Biografi dan Profil Lengkap Soe Hok Gie (Sang Demonstran)

InfoBiografi.Com – Soe Hok Gie merupakan seorang aktivis Indonesia keturunan Tionghoa yang terkenal karena tulisannya yang sangat kritis terhadap pemerintahan orde lama dan Orde baru. Soe Hok Gie adalah anak ke empat dari lima saudara dari pasangan Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan dan Nio Hoe An yang lahir pada 17 Desember 1942 di Jakarta. Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie alias Arief Budiman. Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember 1969 pada usia 26 tahun di Gunung Semeru.

Profil Singkat Soe Hok Gie

Nama: Soe Hok Gie
Lahir: Jakarta, 17 Desember 1942
Wafat: Gunung Semeru,  16 Desember 1969
Ayah:Soe Lie Pit alias Salam Sutrawan
Ibu: Nio Hoe An

Masa Kecil Soe Hok Gie

Saat masih sekolah dasar, Soe Hok Gie juga kakaknya Soe Hok Djin sering mengunjungi perpustakaan umum dan taman bacaan yang ada di pinggir jalan, bahkan Soe Hok Gie sudah membaca karya sastra yang serius seperti karya dari Pramoedya Ananta Toer.

Setelah lulus dari Sekolah Dasar, Soe Hok Gie dan kakaknya Soe Hok Djin bersekolah ditempat yang berbeda, Soe Hok Gie memilih sekolah di SMP Strada di daerah Gambir sedangkan kakanya memilih masuk SMP Kanisius.

Pada saat kelas 2 sekolah menengah, Soe Hok Gie memiliki prestasi yang buruk dan Ia harus mengulang, tapi Ia tidak mau karena Ia merasa tidak diperlakukan dengan adil. Lalu Ia memilih pindah sekolah ke sekolah Kristen Protestan yang mengizinkannya untuk masuk kelas 3 tanpa harus mengulang.

Setelah lulus SMP, Soe Hok Gie melanjutkan pendidikannya di SMA Kanisius dengan Jurusan Sastra. Sedangkan kakakanya tetap melanjutkan Pendidikannya di sekolah yang sama dengan jurusan Ilmu Pengetahuan.

Minat pada bidang Sastra Soe Hok Gie semakin dalam pada saat Ia SMA dan juga ia mulai tertarik dengan ilmu sejarah. Soe Hok Gie dan kakaknya lulus sMA dengan nilai tinggi dan kemudian mereka melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia, Soe Hok Gie masuk fakultas Sastra dengan jurusan Sejarah sedangkan kakaknya masuk fakultas psikologi.

Saat kuliah Soe Hok Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak orang meyakini bahwa gerakan yang dilakukan Soe Hok Gie sangat berpengaruh dengan jatuhnya Soekarno dan menjadi orang pertama yang meng kritisi rezim Orde Baru.

Soe Hok Gie kecewa dengan sikap para teman seangkatannya (angkatan 66) yang pada saat demonstrasi mengkritik dan mengutuk para pejabat pemerintah tapi setelah lulus mereka mereka berpihak pada pemerintah tersebut dan melupakan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Soe Hok Gie memanglah memiliki sikap yang oposisif dan sulit berkompromi.

Mendaki Gunung Dan Mendirikan Mapala UI

Soe Hok Gie adalah salah satu ikut mendirikan Mapala UI dengan kegiatan penting yaitu mendaki gunung. Pada saat Ia memimpinm pendakian ke Gunuing Slamet yang memiliki ketinggian 3.444 meter, Soe Hok Gie merngutif perkataan Walt Whitman “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth” dalam buku hariannya. Buku harian adalah tempat Ia mengungkapkan segala pemikiran dan sepak terjangnya mulai dari kemanusiaan, hidup, cinta dan kematian.

Pada tahun 1969 Soe Hok Gie lulus kuliah dan meneruskan sebagai dosen di almamaternya. Soe Hok Gie berencana ingin menaklukan GUnung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 m bersama MApala UI. Saat Mapala mencari dana, Banyak yang menanyakan pada Soe Hok Gie kenapa mendaki gunung? lalu ia menjawab :

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”.

