Profil Jogi Hendra Atmadja – Pengusaha Sukses Pemilik PT Mayora TBK

Profil Jogi Hendra Atmadja – Mendengar kata Mayora pasti banyak yang membayangkan jenis-jenis makanan yang sering dikonsumsi, seperti misalnya permen kopiko, permen kiss, biskuit hingga minuman instan seperti energen dan lain sebagainya. Produk-produk tersebut merupakan produk dari PT Mayora Indah TBK yang didirikan oleh Jogi Hendra Atmadja.

PT Mayora Indah TBK merupakan perusahaan yang mengeluarkan produk makanan ringan sebagai produk andalannya. Perlu diketahui, pemilik PT Mayora yaitu Jogi Hendra Atmadja merupakan salah satu pengusaha yang masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan sekitar US$3 miliar (Rp42,071 triliun) di tahun 2019.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Jogi Hendra Atmadja

Jogi Hendra Atmadja merupakan pengusaha kelahiran Jakarta tahun 1946. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran, Universitas Trisakti.

Pasca lulus, Jogi Hendra Atmadja bersama dengan Drs. Raden Soedigdo dan Ir. Darmawan Kurnia mendirikan PT Mayora Indah pada tanggal 17 februari 1977 di Jakarta.

Mereka mendirikan perusahaan Mayora dengan memproduksi makanan ringan yang saat ini menjadi produk andalan perusahaan. Pabrik pertama PT Mayora didirikan di Tangerang. Sejak awal berdirinya Mayora, Jogi Hendra Atmadja sudah menjabat sebagai komisaris utama perusahaan Mayora. Ia juga memegang jabatan yang sama di tiga perusahaan lain seperti PT. Tunita Branindo, PT. Torabika Eka Semesta, dan PT. Kakao Mas Gemilang.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Sejak berdirinya PT Mayora, biskuit roma kelapa menjadi produk makanan ringan andalan perusahaan di akhir tahun 1970’an. Hingga membuat biskuit roma kelapa dikenal sebagai biskuit sejuta umat yang bersaing ketat dengan biskuit Khong Guan yang saat itu sudah banyak beredar di pasaran.

Setelah sukses dengan biskuit roma kelapa, Mayora melakukan ekspansi bisnis dengan mengeluarkan produk permen kopiko di akhir tahun 1980’an dan menjadi permen rasa kopi pertama di Indonesia.

Produk tersebut dengan cepat melejit ke posisi atas sebagai produk terlaris, karena saat itu dipasaran belum beredar produk yang sama.

Selain mengeluarkan produk makanan ringan, PT Mayora juga mengeluarkan produk minuman kemasan, seperti Teh Pucuk Harum. Demi menarik pasar minuman teh yang saat itu dikuasai oleh Teh Botol Sosro, membuat perusahaan secara barbar melakukan pengiklanan produk Teh Pucuk Harum.

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam

Sedangkan pada produk air mineral kemasan, PT Mayora Indah bekerja sama dengan PT Tirta Fresindo Jaya mengeluarkan produk air minel dengan merk kemasan Le Minerale.

Untuk memperkuat produksinya, PT Mayora mendirikan pabrik dibeberapa wilayah seperti di Makasar, Medan, Pasuruan, Ciawi dan Sukabumi. Dan tahun 2016, kembali mendirikan dua pabrik di Palembang dan Cianjur guna memperkuat produksi agar dapat bersaing dengan merk air mineral lain seperti Aqua.

Selain sukses di Indonesia, produk Mayora juga merambah pasar Luar Negeri hingga ke 90 negara. Pada tahun 2017, pendapat perusahaan juga naik hingga 17 triliun yang membuat pundi-pundi kekayaan Jogi Hendra Atmaja naik signifikan.

Ditahun 2016, total kekayaannya mencapai 10.6 triliun dan menempati posisi 35 dalam daftar orang terkaya di Indonesia, dan di tahun 2018 Jogi Hendra Atmaja kekayaannya naik tiga kali lipat dengan total sekitar 33.75 triliun rupiah. Sedangkan ditahun 2019, menurut majalah Forbes, total kekayaan Jogi Hendra Atmadja sendiri mencapai US$3 miliar (Rp42,071 triliun) dan masuk dalam 10 besar daftar orang terkaya di Indonesia.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Jogi Hendra Atmadja Pemilik PT Mayora TBK. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Dato Sri Tahir – Pengusaha Sukses Pendiri Mayapada Group Paling Lengkap

Profil Dato Sri Tahir – Tahir merupakan seorang pengusaha Indonesia, investor, filantropis, sekaligus pendiri Mayapada Group yaitu sebuah holding company yang memiliki beberapa unit usaha di Indonesia, meliputi perbankan, media cetak dan TV berbayar, properti, rumah sakit dan rantai toko bebas pajak/duty free shopping (DFS).

Tahir juga masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia. Menurut majalah Forbes, Tahir memiliki total kekayaan dari Tahir sekitar US$4,8 miliar (Rp67,314 triliun). Simak lebih lanjut profil lengkap Dato Sri Tahir sebagai pengusaha sukses Indonesia.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Dato Sri Tahir

Dato Sri Tahir memiliki nama lahir Ang Tjoen Ming, lahir di Surabaya pada 26 Maret 1952. Tahir lahir dengan lingkungan warganya yang tergolong tidak mampu dan dibesarkan oleh ayah dan ibu yang menghidupi keluarga dengan membuat becak. Pada tahun 1971, Tahir menyelesaikan pendidikan menengah atas di SMA Kristen Petra Kalianyar Surabaya.

Setelah lulus SMA, Tahir pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Namun, cita-citanya kandas pada saat Ayahnya mengalami sakit keras hingga tidak lagi mampu membiayai pendidikannya. Karena hal tersebut, akhirnya Tahir melanjutkan bisnis ayahnya di Surabaya.

Namun saat usianya 20 tahun, nasib baik datang untuk Tahir. Ia mendapatkan beasiswa sekolah bisnis di Nanyang Technological University, Singapura. Sembari kuliah di Singapura, Tahir mencari produk tiap bulan di Singapura untuk dijual di Surabaya. Ia membeli pakaian wanita dan sepeda di Singapura lalu menjualnya kembali di Indonesia.

Dari sinilah, ia mulai mendapatkan ide untuk kapitalisasi produk impor untuk membantu biaya sekolahnya. Di umur 35 tahun, Tahir kembali melanjutkan pendidikan keuangan di Golden Gates University, Amerika Serikat.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Dari garmen, Tahir muda mulai memasuki bisnis lain. Pada tahun 1986, Tahir mendirikan Mayapada Group dan merambatkan bisnisnya mulai dealer mobil, garmen, perbankan, sampai kesehatan. Namun, tahun 1990 bisnis perbankan Tahir maju pesat dan ia mulai meninggalkan bisnis garmennya.

Pada saat terjadi krisis moneter di tahun 1998 Bank Mayapada tidak kehilangan eksistensinya karena tidak mengambil kredit terlalu banyak dari bank asing. Dengan begitu, hingga saat ini bank Mayapada dapat melaju pesat dan memiliki nama besar.

Tahir juga dikenal sebagai sosok dermawan yang tidak segan menyumbangkan sebagian hartanya atas nama kemanusiaan. Seperti pada saat ia mengucurkan dana sebesar Rp1 triliun untuk pendidikan dan pelatihan calon tenaga kerja wanita (TKW) yang seharusnya tugas pemerintah dan perusahaan yang memberangkatkannya ke luar negeri. Tahir juga berkontribusi dengan menyumbangkan 10 unit armada bus tingkat Trans Jakarta ke Pemda DKI Jakarta, dan memberikan pengobatan gratis untuk anak-anak penderita kanker.

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam

Berkat kepeduliannya dalam dunia amal lewat Tahir Foundation, Dato Sri Tahir menjadi miliarder pertama Indonesia yang masuk dalam Bill & Melinda Gates Foundation, organisasi nirlaba buatan orang terkaya sejagad Bill Gates.

