Profil Mahfud MD – Menko Polhukam Kabinet Indonesia Maju

Profil Mahfud MD – Prof. Dr. Mohammad Mahfud MD.,S.H. ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai Menteri koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan atau Menkopolhukam pada Kabinet Indonesia Maju. Mahfud MD pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia dan juga menjabat posisi menteri di era pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur. Dan saat ini ia menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan dimasa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Baca Juga : Profil Fachrul Razi – Menteri Agama Kabinet Indonesia Maju

Mengenal lebih dekat Mahfud MD dengan mengetahui profil lengkapnya berikut.

Profil Mahfud MD

Mohammad Mahfud atau lebih dikenal Mahfud MD lahir pada 13 Mei 1957 di Omben, Sampang Madura. Dari pasangan Mahmodin dan Suti Khadidjah. MD merupakan inisial yang berasal dari nama ayahnya, karena pada saat SMP ada dua anak yang memiliki nama Mahfud maka untuk membedakannya ditambahkan MD.

Pendidikan dasar Mahfud MD diselesaikan di dua jenis pendidikan, yaitu pendidikan agama dan umum. Pagi hari belajar umum di sekolah dasar dan sore harinya sekolah agama di Madrasah Ibtida’iyah di Pondok Pesantren al Mardhiyyah, Waru, Pamekasan, Madura. Selanjutnya, ia melanjutkan pendidikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN), SLTP 4 Tahun, Pamekasan Madura, dan Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), SLTA 3 Tahun.

Setelah itu, Mahfud MD melanjutkan pendidikan ke dua perguruan tinggi sekaligus, yaitu Jurusan Sastra Arab di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Jurusan Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta. Dengan nilai bagus yang diperoleh Mahfud memudahkannya mendapatkan beasiswa untuk membiayai kuliahnya.

Baca Juga: Profil Wishnutama – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Karir Mahfud MD

Ia berhasil lulus dengan gelar sarjana hukum pada usia 26 tahun, selanjutnya ia memulai kariernya sebagai dosen di kampus almamaternya UII.

Mahfud MD juga pernah menjadi Guru Besar bidang Politik Hukum pada tahun 2000, dalam usia yang terbilang masih muda yakni 43 tahun.

Karir Mahfud MD secara nasional terdengar saat ia dipilih menjadi Menteri Pertahanan oleh Presiden Abdurrahman Wahid pada periode 2000-2001. Mahfud juga merangkap Menteri Kehakiman dan HAM di masa jabatan Abdurrahman Wahid.

Setelah tidak berkarir di eksekutif, Mahfud terjun ke dunia legislatif. Awalnya, ia bergabung dengan Partai Amanat Nasional (PAN), partai besutan Amien Rais, tapi akhirnya memilih mantap ke Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), pertai yang didirikan oleh Abdurrahman Wahid.

Pada pemilu 2004, Mahfud terpilih sebagai anggota legislatif dari PKB untuk periode 2004-2009, namun jabatannya berakhir pada 2008, karea ia mengikuti uji kelayakan calon hakim konstitusi. Mahfud MD lolos dan terpilih menjadi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) untuk periode 2008-2013. Dilansir dari situs MK, Mahfud MD memiliki ketegasan, kelugasan, dan kejujuran saat memimpin Mahkamah Konstitusi semakin membawa harum namanya dan lembaga yudikatif.

Baca Juga : Profil Angela Tanoesoedibjo – Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif

Pada Pilpres 2014, Mahfud MD menjadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Namun, paslon yang dia dukung kalah atas Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Meskipun menjadi bagian dari Tim lawan Jokowi di Pilpres 201 lalu, Mahfud MD tetap dipandang sebagai tokoh yang mumpuni, dan ia diangkat menjadi anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) yang dibentuk Presiden Jokowi.

Hingga pada pilpres 2019 lalu, sempat terdengat bahwa Mahfud MD dikait-kaitkan sebagai calon peserta Pilpres 2019. Mahfud MD sempat digadang-gadang akan menjadi calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo di Pilpres 2019. Hingga akhirnya Ma’ruf Amin yang menjadi cawapres mendampingi Jokowi.

Dan pada saat ini Mahfud MD ditunjuk oleh Presiden Jokowi untuk menjadi Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan. Hal ini menjadikan Mahfud Menko Polhukam pertama yang berasal dari sipil.

Berdasarkan pengakuannya, Mahfud mengetahui dirinya ditunjuk sebagai menteri setelah dikirimi ucapan selamat oleh AM Hendropriyono.

“Saya baru sadar juga tadi malem pak AM Hendropriyono kirim pesan ke sana, (isinya) selamat atas adinda telah diangkat sebagai Menko Polhukam sipil murni pertama sepanjang sejarah Republik. Saya baru tahu itu kok saya orang sipil pertama,” ujar Mahfud di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu yakin akan cepat beradaptasi dengan cara kerja Menko Polhukum. Khususnya, soal mengkoordinasikan penegakan hukum sehingga tak mengecewakan masyarakat.

Baca Juga : Profil Adamas Belva Syah Devara – CEO Ruangguru

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Fachrul Razi – Menteri Agama Kabinet Indonesia Maju. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Fachrul Razi – Menteri Agama Kabinet Indonesia Maju

Profil Fachrul Razi – Presiden Jokowi menunjuk Jenderal (Purn) TNI Fachrul Razi sebagai Menteri Agama dalam kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Fachrul Razi merupakan satu dari sejumlah pensiunan TNI yang dipercaya Jokowi untuk memperkuat kabinetnya.

Fachrul Razi menggantikan posisi Lukman Hakim Saifuddin yang pada periode pertama menjabat sebagai Menteri Agama dijabar oleh kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca Juga : Profil Angela Tanoesoedibjo – Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif

Profil Fachrul Razi

Mengenal lebih dekat Menteri Agama Fachrul Razi secara lengkap berikut ini.

Nama: Fachrul Razi
Tempat/Tanggal Lahir: Banda Aceh, 26 Juli 1947
Pendidikan: Akademi Militer (1970)

Karier:

  • Gubernur Akademi Militer (1996-1997)
  • Asisten Operasi KASUM ABRI (1997-1998)
  • Kepala Staf Umum ABRI (1998-1999)
  • Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (1999)
  • Wakil Panglima TNI (1999-2000)
  • Ketua Tim Bravo 5 (2019)

Baca Juga: Profil Wishnutama – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Posisi tertinggi yang ia tempati pada dunia militer yaitu sebagai Wakil Panglima TNI pada 1999-2000.

Dalam perjalanan kariernya, Fachrul pernah meneken surat rekomendasi pemecatan Letjen (Purn) Prabowo Subianto saat menjadi Wakil Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP).

Namun hal tersebut tidak membuat hubungannya dengan Prabowo terganggu. Karena sebelumnya, Prabowo dan Fachrul merupakan rekan sealmamater di TNI.

Terakhir, Fachrul menjabat sebagai Ketua Tim Bravo 5, yakni Tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019 yang beranggotakan para purnawirawan TNI.

Dan saat ini, ia telah ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Agama periode 2019-2024.

Diketahui, Fachrul menyampaikan siap bekerja sama dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Letjen (Purn) Prabowo Subianto.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Fachrul Razi – Menteri Agama Kabinet Indonesia Maju. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Angela Tanoesoedibjo – Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Maju

Profil Angela Tanoesoedibjo – Angela Herliani Tanoesoedibjo merupakan putri sulung Ketua Umum Perindo, Hary Tanoesoedibjo yang saat ini menjabat sebagai wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Maju.

Angela merupakan pengusaha muda dibidang media dan juga terjun ke dunia politik dengan maju sebagai caleg Perindo pada pemilihan umum legislatif Indonesia 2019 dengan Dapil Jatim I Surabaya-Sidoarjo.

Angela menjabat sebagai komisaris Media Nusantara Citra dan wakil direktur televisi RCTI dan GTV. Dan saat ini ia menjabat sebagai Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif mendampingi Wisnutama yang saat ini menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Kabinet Indonesia Maju.

Mengenal lebih dekat Angela Tanoesoedibjo dengan mengetahui profilnya secara lengkap.

Baca Juga: Profil Wishnutama – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Profil Angela Tanoesoedibjo

Angela merupakan putri sulung pasangan pengusaha media dan politisi Hary Tanoesoedibjo serta Liliana Tanaja Tanoesoedibjo, dengan nama lengkap Angela Herliani Tanoesoedibjo, kelahiran Ottawa, 23 April 1987.

Angela merupakan lulusan University of Technology Sydney, Australia dan Universitas New South Wales. Sebelum lulus, tepatnya pada 2008, ia menjadi salah satu pencetus dan Editor in Chief di HighEnd Magazine dan HighEnd Teen Magazine.

Pada tahun 2010, setelah lulus kuliah, Angela menjabat sebagai staf keuangan pada 2010 di MNC Group untuk pertama kali. Pada 2012, ia didaulat menjadi Co-Managing Director di MNC Channel.

Pada 12 Desember 2014, Angela mengikat janji suci pernikahan dengan pengusaha Michael Dharmajaya, dan mereka dikaruniai dua buah hati yakni Theodore Maximilian Dharmajaya dan Madeline Dharmajaya.