Soe Hok Gie Wafat Di Gunung Semeru

Soe Hok Gie meninggal pada 16 Desember tahun 1969 di Gunung Semeru tepat satu hari sebelum Ia berulang tahun yang ke 27 tahun. Soe Hok Gie meninggal bersama kawannya yang bernama Idhan Dhanvantari Lubis. Mereka berdua meninggal akibat menghirup asap beracun yang ada pada gunung tersebut.

Pada tanggal 8 Desember, sebelum Soe Hok Gie berangkat mendaki ke gunung semeru Ia sempat menuliskan catatan :

“Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat”.

Pada 24 Desember 1969 Soe Hok Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo. Tapi setelah 2 hari dimakamkan ia harus dipindah makamkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Pada tahun 1975, Ali Sadikin membongkar Penkuburan Kober sehingga jasad Soe Hok Gie harus dipindah makamkan kembali namun keluarganya menolak serta rekan-rekan Gie sempat ingat jika Gie meninggal sebaiknya mayatnya di bakar dan abu pembakaran mayatnya tersebut disebarkan di gunung, debngan pertimbangan akhirnya tulang belulang dari Soe Hok Gie dikremasi dan abu pembakaran tulang tersebut di sebar di gunung Pangrango.

Demikian posting artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Lengkap Soe Hok Gie yang dapat kami paparkan, semoga apa yang telah kami tulis dapat membantu anda memiliki literatur yang tepat. Sampai jumpa lagi pada posting berikutnya.

Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara – Bapak Pendidikan Nasional Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Ki Hadjar Dewantara – Pelopor Pendidikan Kaum Pribumi Disebut sebagai Bapak Pendidikan Nasional

InfoBiografi.Com – Raden Mas Soewardi Soerjaningrat atau yang dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889. Beliau merupakan aktivis pergerakan kemerdekaan, politisi, kolumnis, dan juga pelopor pendidikan bagi kaum pribumi di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Peliau juga merupakan pendiri Perguruan Taman Siswa yang merupakan suatu lembaga pendidikan bagi para pribumi jelata di Idonesia untuk dapat memperoleh hak pendidikan sama halnya dengan orang-orang belanda maupun para priyayi.

Tanggal kelahiran beliau di Indonesia diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan ciptaan beliau pula menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional yaitu tut wuri handayani. Selain itu, nama beliau pun diabadikan pada salah satu kapal perang Indonesia yaitu KRI Ki Hajar Dewantara Serta potret beliau diabadikan dalam uang kertas pecahan 20 ribu rupiah edisi tahun 1998. Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 pada usia 69 tahun.

Biografi Singkat Ki Hadjar Dewantara

Nama : Raden Mas Soewardi Soerjaningrat
Lahir : 2 Mei 1889, Kota Yogyakarta, Indonesia
Wafat : 28 April 1959, Kota Yogyakarta, Indonesia
Jabatan : Menteri Pengajaran Indonesia ke-1 (2 September 1945 – 14 November 1945)

Profil Ki Hajar Dewantara

Pendidikan Dan Menjadi Seorang Wartawan

Soewardi Soerjaningrat merupakan putra dari GPH Soerjanirat dan merupakan cucu dari Pakualam III. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di ELS atau Sekolah Dasar Eropa/Belanda, Selanjutnya beliau sempat meneruskan pendidikan ke STOVIA atau Sekolah Dokter Bumiputera namun tidak tamat karena sakit.

Kemudian beliau bekerja sebagai wartawan dan penulis dibeberapa surat kabar seperti De Express, Poesara, Midden Java, Oetoesan Hindia, Sediotomo, Kaoem Moeda dan Tjahaja Timoer. Beliau merupakan penulis handal yang tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial pada masanya.