Setelah menghadapi krisis moneter, Bank Mayapada terus memperlihatkan proges yang semakin maju. Dengan investasi adaing dari US, UAE dan singapura, kini bank mayapda memiliki lebih dari 100 cabang di penjuru Indonesia. Bahkan pada tahun 2007, bank Mayapada mendapatkan predikat sebagai bank umum terbaik nomor 2 selain bank milik negara yang dikeluarkan oleh majalah InfoBank. Menurut Forbes, total kekayaan dari Tahir sekitar US$4,8 miliar (Rp67,314 triliun) dan masuk menjadi 10 besar daftar orang terkaya di indonesia.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Dato Sri Tahir Pendiri Mayapada Group. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Anthony Salim – Pengusaha Sukses CEO Salim Group Paling Lengkap

Profil Anthony Salim – Anthoni Salim atau Liem Hong Sien merupakan CEO Group Salim generasi kedua yang menurut majalah Forbes menduduki 10 besar orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan berkisar US$5,5 miliar (Rp77,131 triliun).

Anthony Salim merupakan salah satu pengusaha sukses asal Indonesia yang masuk dalam kategori 10 tokoh bisnis paling berpengaruh versi Warta Ekonomi di tahun 20005. Ia juga menjadi sosok penting berkembang pesatnya bisnis Salim Group saat hampir bangkrut pada tahun 1998 dimasa krisis moneter. Untuk mengetahui lebih lengkap biografinya, berikut ini profil lengkap Anthony Salim.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Profil Anthony Salim

Anthony Salim merupakan anak dari pasangan Soedono Salim dan Lie Las Nio, lahir pada 25 Oktober 1949. Anthony Salim terlahir dari keluarga yang tergolong mapan. Ayahnya, Soedono Salim adalah pemimpin dari Salim Group yang pada akhirnya diteruskan oleh Anthony Salim sendiri. Anthony merupakan lulusan di North East Surrey College of Technology di Inggris dengan konsentrasi jurusan bisnis.

Setelah menjadi pewaris bisnis ayahnya, Anthony Salim menghadapi kenyataan bahwa Salim Group memiliki hutang yang cukup banyak sekitar 55 triliun, sebagai imbas dari krisis moneter 1998. Akibatnya, membuat perusahaan Salim Group tersungkur.

Karena hal ini, Anthony melego atau menjual beberapa anak perusahaan Salim Group yaitu Bank BCA, PT Indocement, dan PT Indomobil sebagai cara untuk melunasi hutang yang sedang dihadapu oleh perusahaan Salim Group. Meskipun demikian, Salim Group masih memiliki sebagian kecil saham terhadap beberapa perusahaan yang mereka jual.

Ketika menjual beberapa anak perusahaannya, Anthony mempertahankan beberapa perusahaan yang cukup besar ketika itu seperti PT Indofood dan PT Bogasari. Kedua perusahaan tersebut memiliki pengaruh besar terhadap industri makanan Indonesia dan menguasai sebagian besar industri makanan di Indonesia. Perusahaan tersebut juga dikelola oleh Fransciscus Welirang yan yaitu ipar dari Anthony Salim.

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam

Dibawah kepemimpinan Anthony Salim, PT Indofood dan PT Bogasari semakin melesat hingga mampu menguasai sebagian besar industri makanan di Indonesia. Bahkan kedua perusahaan tersebut beberapa tahun ini tercatat mencapai laba yang cukup besar.

Bersama Anthony Salim, Salim Group berkembang menjadi perusahaan yang berpengaruh di Indonesia. Saat ini Salim Group memiliki banyak anak perusahaan dan beberapa yayasan.

Salim Group memiliki cukup banyak anak perusahaan meliputi bisnis di industri makanan, kelapa sawit, Perbankan, Otomotif, Asuransi dan Kimia. Anthony Salim juga menjadi salah satu pemilik jaringan minimarket Indomaret yang tersebar di Indonesia, dan ia juga memegang hak waralaba cepat saji KFC (Kentucky Fried Chicken).

Keberhasilan yang dicapai Anthony Salim, membuat dirinya masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia menurut majalah forbes 2019 dengan total kekayaan berkisar US$5,5 miliar (Rp77,131 triliun).

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Anthony Salim CEO Salim Group. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Sri Prakash Lohia – Kisah Sukses Pendiri Indorama Corporation Paling Lengkap

Profil Sri Prakash Lohia – Sri Prakash Lohia adalah salah satu orang terkaya di Indonesia urutan ke lima versi majalah Forbes tahun 2019 dengan total kekayaan berkisar US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun). Sri Prakash Lohia merupakan pria keturunan India yang pindah ke Indonesia bersama ayahnya dan merintis Indorama Synthetics, yaitu perusahaan yang memproduksi benang pintal tahun 1976.

Meskipun saat ini, Lohia memilih tinggal di London untuk mengelola bisnis internasionalnya, ia tetap Warna Negara Indonesia, bahkan ia telah membuah sekolah politeknik bernama Polytechnic Engineering School Indorama. Selain Indorama Ventures, ia juga memiliki beberapa perusahaan di negara lain seperti Turki dan Nigeria. Simak profil lengkapnya berikut ini.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Biodata Sri Prakash Lohia

Nama : Sri Prakash Lohia
Lahir : Kolkata , 11 Agustus 1952
Orang Tua : Mohan Lal Lohia (Ayah) dan Kanchan Devi Lohia (Ibu)
Pasangan : Seema Lohia
Anak : Amit Lohia dan Shruti Hora
Tempat tinggal : London, Britania Raya
Warga negara : Indonesia
Pendidikan : Bachelor of Commerce
Organisasi : Indorama Corporation
Total Kekayaan : US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun)

Baca Juga : Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam.

Profil Sri Prakash Lohia

Sri Prakash Lohia, lahir Kolkata pada tanggal 11 Agustus 1952 dari pasangan Mohan Lal Lohia dan Kanchan Devi Lohia. Lohia lulus dari University of Delhi pada tahun 1971 dengan gelar Bachelor of Commerce.

Pada tahun 1973, Lohia pindah ke Indonesia bersama keluarganya. Ayahnya, Mohan Lal Lahia telah memiliki sebuah bisnis garmen kecil dan membuka usaha di Indonesia. Pada tahun 1974, Ayahnya mendirikan pabrik tekstil di kota Purwakarta, Jawa Barat.

Setahun beroperasi, pabrik tersebut mampu meraup keuntungan yang fantastis bagi Sri Prakash Lohia. Namun karakter dari Sri Prakash yang tidak langsung berpuas diri, ia kemudian berfikir untuk membuka bisnis lain.

Pada tahun 1976, Sri Prakash Lohia memulai sebuah perusahaan baru bernama Indorama Synthetics. Perusahaan tersebut awalnya memproduksi benang sintetis, tapi kemudian dia dan saudara laki-lakinya, Anil Prakash, mulai memperluas produk-produk mereka seperti serat poliester dan PET (poliester tingkat botol). Setelah itu pada tahun 1995, perusahaannya juga memproduksi produk-produk resin, dan keuntungannya mulai mengalir dalam jumlah yang sangat signifikan.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Dari satu perusahaan, Sri Prakash memperluas bisnisnya ke Indorama Shebin, ISIN Lanka, dan Indorama IPLIK, yang seluruh perusahaannya memproduksi produk-produk yang berkaitan dengan serat sintetis seperti polipropilen, resin PET, polietilen, dan sejenisnya. Kemudian, Lohia pun mendirikan Medisa Technologies yang membuat sarung tangan medis.

Tidak hanya sukses dalam industri serat sintetis, pada tahun 1995 Indorama merambah ke bisnis properti. 2016, Lohia membangun sebuah pabrik olefin baru di Afrika Barat, dan berkembang menjadi fasilitas olefin terbesar kedua di Afrika.

Pada tahun 2009, Indorama dikenal sebagai manufaktur serat sintetis terbesar di dunia, dan perusahaan kemudian didaftarkan di Bursa Efek Bangkok. Kesuksesan internasional Indorama kemudian berkembang ke area-area yang lebih luas di dunia, dan Indorama Synthetics menjadi Indorama Ventures.