Baca Juga : Profil Angkie Yudistia – Staff Khusus Presiden Jokowi

Perjalanan Karir Angela Tanoesoedibjo

Awal karir Angela dimulai saat masih berkuliah. Ia pendiri dan sempat menjadi majalah Editor in Chief dari HighEnd Magazine dan HighEnd Teen Magazine.

Pada tahun 2008, ia menjabat sebagai Director PT MNI Entertainment.

Pada tahun 2010, ia sempat menjadi Corporate Finance & Business Development Associate PT Media Nusantara Citra, TBK

Kemudian menjadi Direktur PT Megah Group pada tahun 2013. Ia juga dipercaya menjadi Co-Head Vice President MNC Channel.

Pada tahun 2014 ia menjabat Managing Director PT Global Informasi Bermutu yang membawahi televisi Global TV.

Setelah itu, Angela menjadi Director PT Media Nusantara Citra, Tbk pada tahun 2016.

Angela juga berhasil meningkatkan pamor Global TV dnegan beberapa program cetusannya seperti Bedah Rumah dan Uang Kaget.

Lalu pada 2018, ia mengubah branding Global TV menjadi GTV.

Pada tahun yang sama, anggela menjabat sebagai Managing Director PT. Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI).

Berdasarkan informasi, Angela juga merupakan Komisaris PT MNC Investama Tbk.

Pada pemilu 2019 lalu, Angela Tanoesoedibjo mencoba peruntungannya di dunia politik dengan maju sebagai caleg di Pileg 2019 dari Perindo Dapil Jatim I Surabaya-Sidoarjo. Namun langkahnya harus berhenti karena Angela hanya meraup 30.707 suara.

Sementara itu, dalam struktur pengurus Partai Perindo, Angela Tanoesoedibjo menduduki posisi wakil sekretaris jenderal.

Baca Juga : Profil Putri Indahsari Tanjung –Staff Khusus Presiden Jokowi

Dan saat ini, ia ditunjuk sebagai Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif mendampingi Wisnutama yang menjabat sebagai Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif Kabinet Indonesia Maju.

Setelah menjabat Wamen Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela mengatakan akan berhenti dari jabatan di perusahaan,

“Tentunya menurut ketentuan yang berlaku, saya akan mundur dari semua jabatan di MNC Grup dan partai politik,” kata Angela di Istana Negara usai bertemu Jokowi.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Angela Tanoesoedibjo – Wakil Menteri Parisiwata dan Ekonomi Kreatif . Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Andi Taufan Garuda Putra – Founder & CEO Amartha Jadi Staf Khusus Presiden

Profil Andi Taufan Garuda Putra – Pada tanggal 21 November 2019 lalu, presiden Joko Widodo mengenalkan 7 staf khusus dari kalangan milenial yang salah satunya Founder dan CEO Amartha, yaitu Andi Taufan Garuda Putra.

Andi Taufan Garuda Putra diperkenalkan Jokowi di Istana Merdeka pada kamis sore 21 November 2019 lalu, bersama enam staf khusus dari kalangan milenial lainnya.

“Andi Taufan Garuda Putra, usia 32 tahun, lulusan Harvard Kennedy School, bergerak di dunia Entreprenueur. Banyak meraih penghargaan atas inovasi dan kepedulain di sektor UMKM,” kata Jokowi saat memperkenalkan Andi.

Andi Taufan Garuda Putra atau lebih akrab disapa Taufan ini merupakan Founde dan CEO Amartha, yaitu perusahaan pionir teknologi finansial peer to peer lending yang menghubungkan pendana di perkotaan  dengan perempuan pengusaha mikro di pedesaan melalui teknologi.

Ia memiliki segudang prestasi dan penghargaan atas inovasi dan kepeduliannya di sektor UMKM. Mengenal  lebih dekat Andi Taufan Garuda Putra dengan mengetahui profil lengkapnya.

Profil Andi Taufan Garuda Putra

Andi Taufan Garuda Putra merupakan pria kelahiran Bogor, 24 Januari 1987 yang merupakan pendiri  lembaga Amartha Microfinance di Ciseeng, Bogor. Amartha adalah perusahaan teknologi finansial peer to  peer lending yang ada di Indonesia.

Taufan merupakan lulusan Manajemen Bisnis di Institut Teknologi Bandung pada tahun 2008, dan pada  tahun 2015-2016, Taufan melanjutkan pendidikannya di Harvard Kennedy School dan mendapatkan gelar  Master of Public Administration.

Setelah lulus dari ITB, Taufan masuk sebagai karyawan perusahaan multinasional IBM sebagai konsultan bisnis. Dua tahun di IBM, ia kemudian mengajukan resign pada 2009 dan mendirikan Amartha Microfinance.

Tujuan Taufan mendirikan Amartha sebagai lembaga keuangan mikro untuk membantu pemodalan masyarakat desa untuk membuka usaha.

Awalnya, Amartha dijalankan disekitaran Ciseeng, Bogor. Ia melihat banyak masyarakat kelas bawah yang tak tersentuh lembaga keuangan modern seperti bank. Lantas ia memiliki tujuan untuk dapat membantu golongan menengah kebawah di daerah Ciseeng agar terbebas dari renternir melalui pinjaman online.

Pada 2016, Amartha bertransformasi menjadi tekfin p2p lending sebagai upaya menjangkau jutaan pelaku usaha mikro perempuan di pedesaan. Pada 2019, Amartha mengantongi izin usaha Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan berhasil menyalurkan Rp1,6 triliun kepada lebih dari 340.000 mitra di 5.400 pedesaan.

Taufan beberapa kali mendapatkan penghargaan seperti, Finalis Indonesia MDGs Awards, finalis IPA Social Innovations and Enterpreneurship (Solve) Award, penerima SATU Indonesia Award, finalis Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI), penerima Ashoka Young Change Makers Awards, serta Muda Berkarya.

Pada saat melanjutkan pendidikan di Harvard Kennedy School pada 2015-2016, Ia sempat meraih gelar Master of Public Administration. Ia juga sempat mengambil Summer Academy, Inclusive Finance pada 2013 di Frankfurt School of Finance & Management, Jerman.

Dan saat ini, Taufan resmi menjadi staff khusus Presiden Jokowi di bidang usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Selain Andi Taufan Garuda Putra – Founder & CEO Amartha , ada 6 staff khusus presiden dari kalangan milenial lainnya yaitu Angkie Yudistia (CEO Thisable Enterpise), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru), Putri Indahsari Tanjung (CEO CreativePreneur Event), Ayu Kartika Dewi (Pendiri SabangMerauke) , Profil Aminuddin Ma’ruf (Mantan Ketua PMII) dan Gracia Billy Yosaphat Membrasar (CEO Kitong Bisa) akan membantu Jokowi sebagai staf khusus.

Itulah informasi yang diberikan tentang Andi Taufan Garuda Putra – Founder & CEO Amartha. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Aminuddin Ma’ruf – Staf Khusus Presiden Jokowi Kalangan Milenial

Profil Aminuddin Ma’ruf – Aminuddin Ma’ruf ditunjuk menjadi salah satu staf khusus Presiden Joko Widodo dari kalangan milenial. Presiden Jokowi memperkenalkan tujuh orang itu kepada pers di beranda Istana Merdeka, Jakarta, Kamis 21 november 2019 lalu.

Aminuddin Ma’ruf adalah Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016. Aminuddin memiliki tugas khusus dari Presiden Joko Widodo, yaitu berkomunikasi dan berhubungan dengan kelompok-kelompok strategis.

Tugas tersebut bersinggungan langsung dengan mahasiswa se-nusantara termasuk para santri di Tanah Air.

Mantan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016 tersebut berpesan sebagai anak desa dan seorang santri, masyarakat tidak boleh lupa dan patut bangga dalam menjadi bagian dari masa depan Indonesia.

“Santri tidak hanya mengaji, tapi juga mengkaji banyak hal terkait ilmu pengetahuan,” katanya.

Mengenal lebih dekat Aminuddin Ma’ruf, anak petani yang menjadi Staf Khusus Presiden dari kalangan milenial, berikut ini.

Baca Juga : Profil Gracia Billy Yosaphat Membrasar

Profil Aminuddin Ma’ruf

Aminuddin Ma’ruf, pria kelahiran Karawang, 27 Juli 1986 merupakan Putra bungsu dari tujuh saudara yang dibesarkan dari keluarga petani di Desa Tanahbaru Kecamatan Pakisjaya Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat.

Sejak kecil, ia sudah merasakan kehidupan dengan beragam keterbatasan. Namun hal tersebut tidak membuat semangatnya surut untuk mencapai cita-cita.

Meskipun lahir dari latar belakang keluarga petani, Aminuddin cukup jarang bersentuhan dengan lingkungan sawah. Sebab kedua orang tuanya yang justru melarang untuk ikut bekerja secara langsung disawah. Namun, karena sifat gigihnya, ia etap memilih ikut terlibat untuk membantu orang tuanya saat musim panen padi tiba.

