Biografi dan Profil Lengkap KH. Ahmad Dahlan – Tokoh Pendiri Muhammadiyah

Biografi dan Profil Lengkap KH. Ahmad Dahlan Tokoh Nasional Pendiri Muhammadiyah

InfoBiografi.Com – K.H. Ahmad Dahlan merupakan Pahlawan Nasional Indonesia pendiri organisasi Muhammadiyah yang lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868. K.H Ahmad Dahlan adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. K.H. Ahmad Dahlan Wafat pada 23 Februari 1923 di Yogyakarta pada usia 54 Tahun.

Profil Singkat K.H Ahmad Dahlan

Nama : K.H. Ahmad Dahlan
Lahir : Yogyakarta, 1 Agustus 1868
Wafat : Yogyakarta, 23 Februari 1923

Pasangan :
Hj. Siti Walidah
Nyai Abdullah
Nyai Rum
Nyai Aisyah
Nyai Yasin

Anak :
Djohanah
Siradj Dahlan
Siti Busyro
Irfan Dahlan
Siti Aisyah
Siti Zaharah
Dandanah

Latar Belakang Dan Pendidikan K.H. Ahmad Dahlan

Nama K.H. Ahmad Dahlan kecil adalah Muhammad Darwisy, Ia adalah anak ke 4 dari 7 bersaudara. Ahmad Dahlan merupakan keturunan ke 12 dari Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Berikut adalah Silsilah tersebut Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishaq, Maulana ‘Ainul Yaqin, Maulana Muhammad Fadlullah (Sunan Prapen), Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig (Djatinom), Demang Djurung Djuru Sapisan, Demang Djurung Djuru Kapindo, Kyai Ilyas, Kyai Murtadla, KH. Muhammad Sulaiman, KH. Abu Bakar, dan Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan).

Pada saat Ahmad Dahlan berumur 15 tahun, Ia pergi melaksanakan ibadah haji lalu selama 5 tahun ia menetap di Mekkah. Masa ini, K.H. Ahmad Dahlan memulai interaksi dengan pemikiran pembaharu Islam, seperti Al-Afghani, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah, dan Rasyid Ridha.

Pada tahun 1888, Ahmad Dahlan kembali ke kampung halamannya dan Ia yang bernama asli Muhammad Darwisy berganti nama menjadi Ahmad Dahlan. Ia kembali lagi ke Mekkah pada tahun 1903 dan Ia tinggal selama 2 tahun, masa ini Oa sempat berguru pada Syeh Ahmad Khatib yang juga merupakan guru dari K.H. Hasyim Asyari yaitu pendiri NU.

Setelah pulang dari Mekkah, Ahmad Dahlan Menikah dengan sepupunya bernama Siti Walidah (Nyi Ahmad Dahlan) yaitu putri dari Kyai Penghulu Haji Fadhil. Dari pernikahan ini, mereka dianugrahi 6 orang anak yakni Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.

Selain dengan Siti Walidah, Ahmad Dahlan juga pernah menikah dengan Nyai Abdullah yaitu janda H. Abdullah, Nyai Rum yang merupakan adik dari Kyai Munawwir Krapyak, Nyai Aisyah yang merupakan adik Adjengan Penghulu Cianjur dan dari pernikahan ini Ahmad dahlan memiliki putra Dandanah. Serta Ahmad Dahlan juga pernah menikah dengan Nyai Yasin Pakualaman Yogyakarta.

Masuk Organisasi Budi Utomo dan Mendirikan Muhammadiyah juga Organisasi lainnya

Pada tahun 1909, K.H. Ahmad Dahlan bergabung dengan organisasi Budi Utomo dan disana Ia mengajarkan agama dan pelajaran yang diperlukan anggota. Pelajaran yang diberikan K.H. Ahmad Dahlan dirasa sangat berguna bagi para anggota Budi Utomo, lalu mereka menyarankan agar Ahmad Dahlan membuka sekolah yang ditata rapi serta didukung organisasi permanen.

Pada 18 November 1912 (8 Djulhijah 1330), K.H Ahmad Dahlan mendirikan organisasi bernama Muhammadiyah yang bergerak dibidang kemasyarakatan dan pendidikan. Dengan mendirikan Organisasi ini, Ia berharap dapat memajukan pendidikan dan membangun masyarakat islam. Ahmad Dahlan mengajarkan Al-Qur’an dengan terjemah juga tafsirnya agar masyarakat memahami makna yang ada dalam Al-Qur’an dan tidak hanya pandai membaca dan melagukannya saja.

Pada bidang pendidikan, Dahlan mengubah sistem pendidikan pesantren pada masa itu. Ia mendirikan sekolah-sekolah agama yang juga mengajarkan pelajaran umum dan juga bahasa belanda. Bahkan ada Sekolah Muhammadiyah seperti H.I.S met de Qur’an. Ia memasukan pelajaran agama di sekolah umum pula. Ahmad Dahlan terus mengembangkan dan membangun sekolah-sekolah. Selain sekolah semasa hidupnya Ia juga mendirikan masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan juga rumah yatim piatu.

Pada bidang organisasi, tahun 1918 Ia mendirikan organisasi Aisyiyah untuk para kaum wanita. untuk para pemuda, Ahmad Dahlan membentuk Padvinder atau Pandu (sekarang Pramuka) bernama Hizbul Wathan. Pada organisasi tersebut para pemuda belajar baris-berbaris dengan genderang, memakai celana pendek, bertopi, berdasi, untuk seragam yang mereka pakai mirip dengan seragam pramuka sekarang.

Pada saat itu, karena semua pembaharuan yang diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan agak menyimpang dengan tradisi, Ahmad dahlan sering diteror seperti rumah yang dilempari batu dan kotoran binatang bahkan pada saat dahwah di Banyuwangi, Ahmad dahlan dituduh sebagai kyai palsu dan Ia diancam akan dibunuh. Namun dengan penuh kesabaran, masyarakat perlahan mulai menerima perubahan yang diajarjan oleh Ahmad Dahlan.

Semua yang di lakukan oleh K.H.Ahmad Dahlan bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam adalah agama kemajuan yang dapat mengangkat derajat umat ke taraf yang lebih tinggi dan itu terbuti membawa dampak positif bagi Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Pemuda dan golongan Intelektual banyak yang tertarik dengan metode yang diajarkan oleh K.H. Ahmad Dahlan sehingga mereka banyak yang bergabung dengan organisasi Muhammadiyah.

Muhammadiyah yang merupakan organisasi beramal dan menjalankan ide pembaharuan K.H. Ahmad Dahlan sanga menarik perhatian para pengamat islam dunia. Bahkan para pengarang dan sarjana dari timur memusatkan perhatian pada Muhammadiyah.

K.H Ahmad Dahlan banyak mendapatkan ilmu dari banyak kyai di berbagai bidang ilmu seperti K.H Muhsin di bidang ilmu tata bahasa (Nahwu-Sharaf), K.H. Muhammad Shaleh di bidang ilmu fikih, Kyai Mahfud dan Syekh K.H. Ayyat di bidang Ilmu Hadist, K.H. Raden Dahlan di bidang ilmu falak atau astronomi, Syekh Hasan di bidang pengobatan dan racun binatang, serta Syekh Amin dan sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Qur’an.

Wafatnya K.H Ahmad Dahlan

Pada 23 Februari 1923, pada usia 54 tahun K.H. Ahmad Dahlan wafat di Yogyakarta. Kemudian beliau dimakamkan di kampung Karangkajen, Brontokusuman, Mergangsan,Yogyakarta. Pada 27 Desember 1961, berdasarkan SK Presiden RI No.657 Tahun 1961 atas jasanya negara memberi beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia.

Demikianlah Biografi dan Profil KH. Ahmad Dahlan yang dapat kami sampaikan pada posting artikel kali ini, semoga apa yang kami sampaikan dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam mencari literatur lengkap KH. Ahmad Dahlan.

Biografi dan Profil Lengkap Bob Sadino Pengusaha Nyentrik Asal Indonesia

bob sadino

Biografi dan Profil Lengkap Bob Sadino Sebagai Tokoh Pengusaha Sukses Berpenampilan Nyentrik Dari Indonesia

InfoBiografi.Com – Bob Sadino merupakan salah satu pengusaha sukses dari dunia bisnis di Indonesia. Bob sadino adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis dibidang pangan dan peternakan. Untuk mengetahui lebih lengkapnya, berikut ini adalah biografi Bob sadino.

Biografi Singkat Bob Sadino

Nama Asli : Bambang Mustari Sadino
Lahir : Tanjung Karang, Bandar Lampung, 9 Maret 1933
Wafat : Jakarta, 19 Jakarta 2015
Agama : Islam
Pendidikan : SD, Yogyakarta 1947. SMP , Jakarta 1950. SMA, Jakarta 1953.
Karir :

  • Karyawan Unilever (1954-1955)
  • Karyawan Djakarta Lloyd, Amsterdam dan Hamburg (1950-1967)
  • Pemilik Tunggal Kem Chicks (supermarket) (1969-sekarang)
  • Dirut PT Boga Catur Rata
  • PT Kem Foods (pabrik sosis dan ham)
    PT Kem Farms (kebun sayur)

Alamat Rumah : Jalan Al Ibadah II/12, Kemang, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp: 793981

Alamat Kantor : Kem Chicks Jalan Bangka Raya 86, Jakarta Selatan Telp: 793618

Biografi Lengkap Bob Sadino

Bob Sadino memiliki nama asli Bambang Mustari Sadino, lahir pada tanggal 9 Maret 1933 di Tanjung karang, Lampung. Ia lahir dari keluarga serba kecukupan sebagai anak bungsu dari lima bersaudara. Orang tuanya meninggal pada saat ia masih berusia 19 Tahun, ia dipercaya oleh keluarganya untuk mewarisi seluruh harta dari kedua orang tuanya, dengan alasan karna ia merupakan anak bungsu dan saudara-saudaranya sudah dinilai memiliki kehidupan yang mapan.

Kehidupan Bob Sadino

Dengan warisan dari orangtuanya, Bob sadino memanfaatkan setengah dari harta warisannya untuk pergi dan tinggal di Belanda selama kurang lebih 9 tahun. Disana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam. Tidak hanya bekerja, disana ia bertemu dengan seorang wanita Indonesia bernama Soelami Soejoed dan akhirnya ia nikahi.

Pada tahun 1967, Bob sadino dan istrinya kembali ke Indonesia. Dari Belanda ke Indonesia, ia membawa dua mobil Mercendes buatan tahun 1960-an. Ia menjual satu unit mobil miliknya untuk membeli sebidang tanah di kemang, Jakarta selatan.