Menurut Majalah Forbes, kekayaan Sri Prakash Lohia mencapai angka US$5,6 miliar (Rp78,533 triliun), dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia tahun 2019.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Sri Prakash Lohia Pendiri Indorama Corporation . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Biografi Susilo Wonowidjojo – Pengusaha Terkaya Indonesia Pemilik PT.Gudang Garam

Biografi Susilo Wonowidjojo – Dilansir dari majalah Forbes, Susilo Wonowidjojo menjadi orang terkaya di Indonesia nomor 4 dibawah Prajogo Pangestu dengan total kekayaan senilai US$6,6 miliar (Rp92,557 triliun). Susilo Wonowidjojo merupakan pemilik dari perusahaan rokok Gudang Garam yang dibangun oleh ayahnya bernama Surya pada tahun 1958.

Dibawah kepemimpinannya, Gudang Garam berhasil menjadi pabrik rokok yang terkenal dan terbesar di Indonesia. Lebih lengkapnya, simak informasi lengkap dalam biografi Susilo Wonowidjojo dalam artikel ini.

Baca Juga : Profil Prajogo Pangestu – Pengusaha Kaya Indonesia

Biodata Lengkap Susilo Wonowidjojo

Nama Lengkap : Susilo Wonowidjojo
Nama Lain : Cai Daoping
Tempat, Tanggal Lahir : Kediri, 18 November 1956
Pekerjaan : Pengusaha
Pasangan : Melinda Setyo
Anak : Indra Wonowidjojo, tiga lainnya dirahasiakan
Orang Tua : Surya Wonowidjojo (Ayah), Tan Siok Tjien (Ibu)
Saudara :

(1)Rahman Halim (Alm)
(2) Sigit Sumargo Wonowidjojo
(3) Wurniati Wonowidjojo
(4) Juni Setiati Wonowidjojo
(5) Sujati Wonowidjojo
(6) Suarto Wonowidjojo

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Profil Lengkap Susilo Wonowidjojo

Susilo Wonowidjojo (Cai Daoping) adalah pengusaha kelahiran Kediri, 18 November 1956 yang merupakan pengusaha keturunan Toonghoa yang mewarisi usaha ayahnya Surya Wonowidjojo (Tjoa Ing Hwie) seorang pengusaha rokok asal Fujian, China. Surya menetap di Sampang, Madura, sejak 1926, dan memulai usahanya sebagai pedagang keliling.

Lalu Surya pindah ke Kediri dan bekerja di pabrik rokok Cap 93 milik pamannya, Tjoa Kok Tjiang. Kemudian, pada usia 35 tahun, Surya membuat perusahaan rokok sendiri bersama 50 mantan karyawan pamannya.

Surya mendirikan pabrik rokok klobot dengan label Ing Hwie, yang merupakan cikal bakal perusahaan Gudang Garam. Pabrik tersebut ia dirikan pada pada 26 Juni 1958 di lahan seluas kurang lebih 1000 meter persegi yang ia pimpin sendiri hingga akhir hayat.

Sepeninggal Surya, pabrik rokok berada dibawah kepemimpinan putra pertamanya bernama Tjoa To Hing atau Rachman Halim (kakak Susilo). Rachman Halim wafat pada 27 Juli 2008.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Setahun kemudian, Susilo yang saat itu menjabat sebagai wakil presiden direktur ditunjuk sebagai Presiden Direktur PT Gudang Garam menggantikan kakaknya. Jauh sebelum kakaknya wafat, Susilo telah dipersiapkan sebagai sebagai pewaris dari PT Gudang Garam. Seperti pada tahun 1979, ia berperan penting mengembangkan mesin khusus untuk memproduksi rokok kretek. Kemudian tahun 2002, rokok kretek mild yang mengandung nikotin dan tar berkadar lebih rendah pertama hadir lewat hasil pikir Susilo.

Bersama rekan bisnisnya yang bernama Buana Susilo, Susilo Wonowidjojo merumuskan penemuan metode filter rokok dan mendapatkan hak paten di Amerika Serikat pada 2002. Riset ini menjelaskan cara pembuatan rokok saring dalam arah memanjang yang sedikitnya terdiri dari dua bagian saringan yang berbeda.

Ditangannya, PT Gudang Garam semakin dikenal sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, dengan banyak jenis produk rokok Gudang Garam beredar di pasaran. Produksinya mencapai 70 miliar batang tiap tahun dengan pangsa pasar Gudang Garam bukan hanya di nasional, tetapi juga pangsa Internasional.

Hingga tahun 2013, ia mengelola setidaknya 208 hektar area produksi yang tersebar di Kediri dan Pasuruan. Selain itu Gudang Garam menguasai seperlima pasar tembakau di Indonesia dan memperkerjakan sekitar 36.000 pekerja.

Menurut Majalah Forbes, kekayaan Susilo Wonowidjojo mencapai angka US$6,6 miliar (Rp92,557 triliun), dan masuk dalam 10 besar orang terkaya di Indonesia tahun 2019.

Baca Juga : Profil 10 Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes

Itulah informasi yang diberikan tentang Biografi Susilo Wonowidjojo Pemilik PT.Gudang Garam. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Prajogo Pangestu – Kisah Sukses Sopir Angkot Jadi Pengusaha Kaya Indonesia

Profil Prajogo Pangestu – Prajogo Pangestu merupakan pendiri Barito Pacific Lumber yang memulai karirnya menjadi sopir angkot. Menurut majalah Forbes, Prajogo menjadi orang kaya di Indonesia nomor 3 setelah Eka Tjipta Widjaja. Prajogo Pangestu memulai karirnya menjadi pebisnis kayu pada 1970-an akhir.

Prajogo Pangestu merupakan pengusaha kelahiran Sambas, Kalimantan Barat pada tahun 1944, dengan nama Phang Djoem Phen. Prajogo terlahir dari keluarga miskin, sehingga Prajogo hanya menamatkan pendidikannya hanya sampai pada tingkat Sekolah Menengah Pertama.

Hingga akhirnya, ia memutuskan untuk mengubah nasib dengan merantau ke Jakarta. Namun, ia tidak terlalu beruntung hidup di ibu kota, karena tak kunjung mendapat pekerjaan. Karena itulah, Prajogo memutuskan untuk kembali ke Kalimantan dan bekerja menjadi sopir angkutan umum.

Baca Juga : Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Pada saat menjadi sopir angkutan umum, sekitar tahun 1960’an, Prajogo mengenal Bong Sun On alias Burhan Uray seorang pengusaha kayu asal Malaysia. Hingga pada tahun 1969, Prajogo bergabung dengan Burhan Uray di PT Djajanti Group. Tujuh tahun kemudian, Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik, Jawa Timur kepada Prajogo.

Jabatan tersebut hanya dijalankan selama satu tahun, lalu ia keluar dari perusahaan tersebut dan memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy. Dengan bermodal pinjaman dari BRI, yang kemudian berhasi dilunasi dalam setahun.

Ditangan Prajogo, CV Pacific Lumber Coy diubah menjadi PT Barito Pacific Lumber. Pada masa orde baru, perusahaan ini maju pesat menjadi perusahaan kayu terbesar di Indonesia.

Perjalanan bisnisnya terus meningkat hingga ia bekerja sama dengan anak-anak Presiden Soeharto dan pengusaha lainnya demi memperlebar bisnisnya. Dibawah bendera Barito Group, bisnisnya berkembang luas di bidang petrokimia, minyak sawit mentah, properti, hingga perkayuan.

Di 2007, Barito Pacific mengakuisisi 70% perusahaan petrokimia, Chandra Asri, yang juga terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Pada 2008, perusahaan mengakuisisi PT Tri Polyta Indonesia Tbk.

Baca Juga : Profil Lengkap Amry Gunakan – Pemilik Rabbani

Pada tahun 2011, Chandra Asri pun merger dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.

Berkat usahanya membangun bisnis, Prajogo masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di Indonesia versi Forbes 2019, dengan total kekayaan sekitar US$7,6 miliar (Rp106,581 triliun). Kini, Barito Group dipegang oleh sang anak, yaitu Agus Salim Pangestu.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Prajogo Pangestu – Pengusaha Kaya Indonesia. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Ratna Sarumpaet – Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Paling Lengkap

Profil Ratna Sarumpaet – Ratna Sarumpaet merupakan Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang memulai karier dari dunia drama dan theater, ia berperan mulai dari penulis, pemain juga drama director. Ia juga banyak mengambil tema tentang HAM, perlawanan terhadap kekerasan pada wanita, dan kebebasan berpendapat dan berkumpul.