Siapa sangka, saat ini pria yang lahir dari latar belakang keluarga petani malah ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai staf khusus presiden.

Baca Juga : Profil Ayu Kartika Dewi

Karir Aminuddin Ma’ruf

Aminuddin Ma’ruf merupakan Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016. Namun sebelum menjadi ketua PMII, Aminuddin terlebih dahulu dipercaya sebagai Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Meskipun aktif berorganisasi, tak menjadikannya sebagai halangan untuk tetap menimba ilmu setinggi langit.

Aminuddin Ma’ruf berhasil menyelesaikan pendidikan SI-nya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). dan S2-nya dilanjutkan di Universitas Trisakti Jakarta.

Baca Juga : Profil Putri Indahsari Tanjung

Setelah tidak lagi menjadi ketua PMII, Aminuddin Ma’ruf pernah ditunjuk menjadi Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019.

Dan ditahun 2019 ini, Aminuddin Ma’ruf dipilih langsung dari Presiden Jokowi untuk menjadi salah satu staf khusus presiden dari kalangan milenial bersama enam anak muda berprestasi lainnya.

Ma’ruf mengatakan, setelah diangkat menjadi staf khusus Presiden Jokowi, ia ditugaskan untuk menjalin komunikasi secara intens dengan kelompok-kelompok santri dan mahasiswa.

Baca Juga : Profil Angkie Yudistia

“Saya diberikan tugas untuk berkomunikasi intens dengan kelompok-kelompok yang salah satunya kelompok santri, pemuda, mahasiswa dan lembaga sosial keagamaan dan lain-lain,” ujarnya. Lebih lanjut, Ma’ruf mengatakan, tujuh staf khusus Presiden Joko Widodo dari kalangan milenial, bertugas menjadi teman diskusi presiden. “Kemarin yang dikenalkan Presiden Jokowi 7 orang itu, tugas utamanya adalah memberikan masukan inovasi dan gagasan terobosan terhadap program prioritas yang sudah ditetapkan oleh presiden,” Ujarnya.

Selain Aminuddin Ma’ruf , ada 6 staff khusus presiden dari kalangan milenial lainnya yaitu Angkie Yudistia (CEO Thisable Enterpise), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru), Putri Indahsari Tanjung (CEO CreativePreneur Event), Ayu Kartika Dewi (Pendiri SabangMerauke) , Andi Taufan Garuda Putra (Pendiri Amartha) dan Gracia Billy Yosaphat Membrasar (CEO Kitong Bisa) akan membantu Jokowi sebagai staf khusus.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Aminuddin Ma’ruf. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Gracia Billy Yosaphat Membrasar – Mahasiswa Cerdas Asal Papus yang Jadi Staff Khusus Presiden Jokowi

Profil Gracia Billy Yosaphat Membrasar – Gracia Billy Yosaphat Membrasar, pemuda asal Papua yang dipercaya menjadi salah satu staf khusus presiden Jokowi dari kalangan milenial.

Namanya termasuk salah satu dari 6 lainnya yang disebut Presiden Joko Widodo ketika mengumumkan komposisi staf khususnya di Istana Negara, Jakarta. “Billy adalah putra tanah Papua, lulusan ANU (Australian National University) dan sekarang, sebentar lagi, selesai di Oxford. Oktober akan masuk ke Harvard untuk S3-nya,” ujar Presiden di beranda Istana Negara, Jakarta.

“Billy adalah talenta hebat tanah Papua yang kita harapkan ke depan berkontribusi dengan gagasan positif,” lanjut dia.

Saat ini Billy sedang menempuh pendidikan S2 di University of Oxford, Inggris dan telah menamatkan pendidikan di Australian National University dengan gelar Master of Business Administration (MBA), Sustainability Management.

Billy juga memiliki gelar sarjana sains dari University of London, dan dalam waktu dekat ini, billy akan melanjutkan pendidikan doktoralnya dengan beasiswa afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat.

Mengenal lebih dekat Gracia Billy Yosaphat Membrasar dengan mengetahui profil dari Billy berikut ini.

Baca Juga : Profil Angkie Yudistia

Profil Gracia Billy Yosaphat Membrasar

Gracia Billy Yosaphat Membrasar lahir di Serui, Kepulauan Yapen, Papua. Billy terlahir dari dari keluarga kurang mampu. Ayahnya berprofesi sebagai guru dan ibunya membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kue. Tak jarang, sewaktu kecil Billy sering ikut membantu sang ibu untuk berjualan kue.

Billy memiliki hoby bernyanyi, dimasa kecilnya untuk menutupi kebutuhan hidup, ia bernyanyi dimana saja. Seperti di acara pernikahan, dikafe bahkan mengamen di jalan-jalan.

Billy hidup dengan keterbatasan, rumah Billy tidak dialiri listrik. Pelita menjadi teman ketekukan Billy untuk tetap melahap semua buku-buku pelajaran.

Keterbatasan tidak membuat Billy jatuh, ia tetap belajar dengan tekun dan kecerdasannya mulai terlihat ketika ia lulus SMP. Billy mendapatkan beasiswa menempuh pendidikan SMA di Jayapura dari Pemerintah Povinsi Papua.

Saat itu, Billy menjadi lulusan terbaik dari sembilang kabupaten yang mendapat beasiswa afirmasi dari pemerintah dan ia diterima di Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Baca Juga : Profil Lengkap Wishnutama 

Perjalanan Karir

Billy pernah diundang untuk magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di depan State Department AS.

Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, Billy yang merupakan penggemar Ir.Soekarno ini sempat bertemu dan berjabat tangan dengan Barack Obama.

Setelah lulus dari kuliah, Billy mendapatkan pekerjaan bergensi dari salah satu perusahaan minyak dan gas asal Inggris. Namun, meskipun mendapatkan pekerjaan dengan gaji fantastis tidak Billy bahagia.

Setelah melakukan banyak pertimbangan, akhirnya ia meninggalkan pekerjaannya. Ia melepas jabatan diperusahaannya dan memilih berfokus mengurus lembaga “Kitong Bisa” yaitu lembaga yang didirikan sejak tahun 2009, yang memfokuskan diri pada persoalan pendidikan anak-anak papua.

Kitong bisa yang berarti “kita bisa” berfokus pada anak-anak Papua agar bisa meraih pendidikan meskipun berasal dari keluarga kurang mampu.

Saat ini, Kitong bisa telah mengoperasikan sembilan pusat pendidikan di Papua dan Papua Barat. Dengan jumlah relawan sebanyak 158 yang mengajar sekitar 1.100 anak.

Baca Juga : Profil Putri Indahsari Tanjung

Yayasan Kitong Bisa mendapatkan dana yang bersumber dari dua anak perusahaan yaitu Kitong Bisa Consulting dan Kitong Bisa Enterprise.

Berkat aktivitasnya di yayasan Kitong Bisa, Billy dapat menempuh pendidikan di Australian National University dan Oxford University di Inggris dengan Beasiswa.

Billy juga menjabat sebagai konsultan untuk Proyek Sektor Publik, seperti di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, memberi nasihat tentang Pendekatan Pembangunan Manusia untuk Provinsi Papua dan Papua Barat.

Selain itu Billy juga menyusun tim revitalisasi Sekolah Kejuruan untuk Provinsi Papua Barat, dan sedang bekerja menyusun Konsep Investasi Inisiatif Hijau yang Inklusif untuk Masyarakat Asli Papua, dengan organisasi Perdagangan Berkelanjutan IDH.

Baca Juga : Profil Ayu Kartika Dewi

Berkat inisiatif untuk membangun Papua dan Papua Barat, Billy banyak menerima penghargaan termasuk pengakuan internasional dan liputan medis yang luas.

Billy berhasil membuktikan meski berasal dari keluarga tidak mampu di Papua, kini ia menjadi Staf Khusus Presiden Jokowi.

Selain Gracia Billy Yosaphat Membrasar , ada 6 staff khusus presiden dari kalangan milenial lainnya yaitu Angkie Yudistia (CEO Thisable Enterpise), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru), Putri Indahsari Tanjung (CEO CreativePreneur Event), Ayu Kartika Dewi (Pendiri SabangMerauke) , Andi Taufan Garuda Putra (Pendiri Amartha) dan Aminuddin Ma’ruf (mantan Ketua PMII) akan membantu Jokowi sebagai staf khusus.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Gracia Billy Yosaphat Membrasar. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Profil Ayu Kartika Dewi – Pendiri Lembaga Sabang Merauke Jadi Staf Khusus Presiden Kalangan Milenial

Profil Ayu Kartika Dewi – Nama Ayu Kartika Dewi mencuri perhatian setelah ditunjuk oleh Presiden Jokowi sebagai staf khusus dari kalangan milenial di Istana Merdeka.

Presiden Jokowi meyebut Ayu Kartika Dewi adalah salah satu anak muda yang memiliki misi mulia untuk merekatkan persatuan di tengah kebhinekaan, menjadi pendiri dan mentor lembaga SabangMerauke 1000 Anak Bangsa Merantau untuk Kembali.

Baca Juga : Profil Angkie Yudistia

Lalu siapa sosok Ayu Kartika Dewi?