Karir Bob Sadino

Tinggal di Indonesia, Bob Sadino bekerja sebagia karyawan di PT.Unilever Indonesia. Suatu hari ia memiliki keinginan untuk bekerja secara mandiri, sehingga ia memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Lalu ia memanfatakan satu mobil yang ia miliki, ia mulai menyewakan Mobil Mercedesnya dan ia sendiri menjadi sopirnya.

Namun, usahanya tidak berjalan dengan lancar, usaha menyewakan mobil dapat dikatakan gagal, karena Mobil mercedes yang ia sewakan mengalami kecelakan yang membuat mobilnya mengalami kerusakan parah. Bob Sadino tidak bisa memperbaiki mobilnya karena biaya perbaikan yang sangat mahal.

Akhirnya ia memutuskan untuk bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah harian yang ketika saat itu hanya Rp.100,- . Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya.

Awal Merintis Telur Ayam Negeri

Hingga suatu hari ada seorang sahabat Bob Sadino yang memberikan saran untuk beternak dan berbisnis telur ayam negeri karena pada saat itu telur ayam negeri masih jarang ada dipasaran. Melihat peluang yang ada, kemudian Bob menangkapnya itulah yang dilakukan, hingga akhirnya ia menggeluti bisnisnya. Bersama istrinyam ia mulai berjualan telur ayam negeri yang ia tawarkan dari pintu ke pintu kepada orang asing yang tinggal di daerah kemang.

Pada saat itu, keberadaan anak negeri beserta telurnya masih belum populer di Indonesia sehingga barang dagangannya hanya dibeli oleh eksparita-ekpariat yang tinggal di daerah Kemang serta beberapa orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri. Bob Sadino bersama istrinya menjual hanya beberapa kilogram telur perharinya.

Karena memiliki pengalaman hidup di Eropa dan juga fasih dalm berbahasa Inggris membuat Bob tidak kesulitan saat berinteraksi dengan orang asing yang tinggal di daerah Kemang. Dengan berkembangnya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal masyarakat luas sehingga bisnisnya semakin berkembang, kemudian ia melanjutkan usahanya dengan berjualan daging Ayam.

Suatu ketika Bob Sadino berpikir, jika seekor ayam bisa mencari makanannya sendiri untuk menyambung hidup, apalagi seorang manusia yang dibekali akal budi yang seharusnya tidak boleh kalah dengan seekor ayam yang tidak memiliki akal. Dari pemikiran inilah yang membuatnya menjadi pengusaha hebat dan selalu berjuang tidak pantang menyerah sehingga menuntunnya menjadi seorang pengusaha yang sukses di Indonesia.

Mendirikan Perusahaan

Pada tahun 1970, Bob sadino mendirikan sebuah perusahaan yang diberi nama Kem Chicks. Kem Chickk adalah supermarket yang menyediakan beragam produk pangan impor untuk masyarakat Jakarta. Seiring dengan berjalannya waktu, Bob sadino melihat bahwa permintaan akan daging sosis semakin meningkat, maka pada tahun 1975, ia kembali mendirikan perusahaan yang bernama Kem Food, yang merupakan pelopor industry daging olahan di Indonesia. Kem Food memproduksi berbagai jenis daging olahan seperti Sosis, Burger. dan Baso.

Selain menjadi orang pertama yang mengenalkan ayam negeri, Bob sadino merupakan orang pertama yang menggunakan perladangan sayuran sistem hidroponik di Indonesia. Kem Fams , merupakan sebuah ladang sayur yang didirikan oleh Bod Sadino dengan sistem hidroponik.

Berdasarkan catatan awal 1985 menunjukkan bahwa rata-rata perbulan perusahaan Bob Sadino menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan dan 100 ton sayuran segar.

Wafatnya Bob Sadino

namun semenjak meninggalnya Soelami Soejod istrinya, kesehatan Bob Sadino terus menurun. Ia sempat dirawat intensif selama dua minggu di Rumah Sakit Pondok Indah. Dan pada tanggal 19 Januari 2015 ia meningga dunia karena penyakit komplikasi yang dideritanya. Awalnya cuma flu karena faktor usia jadi sembuhnya lama. Kemudian merembet ke yang lain, jadinya komplikasi, selain itu ia juga sempat menderita pernafasan yang kronis, ungkap Saman Syarief, keponakan Bob Sadino.

Bob Sadino Motivatornya para Pengusaha

Tidak hanya sebagai pengusaha, Bob Sadino juga tidak jarang tampil di layar televisi untuk memberikan motivasi kepada para pengusaha di Indonesia. Pengalaman suka-duka yang ia alami ia bagikan kepada mereka. Berikut ini beberapa kata-kata motivasi yang pernah dilontarkan oleh pengusaha yang berpenampilan nyentrik

  • Dibalik setiap harapan selalu diikuti kekecewaan, jadi berhentilah berharap
  • Yang beneran punya, ngga akan banyak bicara seperti mereka yang berlaga sok punya
  • Setiap bertemu dengan orang baru, saya selalu mengosongkan gelas saya terlebih dahulu
  • Saya bisnis cari rugi, ketika rugi saya semangat, dan jika untung bertambah rasa syukur saya
  • Setinggi apapun pangkat yang Anda miliki, Anda tetaplah karyawan. Sekecil apapun usaha Anda, Anda adalah Bosnya
  • Orang Goblok itu ga banyak mikir yang penting melangkah, orang pintar kebanyakan mikir akibatnya tidak pernah melangkah
  • Orang Goblok sulit dapat pekerjaan, akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang goblok mempekerjakan orang pintar
  • Semakin goblok seseorang akan kian banyak ilmu yang diperolehnya saya menggoblokan diri sendiri sebelum menggoblokan orang lain
  • Saya tidak mau pengalaman dan pengetahuan yang saya miliki terkubur bersama tubuh saya ketika mati kelak

Cukup lengkap penjabaran yang telah kami sampaikan pada posting kali ini tentang Biografi dan Profil Bob Sadino, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca yang budiman dalam mencari literatur tentang Om Bob Sadino.

Biografi Dan Profil Lengkap Al-Khawarizmi – Tokoh Penemu Aljabar

Biografi Dan Profil Lengkap Al-Khawarizmi Sebagai Tokoh Penemu Aljabar dan Angka Nol

InfoBiografi.Com – Al-Khawarizmi merupakan seorang ahli di bidang matematika, astronomi, geografi dan astrologi yang berasal dari Persia. Al-Khawarizmi bernama asli Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi, Beliau lahir di Bukhara dan hidup di Khwarizm (sekarang Khiva, Uzbekistan) pada sekitar tahun 780 M di dan Beliau wafat pada sekitar tahun 266 H/850 M di Bagdad. Al-Khawarizmi dikenal sebagai penemu Aljabar dan angka nol (0). Al-Khawarizmi juga dikenali dengan nama Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff, di dunia Barat Al-Khawarizmi dikenali sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa ejaan lainnya.

Profil Singkat Al-Khawarizmi

Nama :Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi
Dikenal : Al-Khawarizmi
Lahir :  780 M
Wafat : 266 H/850 M
Dikenal Sebagai : Penemu Aljabar

Al-Khawarizmi Guru Aljabar di Eropa

Al-Khawarizmi menciptakan penggunaan Secans dan Tangen dalam penelittian trigonometri dan Astronomi. Saat masih muda, Al-Khawarizmi bekerja di Bayt al-Hikmah di Bagdad pada saat pemerintahan Khalifah al-Ma’mun. Al-Khawarizmi bekerja si sebuah Observatory yakni sebuah tempat belajar matematika dan astronomi. Selain itu, beliau juga dipercaya sebagai pemimpin perpustakaan khalifah.

Pada dunia Islam, Al-Khawarizmi pernah memperkenalkan angka-angka dan cara perhitungan India. Al-Khawarizmi juga dikenal sebagai penullis Ensiklopedia berbagai disiplin, tokoh yang pertama kali memperkenalkan al-jabar dan hisab (perhitungan) dserta berbagai ilmu pengetahuan seta konsep di didang matematika yang kita masih pelajari hingga sekarang.

Selain pada bidang matematika, Al-Khawarizmi juga terkenal di bidang ilmu Falaq atau Astronomi yaitu bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang bintang-bintang yang melibatkan kajian tentang kedudukan, pergerakan, pemikitran serta tafsir yang berkaitan dengan bintang.

Karya Dari Al-Khawarizmi

Semasa hidupnya, Al-Khawarizmi mengabdikan siri sebagai dosen sekolah kehormatan di Bagdad. Sebagai Ilmuan, beliau telah menciptakan berbagai karya diantaranya al-Kitab al mukhtasar fi hisab aljabr wa’l-muqabala yaitu buku yang berisi tentang rangkuman perhitungan, penimbangan serta perlengkapan (berisi rangkuman dasar-dasar aljabar). Kitab al-Jam’a wal-tafriq bi-hisab al-Hind atau Dixit Algirizmi yaitu buku yang berisi tentangpengiraan dan penjumlahan berdasarkan sistem kalkulasi hindu. Kitab Surah Al-Ard yaitu buku yang berisi tentang rekonstruksi planetarium dan berbagai karya lainnya. Algebra yaitu buku yang diklasifikasi oleh para sejarawan bahwa buku ini berisi tentang dasar- dasar ilmu matematika yang dapat diterapkan di kehidupan sehari hari.

Karyanya yang berjudul al-Kitab al mukhtasar fi hisab aljabr wa’l-muqabala (The Book of Restoring and Balancing) adalah karyanya yang menjadi titik awal Aljabar dalam dunia islam. Penamaan aljabar sendiri diambil dari judul buku tersebut yaitu al-jabr. Lewat buku tersebut Ia dikenal sebagai Bapak Aljabar

Selain aljabar, dalam bidang ilmu matematika Al-Khawarizmi juga memperkenalkan aritmatika, geometri dan masih banyak lagi yang lainnya.

Peranan Serta Sumbangan Yang Di berikan Al-Khawarizmi

Sistem Nomor
Al-Khawarizmi memperkenalkan konsep sifat dan juga sistem nomor yang banyak digunakan pada zaman sekarang. Karyanya ini memuat tentang Cos, Sin dan Tan yang digunakan dalam penyelesaian persamaan trigonometri , teorema segitiga sama kaki dan perhitungan luas segitiga, segi empat dan lingkaran dalam geometri.

Singkat penjabaran yang dapat kami sampaikan dalam posting kali ini tentang Biografi Dan Profil Lengkap Al-Khawarizmi, semoga apa yang kami tulis dan sampaikan di artikel ini dapat menjadi literatura yang bermanfaat untuk pembaca yang budiman.