Seniman sekaligus aktivis HAM ini terkenal dengan pementasan monolog “Marsinah Menggugat” yang pernah dicekal di jaman Orde Baru. Pada 10 Maret 1998, seperti ditulis dalam akun facebooknya, ia memimpin demonstrasi Alinasi Pro Demokrasi untuk menuntut Presiden Soeharto mundur. Bahkan yang terbaru, pada 2016, ia juga sering mendemo Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok karena dianggap sering menggusur pemukiman warga. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil lengkap Ratna Sarumpaet.

Baca Juga : Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK

Profil Ratna Sarumpaet

Ratna Sarumpaet merupakah kelahiran Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara pada 16 Juli 1949 dan lebih akrab dipanggil Sarumpaet. Ia tumbuh dalam keluarga Kristen dan aktif secara politik di Sumatera Utara. Sarumpaet menjadi Mualaf setelah menikah dengan seorang pengusaha Arab-Indonesia, Achmad Fahmy Alhady.

Sarumpaet pernah berkuliah di Fakultas Teknik Arsitektur serta di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, namun ia tidak sempat menyelesaikan studinya karena lebih memilih dunia teater sebagai pilihan karirnya.

Pada tahun 1969, setelah belajar berteater di Bengkel Teater Rendra selama 10 bulan, ia kemudian mendirikan sebuah panggung teater bernama “Satu Panggung Merah” pada tahun 1974.

Vokal, kritis dan berani merupakan kesan pertama yang melekat pada sosok Ratna Sarumpaet. Ia sering berkutat di organisasi Sosial Kemasyarakatan demi membela nasib kaum-kaum yang terpinggirkan. Belakangan ini ia lebih dikenal sebagai seorang aktivis.

Pada pemilu 1997, Ratna bersama kelompok teaternya bergabung dalam kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam kampanye tersebut, di sepanjang jalan Warung Buncit, Ratna dan kawan-kawan mengusung sebuah keranda bertuliskan DEMOKRASI sambil mengumandangkan kalimat tahlil ‘La Illah haillallah’ dan mereka dikawal ketat oleh aparat kepolisian. Akibat ulah tersebut, Ratna dan rombongannya ditangkap dan di interogasi selama 24 jam.

Baca Juga : Profil Lengkap Anies Baswedan 

Di tahun 90’an, Ratna juga dikenal sebagai aktivis yang terlibat dalam kasus Marsinah dan membela penderitaan rakyat Aceh yang terjebak perang antara TNI dan GAM. Hal ini menyebabkan timbulnya masalah antara dirinya dengan administrasi pemerintahan Orde Baru kala itu.

Hingga akhirnya pada september 1997, Kepolisian RI menutup kasus pembunuhan Marsinah dengan alasan bahwa DNA Marsinah dalam penyelidikan telah terkontaminasi. Namun, setelah penutupan kasus tersebut, Ratna menulis Monolog “Marsinah Menggugat”, yang dianggap provokatif, dan monolog tersebut mendapatkan tekanan dari berbagai pihak.

Pada akhir 1997, Ratna melakukan perlawanan bersama 46 LSM, Ratna membentuk sebuah kelompok bernama Siaga dan merupakan kelompok pertama yang secara terbuka menyerukan agar Soeharto turun dari jabatannya. Ketika sedang melakukan pertemuan dengan Siaga, Ratna bersama teman-temannya di tangkap dan dibawa ke Polda Metro Jaya dan di tahan di LP Pondok Bambu.

Saat kejadian tersebut, LP Pondok Bambu dikawal ketat karena mendapat kecaman dari mahasiswa yang ingin membebaskan Ratna. Setelah 70 hari ditahan, ia dibebaskan sehai sebelum Soeharto resmi lengser.

Pada tahun 2019, Ratna kembali tersandung kasus hukum dengan berbohong bahwa wajahnya babak belur akibat dipukuli oleh orang yang tidak bertanggung jawab.Pernyataan itu dianggap tudingan kepada lawan kubu politiknya.

Kasus tersebut merupakan salah satu kasus terbesar di tahun politik 2019. Akibat pernyataan bohong tersebut, ia divonis dua tahun penjara pada 11 Juli 2019. Namun pada 26 Desember 2019, ia dinyatakan bebas bersyarat setelah mendekam dari Lapas perempuan kelas II A Pondok Bambu, Jakarta Timur, terkait kasus penyebaran berita bohong atau hoaks.

Baca Juga : Profil Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ratna Sarumpaet Aktivis HAM. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK Terbaik dalam Pemberantasan Korupsi

Profil Novel Baswedan – Novel Baswedan merupakan salah satu penyidik terbaik yang pernah dimiliki KPK. Mengawali karier di kepolisian, dan kemudian memilih menjadi penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebagai Penyidik KPK ia banyak membongkar kasus besar dengan resiko besar yang kadang mengancam kehidupan pribadinya. Hingga pada 11 April 2017, Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal.

Novel Baswedan merupakan cucu dari tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia pendiri BPUPKI, Abdurrahman Baswedan dan sepupu dari Anies Baswedan. Novel Baswedan dikenal di kalangan masyarakat anti korupsi sebagai penyidik KPK yang berani. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil lengkap Novel Baswedan.

Baca Juga : Profil Agus Rahardjo – Ketua KPK Periode 2015-2019

Profil Novel Baswedan

Novel Baswedan lahir di Semarang, 22 Juni 1977 yang merupakan lulusan Akademi Kepolisisan tahun 1998. Selang satu tahun kelulusannya, ia berkarier di Kepolisian Resor Kota Bengkulu. Pada tahun 2004, Novel dipercaya sebagai Kasat Reksrim Polres Bengkulu berpangkat Komisaris. Dari posisi tersebut, ia pun ditarik ke Bareskrim Mabes Polri selama kurang lebih dua tahun.

Pada Januari 2007, Novel mendapatkan tugas dari Mabes Polri di KPK sebagai penyidik anti korupsi. Karirnya sebagai penyidik KPK dinilai cukup gemilang. Terbukti Novel dipercaya menangani kasus-kasus besar dan berhasil menanganinya.

Novel berhasil membawa pulang mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Ia juga mengungkap kasus wisma atlet yang turut menyeret anggota DPR Angelina Sondakh. Selain itu, Novel juga sukses menjebloskan Nunun Nurbaeti ke dalam penjara terkait kasus suap cek pelawat pada pemilihan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia tahun 2004 lalu. Tak berhenti sampai disitu, Novel juga turut membongkar kasus jual beli perkara Pemilukada dengan keterlibatan mantan Ketua MK Akil Mochtar.

Atas pencapaiannya yang gemilang, pada tahun 2012 Novel Baswedan resmi diangkat menjadi penyidik tetap KPK.

Baca Juga : Profil Presiden Joko Widodo (Jokowi) 

Novel baswedan kembali sukses membongkar korupsi simulator SIM di Polri yang merupakan korps asal Novel sebelum berada di KPK yang menjadi salah satu kasus fenomenal yang ia tangani. Dalam kasus tersebut, Novel sendiri yang memimpin seluruh operasi yang menyeret nama sejumlah petinggi Polri, mulai dari penyidikan hingga penggeledahan di markas Korlantas Polri. Bahkan, ketika opersai dijalankan saat itu Novel sempat mendapat perlawanan dari para seniornya di Polri yang memiliki pangkat lebih tinggi darinya.

Kasus tersebut mulai meretakkan kembali hubungan KPK dan Polri. Dari kejadian tersebut, Kepolisian kemudian menjerat Novel Baswedan dalam kasus penembakan tersangka pencurian sarang walet kala masih bertugas di Polres Bengkulu yang terjadi pada tahun 2004. Mei 2015 lalu Novel ditangkap di kediamannya, kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Berbagai kalangan menilai terdapat kejanggalan dalam kasus ini.

Padahal pada kasus yang terjadi di tahun 2004 ini sidang etik Polri telah menyimpulkan bahwa Novel Baswedan bukanlah pelakunya. Namun kenyataannya kasus tersebut dibuka kembali, saat Novel sedang gencar-gencarnya mengungkap kasus korupsi yang ada di tubuh Polri. Novel menegaskan bahwa penahanan dirinya merupakan salah satu upaya kriminalisasi KPK.

