Biografi dan Profil Lengkap Bung Tomo – Pemimpin Perjuangan 10 November 1945

bung tomo

Biografi dan Profil Lengkap Bung Tomo Sebagai Pemimpin Perjuangan 10 November 1945

InfoBiografi.Com – Bung Tomo merupakan pahlawan yang berasal dari kota Surabaya, Bung Tomo memiliki jasa yang besar terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajah yang ingin kembali menjajah Indonesia tepatnya di kota Surabaya. Bung Tomo berhasil menjadi orator dan berhasil membakar semangat arek-arek Suroboyo untuk kembali melawan penjajah yang kita kenal dengan pertempuran 10 November 1945, yang diperingati sebagai hari pahlawan. Berikut biografi lengkapnya

Biografi Singkat Bung Tomo

Nama : Sutomo
Lahir : Blauran, Surabaya, 3 Oktober 1920
Wafat : Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Gelar : Pahlawan Nasional Indonesia

Profil Bung Tomo

Bung Tomo memiliki nama asli Sutomo lahir di Kampung Blauran di pusat kota Surabya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo merupakan seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan sebagai staf pribadi di perusahaan swasta sebagai asisten di Kantor pajak pemerintah dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda.

Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan. Namun, pada saat usia 12 tahun ia terpaksa meninggalkan pendidikannua di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Kemudian ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia), Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan dan kesadaran nasionalis ia peroleh dari kelompok ini dan dari kakeknya yang merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya.

Pada usia 17 tahun, Bung Tomo menjadi terkenal karena berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Karena sebelum penduduk Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Bung Tomo Memimpin Perjuangan Surabaya 10 November 1945

Sutomo juga pernah menjadi seorang jurnalis pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya pada tahun 1937. Setahun kemudian, ia menjadi Redaktur Mingguan Pembela Rakyat serta menjadi wartawan dan penulis pojok harian berbahasa Jawa, Ekspres, di Surabaya pada tahun 1939.

Hingga pada tahun 1944, ia terpilih menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang di sponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk perannya yang sangat penting.

ketika bulan Oktober dan November 1945, ia menjadi salah satu pemimpin yang menggerakkan dan membangkitkan semangat rakyat Surabaya yang ketika itu Surabaya diserang habis-habisan oleh pasukan Inggris yang mendarat dan melucutkan senjata tentara pendudukan Jepang dan membebaskan tawanan Eropa.

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo dikenang dengan seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radio yang penuh dengan emosi.

Setelah Kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1950 Bung Tomo sempat terjun dalam dunia politik dan kemudian ia menghilang dari dunia politik karena ia merasa tidak bahagia terjun di dunia politik. Dan pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Soeharto yang pada awlnya di dukungnyam Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Pada awal tahun 1970. ia kembali dan memiliki pendapat berbeda dengan pemerintahan Orde Baru. Bung Tomo kemudian berbicara dengan keras terhadap program-progam yang dijalankan oleh Suharto sehingga pada tanggal 11 April 1978 ia ditahan olem pemerintah Indonesia yang merasa khawatir dengan kritikan-kritikan keras tersebut dan satu tahun kemudian ia dilepaskan oleh suharto.

Wafatnya Bung Tomo

Pada tanggal 7 Oktober 1981. Bung Tomo meninggal di Padang Arafa saat sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi biasanya, untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarag ke tanah suci yang harus dimakamkan di tanah suci. Namun jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya, bukan di makamkan di sebuah Taman Makam Pahlawan.

Gelar Pahlawan

Setelah pemerintah di desak oleh gerakan Pemuda (GP) Anshor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlwan kepada Bung Tomo pada tanggal 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlwan nasional diberikan kepada Bung Tomo bertepatan pada peringatan hari Pahlawan yaitu tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

Biografi dan Profil Lengkap Tuanku Imam Bonjol – Pahlawan Nasional yang Memimpin Perang Padri

imam bonjol

Biografi dan Profil Lengkap Tuanku Imam Bonjol Seorang Pahlawan Nasional yang Memimpin Perang Padri

InfoBiografi.Com – Tuanku Imam Bonjol merupakan seorang ulama,pemimpin dan perjuangan yang berjuang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang disebut sebagai perang Padri pada tahun 1803-1838. Tuanku Imam Bonjol di angkat menjadi pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Untuk mengetahui lebih lengkap,berikut biografinya.

Biografi Singkat Tuanku Imam Bonjol

Nama Asli : Muhammad Shahab
Lahir : di Bonjol tahun 1772
Wafat : 6 November 1864
Orangtua : Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu)
Agama : Islam

Biografi dan Profil Lengkap Tuangku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol memiliki nama asli Muhammad Shahab, yang lahir pada tahun 1772. Ia lahir dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya merupakan seorang alim ulama yang berasal dari sungai Rimbang, Suliki. Imam Bonjol belajar agam di Aceh pada tahun 1800-1802, dan dia mendapatkan gelar Malin Basa.