Profil Ayu Kartika Dewi

Ayu Kartika Dewi, wanita kelahiran Banjarmasin 36 tahun silam. Berdasarkan informasi yang didapatkan, Ayu menempuh pendidikan menengah pertama di SMP N 1 Balikpapan, kemudian melanjutkan sekolah di SMAN 5 Surabaya.

Setelah itu, Ayu melanjutkan kuliah di urusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (Unair). Selama menjadi mahasiswa, Ayu pernah meraih banyak prestasi.

Beberapa prestasinya yaitu hasil skripsinya terpilih untuk mendapatkan Student Grant dari Asian Development Bank, menjadi presenter terbaik Student Grant seluruh Indonesia, Mahasiswa Berprestasi Peringkat Pertama FE Unair 2 tahun berturut-turut, dan peringkat ke-4 se-Unair pada 2003.

Baca Juga : Profil Lengkap Wishnutama 

Dilansir dai laman Linkedln miliknya, pasca lulus dari kuliah, Ayu memilih bekerja di P&G di Singapura sebagai Consumer Insights Manager dari 2007 hingga 2010. Namun, disaat karirnya cemerlang, Ayu justru keluar dari zona nyaman.

Ayu memilih untuk gabung bersama Gerakan Indonesia Mengajar yang diprakarsai Anies Baswedan. Ayu menjadi angkatan pertama Indonesia Mengajar dan saat itu dia ditugaskan mengajar di SD di Maluku Utara.

Pada tahun 2013, ayu mendirikan SabangMerauke yaitu sebuah program pertukaran pelajar antar-daerah di Indonesia untuk menanamkan nilai toleransi, pendidikan, dan keindonesiaan. Saat ini Ayu menjabat sebagai mentor pada Board of Directors SabangMerauke.

Banyak hal yang dilakukan Ayu demi pendidikan anak-anak di Indonesia. Berkat itu juga, Ayu mendapatkan beasiswa Keller Scholarship dan Fulbright Scholarship untuk melanjutkan kuliah di Duke University – Fuqua School of Business, Amerika Serikat. Lulus dengan gelar MBA, Ayu sempat bekerja sebagai konsultan di McKinsey selama tiga bulan pada 2014.

Lalu selanjutnya pada tahun 2015, Ayu bekerja sebagai Staf Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan sempat bekerja sebagai staf di Unit Kerja Presiden (UKP4).

Baca Juga : Profil Putri Indahsari Tanjung

Selain itu, Seiring dengan organisasi SabangMerauke yang dibangunya, Ayu juga aktif dalam organisasi yang berfokus pada pendidikan perdamaian dan pembangunan karakter, Indika Foundation sebagai Managing Director.

Dan kini, Ayu Kartika Dewi ditunjuk sebagai salah satu staf khusus Jokowi dalam bidang sosial, ia akan fokus mengurusi isu tentang perdamaian dan toleransi.

“Kalau orang-orang bisa berpikir kritis, Indonesia bisa lebih maju dan karena saya peduli banget dengan perdamaian, bisa berkolaborasi, harusnya Indonesia bisa lebih damai, kita ngomongin toleransi tidak jauh-jauh dari kemampuan orang berpikir kritis,” ujar Ayu saat dikenalkan Jokowi di Istana Merdeka.

Selain Ayu Kartika Dewi, ada 6 staff khusus presiden dari kalangan milenial lainnya yaitu Angkie Yudistia (CEO Thisable Enterpise), Adamas Belva Syah Devara (Pendiri Ruang Guru), Putri Indahsari Tanjung (CEO CreativePreneur Event), Gracia Billy Yosaphat Membrasar (Pemuda asal Papua peraih beasiswa kuliah di Oxford), Andi Taufan Garuda Putra (Pendiri Amartha) dan  Aminuddin Ma’ruf (mantan Ketua PMII) akan membantu Jokowi sebagai staf khusus.

Itulah informasi yang diberikan tentang Profil Ayu Kartika Dewi – Pendiri Lembaga Sabang Merauke Jadi Staf Khusus Presiden Kalangan Milenial. Semoga informasi yang diberikan bermanfaat dan dapat menambah pengetahuan informasi anda.

Biografi dan Profil Lengkap K.H. Ma’ruf Amin – Ketua Majelis Ulama Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap K.H. Ma’ruf Amin –  Prof. Dr. K.H. Ma’ruf Amin adalah ulama dan politisi Indonesia. Sejak Agustus 2015, ia menjabat sebagai Rais ‘Aam Syuriah pada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beliau lahir di Kresek, Tangerang, Masa Pendudukan Jepang pada 11 Maret 1943 (75 tahun).

Pada masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ma’ruf Amin duduk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Pada 9 Agustus 2018, Ma’ruf Amin diumumkan sebagai calon Wakil Presiden Indonesia pada pemilihan umum Presiden Indonesia 2019, mendampingi petahana Joko Widodo.

Profil Singkat K.H. Ma’ruf Amin

Nama: Ma’ruf Amin
Lahir: Kresek, Tangerang, Masa Pendudukan Jepang, 11 Maret 1943 (umur 75)
Pekerjaan:
Dosen
Politisi
Ulama
Keluarga:
Mohamad Amin (Ayah)
Siti Churiyah (m.?–2013), Wury Estu Handayani (m.2014) (Istri)
Siti Haniatunnisa, Siti Makrifah (Anak)
Buku:
Mengenal dan mewaspadai penyimpangan Syi’ah di Indonesia
Fatwa dalam sistem hukum Islam

Riwayat Pendidikan K.H. Ma’ruf Amin

Pendidikan Umum
SR Kresek, Tangerang (1955)
Madrasah Ibtidaiyah Kresek, Tangerang (1955)
Madrasah Tsanawiyah Pesantren Tebuireng, Jombang (1958)
Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang (1961)
Fakultas Ushuluddin Universitas Ibnu Chaldun, Bogor (1967)

Pendidikan Khusus
Pesantren, Banten (1963)

Perjalanan Karier K.H. Ma’ruf Amin

Berikut jabatan yang pernah dipegang oleh K.H. Ma’ruf Amin, diantaranya yaitu:

  • Guru Sekolah-sekolah di Jakarta Utara (1964-1970)
  • Pendakwah (1964)
  • Dosen Fakultas Tarbiyah Universitas Nahdatul Ulama (Unnu), Jakarta (1968)
  • Direktur dan Ketua Yayasan Lembaga Pendidikan dan Yayasan Al-Jihad (1976)
  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (kehidupan beragama) (2007–2010)
  • Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (2010–2014)
  • Anggota DPRD DKI Jakarta dari Utusan Golongan (1971-1973)
  • Ketua Fraksi Utusan Golongan DPRD DKI Jakarta
  • Anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1973-1977)
  • Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPRD DKI Jakarta
  • Anggota DPRD DKI Jakarta dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) (1977-1982)
  • Pimpinan Komisi A dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
  • Anggota MPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1997-1999)
  • Anggota MPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  • Anggota DPR RI dari PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999-2004)
  • Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  • Anggota Panitia Anggaran DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)
  • Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) (1999)
  • Ketua Ansor, Jakarta (1964-1966)
  • Ketua Front Pemuda (1964-1967)
  • Ketua NU, Jakarta (1966-1970)
  • Wakil Ketua Wilayah NU, Jakarta (1968-1976)
  • Anggota Koordinator Da’wah (Kodi), Jakarta (1970-1972)
  • Anggota Bazis (Badan amil zakat, infaq, dan shadaqah), Jakarta (1971-1977)
  • Ketua Dewan Fraksi PPP (1973-1977)
  • Anggota Pengurus Lembaga Da’wah PBNU, Jakarta (1977-1989)
  • Ketua Umum Yayasan Syekh Nawawi Al Bantani (1987)
  • Katib Aam Syuriah PBNU (1989-1994)
  • Anggota MUI Pusat (1990)
  • Rois Syuriah PBNU (1994-1998)
  • Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat (1996)
  • Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) (1996)
  • Ketua Dewan Syuro PKB (1998)
  • Mustasyar PBNU (1998)
  • Anggota Komite Ahli Pengembangan Bank Syariah Bank Indonesia (1999)
  • Ketua Komisi Fatwa MUI (2001-2007)
  • Mustasyar PKB (2002-2007)
  • Ketua Harian Dewan Syariah Nasional MUI (2004-2010)
  • Ketua MUI (2007-2010)
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia ke-7 (Sejak 27 Agustus 2015)
  • Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ke-10 (Se6 Agustus 2015)

Biografi K.H Ma’ruf Amin

K.H Ma’ruf Amin lahir di Desa Kresek wilayah Tangerang, Banten pada tanggal 1 Agustus 1943. Dari silsilah keluarga K.H Ma’ruf Amin merupakan keturunan dari ulama besar asal Banten yang pernah menjadi imam Masjidil Haram bernama Syeikh An Nawawi Al Bantani.

Masa Kecil dan Kehidupan Pribadi K.H Ma’ruf Amin

Masa kecil Ma’ruf Amin lebih banyak dihabiskan di desa Kresek, Tangerang. Ayahnya yang bernama K.H. Mohammad Amin merupakan seorang ulama besar Banten.