Hal mengejutkan kembali terjadi pada Novel Baswedan. Kejadian terserbut terjadi pada Selasa, 11 April 2017, Novel diserang oleh orang tidak dikenal dengan cara menyiramkan air keras berjenis asam sulfat H2SO4 ke wajah Novel dan mengenai matanya. Kejadian tersebut terjadi ketika Novel pulang dari Masjid Jami Al-Ihsan Pegangsaan Dua seusai melaksanakan solat subuh. Kedua pelaku yang berboncengan mengendarai motor matik tersebut langsung melarikan diri.

Akibat kejadian tersebut, Novel langsung dibawa ke Rumah Sakit Mitra Keluarga di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di hari yang sama ia dirujuk ke Rumah Sakit Jakarta Eye Center, Jakarta Pusat. Sehari kemudian, Novel diterbangkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan intensif karena kornea mata Novel mengalami peradangan.

Misteri kasus penyerangan Novel Baswedan sedikit demi sedikit mulai terkuak pada akhir 2019 ini, polisi mengaku telah menangkap dua pelaku penyerangan terhadap Novel, dua pelaku disebut merupakan anggota polisi aktif.

Baca Juga : Profil Lengkap Anies Baswedan 

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Novel Baswedan – Penyidik KPK. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

17 Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’

Profil Pengusaha Muda IndonesiaForbes adalah media yang kerap mengurut daftar-daftar pengusaha atau orang terkaya dunia. Belum lama ini, Forbes kembali mengeluarkan daftar pengusaha muda sukses yang bertajuk ’30 under 30’ tingkat Asia dengan kategori pengusaha pada edisi 02 April 2019.

Pada edisi ’30 under 30’ Forbes menyaring para pemuda yang sukses membangun bisnisnya dari 23 negara dengan ruang lingkup 10 bidang industri. Menariknya, dalam edisi tersebut ada 17 pengusaha muda asal Indonesia masuk dalam daftar kategori tersebut. Siapa saja mereka? Berikut ini profil singkat pengusaha muda Indonesia yang masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’.

Baca Juga : Profil Heppy Trenggono Pengusaha Kelapa Sawit 

1. Agus Bezharie, Harya Putra dan Sofian Hadiwijaya, (Cofounder Warung Pintar)

Dunia perdagangan, baik barang atau jasa merupakan salah satu kegiatan yang paling kuat mendukung perekonomian Indonesia. Peluang tersebut dimanfaatkan oleh ketiga pria muda, Agus Bezharie, Harya Putra dan Sofian Hadiwijaya untuk membuka perusahaan baru yang bergerak dibidang ritel Indonesia yang diberi nama Warung Pintar.

2. Amanda Cole, (Founder Sayurbox)

Amanda Cole adalah wanita 28 tahun yang rela mengundurkan diri dari pekerjaanya hanya untuk mewujudkan cita-citanya di pertanian. Lantas ia mendirikan Sayurbox yaitu sebuah platform sumber dan distribusi untuk sayuran dan buah segar.

Hingga kini, Amanda Cole berhasil membangun Sayurbox hingga memiliki pelanggan hingga 50 ribu dan dalam sehari Sayurbox mengirim sayur dan buah mencapai 1.000 pengiriman. Sedangkan untuk kelancaran bisnis yang dijalankan, Amanda mengajak kerja sama dengan 300 perkebunan.

Sebelum dinobatkan sebagai pengusaha muda dalam majalah Forbes, Amanda juga pernah menyabet juara startup “Seedstars Jakarta”.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

3. Angky William, (Cofounder Stoqo)

Sebelum mendirikan Stoqo, Angky William merupakan seorang insinyur di Amazon. Namun, setelah memutuskan untuk resign, Angky mendirikan Stoqo sebuah teknologi multi platform yang bisa diakses pelanggan untuk gerai makanan dan minuman ringan, serta mendapatkan bahan-bahan segar dan harga bersaing. Aplikasi ini sudah memiliki pelanggan di Indonesia hingga puluhan ribu.

4. Archie Carlson dan Sugito Alim, (Cofounder StickEarn)

StickEarn adalah perusahaan yang didirikan oleh Archie Carlson dan Sugito Alim pada 2017. StickEarn bukan perusahaan fintech, melainkan perusahaan Adtech, yaitu perusahaan yang menawarkan antar pengiklan dan pemilik mobil. Hingga kini, perusahaan StickEarn sudah melayani lebih dari 2000 klien dan 17 industri Indonesia dan telah memberikan bayaran kepada 60 ribu pengemudi.

5. Aries Susanti, (Atlet Panjat Tebing Indonesia)

Aries Susanti masuk majalah Forbes bukan karna usaha yang ia dirikan atau karena teknologi buatannya, melainkan ia sukses dibidang olahraga. Aries Susanti merupakan atlet pendaki Indonesia yang menjadi pemanjat tebing yang mendapat juara dunia di IFSC Climbing World Cups di 2017 dan 2018 dan medali emas di Asian Games 2018.

6. Aruna Harsa, (Cofounder Dekoruma)

Dekoruma adalah sebuah platform dekorasi rumah yang bisa dijadikan sebagai perantara dengan para desainer dan vendor interior. Dekoruma didirikan oleh Aruna Harsa. Selain dijadikan sebagai perantara antara konsumen dan desainer atau vendor interior, disini juga terdapat layanan yang memungkinkan para penyedia barang untuk mendistribusikan produknya ke pasaran yang lebih luas.

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

7. Benz Budiman, (Cofounder Pomona Technologies)

Pomona Technologies adalah perusahaan dibidang adtech yang didirikan oleh Benz Budiman pada 2016 lalu. Pomona Technologies berfokus pada industri FMCG Indonesia. Hingga saat ini, pengguna Pomna telah mencapai 200 ribu dan didukung banyak investor seperti Capital Data Batas, Prasetia dan masih banyak lagi.

8. Denica Flesch, (Founder SukkhaCitta)

SukkhaCitta adalah perusahaan yang bergerak dibidang sosial yang membantu para pengrajin batik di pedesaan Jawa Tengah. SukkhaCitta didirikan oleh Denica Flesch, ia melihat tidak sedikit pengrajin Indonesia yang produksi batik sutra katun memperjuangkan hasil karyanya sendiri, mulai dari pembuatannya hingga penjualan. Maka dengan adalah platfrom SukkhaCitta ini dapat mempermudah pengrajin batik untuk memasarkan produknya. Perusahaan ini memberikan upah kepada pengrajin tersebut dan juga membantu dalam melakukan pemasarannya.

9. Ellen Nio, (Investment Associate Patamar Capital)

Ellen Nio adalah salah satu pengusaha muda yang sukses di bidang investasi. Ia merupakan rekanan investor di Patamar capitar dengan setoran dana hampir USD40 juta. Tak hanya itu saja, Ellen Nio juga banyak melakukan investasi di usaha rintisan dan ia juga memimpin sebuah platform khusus perempuan yang ingin menjadi ventura capital, yaitu SheVC.

10. Gitta Amelia, (Founder EverHaus)

EverHaus didirikan oleh Gitta Amelia setelah lulus dari Wharton School di University of Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 2017. EverHaus merupakan sebuah perusahaan yang bergelut di bidang modal ventura dengan modal awal USD5 juta yang berfokus pada Indonesia.

Sebelum mendirikan EverHaus, Gitta Amelia sempat memulai Think Nusantara, yaitu sebuah publikasi online untuk anak muda Indonesia untuk memperdebatkan perkembangan holistik negara ini.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

11. Haryanto Tanjo, dan Grady Laksmono (Cofounder Moka)

Saat ini sudah banyak aplikasi yang dimanfaatkan para pelaku UMKM dalam mengelola keuangan. Aplikasi tersebut dapat diakses melalui smartphone atau tablet sehingga memudahkan penggunanya. Salah satu aplikasi pengelola keuangan tersebut adalah Moka.

Moka merupakan startup Indonesia yang didirikan pada Agustus 2015 oleh dua pria muda, Haryanto Tanjo dan Grady Laksmono. Aplikasi Moka memiliki fitur yang bisa digunakan pelaku UMKM untuk melihat riwayat transaksi, bisa melakukan pembayaran lewat cash, kartu kredit, dan e-wallet, mencetak struk, dan sebagainya.