Asal nama Tuanku Imam Bonjol

Setelah dewasa, Tuanku Imam Bonjol menjadi seorang ulama dan pemimpin setempat. Tuanku Imam Bonjol memiliki beberapa gelar, yang diantaranya Peto Syarif, Malin Basa dan Tuanku Imam. Hingga akhirnya Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam yaitu seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan menunjuknya sebagai Imam bagi kaum Padri di Bonjol. Akhirnya masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Perjuangan Tuanku Imam Bonjol

Tuanku Imam Bonjol terkenal ketika ia melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda dalam perang Padri. Perang Padri merupakan perang terlama yang berlangsung dari tahun 1803 hinggan 1838 yang melibatkan sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak.

Pada awalnya perang tersebut dikenal sebagai perang saudra di Sumatera, Perang tersebut terjadi karena adanya pertentangan antara kaum Padri dengan kaum dari kerajaan padaruyung. Dalam perang ini kaum Padri menginginkan agar hukum di daerahnya dijalankan sesuai dengan syariat Islam yang berpegang teguh pada Al-1uran dan Sunnah nabi MUhammmad SAW. Terjadinya perang Padri karena masyarakat disana masih memiliki kebiasaan buruk seperti melakukan perjudian, sabung ayam, penggunaan madat, minuman keras serta hukum yang terlalu longgar, padahal masyarakat disana sudah banyak yang beragama Islam. Karena tidak adanya kesepakatan antara kedua pihak, sehinggan meletuslah perang Padri yang terkenal.

Awalnya perang Padri dipimpin oleh Tuanku Pasaman. Tuanku Pasaman kemudian menyerang kaum adat yang dipimpin oleh Sultan Arifin Muningsyah. Serangan pertama di Padaruyuh terjadi pada tahun 1815 dan pertemuran selanjutnya terjadi di kota tengah dekat Batu Sangkar. Pertem[uran ini kemudian membuat Sultan Arifin Muningsyah menjdai terdesak dan terpaksa melarikan diri dari kerajaanya ke Lubuk Jambi.

Tuanku Imam Bonjol Memimpin Perang Padri

Akibat merasa terdesak, akhirnya kaum adat meminta bantuan Belanda, dan secara resmi Belanda membantu kaum adat untuk berperang melawan kaum Padri melalui sebuah perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1821 di Padang. Dalm perjanjian tersebut menyatakan bahwa Belanda akan mendapat penguasaan wilayah di pedalaman Minangkabau. Perjanjian tersebut dihadiri oleh Sultan Tangkal Alam Bagagr. Adanya campur tangan Belanda yang membantu kaum adat untuk melawan kaum Padri membuat situasi menjadi semakin sulit.

Meskipun Belanda turut campur dalam perang tersebut, Belanda cukup kesulitan dalam melawan Kaum Padri yang ketika itu sudah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Akibatnya Belanda yang merasa kesulitan kemudian mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai. Perdamaian tersebut kemudian dituangkan dalam perjanjian Masang tahun 1824.

Perjanjian tersebut dilakukan oleh Belanda karena mengingat saat itu Belanda sudah kehabisan dana untuk melakukan perang, sebab Belanda juga harus memadamkan perang yang terjadi di daerah lain seperti perang Diponegoro. Tetapi perjanjian tersebut tidak berlangsung lama sebab Belanda kemudian kembali menyerang Nagari Pandai Sikek.

Hingga pada tahun 1833, perang Padri memasuki babak baru, yaitu pada akhirnya kaum adat dan kaum Padri bersatu untuk melawan Belanda. Mereka menyadari ternyata perang tersebut hanya menyengsarakan rakyat Minangkabau. Bersatunya Kaum Adat dan Kaum Padri ditandai dengan Plakt Puncak Pati di Tabek Patah.

Belanda kemudian melakukan pengepungan dan penyerangan ke Benteng Kaum Padri. Pengepungan dan Penyerangan tersebut berlangsung selama enam bulan. Agar pengepungan dan penyerangan tersebut berhasil, Belanda terus menerus meminta bantuan pasukan dari Batavia. Hal ini membuat posisi Tuanku Imam Bonjoil menjadi semakin terjepit. Namun Tuanku Imam Bonjol tetap melakukan perlawanan dan tidak mau menyerah.