Aktivitas Pergerakan

Selain menjadi seorang wartawan muda yang ulet, Soewardi juga aktif dalam organisasi pada bidang sosial politik. Beliau aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan serta menggugah kesadaran masyarakat Indonesia terutama yang berada di Jawa mengenai persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara pada waktu itu di organisasi pemuda Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908.

Selain itu beliau juga pernah menjadi anggota dari organisasi Insulinde yaitu suatu organisasi multiteknik yang didominasi oleh kaum indo untuk memperjuangkan pemerintahan sendiri di HIndia Belandaatas pengaruh dari Dr. Ernest François Eugène Douwes Dekker atau Danudirja Setiabudi. Soewardi juga diajak Douwes Dekker dan juga Tjipto Mangunkusumo untuk mendirikan Indische Partij yaitu sebuah partai politik pertama di Hindia Belanda.

Masa Pengasingan

Pada tahun 1913 untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Perancis, pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga termasuk pribumi. Namun hal tersebut menimbulkan reaksi kritis dari kalangan nasionalis termasuk Ki Hadjar Dewantara dengan menulis”Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”.

Selain tulisan tersebut kolom beliau yang paling terkenal adalah “Als ik een Nederlander was” atau dalam bahasa Indonesia berarti “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang dimuat dalam surat kabar De Expres. Berikut adalah kutipan tulisan tersebut:

“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”.

Akibat tulisan tersebut Soewardi ditangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka atau permintaan beliau sendiri. Namun kedua rekannya dalam tiga serangkai yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo memprotes hal tersebut dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda. Kala pengasingan tersebut Soewardi baru berusia 24 tahun.

Selama dalam pengasingan Soewardi di Belanda, Beliau aktif dalam organisasi Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang beranggotakan para pelajar asal Indonesia. Beliau kemudian merintis cita-cita untuk memajukan kaun pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga mendapatkan Europeesche Akta (Ijazah pendidikan).

Kembali Ke Indonesia Dan Mendirikan Taman Siswa

Pada September 1919, beliau kembali ke indonesia dan bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Dengan pengalaman mengajar tersebut beliau mengembangkan konsep mengajar pada sekolah yang didirikannya yaitu Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Soewardi mengganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara pada saat genap berumur 40 tahun menurut perhitungan penanggalan jawa.

Ki Hadjar Dewantara memiliki semboyan menggunakan bahasa Jawa dalam sistem pendidikan yang dipakainya yaitu “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” atau dalam bahasa Indonesia berarti “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”. Semboyan tersebut hingga kini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (sekarang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) yang pertama dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Beliau juga mendapat gelar doctor honoris causa, Dr.H.C. atau doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957.

Wafatnya Ki Hadjar Dewantara

Ki Hadjar Dewantara wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta dan kemudian dimakamkan di Taman Wijaya Brata. Untuk mengenang jasa beliau dalam merintis pendidikan umum, pada tanggal 28 November 1959 beliau didaulat sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia serta hari kelahirannya dinyatakan sebagai Hari Pendidikan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959.

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara yang dapat kami sajikan, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur  dalam mencari informasi tentang Biografi dan Profil Ki Hajar Dewantara .

Biografi dan Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri – Presiden Wanita Pertama Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri Sebagai Presiden Wanita Pertama Indonesia

InfoBiografi.Com – Dr.(H.C.) Hj. Dyah Permata Megawati Setyawati Soekarnoputri atau yang lebih dikenal dengan Megawati Soekarnoputri merupakan presiden wanita pertama Indonesia yang menjabat dari 23 Juli 2001 hingga 20 Oktober 2004 dan Beliau merupakan putri dari pasangan presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno dan Fatmawati. Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Sebelum menjadi presiden, Megawati Soekarnoputri adalah wakil presiden RI ke-8 pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Profil Lengkap Megawati Soekarno Putri

Nama: Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri
Lahir : Yogyakarta, 23 Januari 1947
Pasangan :
Surindro Supjarso (1968-1971; alm.)
Hassan Gamal A. Hasan (1972; dibatalkan oleh PTA)
Taufiq Kiemas (1973-2013; alm.)