12. Hendri Kwik, Jefriyanto dan Ricky Winata, (Cofounder Payfazz)

Jika biasanya fintech pinjaman online hanya menerima nasabah yang memiliki rekening pribadi saja. Namun tidak dengan Payfazz, usaha ini juga menerima pinjaman dari masyarakat kecil yang tidak memiliki rekening tapi butuh dana.

Payfazz adalah usaha yang didirikan oleh Hendra Kwik, Jefriyanto dan Ricky Winata pada tahun 2016. Mereka sengaja mendirikan Payfazz sebagai pihak penghubung antara masyarakat yang tidak memiliki jaringan ke bank dengan lembaga-lembaga keuangan lainnya.

13. James Prananto, (Cofounder Kopi Kenangan)

Semakin tingginya konsumen kopi saat ini, membuat banyak orang mendirikan kedai-kedai kopi kekinian dengan brang unik dan inovasi tinggi, salah satunya Kopi Kenangan. Kopi Kenangan merupakan brand kopi yang identik dengan masa lalu ini didirikan oleh dua pria yang masih berusia muda, yaitu James Prananto dan Edward Tirtanata.

Meskipun baru berjalan satu tahun, Kopi Kenangan sudah memiliki target untuk penambahan gerai yang mencapai 300 gerai dengan penjualan cangkir kopi yang setiap bulannya mencapai 3 juta.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

14. Sabrina dan Elena Bensawan, (Cofounder Saab Shares)

Saab Shares adalah perusahaan dalam bidang sosial yang memperuntukkan anak-anak tidak mampu dan keluarga yang memiliki penghasilan dibawah rata-rata atau cenderung rendah untuk bisa mendapatkan akomodasi, pendidikan dan akses kesehatan. Perusahaan ini didirikan oleh dua wanita berjiwa sosial tinggi yaitu Sabrina dan Elena Bensawan.

15. Steve Wongsoredjo, Cofounder Nusantara Technology

Nusantara Technology adalah perusahaan yang bergerak dibidang media digital yang dikhususkan untuk milenial dan startup pemasaran. Perusahaan ini didirikan oleh Steve Wongsoredjo setelah menyelesaikan kuliahnya di Amerika Serikat. Saat ini produk yang dimiliki Nusantara Technology ada tiga, yaitu Keepo.me, YuKepo.com dan PlayingViral.

16. Tiffany Robyn Soetikno, (Founder PT Global Urban Esensial)

PT Global Urban Esensial atau GUE adalah startup yang bergerak di bidang kesehatan digital yang didirikan oleh Tiffany Robyn Soetikno. Perusahaan ini dibangun dengan tujuan membantu pasien dalam meningkatkan manajemen kesehetahannya sehingga berkembang lebih baik. Dengan begitu pasien dapat memanfaatkan platform yang diciptakan oleh GUE seperti penerbitan kesehatan online, aplikasi seluler pengasuh anak, aplikasi manajemen diabetes dan layanan kesehatan online.

17. Windy Natriavi, (Cofounder Awantunai)

Saat ini pinjaman online atau pinjol di fintech p2p lending memang sedang tren di masyarakat. Sebab, fintech sangat membantu keuangan para nasabah, baik untuk keperluan mendadak atau modal usaha.

Salah satu fintech p2p lending yang terdaftar di OJK adalah Awantunai. Awantunai merupakan usaha yang didirikan oleh Windy Natriavi pada 2017 dengan mengunggulkan pelayanan pinjam meminjam untuk modal usaha bagi pedagang mikro dan bagi calon nasabah yang tidak memiliki rekening bank.

Hingga pada 2019, Awantunai sudah menyalurkan sejumlah biaya kepada 3 ribu pedagang mikro.

Baca Juga : Profil Lengkap Amry Gunakan – Pemilik Rabbani

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes edisi ‘30 under 30 Asia’. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Lengkap Amry Gunawan – Perjalanan Sukses Pendiri Rabbani

Profil Lengkap Amry Gunawan – Tidak banyak yang tahu jika Amry Gunawan merupakan salah satu pengusaha sukses dibidang fashion, ia seorang pemilik dan pendiri Rabbani, yaitu sebuah produsen yang memproduksi jilbab atau kerudung muslimah yang terkenal di Indonesia.

Amry Gunawan bersama istrinya Nia Kurnia memproduksi jilbab pada tahun 1994 di bawah bendera CV Rabbani Asyisa. Berikut ini profil lengkap Amry Gunawan.

Baca Juga : Profil Heppy Trenggono Pengusaha Kelapa Sawit .

Profil Amry Gunawan

Amry Gunawan merupakan pria kelahiran Bireun, Aceh Utara pada 2 Februari 1967. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah Atas, Amry merantau ke Bandung, Jawa Barat untuk menimba ilmu.

Di Bandung, Amry kuliah di Jurusan Ekonomi Universitas Padjajaran. Di kampus Amry aktif di organisasi kemahasiswaan dibidang kerohanian sehingga ia kemudian menjadi seorang aktivis. Di sini juga, Amry mempelajari lebih dalam masalah keagamaan.

Hingga akhirnya, Amry memutuskan untuk berhenti dari jurusan ekonomi dan membakar semua buku tentang ekonomi. Kemudian, Amry memilih untuk kuliah di jurusan Sastra Arab di Universitas yang sama.

Di usia 22 tahu, Amry mempersunting Nia Kurnia, seorang wanita kelahiran Sumedang, 14 Maret 1969 yang saat ini menjabat sebagai direktur CV Rabbani Asyisa. Ketika dipersunting Amry, ketika itu Nia Kurnia masih berstatus sebagai Mahasiswa di Fakultas MIPA Universitas Padjajaran, Bandung.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Perjalanan Karir

Amry sempat meminjam uang 60.000 dari guru mengajinya yang dibelikan mas kawin untuk menikahi Nia Kurnia. Setelah menikah, Amry melakukan berbagai jenis pekerjaan yang dianggapnya halal untuk menafkahi keluarga kecilnya.

Amry sempat melakoni pekerjaan dengan berjualan kaset dan buku islam di halaman masjid kampus pada 1991 dibawah bendera Pustaka Rabbani.

Sebagai modal usaha, Amry menggadaikan mahar istrinya, dan mertua nya dengan berbaik hati meminjamkan modal sebesar 100.000 kepada Amry.

Pada masa itu, belum banyak pemasok buku-buku Islam dari Jakarta ke Bandung. Hal ini menjadi kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik oleh Amry Gunawan. Berbekal dari modal menggadaikan mahar istri dan pinjaman dari mertuanya, ia gunakan untuk mencetak brosur dan membayar buku-buku yang ia jual.

Berkat ketekunannya, usahanya berjalan dengan lancar. Dalam waktu tiga bulan, ia sudah bisa mengembalikan modal yang ia pinjam dari mertuanya. Meskipun demikian, usahanya tidak selamanya selalu lancar. Ada pasang surut bisnis yang dialaminya yang dirasakan pada tahun 1994. Semakin banyak kompetitor dibisnis yang sama sehingga membuat keuntungan yang diterima Amry Gunawan menurun.

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Mulai Berjualan Jilbab dan Kerudung

Tak lama dari itu, Amry Gunakan memutuskan untuk berhenti dari bisnis berjualan buku. Lantas ia bersama istrinya memulai bisnis jilbab dan kerudung pada tahun 1994 dengan berbekal keahlian istrinya dibidang menjahit dan desain.

Pada saat itu peluang bisnis jilbab di Bandung masih sangat besar, ditambah dengan adanya pelarangan disekolah-sekolah yang membuat Amry berpikir, jika ada pelarangan biasanya membuat jilbab semakin diminati.

Naluri bisnis Amry Gunawan benar. Ketika itu permintaan jilbab semakin meningkat pesat di Bandung. Pada tahun 2000, Amry menciptakan model kerudung instan yang terbuat dari bahan kaus sebagai inovasi produknya, dan pada tahun 2003 ia kembali mengeluarkan kerudung atau jilbab kreasi yang ide tersebut didapatkannya ketika berkunjung ke Tanah Suci Mekkah.