Biografi dan Profil Lengkap Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3)

haji agus salim

Biografi dan Profil Lengkap Haji Agus Salim Sebagai Tokoh Islam dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3

InfoBiografi.Com – Haji Agus Salim merupakan salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir pada 8 Oktober 1884 di Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda dan beliau wafat pada 4 November 1954 di Jakarta pada usia 70 tahun. Haji Agus Salim pernah menjabat sebagai Menteri Muda Luar Negeri Indonesia ke-1 yang menjabat dari 12 Maret 1946 hingga 3 Juli 1947 dan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3 yang menjabat dari 3 Juli 1947 hingga 20 Desember 1949 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno.

Profil Singkat Haji Agus Salim

Nama: Haji Agus Salim
Lahir: Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884
Wafat : Jakarta, 4 November 1954
Ayah :Soetan Mohamad Salim
Ibu: Siti Zainab
Pasangan: Zaenatun Nahar
Jabatan :
Menteri Muda Luar Negeri Indonesia ke-1 (12 Maret 1949-3 Juli 1947)
Menteri Luar Negeri Republik Indonesia ke-3 (3 Juli 1947- 20 Desember 1949)

Latar Belakang Dan Pendidikan Haji Agus Salim

Haji Agus Salim merupakan anak keempat dari pasangan Soetan Mohamad Salim dan Siti Zainab yang lahir dengan nama Mashudul Haq. Soetan Mohamad Salim adalah seorang jaksa kepala di pengadilan tinggi. Karena kedudukan ayah dan kecerdasan Beliau, Agus Salim dapat dengan lancar belajar di sekolah-sekolah belanda. Beliau bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) yaitu sekolah khusus anak-anak Eropa. Selanjutnya ia melanjutkan pendidikan menengahnya ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia dan setelah menjalani pendidikan selama 5 tahun, pada tahun 1903 saat Ia berumur 19 tahun Ia lulus sebagai lulusan terbaik se-Hindia Belanda.

Setelah lulus Ia berharap dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah kedokteran di Belanda. Namun, saat Ia memohon beasiswa pada pemerintah untuk melanjutkan pendidikannya tersebut, pemerintah menolaknya tapi dia tidak patah semangat. Kecerdasan yang dimiliki Agus Salim membuat R.A. Kartini tertarik, lalu Kartini mengusulkan agar Agus Salim menggantikannya berangkat ke Belanda dengan cara mengalihkan beasiswa sebesar 4.800 gulden yang berasal dari pemerintah kepada Agus Salim. Pemerintah pun setuju dengan pengusulan R.A Kartini namun Agus Salim menolaknya, Ia beranggapan bahwa pemberian beasiswa tersebut bukan karena kecerdasan atau jerih payahnya melainkan dari usulan orang lain dan menganggap pemerintah berperilaku diskriminatif.

Karier Politik Haji Agus Salim

Karena gagal melanjutkan pendidikannya, pada tahun 1906 Agus Salim berangkat ke Jeddah, Arab Saudi untuk bekerja sebagai penerjemah di Konsultan Belanda karena diketahui ia sedikitnya telah menguasai 7 bahasa asing yaitu Belanda, Inggris, Arab, Turki, Perancis, Jepang, dan Jerman. Di Jeddah, Ia memperdalam ilmu agama pada pamannya yaitu Syech Ahmad Khatib yang juga imam Masjidil Haram dan disana juga Ia mempelajari tentang diplomasi. Setelah kembali dari Jeddah, Agus salim mendirikan sekolah Hollansche Inlandsche School (HIS) dan kemudian Ia juga masuk dalam pergerakan nasional.

Sejak tahun 1915, Agus Salim terjun di dunia jurnalistik, Ia bekerja sebagai Redaktur II di Harian Neratja lalu diangkat menjadi Ketua Redaksi. Selanjutnya Ia menikah dengan Zaenatun Nahar, dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai 8 orang anak. Setelah menikah, karier jurnalistik Agus Salim tetap berjalan, Ia menjadi Pemimpin Harian Hindia Baroe di Jakarta, lalu Ia mendirikan Surat kabar Fadjar Asia dan juga Ia menjadi Redaktur Harian Moestika di Yogyakarta dan membuka kantor Advies en Informatie Bureau Penerangan Oemoem (AIPO).

Bersamaan dengan itu, Agus Salim mengawali kariernya di bidang politik di SI (Sarekat Islam) bersama dengan H.O.S Tjokroaminoto dan juga Abdul Muis. Namun H.O.S Tjokroaminoto dan Abdul Muis yang pada saat itu sebagai wakil SI keluar dari Volksraad, Kemudian Agus Salim menggantikan mereka di lembaga tersebut selama 4 tahun yaitu dari tahun 1921 hingga 1924.Tetapi seperti pendahulunya, Ia merasa bahea perjuangan dari dalam tidak membawa manfaat dan akhirnya ia memutuskan keluar dari Volksraad dan fokus pada Sarekat Islam.

Pada tahun 1923, mulai muncul perpecahan di SI. Semaun mengharapkan bahwa SI menjadi organisasi yang condong ke kiri, namun Agus Salim dan Tjokroamnoto menolak, Akhirnya Sarekat Islam terbelah menjadi 2. Semaun membentuk Sarekat Rakyat dan berubah menjadi PKI, sedangkan Agus Salim dan Tjokroamnoto tetap dengan Sarekat Islam.

Selain menjadi salah satu pendiri Sarekat Islam, Agus Salim juga menjadi salah satu pendiri Jong Islamieten Bond yang membuat suatu dongkrakan guna meluluhkan doktrin keagamaan yang kaku. Agus Salim juga pernah menjadi anggota PPKi pada masa kekuasaan Jepang.

Ketika Indonesia merdeka, Agus Salim diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Karena kepandaiannya dalam berdiplomasi, kemudian Agus Salim diangkat menjadi Menteri Muda Luar Negeri dikabinet Syahrir I dan II dari 12 Maret 1946 hingga 3 Juli 1947. Lalu Ia menjadi Menteri Luar Negeri di kabinet Hatta dari 3 Juli 1947 hingga 20 Desember 1949. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, Agus Salim diangkat menjadi Penasehat Menteri Luar Negeri. Atas prestasinya dalam bidang diplomasi, dengan badan yang kecil Agus Salim dikalangan diplomatik dikenal sebagai The Grand Old Man.

Wafatnya Haji Agus Salim

Agus Salim mengundurkan diri dari dunia poltik lalu pada tahun 1953 Agus Salim mengarang buku-bukunya seperti: Bagaimana Takdir, Tawakal dan Tauchid harus dipahamkan? .

Pada 4 November 1954 di RSU Jakarta, pada usia 70 tahun Haji Agus Salim meninggal dunia dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Untuk mengenang jasanya nama beliau diabadikan menjadi nama stadion sepak bola di Padang bernama Stadion Haji Agus Salim.

Demikianlah penjabaran pada posting kali ini tentang Biografi dan Profil Lengkap Haji Agus Salim yang dapat kami tulis di artikel ini. Semoga dapat menjadi sumber literatur yang bermanfaat untuk pembaca dalam menggali informasi terkati hal tersebut.

Biografi Dan Profil Lengkap Gajah Mada – Pencetus Sumpah Palapa

Biografi Dan Profil Lengkap Gajah Mada Sebagai Tokoh Pencetus Sumpah Palapa

InfoBiografi.Com – Gajah Mada merupakan tokoh kerajaan majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapanya. Gajah Mada adalah Mahapatih dari Kerajaan Majapahit yang menghantarkan Majapahit pada puncak kejayaan. Nama Gajah Mada dibadikan menjadi nama Universitas di Indonesia.

Menjadi Mahapatih Majapahit

Awal mula Gajah Mada adalah seorang bekel, namun Ia berhasil menyelamatkan Prabu Jayanegara dan juga berhasil menumpas pemberontakan Ra Kuti yang sangat membahayakan kerajaan Majapahit. Pada tahun 1319, Gajah Mada di angkat menjadi Patih Kahuripan, lalu dua tahun kemudian Gajah Mada diangkat menjadi Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Aryo Tadah atau Mpu Kewes yang saat itu menjadi Patih Majapahit berkeinginan untuk mengundurkan diri. Kemudian Mpu Kewes menunjuk Patih Gajah Mada yang saat itu adalah Patih Kediri menjadi penggantinya. Namun Patih Gajah Mada tidak langsung menyetujuinya, Ia berkeiginan untuk memberi jasa pada Majapahit dahulu dengan mengalahkan pemberontakan Keta dan Sadeng. Akhirnya Keta dan Sadeng berhasil dikalahkan oleh Patih Gajah Mada. Pada tahun 1334, secara resmi Patih Gajah Mada diangkat menjadi Patih Majapahit oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi.

Sumpah Palapa Patih Gajah Mada

Patih Gajah Mada mengucapkan sumpah dan sumpah itu dikenal dengan nama “Sumpah Palapa” . Berikut adalah bunyi Sumpah Palapa :

..Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.

Artinya
Ia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa

Meskipun banyak orang yang ragu akan sumpah yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada, namun Patih Gajah Mada hampir berhasil menaklukan Nusantara. Pada tahun 1339, Ia mulai menaklukan daerah Swarnnabhumi (Sumatera), Pulau Bintan, Tumasik (sekarang Singapura), dan Semenanjung Malaya. Lalu pada tahun 1343 bersama dngan Arya Damar, Ia berhasil menaklukan Bedahulu (sekarang Bali), Lombok, Kemudian daerah di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kandangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk yaitu tahun 1350 hingga 1389, Patih Gajah Mada terus menaklukan wilayah-wilayah yang ada di nusantara di wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwuk, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Terjadinya Perang Bubat

Dalam Kidung Sunda diceritakan bahwa pada tahun 1357 terjadi Perang Bubat. Perang Bubat tersebut berawal saat Prabu Hayam Wuruk yang berkeinginan untuk menikahi Dyah Pitaloka yaitu putri Sunda sebagai Permaisurinya, kemudian lamaran Prabu Hayam Wuruk tersebut di terima oleh Kerajaan Sunda dan pihak Kerajaan Sunda kemudian datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung Prabu Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka. Patih Gajah Mada yang ingin Sunda takluk, memaksa Dyah Pitaloka untuk menjadi persembahan pengakuan kerajaan Majapahit, Namun pihak Sunda menolaknya dan terjadilah peperangan antara pasukan Majapahit dan juga pasukan Sunda di Bubat. Setelah ayah dan seluruh pasukannya gugur, Dyah Pitaloka bunuh diri. Akibat dari kejadian tersebut, Patih Gajah Mada dberhentikan.

Dalam Kitab Nagarakretagama, diceritakan sedikit berbeda. Dikatakan bahwa Prabu Hayam Wuruk sangat menghargai Patih Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, dan setia berbakti kepada negara. Sang raja (Prabu Hayam Wuruk) memberi dukuh “Madakaripura” yang memiliki pemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Patih Gajah Mada.

Pendapat lain ada yang menyatakan bahwa pada tahun 1359, Patih Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih, hanya saja Ia memerintah dari Madakaripura.