Ayah : Ir.Soekarno
Ibu : Fatmawati

Anak:
Mohammad Rizki Pratama
Mohammad Prananda (dari Surindro Supjarso)
Puan Maharani (dari Taufiq Kiemas)

Masa Kecil Megawati Soekarnoputri

Sebagai anak Presiden, masa kecil Megawati Soekarno putri dilewatkan di Istana Negara. Saat kanak-kanak Ia sangat lincah dan suka bermain bola bersama Guntur saudaranya. Megawati juga hobi menari dan sering memperlihatkannya di Istana saat ada tamu negara yang berkunjung.

Megawati Soekarno putri menempuh pendidikan Sekolah Dasar hingga Menegah Atas di Perguruan Cikini, Jakarta. Beliau melanjutkan pendidikannya di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung namun tidak sampai lulus , selain itu juga ia pernah menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia namun juga tidak sampai lulus.

Perjalanan Rumah Tangga

Pada tanggal 1 Juni tahun 1968, Megawati Soekarnoputri menikah dengan Letnan Satu (Penerbang) Surindro Supjarso. Setelah menikah, Megawati Soekarnoputri tinggal di Madiun ikut suaminya, disana Beliau menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya yang bernama Mohammad Rizki Pratama. Saat mmasih mengandung anak keduanya yaitu Mohammad Prananda, pada 22 Januari 1971 suami beliau yaitu Surindro mengalami kecelakaan pesawat di Biak, Irian Jaya dan dinyatakan hilang bersama tujuh awak pesawat lainnya yang ditemukan hanya sisa puing-puing pesawat tersebut.

Pada tahun 1972, Megawati Soekarno Putri kembali membangun rumah tangga dengan seorang diploma yang konon juga pengusaha yang berasal dari Mesir bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. Namun pernikahan ini hanya berjalan selama 3 bulan, pernikahan tersebut menjadi sorotan pada saat itu karena beliau masih menjadi istri sah dari Surindro. Keluarga tidak tinggal diam melihat hal ini, lalu mereka menyewa pengacara untuk membatalkan pernikahan Megawati Soekarnoputri dengan Hassan Gamal Ahmad Hasan. Dari pernikahan ini Megawati Soekarno putri tidak memiliki anak.

Pada akhir Maret tahun 1973, Megawati Soekarno putri kembali menikah dengan rekannya dulu di GMNI atau Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia bernama Moh.Taufiq Kiemas. Dari pernikahan Ini Megawati dan Taufiq Kiemas dianugrahi seorang anak yang diberi nama Puan Maharani.

Karier di Bidang Politik

Pada tahun 1986, Megawati memulai kariernya di bidang politik sebagai wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat. Dalam kurun wakjtu satu tahun lalu beliau menjadi anggota DPR RI.

Pada tahun 1993, secara aklamasi Megawati terpilih menjadi Ketua Umum PDI dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya. Namun pemerintah tidak puas dengan terpilihnya Megawati sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian pada tahun 1996 dalam Kongres PDI di Medan, Megawati ditumbangkan sebagai ketua umum dan pemerintah memilih Soerjadi sebagai ketua umum PDI.

Mega tidak terima dengan penumbangannya dan tidak mengakui adanya Kongres Medan tersebut. Mega masih merasa dirinya adalah Ketua Umum PDI yang sah, pihak Mega tidak mundur dan tetap mempertahankan kantor DDP PDI yang berada di Jalan Diponegoro. Soerjadi yang didukung oleh pemerintah mengancanm akan merebut paksa kantor tersebut. Pada 27 Juli 1966, ancaman Soerjadi benar terjadi dan dalam penyerangan tersebut puluhan pendukung Megawati tewas dan berujung kerusuhan massal sdi jakarta yang kemudian kejadian tersebut dikenal sebagai Peristiwa 27 Juli.