Inovasi yang dilakukan oleh Amry Gunawan banyak disukai konsumen, sehingga membuatnya terus berkreasi untuk menciptakan model-model kerudung baru. Hampir 90% produknya merupakan jilbab atau kerudung dan selebihnya produk lain seperti gamis, baju koko dan perlengkapan muslim lainnya.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Label Rabbani

Amry Gunawan mendirikan outlet pertamanya dikawasan Sekeloa, Bandung dengan bangunan gedung berukuran luas 2×3 meter yang diberi nama Rabbani. Nama Rabbani berasal dari Al Qur’an surah Al Imran ayat 79 yang berarti pada pengabdi Allah yang mau mengjarkan dan diajarkan Kitaballah.

Hingga saat ini, Rabbani memiliki pabrik yang semuanya berada di Bandung. Total pabrik Rabbani saat ini yaitu 4 pabrik yang memproduksi kerudung dan jilbab.

Setiap pabrik perharinya mampu memproduksi 10ribu kerudung. Tak heran jika Rabbani menjadi produsen kerudung terbesar di Indonesia dan Asia.

Dalam struktur organisasi, Amry Gunawan berfokus dibidang marketing dan SDM, sedangkan istrinya Nia Kurnia sebagai direktur yang mengurusi bidang produksi dan keuangan perusahaan.

Amry dan istrinya lebih banyak menanamkan nilai-nilai islami dalam manajemen perusahaanya yang disebutnya sebagai manajemen jihad.

Untuk memperluas pangsa pasar, Rabbani juga bekerja sama dengan agen-agen yang membantu memasarkan produknya. Hingga saat ini Rabbani telah memiliki ribuan karyawan dengan outlet yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia hingga Malaysia.

Omset Rabbani mencapai ratusan milyar. Kesuksesannya membuat Amry Gunawan dijuluki sebagai Professor Kerudung Indonesia.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Lengkap Amry Gunakan – Pemilik Rabbani. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Heppy Trenggono – Pengusaha Kelapa Sawit Sukses Karena Sering Bersedekah

Profil Heppy Trenggono – Ir. H. Heppy Trenggono, M. Kom adalah founder dan CEO United Balimuda Group yang bergerak di bidang perkebunan sawit, industri makanan dan alat-alat berat. Heppy Trenggono juga dikenal sebagai pengusaha sukses karena sering bersedekah. Ia percaya sedekah mampu menyelamatkannya dari jeratan hutang yang menjeratnya beberapa tahun lalu.

Heppy Trenggono merupakan pengusaha dari Jawa tengah dan pemilik United Balimuda Group yaitu perusahaan yang bergerak dibidang kelapa sawit. Ia memiliki kebuh kelapa sawit di Wilayah Sumatera dan kalimantan dengan total luas pekebunannya mencapai 80.000 Ha. Selain bisnis kelapa sawit, ia juga memiliki bisnis alat-alat berat serta industri makanan. Lebih lengkapnya simak ulasan dibawah ini mengenai profil dan biografi lengkap Heppy Trenggono.

Baca Juga : Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok

Biodata Heppy Trenggono

Nama Lengkap : Ir. H. Heppy Trenggono, M.
Tempat Lahir : Batang
Tanggal lahir : 20 April 1967
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pengusaha
Istri : Ir. Hj. Dewi Yuniati Asih
Awan

  • Jihan Putri Antyesti,
  • Apta Archie Inayasari,
  • Hana Claresta Nadien,
  • Jodie Bintang Mahardika.

Pendidikan

  • SD Negeri Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
  • SMP Negeri Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah
  • SMA Negeri I Pekalongan, Jawa Tengah
  • S1 Teknik Informatika Universitas Gunadharma, Jakarta (selesai 1996)
  • S2 Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (UI), Jakarta (selesai 2000)

Pendidikan non formal

  • Keys to the Vault , Keith Cunningham (Austin, Texas, 2008)
  • System Analist , Astra International (Jakarta, 1992)

Pekerjaan

  • Freelance sambil kuliah
  • United Tractor, System Analist (1989-1995)
  • Indomobil, Asisten Manager (1995-1999)
  • A Latief Corp, Direktur Teknik Lativi (1999-2004)
  • Mendirikan PT Balimuda Persada pada 2002 yang bergerak pada heavy equiepment
  • CEO PT United Balimuda (perkebunan, consumer goods, dan heavy equiepment)

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Profil Heppy Trenggono

Heppy Trenggono merupakan pria kelahiran Batang, Jawa Tengah pada 20 April 1967. Ayahnya berprofesi sebagai PNS dibidang pendidikan dan ibunya seorang pedagang yang meninggal saat usia Heppy masih 7 tahun.

Heppy Trenggono menikah dengan Ir Hj Dewi Yuniati Asih dan memiliki empat orang anak yaitu Jihan Putri Antyesti, Apta Archie Inayasari, Hana Claresta Nadien, Jodie Bintang Mahardika.

Pendidikan dasar dan menengah pertamanya ditempuh di Bawang, sedangkan pendidikan SMA dilanjutkan di SMA N 1 Pekalongan.

Setelah lulus dari SMA, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Gunadarma dengan memilih Jurusan Informatika dan selesai tahun 1996.

Setelah lulus dari kuliah, ia sempat berkarir di beberapa perusahaan besar seperti seperti menjadi System Analist di United Tractor dari tahun 1989 hiingga 1995.

Ditahun yang sama, ia bekerja di Indomobil sebagai Asisten Manager selama 4 tahun hingga 1999. Kemudian ia pindah ke Stasiun Televisi LaTivi (sekarang TVOne) selama 5 tahun sebagai direktur teknik.

Setelah mendapatkan banyak berbagai pengalaman, Heppy Trenggono memilih berhenti dari pekerjaannya dan mencoba tantangan baru hingga kemudian ia memutuskan untuk menjadi pengusaha dan fokus dengan perusahaan PT. Balimuda Persada yang ia bangun ketika masih bekerja di stasiun televisi.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Perjalanan Sebagai Pengusaha

Heppy memilih bidang usaha kelapa sawit, dengan alasan saat itu ada saudaranya yang menggeluti bisnis yang sama sehingga ia sudah terbiasa. Lambat laun, perusahaan yang dipimpinnya berkembang pesat, kemudian untuk memperluas ekspansi, Heppy memberanikan diri untuk mengajukan pinjaman ke Bank Niaga yang saat itu untuk membeli alat berat untuk membantu usahanya.

Namun tidak lama dari peminjaman dana, usaha yang dijalankannya mengalami goncangan. Goncangan tersebut karena ia terlena dalam bisnisnya sehingga tidak dapat mengontrol diri dan ia tidak mampu melunasi hutang pinjaman yang kemudian bank Niaga memvonis dirinya memiliki pinjaman sebanyak 63 Milyar.

Inilah saat-saat paling berat dalam hidup Heppy Trenggono. Ia berusaha untuk melunasi hutang tersebut dan berpikir untuk menjual semua aset perusahaanya, namun ia juga mengetahui jika cara tersebut belum bisa melunasi semua hutang yang ia miliki. Sedangkan saat itu, ia hanya memiliki uang simpanan tersisa 1 milyar saja. Hingga ia kemudian mencicil sedikit demi sedikit hutangnya dari uang tabungannya.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Namun hal mengejutkan dilakukan oleh Heppy Trenggono, ia memilih untuk tidak mencari pinjaman lain untuk mengatasi utang di Bank, ia malah menyumbangkan sebagian tabungannya kepada fakir miskin atau kepada orang yang lebih membutuhkan lainnya. Saat itu ia berpikir dari hal tersebut ia dapat memperoleh manfaat dan pengalaman hidup yang berarti.

Namun, tindakan yang dilakukan Heppy Trenggono membuat perpecahan diperusahaanya hingga kemudian banyak karyawannya memilih mundur.

Dari hal tersebut, membuat Heppy sadar dan mencoba untuk bengkit kembali. Hingga akhirnya ia kembali memperbaiki bisnisnya dengan mengubah arah bisnis perusahaan. Jika dulu perusahaannya bergerak dibidang kontraktor kelapa sawit, diubahnya menjadi broker untuk perusahaan-perusahaan yang ingin terjun di bisnis kelapa sawit.