Wafatnya Patih Gajah Mada

Dalam Negarakretagama disebutkan bahwa saat Prabu Hayam Wuruk kembali dari upacara keagamaan di Simping, Ia menemui Patih Gajah Mada telah gering atau sakit. Disebutkan Patih Gajah Mada wafat pada 1286 Saka atau 1364 Masehi.

Singkat postingan yang dapat kami sampaikan tentang Biografi Dan Profil Lengkap Gajah Mada pada artikel kali ini, semoga dapat menjadi sumber literatur yang bermanfaat bagi pembanca. Sampai jumpa pada posting-posting menarik lainnya.

Biografi dan Profil Lengkap Susilo Bambang Yudhoyono – Presiden RI Periode ke-6

biografi SBY

Biografi dan Profil Lengkap Susilo Bambang Yudhoyono – Presiden RI Periode ke-6 hasil Pilihan Rakyat

InfoBiografi.Com – SBY merupakan sapaan akrab dari Presiden Republik Indonesia ke-6 yaitu Susilo Bambang Yudhoyono. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan preseden pertama yang secara langsung dipilih oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II tanggal 20 September 2004. Berikut biografi lengkapnya.

Biografi singkat SBY

Nama : Susilo Bambang Yudhoyono
Tempat Lahir : Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur
Tanggal Lahir : 9 September 1949
Agama : Islam
Istri : Kristiani Herrawati
Anak : Agus Harimurti Yudhoyono & Eshie Baskoro Yudhoyono
Partai Politik : Partai Demokrat

Biografi dan Profil Lengkap SBY

Profil SBY

Susilo Bambang Yudhoyono merupakan Presiden RI periode ke-6 yang terpilih berdasarkan suara rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II. SBY merupakan lulusan terbaik AKABRI pada tahun 1973, ia merupakan putra tunggal dari pasangan R.Soekotjo dan sitti Habibah. Darah prajurit menurun dari darah ayahnya yang merupakan pensiunan letnan satu, sedangnya ibunya merupakan putri dari seorang pendiri Ponpes Tremas.

Susilo Bambang Yudhoyono lahir di kabupaten Pacitan, 9 september 1949, jika di gali silsilah dari ayahnya dapat dilacak hingga Pakubuwana serta memiliki hubungan dengan trah Hamengkubuwana II.

SBY berkecimpung di dunia militer seperti ayahnya. Selain tinggal di kediaman keluarga di Bogor, SBY juga tinggal di istana merdeka Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herrawati yang merupakan putri ketiga Jenderal (Purnawirawan) Sarwo Edhi Wibowo (alm). Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo juga turut membantu menumpas PKI pada tahun 1965.

Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua anak laki-laki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1978) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1980). Agus merupakan lulusan dari SMA Taruna Nusantara dan Akademi Militer Indonesia pada tahun 2000. sedangkan Edhie Baskoro lulus dengan gelar ganda dalam Financial Commerce dan Electrical Commerce tahun 2005 dari Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat.

Karier Militer SBY

Pada tahun 1973, SBY lulus dari Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan mendapat penghargaan Adhi Makayasa sebagai murid lulusan terbaik dan Tri Sakti Wiratama yang merupakan prestasi tertinggi gabungan mental, fisik dan kecerdasan intelektual.

Pada periode tahun 1974-1976 ia memulai karir di Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Pada tahun 1976 ia melanjutkan pendidikannya di Airborne School dan US Army Rangers, American Language Course (Lackland-Texas), Airbone and Ranger Course (Fort Benning) Amerika Serikat.

Pada tahun 1976-1977 kariernya berlanjut kembali di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad, Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977), Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978, Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981, Paban Muda Sops SUAD (1981-1982. Periode 1982-1984, ia belajar di Infantry Officer Advanced Course (Fort Benning) Amerika Serikat.

Pada tahun 1983, ia belajar di On the job training in 82-nd Airbone Division (Fort Bragg) Amerika Serikat, Jungle Warfare School (Panama, Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman pada tahun 1984, Kursus Komando Batalyon (1985) dan meniti karier di Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985), Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988), dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988).

Pada periode 1988-1989 SBY kembali belajar di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat dan melanjutkan ke US Command and General Staff College (Fort Leavenwort) Kansas Amerika Serikat pada tahun 1991.

Pada tahun 1989 hingga 1993, SBY bekerja sebagai Dosen Seskoad Pangab, Dan Brigif LInud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994, Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995) serta Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Lulusan Master of Art (M.A.) dari Management Webster University Missouri ini juga meniti karier di Kasdam Jaya (1996), dan Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda. Pada tahun 1997, ia diangkat sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster) TNI dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia pensiun dari kemiliteran pada 1 April 2001 oleh karena pengangkatannya sebagai menteri.

Penugasan

Jenderal TNI (Purnawirawan) Susilo Bambang Yudhoyono yang pernah ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor-Timur pada periode 1979-1980 dan 1986-1988 ini meraih gelar doktor (Ph.D.) dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 3 Oktober 2004. Pada 15 Desember 2005, ia menerima gelar doktor kehormatan di bidang ilmu politik dari Universitas Thammasat di Bangkok, Thailand.[10] Dalam pidato pemberian gelar, ia menegaskan bahwa politik merupakan seni untuk perubahan dan transformasi dalam sebuah negara demokrasi yang damai. Ia tidak yakin sepenuhnya kalau politik itu adalah ilmu.

Karier Politik

Susilo Bambang Yudhoyono tampil sebagai juru bicara Fraksi ABRI menjelang Sidang Umum MPR 1998 yang dilaksanakan pada 9 Maret 1998 dan ketua Fraksi ABRI MPR dalam sidang istimewa MPR 1998. Pada tanggal 26 Oktober 1999, ia diangkat sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan (Menko Polsoskam) sebagai konsekuensi penyusunan kembali kabinet Abdurrahman Wahid.

Dan pada kabinet Gotong Royong pimpinan presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya kembali sebagai Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada 10 Agustus 2001. Merasa tidak dipercaya lagi oleh presiden, jabatan Menko Polkam ditinggalkannya pada 11 Maret 2004.

Berdirinya Partai Demokrat pada tanggal 9 September 2002 menguatkan kembali namanya untuk mencapai puncak karier politiknya. Ketika Partai Demokrat mengadakan deklarasi pada 17 oktober 2002, namanya dicalonkan menjadi presiden dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004.

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam, dan sejalan dengan masa kampanye Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD dan DPRD Indonesia 2004, secara resmi ia berada dalam koridor Partai Demokrat.

Keberadaannya dalam Partai Demokrat menuai sukses dalam pemilu legislatif dengan meraih 7,45% suara. Dan pada 10 Mei 2004, ia diusung oleh 3 partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai Presiden yang berpasangan dengan kandidat wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dan akhirnya pada pemilu Presiden langsung putaran keduan 20 september 2004, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla meraih kepercayaan masyarakat dengan memperoleh suara di atas 60%, dan pada tanggal 20 Oktober 2004 SBY dilantik menjadi Presiden ke-6 periode 2004-2009.

Setelah masa akhir jabatannya pada tahun 2009, ia kembali mengumumkan akan maju lagi sebagai calon presiden yang berpasangan dengan Boediono sebagai Cawapress yang diusung oleh partai Demokrat. Setelah pemilihan umum pada tahun 2009, SBY kembali terpilih untuk ke dua kalinya sebagai Presiden dengan masa Jabatan 2009-2014 bersama wakilnya Boediono.

Pada Kongres Luar Biasa Partai Demokrat yang diadakan di Bali tanggal 30 Maret 2013, Susilo Bambang Yudhoyono ditetapkan sebagai ketua umum Partai Demokrat, menggantikan Anas Urbaningrum.

Selanjutnya pada Kongres IV Partai Demokrat yang diadakan di Hotel Shangri-La, Surabaya tanggal 12 Mei 2015, Susilo Bambang Yudhoyono kembali terpilih menjadi Ketua Umum untuk periode 2015-2020.

Pendidikan Susilo Bambang Yudhoyono

  • Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
  • American Language Course, Lackland, Texas Amerika Serikat, 1976
  • Airbone and Ranger Course, Fort Benning, Amerika Serikat, 1976
  • Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, Amerika Serikat, 1982-1983
  • On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, Amerika Serikat, 1983
  • Jungle Warfare School, Panama, 1983
  • Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
  • Kursus Komando Batalyon, 1985
  • Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat, 1988-1989
  • Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat
  • Master of Art (M.A.) dari Management Webster University, Missouri, Amerika Serikat
  • Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), 2004
  • Guru Besar Ilmu Ketahanan Nasional dari Universitas Pertahanan Indonesia (Unhan), 2014

Ringkasan karier

  • Prangko Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
  • Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
  • Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
  • Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
  • Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
  • Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
  • Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
  • Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
  • Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
  • Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
  • Dosen Seskoad (1989-1992)
  • Korspri Pangab (1993)
  • Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
  • Asops Kodam Jaya (1994-1995)
  • Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
  • Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
  • Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
  • Pangdam II/Sriwijaya (1996-1997) sekaligus Ketua Bakorstanasda
  • Asospol Kassospol ABRI/wakil Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Umum MPR 1998)
  • Kassospol ABRI/ Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
  • Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
  • Menteri Pertambangan dan Energi (sejak 26 Oktober 1999)
  • Menteri Koordinator Politik Sosial Keamanan(Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
  • Menteri Koordinator Politik Dan Keamanan(Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
  • Presiden Republik Indonesia (2004-2014)

Penghargaan

  • Tri Sakti Wiratama (prestasi tertinggi gabungan mental, fisik, dan kecerdasan intelektual), 1973
  • Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
  • Satya Lencana Seroja, 1976
  • Honor Graduate IOAC, Amerika Serikat, 1983
  • Satya Lencana Dwija Sista, 1985
  • Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
  • Dosen Terbaik Seskoad, 1989
  • Satya Lencana Santi Dharma, 1996
  • Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
  • Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
  • Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
  • Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
  • Wing Penerbang TNI-AU, 1998
  • Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
  • Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
  • Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
  • Bintang Dharma, 1999
  • Bintang Maha Putera Utama, 1999
  • Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
  • Bintang Asia (Star of Asia) oleh BusinessWeek, 2005
  • Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama oleh Sultan Brunei, 2006
  • Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam oleh Masyarakat Tanjung Alam dan Pewaris Kerajaan Pagaruyung, 2006
  • Seri Indra Setia Amanah Wangsa Negara oleh Lembaga Adat Melayu se-Provinsi Riau, 2007
  • Darjah Utama Seri Mahkota oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin, 2008
  • Gelar Adat Melayu Jambi oleh Lembaga Adat Melayu Jambi
  • 100 tokoh Berpengaruh Dunia 2009 kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME, 2009
  • Patuan Sorimulia Raja oleh Lembaga Batak Puak Angkola, 2011
  • Knight Grand Cross in the Order of the Bath oleh Ratu Elizabeth II, 2012
  • Bapak Demokrasi Indonesia oleh DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia, 2012
  • Warga Kehormatan Kota Quito oleh Wali kota Quito, 2012
  • Guru Besar (Profesor) dalam bidang ilmu Ketahanan Nasional oleh Universitas Pertahanan Indonesia, 2014
  • Apresiasi atas berbagai upaya penting atas pemberantasan korupsi, dari Forum for Budget Transparency (FITRA), 2014
  • Order of Sikatuna with the Rank of Raja dengan kategori Grand Collar dari Pemerintah Filipina, 2014
  • Order of Temasek (First Class), dari Pemerintah Singapura, 2014
  • Global Statesmanship Award dari World Economic Forum (WEF), 2014
  • Penghargaan Jas Merah dari The Sukarno Center, 2014
  • Semeton Tamiu Utama Desa Pakraman Tampaksiring, 2014
  • Anakaji To Appamaneng Ri Luwu dari Datu Luwu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, 2014
  • Tominaa Ne Sando Tato, Gelar Adat Tana Toraja, 2014

Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah dicalonkan untuk menjadi penerima Penghargaan Perdamaian Nobel 2006 bersama dengan Gerakan Aceh Merdeka dan Martti Ahtisaari atas inisiatif mereka untuk perdamaian di Aceh. Selain itu, Susilo Bambang Yudhoyono telah menerima gelar Doktor Honoris Causa sebanyak 12 kali, yaitu:

  • Doktor Honoris Causa Bidang Hukum dari Universitas Webster, Inggris. (2005)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Politik dari Universitas Thammasat, Thailand. (2005)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Pembangunan Pertanian Berkelanjutan dari Universitas Andalas, Indonesia. (2006)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Pemerintahan dan Media dari Universitas Keio, Jepang. (2006)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Ekonomi dari Universitas Tsinghua, Republik Rakyat Tiongkok. (2012)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Perdamaian dari Universitas Utara Malaysia. (2012)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Kepemimpinan dan Pelayanan Publik dari Universitas Teknologi Nanyang, Singapura. (2005)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Hukum Perdamaian dari Universitas Syiah Kuala, Aceh. (2013)
  • Doktor Honoris Causa dari Universitas Ritsumeikan, Jepang. (2014)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan dan Kebudayaan dari Universitas Soka, Jepang. (2014)
  • Doktor Honoris Causa dari Universitas Western Australia, Perth (2015)
  • Doktor Honoris Causa Bidang Pembangunan Berkelanjutan dari Institut Teknologi Bandung (2016)

Itulah artikel singkat seputar Biografi dan Profil Susilo Bambang Yudhoyono semoga kisah perjalanan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono ini bisa bermanfaat dan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca sekalian.

Biografi dan Profil Jendral Sudirman Sebagai Pahlawan Nasional Indonesia

biografi jendral sudirman

Biografi dan Profil Jendral Sudirman (Soedirman) Beserta Riwayat Lengkapnya Sebagai Pahlawan Nasional Indonesia

InfoBiografi.Com – Jenderal Sudirman merupakan pahlawan nasional Indonesia yang dikenang dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pahlawan nasional yang berasal dari Purbalingga ini merupakan panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama dan seorang perwira tinggi pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Biografi Singkat

Nama : Soedirman
Lahir : Purbalingga, 24 Januari 1916
Wafat : Magelang , 29 Januari 1950
Pasangan : Alfiah
Anak : Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, serta empat orang putri; Didi Praptiastuti, Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum
Orangtua : kandung – Karsid Kartawiraji (ayah) dan Siyem (Ibu)
Pangkat : Raden cokrosunaryo dan Tarsem

Riwayat Kelahiran Jendral Sudirman

Jenderal Sudirman adalah putra dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem yang lahir pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang, Purbalingga. Ia lahir dirumah saudara Ibunya yang bernama Tarsem. Tarsem merupakan Istri dari Raden Cokrosunaryo yang merupakan paman dari jenderal Sudirman. Nama Soedirman merupakan nama yang diberikan oleh Pamannya. Karena kondisi Raden Cokrosunaryo yang lebih baik dari orangtuanya, lalu ia mengadopsi Soedirman kecil dan memberinya gelar Raden, sebuah gelar untuk kebangsawanan Jawa. Sampai Usia 18 tahun, Soedirman tumbuh dewasa tanpa diberitahu bahwa Cokrosunaryo bukanlan ayah kandungnya. Ketika COkrosunaryo pensiun dari camat pada akhir 1916, soedriman ikut keluarganya di Cilacap dan ia bergabung dengan organisasi Islam Muhammadiyah dan menjadi siswa yang rajin dan aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler.

Pendidikan Sudirman

Soedirman memperoleh pendidikan formal di sekolah Taman Siswa kemudian ia melanjutkan sekolahnya ke HIK (sekolag guru) namun tidak sampai tamat. Soedirman muda yang terkenal sebagai pribadi yang disiplin dan giat dalam beroganisasi seperti di Pramuka Hizbul dan kemudian ia menjadi seorang guru di sekolah HIS Muhammaddiyah di Cilacap. Karena kedisplinan dan jiwa pendidik dalam dirinya dan dipadukan dengan bekal pribadinya hingga ia bisa menjadi pemimpin tertinggi Angkatan Perang.

Perlawanan Jendral Sudirman terhadap Jepang

Pendidikan militernya diawali dengan mengikuti pendidikan tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Setelah selesai dari pendidikannya, ia diangkat menjadi Komandan Batalyon di Kroya.

Pada ketika itu Soedirman yang dikenal memiliki sikap tegas sering memprotes tindakan tentara Jepang yang sering berbuat sewenang-wenang dan bertindak kasar terhadap anak buahnya. Karena sikap tegasnya itu hingga suatu kali ia hampir dibunuh oleh tentara Jepang.

Pasca Indonesia merdeka dalam suatu pertempuran di Banyumas ia berhasil merebut senjata pasukan Jepang. Itulah jasa pertama yang ia lakukan sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia. Hingga ia kemudian di angkat menjadi Panglima Divisi/Banyumas dengan Pangkat Kolonel saat terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat (TKR) . Dan melalui Konferensi TKR tanggal 2 November 1945, ia terpilih menjadi penglima Besar TKR/Panglima Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden. Ia memperoleh pangkat Jenderal tidak melalui Akademi Militer atau pendidikan tinggi lainnya sebagaimana lazimnya, melainkan karena prestasinya.

Hingga ketika pasukan sekutu datang ke Indonesia dengan alasan untuk melucuti tentara Jepang, namun ternyata tentara Belanda ikut dibonceng. Pasukan TKR yang dipimpin oleh Sudirman akhirnya terlibat dalam pertempuran dengan tentara sekutu pada Demeser 1945.

Pada saat pasukan Belanda kembali melakukan agresinya yang dikenal dengan agresi militer II Belanda, di Ibukota Negara RI yang saat itu berada di Yogyakarta, Jenderal Sudirman saat itu masih dalam keadaan sakit. Kondisi sudirman sangat lemah akibat penyakit paru-paru yang dideritanya, dan hanya tinggal satu paru-paru saja yang berfungsi.

Dalam Agresi yang dilakukan Belanda, hingga kemudian Belanda berhasil pula menguasai Yogyakarta. Bung Karno dan Bung Hatta serta beberapa anggota kabinet lainnya juga sudah ditawan. Melihat keadaan yang sedang darurat Sudirman tetap melakukan paerlawan terhadap Belanda karena ia ingat dengan tanggung jawabnya sebagai pimpinan Tentara. Meskipun saat itu Presiden Soekarno telah menganjurkannya untuk tetap tinggal didalam kota untuk melakukan perawatan.

Perang Gerilya

Maka dengan menggunakan Tandu, Jenderal Sudirman berangkat memimpin pasukan untuk melakukan perang Gerilya. Sekitar 7 bulan, ia berpindah tempat dari hutan yang satu ke hutan lainnya, dari gunung ke gunung dalam keadaan sakit dan lemah, sementara itu persediaan obat-obatan juga hampir tidak ada.

Kepada pasukan yang di pimpinnya, ia selalu memberikan semangat dan petunjuk seakan ia sendiri tidak merasakan sakit yang luar biasa. Hingga pada akhirnya ia harus pulang dari medan perang karena keadaannya, ia tidak bisa lagi memimpin angkatan perang secara langsung, namun pemikirannya selalu dibutuhkan oleh pasukkannya.

Wafatnya Jenderal Sudirman

Jenderal Sudirman akhirnya meninggal pada usia yang masih muda yaitu 34 Tahun karena melawan penyakitnya. Ia meninggal pada tanggal 29 Januari 1950. Panglima Besar ini meninggal di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Dan Ia dinobatkan sebagai Pahlwan Pembela Kemerdekaan.

Jenderal Sudirman memiliki jiwa sosial yang tinggi, di masa pendudukan Jepang ia menjadi anggota Badan Pengurus Makanan Rakyat dan anggota Dewan Perwakilan Keresidenan Banyumas, dna ia pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.

Pengalaman Pekerjaan :

  • Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
  • Pengalaman Organisasi:
  • Kepanduan Hizbul Wathan
  • Jabatan di Militer:
  • Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal Besar Bintang Lima
  • Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
  • Komandan Batalyon di Kroya
  • Tanda Penghormatan:
  • Pahlawan Pembela Kemerdekaan

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Jendral Sudirman yang dapat kami sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur  dalam mencari informasi tentang Biografi dan Profil Jendral Sudirman.

Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara – Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Ki Hadjar Dewantara – Pelopor Pendidikan Kaum Pribumi Disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional

InfoBiografi.Com – Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889. Beliau merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan, politisi, kolumnis, dan juga pelopor pendidikan bagi kaum pribumi di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Peliau juga merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa yang merupakan suatu lembaga pendidikan bagi para pribumi jelata di Idonesia untuk dapat memperoleh hak pendidikan sama halnya dengan orang-orang belanda maupun para priyayi.

Tanggal kelahiran beliau di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan ciptaan beliau pula menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional yaitu tut wuri handayani. Selain itu, nama beliau pun diabadikan pada salah satu kapal perang Indonesia yaitu KRI Ki Hajar Dewantara Serta potret beliau diabadikan dalam uang kertas pecahan 20 ribu rupiah edisi tahun 1998. Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 pada usia 69 tahun.

Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara

Nama : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Lahir : 2 Mei 1889, Kota Yogyakarta, Indonesia
Wafat : 28 April 1959, Kota Yogyakarta, Indonesia
Jabatan : Menteri Pengajaran Indonesia ke-1 (2 September 1945 – 14 November 1945)

Profil Ki Hajar Dewantara

Pendidikan Dan Menjadi Seorang Wartawan

Soewardi Soerjaningrat merupakan putra dari GPH Soerjanirat dan merupakan cucu dari Pakualam III. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di ELS atau Sekolah Dasar Eropa/Belanda, Selanjutnya beliau sempat meneruskan pendidikan ke STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera namun tidak tamat karena sakit.