Sewaktu kecil, aktifitas Ma’ruf Amin di pagi ia habiskan untuk bersekolah di SD. Lalu sorenya, ia habiskan belajar mengaji di Madrasah Ibtidaiah. Ma’ruf Amin sempat belajar agama selama beberapa bulan di Pesantren Citangkil, Silegon, Banten milik KH. Syam’un Alwiah.

Pada usia 12 tahun, Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikan agama ke Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur pada tahun 1955. Pendidikan Ma’ruf Amin di pesantren Tebu Ireng dimulai dari dasar.

Setelah selesai menimba ilmu di pesantren Tebu Ireng, Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya di Jakarta tepatnya di SMA Muhammadiyah. Akan tetapi, pendidikan tersebut tidak selesaikan.

Ma’ruf Amin memilih kembali ke Banten dan lebih mendalami agama islam di berbagai pondok pesantren lagi mulai dari Pesantren Caringin, Labuan, Pesantren Petir, Serang, dan Pesantren Pelamunan, Serang.

Pada tahun 1963, KH Ma’ruf Amin menikah dengan Siti Huriyah yang juga berasal dari keluarga ulama. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai dua orang anak bernama Siti Haniatunnisa dan Siti Makrifah.

Pada tahun 2013, Siti Huriyah wafat. Setelah itu pada tahun 2014, beliau menikah dengan Wury Estu Handayani. Setelah menikah dengan Siti Churiyah, beliau pindah ke Jakarta dan menetap di Jakarta Utara. Disana Ma’ruf Amin melanjutkan pendidikannya dengan kuliah di Universitas Ibnu Khaldun Bogor di Fakultas Ushuludin. Beliau juga aktif di organisasi Gerakan Pemuda Ansor Jakarta dan menjadi ketuanya pada tahun 1964.

Menjadi Anggota DPRD Jakarta

Berbekal pengalamannya sebagai ketua GP Ansor Jakarta, Karir Ma’ruf Amin di politik menanjak. Ia berhasil menjadi anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Golongan Islam pada gelaran pemilu 1971. Pada tahun 1989, nama Ma’ruf Amin mulai masuk di lingkaran PBNU setelah didaulat sebagai Khatib Aam Syuriah PBNU dalam sebuah Mukhtamar NU yang digelar di Pesantren Krapyak.

Ikut Mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)

Pasca Presiden Soeharto lengser pada tahun 1998, KH. Ma’ruf Amin menjabat sebagai ketua tim lima yang dibentuk oleh PBNU. Dari tim ini lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Setelah Partai Kebangkitan Bangsa berdiri, KH. Ma`ruf Amin menjabat sebagai anggota MPR RI dari perwakilan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia juga pernah menjadi Ketua Komisi VI DPR RI dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)

Setelah Gusdur lengser, K.H. Ma’ruf Amin lebih banyak menghabiskan aktifitasnya di Majelis Ulama Indonesia sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI dari tahun 2001-2007. K.H. Ma’ruf Amin dikenal sebagai seorang ulama kemudian membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuknya masuk dalam Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Watimpres.

Pengalaman di bidang agama dan juga politik yang banyak mengantarkan K.H. Ma’ruf Amin menjabat sebagai Rais ‘Aam atau ketua umum PBNU dari tahun 2015-2020. Selain itu, beliau juga menjabat sebagai ketua MUI Pusat dari tahun 2015.

K.H. Ma’ruf Amin diketahui bahwa K.H. Ma’ruf Amin tidak pernah mengenyam pendidikan master hingga ke jenjang doktor di bidang agama. Namun, karena pengetahuannya yang sangat luas tentang agama membuatnya tidak berbeda jauh dengan orang yang sudah bergelar doktor sehingga sangat wajar jika ia mendapat gelar sebagai Profesor Doktor.

Calon Wakil Presiden Indonesia

Pada bulan Agustus 2018, Nama KH. Ma’ruf Amin ditunjuk sebagai calon wakil presiden republik Indonesia mendampingi Joko Widodo sebagai calon presiden Indonesia pada pemilihan presiden yang digelar pada tahun 2019 mendatang.

Demikian artikel tentang “Biografi dan Profil Lengkap K.H. Ma’ruf Amin – Ketua Majelis Ulama Indonesia“, semoga bermanfaat

Biografi dan Profil Lengkap Mohammad Husni Thamrin – Pahlawan Nasional Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Mohammad Husni Thamrin – Mohammad Husni Thamrin atau MH Thamrin adalah seorang politisi era Hindia Belanda yang kemudian dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia. Mohammad Husni Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia pada 16 Februari 1894 dan meninggal di Senen, Batavia pada 11 Januari 1941.

Profil Singkat Mohammad Husni Thamrin

Nama: Mohammad Husni Thamrin
Lahir: Weltevreden, Batavia, Hindia Belanda, 16 Februari 1894
Meninggal: Senen, Batavia, Hindia Belanda, 11 Januari 1941
Kebangsaan: Indonesia
Pekerjaan: Politikus dan Aktivis Kemerdekaan
Penghargaan: Pahlawan Nasional Indonesia

Kehidupan Awal Mohammad Husni Thamrin

MH Thamrin lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda pada 16 Februari 1894. Ayahnya merupakam seorang Belanda dan ibunya orang Betawi. Ayah Thamrin yaitu Tabri Thamrin adalah seorang wedana di bawah gubernur jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Sementara kakeknya, Ort merupakan seorang Inggris pemilik hotel di bilangan Petojo, menikah dengan seorang Betawi bernama Noeraini.

Sejak kecil Thamrin dirawat oleh pamannya dari pihak ibu karena ayahnya meninggal, sehingga ia tidak menyandang nama Belanda.

Setelah lulus dari Gymnasium Koning Willem III School te Batavia, Thamrin mengambil beberapa jabatan sebelum bekerja di perusahaan perkapalan Koninklijke Paketvaart-Maatschappij.

Munculnya MH Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah tidak mudah. Untuk mencapai tingkat tersebut, ia memulai dari bawah yaitu dari tingkat lokal. Dia memulai gerak sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi. Muhammad Husni Thamrin sejak muda telah memikirkan nasib masyarakat Betawi yang sehari-hari dilihatnya. Sebagai anak wedana, dia tidaklah terpisah dari rakyat “Jelata”, justru ia sangat dekat dengan mereka. Sebagaimana anak-anak sekelilingnya, ia tidak canggung untuk mandi bersama di Sungai Ciliwung dan tidur bersama mereka.

Perjalanan Karier Mohammad Husni Thamrin

Pada tahun 1929, terjadi suatu insiden dalam Gemeenteraad yaitu yang menyangkut pengisiari lowongan jabatan wakil wali kota Betawi (Batavia). Tindakan pemerintah kolonial saat itu memang sangat tidak bijaksana, karena ternyata lowongan jabatan tersebut diberikan kepada orang Belanda yang kurang berpengalaman, bukandiberikan kepada orang Betawi yang jauh lebih berpengalaman dan pantas untuk menjabat. Tindakan pemerintah tersebut mendapat reaksi keras dari fraksi nasional. Bahkan mereka mengambil langkah melakukan pemogokan, ternyata usaha mereka berhasil dan pada akhirnya Muhammad Husni Thamrin diangkat sebagai wakil wali kota Batavia.

Dua tahun sebelum kejadian tersebut, MH Thamrin memang telah melangkah ke medan perjuangan yang lebih berat, karena dia ditunjuk sebagai anggota lembaga yang lebih luas jangkauannya dan lebih tinggi martabatnya. Pada tahun 1927, Ia ditunjuk sebagai anggota Volksraad untuk mengisi lowongan yang dinyatakan kosong oleh Gubernur Jenderal. Pada mulanya kedudukan tersebut ditawarkan kepada Hos Cokroaminoto tapi ditolak. Kemudian ditawarkan lagi ke Dr.Sutomo tapi juga di tolak. Dengan penolakan dari kedua tokoh tersebut, maka dibentuklah suatu panitia, yaitu panitia Dr. Sarjito yang akan memilih seorang yang dianggap pantas untuk menduduki kursi Volksraad yang kosong. Panitia Dr. Sarjito akhirnya memilih Muhammad Husni Thamrin. Alasannya yiatu bahwa Muhammad Husni Thramrin cukup pantas menduduki kursi itu mengingat pengalamannya sebagai anggota Gemeenteraad.

Pada tahun pengangkatannya sebagai anggota Volksraad, keadaan di Hindia Belanda mengalami perubahan yang sangat penting yaitu adanya sikap pemerintah kolonial yang keras dan lebih bertangan besi. Inilah salah satu akibat yang paling buruk yang lahir dari terjadinya pemberontakan 1926 dan 1927.Namun di lain pihak saat memasuki tahun 1927 itu pula, langkah pergerakan nasional juga mengalami perubahan sebagai akibat dari didirikannya PNI dan munculnya Bung Karno sebagai pemimpin utamanya.

MH Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat) di Hindia Belanda, mewakili kelompok Inlanders (pribumi). Thamrin juga merupakan salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia.

