Selain itu dia juga sosok yang sangat taat beribadah.

Sahroni memiliki hobi dengan mobil sport, jadi tidak heran jika di garasi rumahnya terparkir banyak koleksi mobil sport dari Lamborgini hingga mobil Ferrari. Karena itulah ia dipilih sebagai ketua klub Ferrari Indonesia dan pernah menjadi ketua klub Mercedes Indonesia.

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil dr. Zaidul Akbar – Penggagas Jurus Sehat Rasulullah (JSR) dan Ketua Asosiasi Bekam Indonesia

Profil dr. Zaidul Akbar – Sebelumnya dr. Zaidul Akbar merupakan seorang dokter umum di sebuah rumah sakit di Balikpapan dan Jakarta. Hingga akhirnya ia mengalami kegelisahaan dalam dirinya mengenai perkembangan pembangunan rumah sakit, adanya teknologi pengobatan terbaru yang tidak semuanya menjadi kabar baik serta semakin banyaknya jumlah pasien yang membutuhkan pertolongan. Selain itu juga karena kehalalan obat.

Karena hal tersebutlah ia memutuskan untuk beralih ke pengobatan islam dengan mempelajari kesehatan Islam. Menurutnya semakin bagus badan seseorang muslim maka akan semakin bagus juga kekuatannya untuk melaksanakan amal ibadah.

“Sejak sekitar 7-8 tahun lalu saat saya masih praktik sebagai dokter umum sempat mikir apa Islam nggak punya konsep untuk kesehatan yang mudah dan murah, atau gratis bahkan. Karena rasanya pasien ini nggak habis-habis, malah semakin banyak,” ungkap dr. Zaidul Akbar.

Baca Juga : Profil dan Biografi Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA.

Karena itulah ia mulai belajar, berkonsultasi dan membaca literatur barat maupun Arab, Indonesia dan negara lain. Hingga ia dapat menyimpulkan bahwa saat ini dunia kesehatan justru lebih banyak dikuasi dan berkiblat barat. Hingga akhirnya jalan panjang dr. Zaidul Akbar dalam mempelajari pengobatan ala Islami membawanya hingga menjadi Ketua Asosiasi Bekam Indonesia.

Untuk lebih lengkapnya simak Profil dr. Zaidul Akbar dibawah ini.

Profil dr. Zaidul Akbar

dr. Zaidul Akbar lahir 30 november 1977. Saat ini ia sedang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bekam Indonesia (ABI), Pengurus Pusat Asosiasi Pengobat Tradisional Indonesia (ASPETRI), Dokter Herbal dan Konsultan Thibbun Nabawi Nasional.

dr. Zaidul Akbar merupakan alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) dengan mengambil Dokter Umum angkatan 1997 jadi lulus tahun 2003.

Sebelum hijrah menjadi Dokter ‘Islami’, ia juga pernah menjadi dokter umum di sebuah rumah sakit di Balikpapan dan Jakarta. Hingga akhirnya Zaidul Akbar hijrah dari seorang dokter umum ke dokter pengobatan islami khusus pengobatan herbal dan bekam.

dr. Zaidul Akbar menegaskan bahwa tubuh manusia adalah anugerah Allah yang tidak bisa diciptakan oleh Manusia. Sehingga ia yakin bahwa Produk Allah lah obat yang paling baik bagi tubuh manusia. Sebagai seorang dokter yang memang banyak mempelajari dunia kesehatan, dr Zaidul banyak belajar dari berbagai referensi akan pengobatan Islami.

Baca Juga : Profil Ustadz Abdul Somad, Lc., M.A.

Hingga akhirnya dr. Zaidul Akbar menulis sebuah buku Jurus Sehat Rasulullah yang laris di pasaran.

“Kita melihat bagaimana Allah menjelaskan bagaimana fenomena alam, dari malam, siang dan tumbuh-tumbuhan beraneka ragam, intinya kita belajar obat-obatan. Dan obat-obatan itu pada akhirnya berasal dari kunyit, tomat yang mudah sekali didapat dan sesuai dengan kebutuhan kita,” tegasnya.

“Sebenarnya yang saya sampaikan (jurus sehat rasulullah, red) gitu-gitu aja, kunyit, rimpang-rimpangan, jeruk nipis, asem jawa, tinggal bagaimana kita mengkombinasikan seperti apa yang disampaikan Alquran. Seperti saat kita makan tempe, blender dengan kurma itu kombinasi antara prebiotik dan probiotik. Jadi, tempe itu probiotik dan kurma itu prebiotic. Dan itu ketika kita menggabungkan itu efeknya ke badan sangat luar biasa,” paparnya.

“Kalau lagi makan, mulailah berfikir makanan ini bisa jadi masalah ke badan atau bisa jadi manfaat buat badan kita. Kalau kita sudah mikir kaya begitu, kita akan hati-hati dalam makan,” tuturnya.

dr. Zaidul juga menegaskan bahwa makanan adalah obat. Menurutnya, semua jenis bumbu itu obat baik kayumanis, cengkeh, jahe dan lain sebagainya. Hal tersebut sebaiknya menjadi peluang tersendiri dalam dunia usaha.

Setelah tidak lagi menjadi dokter umum di rumah sakit, dr.Zaidul Akbar aktif sebagai Pembicara Seminar dan Workshop Kesehatan Islami Alami di seluruh Indonesia dan Internasional.

Ia juga menjabat Pembina Komunitas Sehat Islami , Penasihat dan Dosen Institut Thibbun Nabawi Indonesia serta sebagai Inspirator Sehat Indonesia melalui sosial media, majalah, TV, dan lain-lain. Pendiri dan pemilik www.supermarkethalal.com.

Baca Juga : Profil Gus Miftah – Pendakwah Kaum Marjinal

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil dr. Zaidul Akbar – Penggagas Jurus Sehat Rasulullah (JSR). Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.