Kemudian beliau bekerja sebagai wartawan dan penulis dibeberapa surat kabar seperti De Express, Poesara, Midden Java, Oetoesan Hindia, Sediotomo, Kaoem Moeda dan Tjahaja Timoer. Beliau merupakan penulis handal yang tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial pada masanya.

Aktivitas Pergerakan

Selain menjadi seorang wartawan muda yang ulet, Soewardi juga aktif dalam organisasi pada bidang sosial politik. Beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan serta menggugah kesadaran masyarakat Indonesia terutama yang berada di Jawa mengenai persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara pada waktu itu di organisasi pemuda Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908.

Selain itu beliau juga pernah menjadi anggota dari organisasi Insulinde yaitu suatu organisasi multiteknik yang didominasi oleh kaum indo untuk memperjuangkan pemerintahan sendiri di HIndia Belandaatas pengaruh dari Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi. Soewardi juga diajak Douwes Dekker dan juga Tjipto Mangunkusumo untuk mendirikan Indische Partij yaitu sebuah partai politik pertama di Hindia Belanda.

Masa Pengasingan

Pada tahun 1913 untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Perancis, pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga termasuk pribumi. Namun hal tersebut menimbulkan reaksi kritis dari kalangan nasionalis termasuk Ki Hadjar Dewantara dengan menulis”Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”.

Selain tulisan tersebut kolom beliau yang paling terkenal adalah “Als ik een Nederlander was” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang dimuat dalam surat kabar De Expres. Berikut adalah kutipan tulisan tersebut:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Akibat tulisan tersebut Soewardi ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka atau permintaan beliau sendiri. Namun kedua rekannya dalam tiga serangkai yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo memprotes hal tersebut dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda. Kala pengasingan tersebut Soewardi baru berusia 24 tahun.

Selama dalam pengasingan Soewardi di Belanda, Beliau aktif dalam organisasi Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang beranggotakan para pelajar asal Indonesia. Beliau kemudian merintis cita-cita untuk memajukan kaun pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga mendapatkan Europeesche Akta (Ijazah pendidikan).

Kembali Ke Indonesia Dan Mendirikan Taman Siswa

Pada September 1919, beliau kembali ke indonesia dan bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Dengan pengalaman mengajar tersebut beliau mengembangkan konsep mengajar pada sekolah yang didirikannya yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Soewardi mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara pada saat genap berumur 40 tahun menurut perhitungan penanggalan jawa.

Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan menggunakan bahasa Jawa dalam sistem pendidikan yang dipakainya yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” atau dalam bahasa Indonesia berarti “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”. Semboyan tersebut hingga kini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (sekarang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) yang pertama dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Beliau juga mendapat gelar doctor honoris causa, Dr.H.C. atau doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.

Wafatnya Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Untuk mengenang jasa beliau dalam merintis pendidikan umum, pada tanggal 28 November 1959 beliau didaulat sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia serta hari kelahirannya dinyatakan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959.

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara yang dapat kami sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur  dalam mencari informasi tentang Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara .

Biografi dan Profil Lengkap R.A. Kartini Sebagai Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia

biografi ra kartini

Biografi dan Profil Lengkap R.A. Kartini Sebagai Pahlawan Emansipasi Kaum Wanita Indonesia 

InfoBiografi.Com – R.A Kartini merupakan salah satu tokoh wanita yang terkenal di Indonesia. Raden Ayu Kartini atau R.A.Kartini adalah sosok wanita pahlawan Nasional yang dikenal dengan kegigihannya memperjuangkan emansipasi wanita kala hidupnya. Untuk mengenal lebih jauh mengenai biografinya, berikut ini adalah biografi R.A.Kartini.

Biografi Singkat

Nama : Kartini
Nama Lain : Raden Ayu Kartini
Lahir : Jepara , 21 April 1879
Wafat : Rembang, 17 September 1904
Agama : Islam
Pasangan : K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
Orangtua : R.M. Sosroningrat (Ayah), M.A. Ngasirah (Ibu)
Gelar : Pahlawan Emansipasi Wanita

Biografi Lengkap R.A. Kartini

Kelahiran R.A.Kartini

R.A. Kartini lahir pada tanggal 21 April 1879 di Kota Jepara, karena kegigihannya itulah hari lahirnya kemudian diperingati sebagai hari Kartini untuk menghormati jasa-jasanya pada bangsa Indonesia. Kartini lahir ditengah-tengah keluarga yang berasal dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa. Karena itulah ia memperoleh gelar R.A (Raden Ajeng) didepan namanya. Gelar Raden Ajeng digunakan Kartini sebelum ia menikah, jika sudah menikah maka gelar kebangsawanan diganti menjadi Raden Ayu menurut tradisi Jawa.

Keluarga R.A.Kartini

Ayah Kartini yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi bupati Jepara segera setelah Kartini Lahir. Kartini merupakan putri pertama dari istri pertama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat namun bukan dari istri utama. Ayahnya merupakan putra dari Pangeran Ario Tjondronegoro IV, seorang bangsawan yang menjabat sebagai bupati jepara, beliau ini merupakan kakek dari R.A Kartini. Ayahnya R.M. Sosroningrat merupakan orang yang terpandang sebab posisinya kala itu sebagai bupati Jepara kala Kartini dilahirkan.

Ibunya yaitu M.A.Ngasirah merupakan anak dari seorang Kiyai atau guru agama di Telukawur, kota Surabya. Jika ditelisik lebih dalam Kartini merupakan keturunan dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI, bahkan ada yang mengatakan bahwa Ayahnya berasal dari kerajaan Majapahit.

M.A.Ngasirah merupakan bukanlah putri dari keturunan bangsawan, melainkan hanya dari rakyat biasa saja. Karena pada peraturan kolonial Belanda yang ketika itu mengharuskan seorang Bupati harus menikah dengan bangsawan, akhirnya ayah Kartini kemudian mempersunting seorang wanita bernama Raden Adjeng Woerjan yang merupakan seorang Bangsawan keturunan langsung dari Raja Madura pada masanya. Setelah perkawinan itu, kemudian ayah Kartini diangkat menjadi Bupati Jeparaa menggantikan posisi ayah kandung dari Raden Adjeng Woerjan yaitu R.A.A. Tjitrowikromo.

Kehidupan R.A.Kartini dan Pemikirannya tentang emansipasi Wanita

Kartini merupakan anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan kiri. Dari saudara sekandungnya, Kartini merupakan putri tertua. Kakeknya adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat menjadi Bupati diusia 25 Tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak kartini yaitu Sosrokartono seorang yang pintar dalam bidang bahasa.

Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Disana Ia belajar bahasa Belanda. Namun pada umur 15 tahun ia harus tinggal dirumah karena sudah bisa dipingit.

Karena kepandaiannya dalam berbahasa Belanda, maka dirumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat untuk teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satu teman yang mendukunya adalah Rosa Abendanon.Dari sanalah Kartini mulai tertarik dengan pola pikir yang dimiliki oleh perempuan Eropa dari surat kabar, majalah, serta buku yang ia baca.

Hingga kemudian ia mulai berpikir dan berusaha untuk memajukan perempuan pribumi karena dalam pikirannya kedudukan wanita pribumi masih tertinggal jauh atau memiliki status sosial yang cukup rendah kala itu.

R.A. Kartini banyak membaca surat kabar atau majalah-majalah dari kebudayaan Eropa yang menjadi langganannya denga barbahasa Belanda. Di usianya yang masih 20 Tahun ia bahkan sudah banyak membaca buku karya Louis Coperus yang berjudul De Stille Kraacht, karya Van Eeden, Augusta de Witt serta berbagai roman-roman beraliran feminis yang kesemuanya berbahasa belanda, selain itu ia juga membaca buku karya Multatuli yang berjudul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta.

Ketertarikannya dalam membaca membuat ia memiliki pengetahuan yang cukup luas tentang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. R.A.Kartini memberi perhatian khusu pada masalah emansipasi wanita dengan melihat perbandingan antara wanita eropa dan wanita pribumi. Selain itu ia juga menaruh perhatiannya pada masalah sosial yang terjadi. Menurutnya seorang wanita perlu mmeperoleh persamaan, kebebasan , otonomi serta kesetaraan hukum.

Pernikahan R.A.Kartini 

Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan Bupati Rembang yaitu K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang telah memiliki tiga orang istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suami memberikan pengertian terhadap keinginan dari Kartini dan memberika kebebasan serta didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks perkantoran Rembang, atau saat ini gedung tersebut digunakan sebagai gedung pramuka.

Kelahiran Putra dan Wafatnya R.A.Kartini

R.A. Kartini melahirkan seorang Putra yang diberi nama Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Namun 4 hari setelah melahirkan, tepatnya pada tanggal 17 September 1904 Kartini meninggal pada usia 25 Tahun, dan jasadnya dimakamkan di Desa Bulu, kecamatan Bulu, Rembang.

Didirikannya Yayasan Kartini

Berkat kegigihannya, kemudian didirikanlah Sekolah wanita oleh Yayasan Kartini di semarang pada tahun 1912, dan kemudian di dirikan di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cireboh dan daerah lainnya. Sekolah tersebut diberi nama “Sekolah Kartini”, Yayasan tersebut didirikan oleh keluarga Van Deventer. seorang tokoh Politik Etis.

Setelah Kartini wafat, Mr.J.H. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia-Belanda mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan oleh R.A Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Bukunya diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.

Penghargaan untuk R.A.Kartini

Dengan terbitnya surat-surat Kartini yang hanya seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-prmikian Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan Pribumi di Jawa. Selain itu atas pemikiran-pemikirannya pula yang menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, seperti W.R Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini. Lagu tersbut kini sangat populer dikalangan siswa di Indonesia, lagu ini menggambarkan inti perjuangan wanita untuk merdeka.

Hingga pada tanggal 2 Mei 1964 presiden Soekarno mengeluarkan instruksi berupa keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, yang berisi penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional, Soekarno juga menetapkan hari lahir Kartini, yakni pada tanggal 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini sampai sekarang ini.

Terdapat banyak perdebatan dan kontrovesi mengenai keaslian surat-surat yang ditulis oleh R.A.Kartini, karena hingga kini sebagian besar naskah asli surat kartini tidak dapat ditemukan, dan jejak keturuan J.H.Abendanon pun sulit untuk dilacak oleh pemerintahan Belanda. Hingga banyak kalangan yang meragukan kebenaran dari surat-surat Kartini.