Wafatnya Mohammad Husni Thamrin

Setelah sakit beberapa waktu lamanya, pada 11 Januari 1941, Muhammad Husni Thamrin wafat. Namun beberapa saat sebelum ia wafat, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan sangat kasar terhadap dirinya. Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar tersebut yaitu rumahnya digeledah oleh polisi rahasia Belanda (PID). Ia memprotesnya, namun tidak diindahkan. Sejak itu, rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, termasuk anak perempuannya untuk pergi ke sekolah. Tindakan polisi Belanda tersebut sangat menekan perasaandan menambah parah sakitnya.

Menurut laporan resmi, ia dinyatakan bunuh diri tapi ada dugaan ia dibunuh. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Pada saat pemakamannya, lebih dari 10000 pelayat mengantarnya kemudian berdemonstrasi menuntut penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.

Atas jasa-jasa yang telah dilakukan oleh MH Thamrin, pada tahun 1970an namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta. Selain itu, pada 19 Desember 2016 Pemerintah Republik Indonesia mengabadikan beliau di pecahan uang kertas rupiah baru yaitu pecahan Rp. 2.000,-

Demikian artikel tentang “Biografi dan Profil Lengkap Mohammad Husni Thamrin – Pahlawan Nasional Indonesia“, semoga bermanfaat

Biografi dan Profil Lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sultan Yogyakarta dan Bapak Pramuka Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Gusti Raden Mas Dorodjatun atau Sri Sultan Hamengkubuwana IX atau dalam bahasa Jawa Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah seorang sultan yang pernah memimpin Kasultanan Yogyakarta (1940–1988) dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pertama setelah kemerdekaan Indonesia. Sri Sultan Hamengkubuwono IX juga pernah menjabat sebagai wakil presiden Indonesia yang kedua (1973–1978), selain itu Ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan pernah menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat pada 12 April 1912 dan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat pada 2 Oktober 1988 pada umur 76 tahun.

Profil Singkat Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Nama: Gusti Raden Mas Dorodjatune
Gelar: Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Lahir: Ngasem, Ngayogyakarta Hadiningrat, Hindia Belanda, 12 April 1912
Meninggal: Washington, D.C., Amerika Serikat, 2 Oktober 1988
Agama : Islam
Pendidikan:
Taman kanak-kanak atau Frobel School asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul
Eerste Europeesche Lagere School di Yogyakarta (1925)
Hoogere Burgerschool (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931)
Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) lalu ekonomi
Jabatan:
Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)
Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 – 27 Juni 1947)
Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 – 11 November 1947 dan 11 November 1947 – 28 Januari 1948)
Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 – 4 Agustus 1949)
Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 – 20 Desember 1949)
Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 – 6 September 1950)
Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951)
Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)
Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)
Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)
Ketua Federasi ASEAN Games (1958)
Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)
Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)
Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)
Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)
Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)
Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 – 23 Maret 1978)

Biografi Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Sri Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Ngasem, Ngayogyakarta Hadiningrat pada 12 April 1912 dengan nama lahir Gusti Raden Mas Dorodjatun. Hamengkubuwono IX merupakan putra dari Sri Sultan Hamengkubuwana VIII dan permaisuri Kangjeng Raden Ayu Adipati Anom Hamengkunegara.

Pada usia 4 tahun, Hamengkubuwono IX tinggal pisah dari keluarganya. Hamengkubuwono IX memperoleh pendidikan di Europeesche Lagere School di Yogyakarta. Pada tahun 1925, ia melanjutkan pendidikannya ke Hoogere Burgerschool di Semarang, dan Hoogere Burgerschool te Bandoeng (HBS Bandung). Pada tahun 1930-an ia melanjutkan pendidikan perguruan tingginya di Rijkuniversiteit (sekarang Universiteit Leiden), Belanda.

Pada 18 Maret 1940, Hamengkubuwana IX dinobatkan sebagai Sultan Yogyakarta ke-9 dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga ing Ngayogyakarta Hadiningrat.

Ia merupakan sultan yang menentang penjajahan Belanda dan mendorong kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Ia juga mendorong agar pemerintah RI memberi status khusus bagi Yogyakarta dengan predikat “Istimewa”. Sebelum dinobatkan, Sultan yang berusia 28 tahun bernegosiasi secara alot selama 4 bulan dengan diplomat senior Belanda Dr. Lucien Adam mengenai otonomi Yogyakarta.

Pada masa Jepang, Sultan melarang pengiriman romusha dengan mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram. Sultan bersama Paku Alam IX merupakan penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia. Sultan pulalah yang mengundang Presiden untuk memimpin dari Yogyakarta setelah Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I. Sultan Hamengkubuwana IX tercatat sebagai Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia antara 1945-1988 dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama antara 1940-1988.

Peranan Sri Sultan Hamengkubuwana IX Dalam Mempertahankan Keutuhan Bangsa dan Negara Indonesia

Pada awal kemerdekaan Republik Indonesia, keadaan perekonomian sangat buruk. Kas negara kosong, pertanian dan industri rusak berat akibat perang. Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda membuat perdagangan dengan luar negeri terhambat. Kekeringan dan kelangkaan bahan pangan terjadi di mana-mana, termasuk di Yogyakarta.Untuk menjamin agar pemerintahan RI tetap berjalan, Sultan Hamengkubuwana IX menyumbangkan kekayaannya sekitar 6.000.000 Gulden, untuk membiayai pemerintahan, kebutuhan hidup para pemimpin dan para pegawai pemerintah lainnya.

Setelah Perundingan Renville, pada 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer ke-2. Sasaran penyerbuan yaitu Ibukota Yogyakarta. Selanjutnya, pada 22 Desember 1948 Presiden Sukarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, Sutan Syahrir dan para pembesar lainnya di tangkap Belanda dan diasingkan ke Pulau Bangka. Sementara, Sultan Hamengkubuwana IX tidak di tangkap karena kedudukannya yang istimewa, dikhawatirkan akan mempersulit keberadaan Belanda di Yogyakarta. Selain itu, pada waktu itu Belanda sudah mengakui Yogyakarta sebagai kerajaan dan menghormati kearifan setempat. Namun, Sultan menolak ajakan Belanda untuk bekerja sama.

Sultan Hamengkubuwana IX menulis surat terbuka yang disebarluaskan ke seluruh daerah Yogyakarta. Dalam surat tersebut, Sultan menyatakan mengundurkan diri sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengunduran diri tersebut kemudian diikuti oleh Sri Paku Alam. Hal ini dilakukan agar masalah keamanan di wilayah Yogyakarta menjadi beban tentara Belanda. Selain itu, Sultan tidak akan bisa diperalat untuk membantu musuh. Sementara itu, secara diam-diam Sultan membantu para pejuang RI, dengan memberikan bantuan logistik kepada para pejuang, pejabat pemerintah RI dan orang-orang Republiken.

Peranan Sultan Hamengkubuwana IX dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 oleh TNI masih tidak singkron dengan versi Soeharto. Menurut Sultan, beliaulah yang melihat semangat juang rakyat melemah dan menganjurkan serangan umum. Sedangkan menurut Pak Harto, beliau baru bertemu Sultan malah setelah penyerahan kedaulatan. Sultan menggunakan dana pribadinya (dari istana Yogyakarta) untuk membayar gaji pegawai republik yang tidak mendapat gaji semenjak Agresi Militer ke-2.

Sejak 1946, Hamengkubuwana IX pernah beberapa kali menjabat menteri pada kabinet yang dipimpin Presiden Soekarno. Jabatan resminya pada tahun 1966 yaitu Menteri Utama di bidang Ekuin. Pada tahun 1973 beliau diangkat sebagai wakil presiden. Pada akhir masa jabatannya pada tahun 1978, beliau menolak untuk dipilih kembali sebagai wakil presiden dengan alasan kesehatan. Namun, ada rumor yang mengatakan bahwa alasan sebenarnya ia mundur karena tak menyukai Presiden Soeharto yang represif seperti pada Peristiwa Malari dan hanyut pada KKN.

Hamengkubuwana IX ikut menghadiri perayaan 50 tahun kekuasaan Ratu Wilhelmina di Amsterdam, Belanda pada tahun 1938.

Bapak Pramuka Indonesia

Sejak usia muda Hamengkubuwana IX telah aktif dalam organisasi pendidikan kepanduan. Menjelang tahun 1960-an, Hamengkubuwana IX menjadi Pandu Agung (Pemimpin Kepanduan).

Pada 9 Maret 1961, Presiden Sukarno membentuk Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka. Panitia tersebur beranggotakan Sri Sultan Hamengkubuwana IX, Prof. Prijono (Menteri P dan K), Dr.A. Azis Saleh (Menteri Pertanian), dan Achmadi (Menteri Transmigrasi, Koperasi dan Pembangunan Masyarakat Desa).

Pada 14 Agustus 1961 (Hari Pramuka), selain dilakukan penganugerahan Panji Kepramukaan dan defile, juga dilakukan pelantikan Mapinas (Majelis Pimpinan Nasional), Kwarnas dan Kwarnari Gerakan Pramuka. Sri Sultan Hamengkubuwana IX menjabat sebagai Ketua Kwarnas sekaligus Wakil Ketua I Mapinas (Ketua Mapinas adalah Presiden RI).