Dari perubahan yang ia lakukan, sedikit demi sedikit usahanya kembali menampakkan hasil. Sedikit demi sedikit ia mulai memiliki kebun sawit dan semakin besar, selain itu hutang di bank dapat dilunasi hanya dalam tempo tiga tahun.

Selain berfokus pada bisnis kelapa sawit, Heppy juga merambah ke bisnis alat berat dan industri makanan dengan mendirikan perusahaan HeppyFoods.

Saat ini, bisnisnya bernilan 7 Trilyun Rupiah dan tanpa hutang sama sekali. Hingga akhirnya ia memiliki 12 anak perusahaan dengan memiliki lebih dari 3000 pegawai.

Hingga sampai saat ini, Heppy masih rutin memberikan sarapan kepada para kaum dhuafa aau fakir miskin di rumahnya di Jl. Mampang Prapatan. Ia percaya, bahwa berbagi dengan sesama akan membawa manfaat yang berarti baginya.

Baca Juga : Profil Michael Bambang Hartono

Tidak hanya diperusahaan, ia juga menerapkan prinsip ‘inspiring and giving the world’. Ia juga sering memberikan motivasi kepada karyawannya. Dengan gaya kepemimpinan yang dimilikinya, Heppy Trenggono menjadi teladan dan inspirasi bagi perusahaanya.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Heppy Trenggono Pengusaha Kelapa Sawit . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Ahmad Sahroni – Perjalan Karir Crazy Rich Tanjung Priok

Profil Ahmad Sahroni – Ahmad Sahroni dikenal sebagai Crazy Rich Tanjung Priok yang viral karena kekayaannya dan kehidupan pribadi yang menarik.

Ia dikenal sebagai pengusaha sukses di Jakarta serta politisi di Indonesia. Selain itu Ahmad Sahroni juga menggeluti bisnis transportasi, dan telah memiliki beberapa kapal tongkang pengangkut BBM, serta menjadi Ketua Klub Mobil Mewah Ferrari Indonesia.

Namun tidak banyak yang tahu, jika jauh sebelum ia menjadi milyader, Ahmad Sahroni memiliki perjuangan hidup yang cukup berat dan panjang. Untuk itu, berikut ini ulasan tentang profil dan biografi lengkap Ahmad Sahroni.

Baca Juga : Profil Michael Bambang Hartono

Profil Ahmad Sahroni

Ahmad Sahroni lahir di Jakarta pada 8 Agustus 1977. Ia berasal dari keluarga pas-pasan dan buka dari keluarga kaya yang hidup mewah. Ibunya bernama Hernawaty yang berprofesi sebagai penjual nasi padang di daerah pelabuhan Tanjung Priok. Ahmad Sahroni hidup bersama ibu dan neneknya. Karena masalah ekonomi, orangtua Sahroni bercerai, sehingga sejak kecil Ahmad Sahroni tidak telalu mengenal ayahnya.

Sahroni menempuh pendidikan dasar dan menengahnya di Tanjung Priok. Untuk membantu kehidupan dan biaya sekolahnya, pada saat sekolah dasar ia pernah bekerja sebagai tukang semir sepatu dan ojek payung hingga menjadi tukang es.

Sahroni kemudian masuk SMA Negeri Baru Cilincing (Saai ini SMAN 114), dan dikelas dua, ia menjadi Ketua OSIS. Sahroni lulus SMA di tahun 1995 dan tidak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah karena masalah ekonomi.

Baca Juga : Profil Ari Askhara – Mantan Dirut Garuda Indonesia

Perjalanan Karir Ahmad Sahroni

Setelah lulus dari SMA, ia memutuskan untuk bekerja di daerah pelabuhan tanjung priok. Disana, ia bekerja sebagai buruh kasar, hingga kemudian ia menjadi supir ‘tembak’ dengan gaji seiklasnya di PT Millenium Inti Sentosa.

Beberapa tahun berprofesi sebagai seorang supir, Ahmad Sahroni memutuskan keluar dari perusahaan dan bekerja sebagai tukang cuci piring di sebuah kapal pesiar Century yang berbendera Amerika Serikat. Selama tiga bulan bekerja, ia sudah berkunjung ke berbagai negara secara gratis.

Sekembalinya di Indonesia, ia bekerja sebagai pelayan di restoran di Jakarta, namun hanya beberapa bulan saja.

Selanjutnya ia kembali ke pekerjaan lamanya yaitu menjadi seorang supir namun bedanya, kali ini menjadi supir bos. Sembari bekerja sebagai supir, ia juga mempelajari cara bos nya menghasilkan uang melalui perusahaan yang dikelola. Sahroni mempelajari cara bagaimana perusahaan mencari pelanggan, memberi BMM hingga mengisi ke kapal.

Hingga suatu saat, bosnya menantang Sahroni untuk menagih utang klien perusahaan yang sudah lama tidak dibayar dengan imbalan akan diangkat sebagai pegawai tetap perusahaan. Dan akhirnya, berkat kemampuan dan strateginya, Sahroni berhasil menagih hutang ke klien tersebut.

Dari situlah titik balik kehidupannya. Tahun 2001, Sahroni resmi diangkat sebagai pegawai tetap di perusahaan. Ia merupakan pria yang mau belajar dan bekerja keras, semua pekerjaan dilakukan dengan ikhlas dan tidak pernah menyia-nyiakan pekerjaannya.

Berkat kerja kerasnya,berkat kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaan penting, dalam waktu 2 tahun Sahroni berhasil duduk sebagai seorang direktut perusahan.

Tidak mau berada di zona nyaman, Sahroni terus belajar dan mencari informasi tentang mendirikan sebuah perusahaan. Setelah pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya cukup banyak, akhirnya Sahroni memutuskan untuk keluar dari PT Millenium Inti Sentosa meninggalkan jabatannya sebagai direktur dan memilih untuk mendirikan perusahaan sendiri.

Baca Juga : Profil Erick Thohir – Menteri BUMN Kabinet Indonesia Maju

Mendirikan Usaha Rental Kapal

Berbekal ilmu dan pengetahuan di perusahaan sebelumnya, karirnya semakin sukses dengan mendirikan rental kapal dari bantuan pemodal.

Namun, bisnis yang ia jalankan tidak selalu mulus, ia pernah ditipu hingga harus menanggung hutang cukup banyak. Sampai akhirnya di tahun 2004, bisnisnya sukses dibawah naungan PT Eka samudra Lima. Hingga akhirnya, ia kembali mendirikan perusahaan PT Ruwanda Satya Abadi.

Sahroni sangat menjaga kepercayaan klien sehingga banyak mantan klien dari perusahaan tempatnya bekerja dulu menjadi pelanggan di perusahaannya. Selain menjadi bos penyuplai BBM terbesar di Tanjung Priok, Ahmad Sahroni juga melebarkan bisnisnya dibidang properti.

Karir Politik

Setelah sukses berkarir di dunia bisnis, Sahroni terjun ke dunia politik dengan bergabung di parta Nasdem, dan pada 2019 ia berhasil duduk di kursi DPR RI.

Meskipun saat ini, Ahmad Sahroni telah menjelma sebagai seorang milyader, ia tetap menjadi pribadi yang humble dan ramah dengan siapapun. Bahkan, ia tidak malu makan di warung pinggiran.

Selain itu, Sahroni juga tetap tinggal di daerah tanjung priok, yang menjadi tempat ia dibesarkan. Ia membangun rumas yang sangat besar dan luas, dengan luas sekitar 400 meter dengan 4 lantai. Di rumahnya juga terdapat lift untuk akses naik turun lantai.

Pengalaman masa lalunya yang cukup berat, membuat sahroni sangat menyayangi anaknya. Terbukti, meskipun memiliki kegiatan yang super sibuk, ia selalu menyisihkan waktunya untuk keluarga. Selain itu dia juga sosok yang sangat taat beribadah.

Sahroni memiliki hobi dengan mobil sport, jadi tidak heran jika di garasi rumahnya terparkir banyak koleksi mobil sport dari Lamborgini hingga mobil Ferrari. Karena itulah ia dipilih sebagai ketua klub Ferrari Indonesia dan pernah menjadi ketua klub Mercedes Indonesia.

Baca Juga : Profil Royke Tumilaar – Dirut Baru Bank Mandiri

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ahmad Sahroni Crazy Rich Tanjung Priok. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.