Selain itu penetapan tanggal kelahiran R.A Kartini sebagai hari besar juga banyak diperdebatkan. Terdapat pihak yang tidak begitu menyetujuinya, mereka mengusulkan agar tidak hanya ada hari kartini, namun harus ada juga hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka mengusulkan hal tersebut agar tidak ada pilih kasih, karena masih ada pahlawan wanita lain yang ikut gigih memperjuangkan kemerdekaan untuk negara seperti Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu, dan lain-lain.

Buku-Buku R.A.Kartini

  1. Habis Gelap Terbitlah Terang
  2. Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
  3. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
  4. Panggil Aku Kartini Saja (Karya Pramoedya Ananta Toer)
  5. Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
  6. Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.

Keturunan R.A.Kartini

Sebelum wafatnya R.A.Kartini memiliki seorang putra yang bernama R.M Soesalit Djojoadhiningrat hasil pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Putra Kartini sempat menjabat sebagai Mayor Jenderal pada masa kependudukan Jepang, kemudian ia memiliki putra yang bernama RM. Boedi Setiyo Soesalit (cucu R.A Kartini) yang kemudian menikah dengan seorang wanita bernama Ray. Sri Biatini Boedi Setio Soesalit.

Dari pernikahannya, RM. Boedi Setiyo Soesalit memiliki lima anak bernama RA. Kartini Setiawati Soesalit, kemudian RM. Kartono Boediman Soesalit, RA Roekmini Soesalit, RM. Samingoen Bawadiman Soesalit, dan RM. Rahmat Harjanto Soesalit.

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Lengkap R.A. Kartini yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi materi yang bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur yang tepat untuk pembaca dalam mencari informasi tentang Biografi dan Profil Lengkap R.A. Kartini .

Biografi dan Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri – Presiden Wanita Pertama Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri Sebagai Presiden Wanita Pertama Indonesia

InfoBiografi.Com – Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau yang lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri merupakan presiden wanita pertama Indonesia yang menjabat dari 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004 dan Beliau merupakan putri dari pasangan presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno dan Fatmawati. Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Sebelum menjadi presiden, Megawati Soekarnoputri adalah wakil presiden RI ke-8 pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri

Nama: Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
Lahir : Yogyakarta, 23 Januari 1947
Pasangan :
Surindro Supjarso (1968-1971; alm.)
Hassan Gamal A. Hasan (1972; dibatalkan oleh PTA)
Taufiq Kiemas (1973-2013; alm.)

Ayah : Ir.Soekarno
Ibu : Fatmawati

Anak:
Mohammad Rizki Pratama
Mohammad Prananda (dari Surindro Supjarso)
Puan Maharani (dari Taufiq Kiemas)

Masa Kecil Megawati Soekarnoputri

Sebagai anak Presiden, masa kecil Megawati Soekarno putri dilewatkan di Istana Negara. Saat kanak-kanak Ia sangat lincah dan suka bermain bola bersama Guntur saudaranya. Megawati juga hobi menari dan sering memperlihatkannya di Istana saat ada tamu negara yang berkunjung.

Megawati Soekarno putri menempuh pendidikan Sekolah Dasar hingga Menegah Atas di Perguruan Cikini, Jakarta. Beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung namun tidak sampai lulus , selain itu juga ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia namun juga tidak sampai lulus.

Perjalanan Rumah Tangga

Pada tanggal 1 Juni tahun 1968, Megawati Soekarnoputri menikah dengan Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso. Setelah menikah, Megawati Soekarnoputri tinggal di Madiun ikut suaminya, disana Beliau menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya yang bernama Mohammad Rizki Pratama. Saat mmasih mengandung anak keduanya yaitu Mohammad Prananda, pada 22 Januari 1971 suami beliau yaitu Surindro mengalami kecelakaan pesawat di Biak, Irian Jaya dan dinyatakan hilang bersama tujuh awak pesawat lainnya yang ditemukan hanya sisa puing-puing pesawat tersebut.

Pada tahun 1972, Megawati Soekarno Putri kembali membangun rumah tangga dengan seorang diploma yang konon juga pengusaha yang berasal dari Mesir bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun pernikahan ini hanya berjalan selama 3 bulan, pernikahan tersebut menjadi sorotan pada saat itu karena beliau masih menjadi istri sah dari Surindro. Keluarga tidak tinggal diam melihat hal ini, lalu mereka menyewa pengacara untuk membatalkan pernikahan Megawati Soekarnoputri dengan Hassan Gamal Ahmad Hasan. Dari pernikahan ini Megawati Soekarno putri tidak memiliki anak.

Pada akhir Maret tahun 1973, Megawati Soekarno putri kembali menikah dengan rekannya dulu di GMNI atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia bernama Moh.Taufiq Kiemas. Dari pernikahan Ini Megawati dan Taufiq Kiemas dianugrahi seorang anak yang diberi nama Puan Maharani.

Karier di Bidang Politik

Pada tahun 1986, Megawati memulai kariernya di bidang politik sebagai wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Dalam kurun wakjtu satu tahun lalu beliau menjadi anggota DPR RI.

Pada tahun 1993, secara aklamasi Megawati terpilih menjadi Ketua Umum PDI dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya. Namun pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian pada tahun 1996 dalam Kongres PDI di Medan, Megawati ditumbangkan sebagai ketua umum dan pemerintah memilih Soerjadi sebagai ketua umum PDI.

Mega tidak terima dengan penumbangannya dan tidak mengakui adanya Kongres Medan tersebut. Mega masih merasa dirinya adalah Ketua Umum PDI yang sah, pihak Mega tidak mundur dan tetap mempertahankan kantor DDP PDI yang berada di Jalan Diponegoro. Soerjadi yang didukung oleh pemerintah mengancanm akan merebut paksa kantor tersebut. Pada 27 Juli 1966, ancaman Soerjadi benar terjadi dan dalam penyerangan tersebut puluhan pendukung Megawati tewas dan berujung kerusuhan massal sdi jakarta yang kemudian kejadian tersebut dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Setelah terjadi kerusuhan tyersebut, Mega tetap tidak menyerah. Ia menempuh jalur hukum walaupun tak berhasil. Mega tetap tidak menyerah, lalu PDI berpisah menjadi 2 kubu yaitu PDI dibawah pimpinan Soerjadi dan PDI dibawah pimpinan Megawati. Walau pemerintah mengakui bahwa Soerjadi adalah Ketua Umum PDI yang sah namun para massa lebih berpihak pada Mega. Massa terlihat lebih berpihak pada Mega pada saat pemilu 1997 perolehan suara PDI dibawah pimpinan Soerjadi merosot tajam.

Pada pemilu 1999, PDI dibawah pimpinan Megawati berganti nama menjadi PDI Perjuangan dan berhasil memenangkan Pemilu, tapi Sidang Umum 1999 melalui voting mengatakan bahwa KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden.

Menjadi Presiden RI

Walau gagal pada pemilu 1999, Megawati tidak perlu menunggu 5 tahun untuk menjadi presiden, pada 23 Juli 2001 megawati ditetapkan sebagai Presiden setelah MPR RI melepas mandat KH Abdurrahman Wahid. Mega menjadi presiden hingga 20 nOktober 2003. Setelah masa jabatannya selesai, Ia mencalonkandiri sebagai Presiden kembali pada pemilu 2004 namun gagal dan yang terpilih menjadi presiden adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Megawati Soekarno Putri yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi materi yang bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur yang tepat untuk pembaca dalam mencari informasi tentang Megawati Soekarno Putri.

Biografi dan Profil Kapitan Pattimura – Pahlawan Nasional asal Maluku

Biografi dan Profil Lengkap Kapitan Pattimura – Sejarah Perjuangan Sang Pahlawan Nasional asal Maluku

InfoBiografi.Com – Kapitan Pattimura merupakan salah satu pahlawan nasional yang sangat gigih berjuang melawan penjajah Belanda. Berikut biografinya.

Biografi Singkat Pattimura

Nama lengkap : Thomas Matulessy
Julukan : Pattimura
Lahir : Hualoy, Seram selatan, Maluku 8 Juni 1783
Wafat : Ambon, Maluku 16 Desember 1817
Orang tua : Frans Matulesi (Ayah) Fransina Silahoi (Ibu)

Biografi Lengkap Pattimura

Berdasarkan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M.Sapija menuliskan “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayahnya yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”.

Namun berbeda dengan pendapat dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia mengatakan dalam bukunya yang berjudul Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy (dalam bahasa Maluku “Mat Lussy”), lahir di lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah).

Gelar Kapitan

Berdasarkan sejarah yang dituliskan M.Sapija, gelar kapitan yang dimiliki oleh Pattimura berasal dari pemberian Belanda. Padahal tidak.

Menurut sejarawan Mansyur Suryanegara atas saran dari Abdul Gafur (leluhur bangsa Indonesia). Dilihat dari sudut sejarah dan antropologi adalah homo religosa (makhluk agamis). Keyakinan mereka terhadap suatu kekuatan di luar jangkauan akal pikiran mereka yang akhirnya menimbulkan tafsiran yang sulit dicerna rasio modern. Karena itulah tingkah laku sosialnya dikendalikan oleh kekuatan-kekuatan alam yang mereka takuti.

Jiwa mereka bersatu dengan kekuatan-kekuatan alam, kesaktian-kesaktian khusus dimiliki seseorang. Kesaktian tersebut kemudian diterima sebagai suatu peristiwa yang suci dan mulia. Bila kekuatan tersebut melekat pada seseorang maka akan menjadi lambang kekuatan untuknya.

Pattimura merupakan pemimpin yang dianggap memiliki kharisma. Sifat tersebut melekat dan berproses turun temurun. Meskipun kemudian mereka sudah memeluk agama, namun secara genealogis/silsilah/keturunan adalah turunan pemimpin atau kapitan. Dari sinilah sebenarnya sebutan “kapitan” yang melekat pada diri Pattimura itu bermula.

Perjuangan Pattimura

Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC, Pattimura pernah berkarier dalam dunia militer sebagai mantan sersan militer Inggris. Hingga pada tahun 1816, terjadi perpindahan kekuasaan dari kolonialisme Inggris ke tangan Belanda. Kedatangan Belanda sangat di tentang oleh Belanda, karena sebelum Inggris darang ke daratan Ambon. Belanda pernah menguasai daratan Ambon selama kurang lebih 2 Abad.

Selama kurun waktu 2 abad hubungan kemasyarakatan, politik dan ekonomi sangat buruk. Datangnya Belanda kali ini membawa aturan baru seperti monopoli politik, pemindahan penduduk, pajak atas tanah, dan mengabaikan Traktat london.

Akibatnya, Rakyat Maluku melakukan perlawanan angkat senjata untuk melawan Belanda di bawah pimpinan Pattimura. Pattimura diangkat menjadi pemimpin perjuangan melawan Belanda oleh Patih, ketua adat, dan para kapitan lainnya karena sifat kemimpinan dan ksatria yang ada pada diri Pattimura.