Setelah terjadi kerusuhan tyersebut, Mega tetap tidak menyerah. Ia menempuh jalur hukum walaupun tak berhasil. Mega tetap tidak menyerah, lalu PDI berpisah menjadi 2 kubu yaitu PDI dibawah pimpinan Soerjadi dan PDI dibawah pimpinan Megawati. Walau pemerintah mengakui bahwa Soerjadi adalah Ketua Umum PDI yang sah namun para massa lebih berpihak pada Mega. Massa terlihat lebih berpihak pada Mega pada saat pemilu 1997 perolehan suara PDI dibawah pimpinan Soerjadi merosot tajam.

Pada pemilu 1999, PDI dibawah pimpinan Megawati berganti nama menjadi PDI Perjuangan dan berhasil memenangkan Pemilu, tapi Sidang Umum 1999 melalui voting mengatakan bahwa KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden.

Menjadi Presiden RI

Walau gagal pada pemilu 1999, Megawati tidak perlu menunggu 5 tahun untuk menjadi presiden, pada 23 Juli 2001 megawati ditetapkan sebagai Presiden setelah MPR RI melepas mandat KH Abdurrahman Wahid. Mega menjadi presiden hingga 20 nOktober 2003. Setelah masa jabatannya selesai, Ia mencalonkandiri sebagai Presiden kembali pada pemilu 2004 namun gagal dan yang terpilih menjadi presiden adalah Susilo Bambang Yudhoyono.

Demikianlah artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Megawati Soekarno Putri yang dapat kami sajikan, semoga dapat menjadi materi yang bermanfaat bagi pembaca atau menjadi literatur yang tepat untuk pembaca dalam mencari informasi tentang Megawati Soekarno Putri.

Biografi dan Profil Lengkap Bj.Habibie – Presiden Ketiga Republik Indonesia

biografi bj habibie

Biografi dan Profil Lengkap B.J.Habibie – Presiden Ketiga RI, Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia

InfoBiografi.Com – Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan B.J Habibie merupakan Presiden ketiga Republik Indonesia. Beliau menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998 dan beliau digantikan oleh K.H Abdurahman Wahid atau Gus Dur yang terpilih pada 20 Oktober 1999 Oleh MPR melalui pemilu. B.J. Habibie ini merupakan Wapres dan Presiden yang memiliki masa jabatan singkat yaitu 2 bulan 7 hari untuk wapres dan 1 tahun 5 bulan untuk presiden. Berikut ini merupakan biografi dan profil lengkap B.J. Habibie

Biografi Singkat B.J.Habibie

Nama: Bacharuddin Jusuf Habibie
Lahir: Pare-Pare , Sulawesi Selatan , 25 Juni 1936
Nama Orang tua

  • Ayah : Alwi Abdul Jalil Habibie
  • Ibu: RA. Tuti Marini Puspowardojo

Nama Isteri: Hasri Ainun Habibie
Nama anak: Ilham Akbar, Thareq Kemal

Pendidikan :

  • S1 Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung
  • S2  Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Jerman
  • S3 Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean,  Jerman

Jabatan:

  • Presiden Republik Indonesia (1998-1999)
  • Wakil Presiden (1998)
  • Vice President dan Direktur Tekmnologi Di MBB
  • Kepala penelitian Dan Pengembangan pada Analisis struktur Pesawat Terbang MBB
  • Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan militer di MBB
  • Direktur PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (1976-1998)
  • Menteri Riset Dan Teknologi RI(1978-1998)
  • Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi
  • Direktur Utama PT. PAL Indonesia, Persero (1978-1998)
  • Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industrei Pulau Batam (1978-1998)
  • Ketua Tim Pengembangan Industri Pertahanan Keamanan (1980-1998)
  • Direktur Utama PT. Pindad Persero (1983-1998)
  • Wakil Ketua Dewan Pembina Industri Strategis (1988-1998)
  • Ketua Badan Pengelola Industri Strategis (1989-1998)
  • Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (1990-1998)
  • Koordinator Presidium Harian, Dewan Pembina Golkar (1993)