Pada Musyawarah Nasional (Munas) Gerakan Pramuka tahun 1988 yang berlangsung di Dili (Ibukota Provinsi Timor Timur, sekarang negara Timor Leste), mengukuhkan Sri Sultan Hamengkubuwana IX sebagai Bapak Pramuka Indonesia. Pengangkatan ini tertuang dalam Surat Keputusan nomor 10/MUNAS/88 tentang Bapak Pramuka.

Wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Pada minggu malam 2 Oktober 1988, Hamengkubuwana IX wafat di George Washington University Medical Centre, Amerika Serikat dan kemudian dimakamkan di pemakaman para sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia.

Pada 8 Juni 2003, Sri Sultan Hamengkubuwana IX diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia oleh presiden Megawati Sukarnoputri.

Demikian artikel tentang “Biografi dan Profil Lengkap Sri Sultan Hamengkubuwono IX – Sultan Yogyakarta dan Bapak Pramuka Indonesia“, semoga bermanfaat

Biografi dan Profil Lengkap Sultan Iskandar Muda – Pahlawan Nasional Indonesia Dari Aceh

Biografi dan Profil Lengkap Sultan Iskandar Muda – Sultan Iskandar Muda merupakan sultan yang paling besar dalam masa Kesultanan Aceh, yang berkuasa dari tahun 1607 hingga 1636. Iskandar Muda lahir di Aceh, Banda Aceh pada tahun 1593 atau 1590 dan wafat di Banda Aceh, Aceh pada 27 September 1636. Pada masa kepemimpinann Iskandar Muda, Kesultanan atau Kerajaan Aceh mencapai kejayaannya, dimana daerah kekuasaannya yang semakin besar dan reputasi internasional sebagai pusat dari perdagangan dan pembelajaran tentang Islam. Nama Sultan Iskandar Muda diabadikan sebagai nama bandar udara yaitu Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh.

Profil Singkat Sultan Iskandar Muda

Nama: Sultan Iskandar Muda
Lahir: Banda Aceh, 1593
Meninggal: Banda Aceh, 27 Desember 1636
Orang Tua: Puteri Raja Inderabangsa, Mansur Syah
Anak: Safiatuddin dari Aceh, Merah Pupok

Asal Usul Keluarga dan Masa Kecil Sultan Iskandar Muda

Dari pihak leluhur ibu, Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, dan dari pihak leluhur ayah merupakan keturunan dari keluarga Raja Makota Alam. Darul-Kamal dan Makota Alam dikatakan dahulunya adalah dua tempat permukiman bertetangga yang terpisah oleh sungai dan yang gabungannya merupakan asal mula Aceh Darussalam. Iskandar Muda seorang diri mewakili kedua cabang tersebut yang berhak sepenuhnya menuntut takhta.

Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa yang juga dinamai Paduka Syah Alam adalah anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10; di mana sultan tersebut merupakan putra dari Sultan Firman Syah, dan Sultan Firman Syah adalah anak atau cucu (menurut Djajadiningrat) Sultan Inayat Syah, Raja Darul-Kamal.

Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan upacara besar-besaran dengan Sultan Mansur Syah, yaitu putra dari Sultan Abdul-Jalil, di mana Abdul-Jalil adalah putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar yang juga Sultan Aceh ke-3.

Sultan Iskandar Muda besar dalam lingkungan istana. Setelah cukup umur Iskandar Muda dikirim ayahnya untuk belajar pada Teungku Di Bitai, yaitu salah seorang ulama dari Baitul Mukadis pakar ilmu falak dan ilmu firasat. Iskandar muda mempelajari ilmu nahu dari beliau.

Selanjutnya, ayah Iskandar Muda mulai menerima banyak ulama terkenal dari Mekah dan Gujarat. Diantaranya tiga orang yang sangat berpengaruh dalam intelektual Iskandar Muda, yaitu Syekh Abdul Khair Ibnu Hajar, Sekh Muhammad Jamani dari Mekah dan Sekh Muhammad Djailani bin Hasan Ar-Raniry dari Gujarat.

Pernikahan Sultan Iskandar Muda

Sri Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang. Putri tersebut dikenal dengan nama Putroe Phang. Konon, karena terlalu cintanya sang Sultan pada istrinya, Sultan memerintahkan pembangunan Gunongan di tengah Medan Khayali atau Taman Istana sebagai tanda cintanya. Kabarnya, sang puteri selalu sedih karena memendam rindu yang amat sangat terhadap kampung halamannya yang berbukit-bukit. Untuk itu Sultan membangun Gunongan untuk mengobati rindu sang puteri. Hingga saat ini Gunongan tersebut masih bisa disaksikan dan dikunjungi.

Masa Kekuasaan Sultan Iskandar Muda

Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda dimulai pada tahun 1607 hingga tahun 1636. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, Kesultanan aceh mencapai puncak kejayaannya. Meskipun pada sisi lain kontrol ketat yang dilakukan oleh Iskandar Muda menyebabkan banyak pemberontakan dikemudian hari setelah mangkatnya Sultan.

Aceh merupakan negeri yang amat kaya dan makmur pada masa kejayaannya. Menurut seorang penjelajah asal Perancis yang tiba pada masa kejayaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda Meukuta Perkasa Alam, kekuasaan Aceh mencapai pesisir barat Minangkabau. Kekuasaan Aceh pula meliputi hingga Perak.

Ketika Iskandar Muda mulai berkuasa pada tahun 1607, ia segera melakukan ekspedisi angkatan laut yang menyebabkan ia mendapatkan kontrol yang efektif di daerah barat laut Indonesia. Kendali kerajaan berjalan dengan lancar di semua pelabuhan penting di pantai barat Sumatra dan di pantai timur, hingga ke Asahan di selatan. Pelayaran penaklukannya dilancarkan hingga jauh ke Penang, di pantai timur Semenanjung Melayu, dan pedagang asing dipaksa untuk tunduk kepadanya. Kerajaannya kaya raya dan menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Kontrol Di Dalam Negeri

Menurut tradisi Aceh, Iskandar Muda membagi wilayah Aceh ke dalam wilayah administrasi yang dinamakan ulèëbalang dan mukim; ini dipertegas oleh laporan seorang penjelajah Perancis bernama Beauliu, bahwa “Iskandar Muda membabat habis hampir semua bangsawan lama dan menciptakan bangsawan baru.” Mukim pada awalnya adalah himpunan beberapa desa untuk mendukung sebuah masjid yang dipimpin oleh seorang Imam (Aceh: Imeum). Ulèëbalang (Melayu: Hulubalang) pada awalnya barangkali bawahan-utama Sultan, yang dianugerahi Sultan beberapa mukim, untuk dikelolanya sebagai pemilik feodal. Pola tersebut dijumpai di Aceh Besar dan di negeri taklukan Aceh yang penting.

Hubungan Dengan Bangsa asing

Inggris

Pada abad ke-16, Ratu Inggris yaitu Elizabeth I, mengirimkan utusannya bernama Sir James Lancester kepada Kerajaan Aceh dan mengirim surat yang ditujukan: “Kepada Saudara Hamba, Raja Aceh Darussalam.” serta seperangkat perhiasan yang tinggi nilainya. Sultan Aceh kala itu menerima maksud baik “saudarinya” di Inggris dan mengizinkan Inggris untuk berlabuh dan berdagang di wilayah kekuasaan Aceh. Bahkan Ratu Elizabeth I juga mengirim hadiah-hadiah yang berharga termasuk sepasang gelang dari batu rubi dan surat yang ditulis di atas kertas yang halus dengan tinta emas. Sir James pun dianugerahi gelar “Orang Kaya Putih”.

Sultan Aceh pun membalas surat dari Ratu Elizabeth I. Berikut cuplikan isi surat Sultan Aceh, yang masih disimpan oleh pemerintah kerajaan Inggris, tertanggal tahun 1585:

I am the mighty ruler of the Regions below the wind, who holds sway over the land of Aceh and over the land of Sumatra and over all the lands tributary to Aceh, which stretch from the sunrise to the sunset.

(Hambalah sang penguasa perkasa Negeri-negeri di bawah angin, yang terhimpun di atas tanah Aceh dan atas tanah Sumatra dan atas seluruh wilayah wilayah yang tunduk kepada Aceh, yang terbentang dari ufuk matahari terbit hingga matahari terbenam).

Hubungan yang mesra antara Aceh dan Inggris dilanjutkan pada masa Raja James I dari Inggris dan Skotlandia. Raja James mengirim sebuah meriam sebagai hadiah untuk Sultan Aceh. Meriam tersebut hingga kini masih terawat dan dikenal dengan nama Meriam Raja James.

Belanda
Pangeran Maurits yaitu pendiri dinasti Oranje pernah mengirim surat dengan maksud meminta bantuan Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan menyambut maksud baik mereka dengan mengirimkan rombongan utusannya ke Belanda. Rombongan tersebut dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid.