Karena perjuangan yang ia lakukan, Pattimura berhasil menggalang kekuatan dengan mengajak kerajaan ternate, Tidore, dan beberapa Raja di Jawa dan di Bali untuk membantu rakyat Maluku memerangi Belanda. Dengan kekuatan besar ini, Belanda sampai mengerahkan kekuatannya dibawah pipiman Laksamana Buykes, yang merupakan komisaris Jenderal Belanda.

Pejuangan Kapitan Pattimura dalam melawan Belanda yaitu untuk memperebutkan Benten Duurstede, pertempuran di pantai Waisisil dan jasirah Hatawano. Ouw-Ullath, Jasirah Hitu di pulau Ambon dan Seram Selatan.

Perang Pattimura dihentikan dengan adanya politik adu domba, tipu muslihat dan bumi hangus oleh Belanda. Pattimura bersama para tokoh pejuang lain yang bersamanya akhirnya dapat ditangkap. Pattimura ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda disebuah Rumah di daerah Siri Sori Pattimura kemudian di adili di Pengadilan Kolonial Belanda dengan tuduhan melawan pemerintah Belanda.

Hukuman Dan Kematian Pattimura

Pattimura kemudian dijatuhi hukuman gantung, sebelum eksekusinya di tiang gantungan, Belanda ternyata terus membujuk Pattimura agar dapat bekerja sama dengan pemerintah kolonial Belanda, namun Pattimura menolaknya.

Pattimura kemudian mengakhiri pengabdiannya di tiang gantungan pada tanggal 16 Desember 1817 di depan Benteng Victoria di Kota Ambon. Untuk jasa dan pengorbanannya itu, Kapitan Pattimura dikukuhkan sebagai “Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan” oleh pemerintah Republik Indonesia.

Itulah artikel singkat seputar Biografi dan Profil Kapitan Pattimura semoga kisah perjalanan Kapitan Pattimura ini bisa bermanfaat dan dapat memberikan inspirasi bagi pembaca sekalian.

Biografi dan Profil Lengkap Bj.Habibie – Presiden Ketiga Republik Indonesia

biografi bj habibie

Biografi dan Profil Lengkap B.J.Habibie – Presiden Ketiga RI, Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia

InfoBiografi.Com – Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan B.J Habibie merupakan Presiden ketiga Republik Indonesia. Beliau menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998 dan beliau digantikan oleh K.H Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang terpilih pada 20 Oktober 1999 Oleh MPR melalui pemilu. B.J. Habibie ini merupakan Wapres dan Presiden yang memiliki masa jabatan singkat yaitu 2 bulan 7 hari untuk wapres dan 1 tahun 5 bulan untuk presiden. Berikut ini merupakan biografi dan profil lengkap B.J. Habibie

Biografi Singkat B.J.Habibie

Nama: Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir: Pare-Pare , Sulawesi Selatan , 25 Juni 1936
Nama Orang tua

  • Ayah : Alwi Abdul Jalil Habibie
  • Ibu: RA. Tuti Marini Puspowardojo

Nama Isteri: Hasri Ainun Habibie
Nama anak: Ilham Akbar, Thareq Kemal

Pendidikan :

  • S1 Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung
  • S2  Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Jerman
  • S3 Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean,  Jerman

Jabatan:

  • Presiden Republik Indonesia (1998-1999)
  • Wakil Presiden (1998)
  • Vice President dan Direktur Tekmnologi Di MBB
  • Kepala penelitian Dan Pengembangan pada Analisis struktur Pesawat Terbang MBB
  • Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB
  • Direktur PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (1976-1998)
  • Menteri Riset Dan Teknologi RI(1978-1998)
  • Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
  • Direktur Utama PT. PAL Indonesia, Persero (1978-1998)
  • Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industrei Pulau Batam (1978-1998)
  • Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (1980-1998)
  • Direktur Utama PT. Pindad Persero (1983-1998)
  • Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis (1988-1998)
  • Ketua Badan Pengelola Industri Strategis (1989-1998)
  • Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (1990-1998)
  • Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar (1993)

Biografi dan Profil Lengkap B.J.Habibie

Laki-laki kelahiran Pare-Pare , Sulawesi Selatan tepatnya pada tanggal 25 Juni 1936 ini merupakan anak keempat dari 8 bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Ayah beliau berprofesi sebagai ahli pertanian yang berasal dari etnis Gorontalo dan berketutrunn Bugis Sedangkan ibunya beretnis Jawa.  Pada tanggal 12 Mei 1962, laki-laki yang hobi berkuda dan membaca ini menikah dengan Hasri Ainun Besari dan dikaruniai 2 orang putra yang bernama Ilham Akbar Habibie dan Thareq kemal Habibie.

Pendidikan Dan Karier  B.J Habibie

Sejak kecil Habibie telah memiliki sifat tegas dan berpegang pada prinsip, selain itu beliau dikenal sangat cerdas saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun sayang, pada 3 september 1950 B.J Habibie harus kehilangan sosok ayahnya yang meninggal saat sedang sholat isya karena serangan jantung. Tak berselang lama, rumah dan kendaraan yang dimiliki oleh keluarga dijual oleh ibu beliau lalu mereka pindah Ke kota Bandung. Sejak ayahnya meninggal untuk membiayai keluarga, ibu beliaulah yang bekerja membanting tulang.

Habibie memiliki kemauan yang tinggi dalam belajar, lalu beliau melanjutkan pendidikannya di SMAK Dago. Pada saat menempuh pendidikan SMA habibie mulai menampakan prestasinya terutama pada pelajaran eksakta. Pada tahun 1954, Habibie lulus dari SMAK. Karena kecerdasan beliau, beliau masuk ke perguruan tinggi Universitas Indonesia bandung(Sekarang ITB), Namun belum sampai selesai beliau mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudidayaan. Beliau memiliki jurusan Teknik Penerbangan spesialisasi Kontruksi Pesawat Terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Habibie memiliki jurusan tersebut karena mengingat pesan Ir.Soekarno tentang pentingnya Dirgantara dan Penerbangan bagi Indonesia. Mengingat jerih payah sang ibu membuat beliau memiliki tekat untuk bersungguh-sungguh diperantauan dan harus sukses. Pada saat liburan kuliah, beliau justru mengisi liburan tersebut dengan ujian dan juga mencari uang untuk membeli buku.

Pada tahun 1960, B.J Habibie mendapat gelar Diploma Ing dari Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Jerman dengan predikat cumlaude dengan nilai rata-rata 9,5. Berbekal dengan gelar Insinyur yang dimiliki, beliau mendaftar kerja si Firma Talbot yaitu sebuah Indusri Kereta Api di Jerman dan beliau berhasil mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat pesawat terbang pada wagon yang pada saat itu dibutuhkan Firma Talbot untuk mengangkut barang yang ringan namun bervolume besar. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar doktornya di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Pada tahun 1962, B.J Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari, setelah menikah beliau memboyong istrinya ikut ke Jerman. Perjuangan hidup di Jerman semakin keras, untuk menghemat kebutuhan hidup keluarga beliau harus berjalan kaki untuk sampai di tempat kerjanya dan akan pulang pada malam hari untuk belajar sementara istrinya harus mengantri mencuci baju di tempat pencucian umum.

B.J habibie mendapat gelar Dr. Ingenieur dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean pada tahun 1965 dengan predikat summa comlaude atau sangat sempurrna dengan rata-rata nilai 10. Setelah lulus dengan indeks prestasi summa comloude, beliau bekerja di Messerschmitt Bolkow Blohm atau MBB yaitu sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Selama bekerja di MBB tersebut B.J. Habibie menyumbangkan hasil penelitian serta sejumlah teori sepertirumus untuk menghitung keretakan atau crack propagation on random hingga ke atom-atom pesawat terbang yang kemudian rumus tersebut diberi nama Faktor Habibie dan karena rumus tersebut beliau mendapat julukan Mr.Crack.

Karena kejeniusan serta prestasi yang dimiliki oleh B.J. Habibie menghantarkan beliau diakui oleh berbagai lembaga internasional seperti Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis), The Royal Aeronautical Society London (Inggris) serta The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Selain itu beliau juga pernah meraih penghargaan bergensi seperti Edward Warner Award, Theodore von Karman Award, dan untuk didalam negeri beliau mendapat  penghargaan tertinggi Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana dari ITB.

Kembali Ke Indonesia

Pada tahun 1973, B.J.Habibie pulang ke Indonesia untuk memenuhi panggilan presiden Soeharto, lalu beliau diangkat sebagai penasehat pemerintah di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga pada tahun 1978. Walaupun telah menjabat sebagai penasehat pemerintah, beliau masih tetap pulang pergi ke Jerman karena beliau mesih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi Messerschmitt Bolkow Blohm. Baru pada tahun 1978, beliau melepas jabatan tinggi beliau tersebut.

Sejak itu dari tahun 1978 hingga 1997, beliau diangkat sebagai menteri riset dan tenologi sekaligus ketua badan pegkajian dan penerapan teknologi atau BPPT. Selain itu juga beliau diangkat pula sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan masih banyak jabatan lainnya. Setelah 20 tahun menjabat menjadi Menristek, pada 14 maret 1998- 21 mei 1998, beliau terpilih menjadi wakil presiden ke 7 RI melalui sidang umum MPR.

Pada tahun tersebut pula banyak peristiwa yang akhirnya membuat presiden Soeharto mengundurkan diri, dengan mundurnya soeharto maka berdasarkan pasal 8 UUD 1945 yang menyatakan “bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya” , B.J. Habibie akhirnya menggantikan posisi sebagai presiden RI.

Namun akhirnya Habibie dipaksa untuk lengser akibat memperbolehkan referendum Timor Timur (sekarang Timor Leste) yang memilih untuk merdeka. Pidato pertanggung jawabannya di tolak oleh MPR lalu beliau kembali menjadi warga negara biasa dan kembali ke Jerman.

Ditinggalkan istrinya

Pada hari sabtu, 22 mei 2010 pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB, istri tercinta B.J. Habibie yaitu Ibu Hasri Ainun Besari meninggal dunia di rumah sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum,Muenchen, Jerman.

Kepastian meninggalnya Hasri Ainun dari kepastian Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR yang ditunjuk menjadi wakil keluarga BJ Habibie. Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Dan hingga akhirnya kisah perjalanan cinta mereka di bukukan.

Karya B.J.Habibie

  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN – 235
  • N-250

Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:

  • Helikopter BO-105.
  • Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
  • Beberapa proyek rudal dan satelit.

Itulah artikel singkat seputar Biografi dan Profil B.J.Habibie yang dapat kami sajikan melalui posting kali ini, semoga kisah perjalanan B.J.Habibie ini bisa bermanfaat dan dapat memberika inspirasi bagi pembaca sekalian.