Biografi dan Profil Lengkap B.J.Habibie

Laki-laki kelahiran Pare-Pare , Sulawesi Selatan tepatnya pada tanggal 25 Juni 1936 ini merupakan anak keempat dari 8 bersaudara pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Ayah beliau berprofesi sebagai ahli pertanian yang berasal dari etnis Gorontalo dan berketutrunn Bugis Sedangkan ibunya beretnis Jawa.  Pada tanggal 12 Mei 1962, laki-laki yang hobi berkuda dan membaca ini menikah dengan Hasri Ainun Besari dan dikaruniai 2 orang putra yang bernama Ilham Akbar Habibie dan Thareq kemal Habibie.

Pendidikan Dan Karier  B.J Habibie

Sejak kecil Habibie telah memiliki sifat tegas dan berpegang pada prinsip, selain itu beliau dikenal sangat cerdas saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun sayang, pada 3 september 1950 B.J Habibie harus kehilangan sosok ayahnya yang meninggal saat sedang sholat isya karena serangan jantung. Tak berselang lama, rumah dan kendaraan yang dimiliki oleh keluarga dijual oleh ibu beliau lalu mereka pindah Ke kota Bandung. Sejak ayahnya meninggal untuk membiayai keluarga, ibu beliaulah yang bekerja membanting tulang.

Habibie memiliki kemauan yang tinggi dalam belajar, lalu beliau melanjutkan pendidikannya di SMAK Dago. Pada saat menempuh pendidikan SMA habibie mulai menampakan prestasinya terutama pada pelajaran eksakta. Pada tahun 1954, Habibie lulus dari SMAK. Karena kecerdasan beliau, beliau masuk ke perguruan tinggi Universitas Indonesia bandung(Sekarang ITB), Namun belum sampai selesai beliau mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Jerman dari Menteri Pendidikan dan Kebudidayaan. Beliau memiliki jurusan Teknik Penerbangan spesialisasi Kontruksi Pesawat Terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Habibie memiliki jurusan tersebut karena mengingat pesan Ir.Soekarno tentang pentingnya Dirgantara dan Penerbangan bagi Indonesia. Mengingat jerih payah sang ibu membuat beliau memiliki tekat untuk bersungguh-sungguh diperantauan dan harus sukses. Pada saat liburan kuliah, beliau justru mengisi liburan tersebut dengan ujian dan juga mencari uang untuk membeli buku.

Pada tahun 1960, B.J Habibie mendapat gelar Diploma Ing dari Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule, Jerman dengan predikat cumlaude dengan nilai rata-rata 9,5. Berbekal dengan gelar Insinyur yang dimiliki, beliau mendaftar kerja si Firma Talbot yaitu sebuah Indusri Kereta Api di Jerman dan beliau berhasil mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat pesawat terbang pada wagon yang pada saat itu dibutuhkan Firma Talbot untuk mengangkut barang yang ringan namun bervolume besar. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar doktornya di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.

Pada tahun 1962, B.J Habibie menikah dengan Hasri Ainun Besari, setelah menikah beliau memboyong istrinya ikut ke Jerman. Perjuangan hidup di Jerman semakin keras, untuk menghemat kebutuhan hidup keluarga beliau harus berjalan kaki untuk sampai di tempat kerjanya dan akan pulang pada malam hari untuk belajar sementara istrinya harus mengantri mencuci baju di tempat pencucian umum.

B.J habibie mendapat gelar Dr. Ingenieur dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean pada tahun 1965 dengan predikat summa comlaude atau sangat sempurrna dengan rata-rata nilai 10. Setelah lulus dengan indeks prestasi summa comloude, beliau bekerja di Messerschmitt Bolkow Blohm atau MBB yaitu sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Selama bekerja di MBB tersebut B.J. Habibie menyumbangkan hasil penelitian serta sejumlah teori sepertirumus untuk menghitung keretakan atau crack propagation on random hingga ke atom-atom pesawat terbang yang kemudian rumus tersebut diberi nama Faktor Habibie dan karena rumus tersebut beliau mendapat julukan Mr.Crack.