Rombongan tersebut dikenal sebagai orang Indonesia pertama yang singgah di Belanda. Dalam kunjungannya Tuanku Abdul Hamid sakit dan akhirnya meninggal dunia. Ia dimakamkan secara besar-besaran di Belanda dengan dihadiri oleh para pembesar Belanda. Akan tetapi karena orang Belanda belum pernah memakamkan orang Islam, maka ia dimakamkan dengan cara agama Nasrani di pekarangan sebuah gereja. Kini di makam ia terdapat sebuah prasasti yang diresmikan oleh Mendiang Yang Mulia Pangeran Bernhard suami mendiang Ratu Juliana dan Ayah Yang Mulia Ratu Beatrix.

Utsmaniyah Turki
Pada masa Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang berkedudukan di Konstantinopel. Karena saat itu Sultan Utsmaniyah sedang gering maka utusan Kerajaan Aceh terluntang-lantung demikian lamanya sehingga mereka harus menjual sedikit demi sedikit hadiah persembahan untuk kelangsungan hidup mereka. Pada akhirnya saar mereka diterima oleh sang Sultan, persembahan mereka hanya tinggal Lada Sicupak atau Lada sekarung. Namun sang Sultan menyambut baik hadiah itu dan mengirimkan sebuah meriam dan beberapa orang yang cakap dalam ilmu perang untuk membantu kerajaan Aceh. Meriam tersebut masih ada hingga kini dikenal dengan nama Meriam Lada Sicupak. Pada masa selanjutnya Sultan Ottoman mengirimkan sebuah bintang jasa kepada Sultan Aceh.

Perancis
Kerajaan Aceh juga menerima kunjungan utusan Kerajaan Perancis. Utusan Raja Perancis tersebut semula bermaksud menghadiahkan sebuah cermin yang sangat berharga bagi Sultan Aceh akan tetapi dalam perjalanan cermin tersebut pecah. Akhirnya mereka mempersembahkan serpihan cermin tersebut sebagai hadiah bagi sang Sultan. Dalam bukunya, Denys Lombard mengatakan bahwa Sultan Iskandar Muda amat menggemari benda berharga.

Pada masa itu, Kerajaan Aceh merupakan satu-satunya kerajaan Melayu yang memiliki Balee Ceureumeen atau Aula Kaca di dalam Istananya. Menurut Utusan Perancis tersebut, Istana Kesultanan Aceh luasnya tak kurang dari dua kilometer. Istana tersebut bernama Istana Dalam Darud Donya (kini Meuligoe Aceh, kediaman Gubernur). Di dalamnya meliputi Medan Khayali dan Medan Khaerani yang mampu menampung 300 ekor pasukan gajah. Sultan Iskandar Muda juga memerintahkan untuk menggali sebuah kanal yang mengaliri air bersih dari sumber mata air di Mata Ie hingga ke aliran Sungai Krueng Aceh di mana kanal tersebut melintasi istananya, sungai ini hingga sekarang masih dapat dilihat, mengalir tenang di sekitar Meuligoe. Di sanalah sultan sering kali berenang sambil menjamu tetamu-tetamunya.

Demikian artikel tentang “Biografi dan Profil Lengkap Sultan Iskandar Muda – Pahlawan Nasional Indonesia Dari Aceh“, semoga bermanfaat

Biografi dan Profil Lengkap Teungku Chik di Tiro – Pahlawan Nasional Dari Aceh

Biografi dan Profil Lengkap Teungku Chik di Tiro – Teungku Chik di Tiro atau Teuku Cik Ditiro merupakan seorang pahlawan nasional dari Aceh. Teungku Chik di Tiro lahir di Cumbok-Lamlo, Tiro, Aceh pada tahun 1836 dan ia wafat di Aneuk Galong, Aceh Besar pada Januari 1891.

Profil Singkat Teungku Chik di Tiro

Nama: Muhammad Saman dikenal dengan Teungku Chik di Tiro
Lahir: Tiro, Pidie, Kesultanan Aceh, Tahun 1836
Meninggal: Aneuk Galong, Aceh Besar, Kesultanan Aceh, pada Januari 1891
Nama Orang Tua:
Ayah: Teungku Syekh Ubaidillah
Ibu: Siti Aisyah
Agama: Islam

Riwayat Hidup Teungku Chik di Tiro

Teungku Chik di Tiro adalah putra dari pasangan Teungku Syekh Ubaidillah dan Siti Aisyah (putri Teungku Syekh Abdussalam Muda Tiro). Teungku Chik di Tiro lahir pada tahun 1836, bertepatan dengan 1251 Hijriah di Dayah Jrueng kenegerian Cumbok Lam Lo, Tiro, daerah Pidie, Aceh dengan nama Teungku Muhammad Saman. Ia dibesarkan dalam lingkungan agama yang ketat.

Teungku Chik di Tiro tidak menjalani pendidikan formal namun belajar agama kepada ulama-ulama terkenal di Tiro. Itu sebabnya mengapa Ia dipanggil dengan sebutan Tengku Cik Di Tiro.

Saat ia menunaikan ibadah haji di Mekkah, ia memperdalam lagi ilmu agamanya. Selain itu, tidak lupa ia menjumpai pimpinan-pimpinan Islam yang ada di sana, sehingga ia mulai tahu tentang perjuangan para pemimpin tersebut dalam berjuang melawan imperialisme dan kolonialisme. Sesuai dengan ajaran agama yang diyakininya, Muhammad Saman sanggup berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan, maupun nyawanya demi tegaknya agama dan bangsa. Keyakinan tersebut dibuktikan dalam kehidupan nyata yang kemudian lebih dikenal dengan Perang Sabil. Pada saat Aceh Besar jatuh di tangan Belanda dan kekuatan Aceh makin melemah, Teungku Cik Di Tiro muncul untuk memimpin perang.

Memimpin Perjuangan Rakyat Aceh

Dengan perang sabilnya, satu persatu benteng Belanda dapat direbut. Begitu pula wilayah-wilayah yang selama ini diduduki Belanda jatuh ke tangan pasukannya. Pada bulan Mei tahun 1881, pasukan Teungku Cik di Tiro dapat merebut benteng Belanda Lam Baro, Aneuk Galong dan lain sebagainya. Belanda akhirnya terjepit di sekitar kota Banda Aceh dengan mempergunakan taktik lini konsentrasi (concentratie stelsel) yaitu membuat benteng yang mengelilingi wilayah yang masih dikuasainya.

Karena merasa kewalahan kewalahan dengan serangan yang dilakukan pemimpin Aceh, Belanda segera mendatangkan bala bantuan dengan perlengkapan perang dalam jumlah besar. Pada tahun 1873 Belanda memulai aksi balas dendamnya dengan memerangi Aceh, agar kerajaan tersebut menjadi daerah kekuasaannya.

Pada penyerangan pertama pasukan dari Belanda melakukan aksinya namun dapat digagalkan dan memakan korban bagi pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yaitu Mayor Jenderal Kohler. Kegagalan ini membuat Belanda menjadi geram, akhirnya mereka memperkuat barisan pasukannya dengan tembakan-tembakan meriam dari kapal perang yang berlabuh di pantai. Akhirnya keadaan seperti ini membuat Aceh mulai mundur.

Pada penyerangan pertama, pasukan Belanda melakukan aksinya namun bisaqdigagalkan dan memakan korban dari pihak Belanda dengan tewasnya pimpinan mereka yaitu Mayor Jenderal Kohler. Kegagalan tersebut membuat Belanda menjadi geram, akhirnya mereka memperkuat barisan pasukannya dengan tembakan meriam dari kapal perang. Akhirnya keadaan seperti ini membuat Aceh mulai mundur.

Kematian Teungku Chik di Tiro

Teungku Chik di Tiro adalah tokoh yang kembali menggairahkan Perang Aceh pada tahun 1881 setelah menurunnya kegiatan penyerangan terhadap Belanda. Selama ia memimpin peperangan terjadi 4 kali pergantian gubernur Belanda yaitu:

Abraham Pruijs van der Hoeven (1881-1883)
Philip Franz Laging Tobias (1883-1884)
Henry Demmeni (1884-1886)
Henri Karel Frederik van Teijn (1886-1891)

Dengan begitu, Belanda merasa kekewalahan akhirnya menggunakan siasat liuk dengan mengirim makanan yang sudah dibubuhi racun dengan cara menyuruh seorang wanita untuk memasukkan racun ke dalam makanannya. Karena memakan makanan yang telah diberi racun, Teungku Chik di tiro menderita sakit dan meninggal dunia di benteng Aneuk Galong pada bulan Januari 1891. Kemudian jenazahnya dimakamkan di Indrapura, Aceh.

Walaupun Tengku Cik Di Tiro telah meninggal dunia, namun perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda terus dilakukan hingga bertahun-tahun lamanya. Akhirnya Belanda baru bisa menguasai Aceh pada tahun 1904 dengan Plakat Pendeknya.

Diangkat Sebagai Pahlawan Nasional Indonesia

Kegigihan dalam membela bangsa Indonesia membuat pemerintah RI pada tanggal 6 Nopember 1973 mengangkat Teungku Chik di Tiro sebagai Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.087/TK/Tahun 1973.

Demikian artikel tentang””, semoga bermanfaat