Karena kejeniusan serta prestasi yang dimiliki oleh B.J. Habibie menghantarkan beliau diakui oleh berbagai lembaga internasional seperti Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l’Air et de l’Espace (Prancis), The Royal Aeronautical Society London (Inggris) serta The US Academy of Engineering (Amerika Serikat). Selain itu beliau juga pernah meraih penghargaan bergensi seperti Edward Warner Award, Theodore von Karman Award, dan untuk didalam negeri beliau mendapat  penghargaan tertinggi Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana dari ITB.

Kembali Ke Indonesia

Pada tahun 1973, B.J.Habibie pulang ke Indonesia untuk memenuhi panggilan presiden Soeharto, lalu beliau diangkat sebagai penasehat pemerintah di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga pada tahun 1978. Walaupun telah menjabat sebagai penasehat pemerintah, beliau masih tetap pulang pergi ke Jerman karena beliau mesih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi Messerschmitt Bolkow Blohm. Baru pada tahun 1978, beliau melepas jabatan tinggi beliau tersebut.

Sejak itu dari tahun 1978 hingga 1997, beliau diangkat sebagai menteri riset dan tenologi sekaligus ketua badan pegkajian dan penerapan teknologi atau BPPT. Selain itu juga beliau diangkat pula sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan masih banyak jabatan lainnya. Setelah 20 tahun menjabat menjadi Menristek, pada 14 maret 1998- 21 mei 1998, beliau terpilih menjadi wakil presiden ke 7 RI melalui sidang umum MPR.

Pada tahun tersebut pula banyak peristiwa yang akhirnya membuat presiden Soeharto mengundurkan diri, dengan mundurnya soeharto maka berdasarkan pasal 8 UUD 1945 yang menyatakan “bila Presiden mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa jabatannya, ia diganti oleh Wakil Presiden sampai habis waktunya” , B.J. Habibie akhirnya menggantikan posisi sebagai presiden RI.

Namun akhirnya Habibie dipaksa untuk lengser akibat memperbolehkan referendum Timor Timur (sekarang Timor Leste) yang memilih untuk merdeka. Pidato pertanggung jawabannya di tolak oleh MPR lalu beliau kembali menjadi warga negara biasa dan kembali ke Jerman.

Ditinggalkan istrinya

Pada hari sabtu, 22 mei 2010 pukul 17.30 waktu setempat atau 22.30 WIB, istri tercinta B.J. Habibie yaitu Ibu Hasri Ainun Besari meninggal dunia di rumah sakit Ludwig Maximilians Universitat, Klinikum,Muenchen, Jerman.

Kepastian meninggalnya Hasri Ainun dari kepastian Ali Mochtar Ngabalin, mantan anggota DPR yang ditunjuk menjadi wakil keluarga BJ Habibie. Ini menjadi duka yang amat mendalam bagi Mantan Presiden Habibie dan Rakyat Indonesia yang merasa kehilangan.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas. Dan hingga akhirnya kisah perjalanan cinta mereka di bukukan.

Karya B.J.Habibie

  • VTOL ( Vertical Take Off & Landing ) Pesawat Angkut DO-31.
  • Pesawat Angkut Militer TRANSALL C-130.
  • Hansa Jet 320 ( Pesawat Eksekutif ).
  • Airbus A-300 ( untuk 300 penumpang )
  • CN – 235
  • N-250

Dan secara tidak langsung turut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain:

  • Helikopter BO-105.
  • Multi Role Combat Aircraft (MRCA).
  • Beberapa proyek rudal dan satelit.

Itulah artikel singkat seputar Biografi dan Profil B.J.Habibie yang dapat kami sajikan melalui posting kali ini, semoga kisah perjalanan B.J.Habibie ini bisa bermanfaat dan dapat memberika inspirasi bagi pembaca sekalian.