Penangkapan Tuanku Imam Bonjol menjadi Akhir Perang Padri

Setelah sekian lamanya dikepung hingga akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1837 benteng Bonjol dapat dikuasai oleh Belanda. Untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, Belanda mengajak Tuanku Imam Bonjol untuk berunding di Palupuh pada bulan Oktober 1837. Di tempat itu kemudian ia ditangkap dan oleh Belanda kemudian di asingkan di Cianjur, Jawa Barat. Dari Cianjur, ia kemudian dibawa ke Ambon hingga kemudian dipindahkan di Lotak, Minahasa, dekat Manado. Hingga pada tanggal 8 November 1864, ia kemudian meninggal dunia dan dimakamkan di tempat tersebut.

Penghargaan Tuanku Imam Bonjol

Berkat perjuangannya melawan penjajah Belanda, pemerintah Belanda kemudian mengangkay Tuanku Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional. Ia diberi gelar sebagai pahlawan nasional pada tanggal 3 November 1973. Untuk mengenang jasa beliau, nama Tuanku Imam Bonjol banyak diabadika sebagai nama jalan, dan digambarkan dalam uang pecahan 5.000 rupiah.

Semoga isi artikel pada posting kali ini tentang Biografi dan Profil Lengkap Tuanku Imam Bonjol Sebagai Pahlawan Nasional yang Memimpin Perang Padri dapat bermanfaat bagi para pembaca sebagai sebuah literatur yang baik.

Biografi dan Profil Lengkap Cut Nyak Dhien – Pahlawan Wanita Indonesia Asal Aceh

Cut Nyak Dhien

Biografi dan Profil Lengkap Cut Nyak Dhien – Pahlawan Wanita Indonesia asal Aceh

InfoBiografi.Com – Cut Nyak Dien merupakan salah satu pahlawan nasional wanita yang dengan semangat berjuang melawan Belanda pada masa perang Aceh. Sebagai pahalawan wanita Indonesia walaupun dia seorang perempuan namun memiliki semangat juang yang tinggi serta rela mengorbankan kehidupan bahkan nyawanya untuk membela kaumnya dan Negaranya . Untuk lebih jelas mengetahui latar belakang Pahlawan Wanita ini, simak biografi lengkpanya di bawah ini.

Biografi Singkat Cut Nyak Dhien

Nama Lengkap : Cut Nyak Dhien
Lahir : Lampadang, Kesultanan Aceh, 1848
Wafat : Sumedang, Jawa Barat 6 November 1908
Agama : Islam
Orangtua : Teuku Nanta Seutia
Suami : Ibrahim Lamnga, Teuku Umar

Biografi Lengkap Cut Nyak Dhien

Cut nyak dhien dilahirkan dari keluarga bangsawan yang taat beragama di Aceh Besarm pada tahun 1848. Ayahnya bernama Teuku Nanta Seutia merupakan seorang uleebalang VI Mukim, seorang keturunan Datuk Makhudum Sati, perantau dari Minangkabau. Datuk Makhdum Sati merupakan keturunan Laksamana Muda Nanta, yang merupakan perwakilan kesultanan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Muda di Pariaman. Sedangkan ibu Cut Nyak Dhien adalah putri Uleebalang Lampageu.

Kehidupan Cut Nyak Dhien dan Jajahan Belanda

Cut Nyak Dhien kecil merupakan anak yang cantik dan taat beragama. Ia mendapatkan pendidikan Agama dari orangtua dan guru agama. Banyak lelaki yang suka pada Cut Nyak Dhien dan berusaha untuk melamarnya. Hingga pada usia 12 tahun, Cut Nyak Dhien dinikahkan oleh orangtuanya dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga tahun 1862, yang merupakan putra dari Uleebalang Lamnga XII.

Pada tanggal 26 maret 1873, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh dengan memulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Cidatel Van Antwerpen.

Pada perang pertama (1873-1874), Aceh melakukan perlawanan terhadap Belanda yang saat itu di pimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Macmud Syah.

Pada tanggal 8 April 1873 Belanda mendarat di pantai Ceureuneb dibawah pimpinan Kohler, dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturahman dan membakarnya. Namun kesultanan Aceh dapat memenangkan perang pertama, Ibrahim Lamnga yang bertarung dibarisan depan kembali dengan sorak kemenangan sementara Kohler tewas tertembak pada April 1873.

Pada tahun 1874-1880, dibawah pimpinan Jenderal Jan Van Swieten, daerah VI Mukim dapat diduduki Belanda pada tahun 1873, sedangkan Keraton Sultan jatuh pada tahun 1874. AKhirnya Cut Nyak Dhien dan bayinya bersama ibu-ibu dan rombongan lainnya mengunggi pada tanggal 24 Desember 1875. Sedangkan suaminya Ibrahim Lamnga melanjutkan pertempuran untuk merebut kembali daerah VI Mukim.

Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah dan bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Perlawanan Cut Nyak Dhien Terhadap Belanda

Setelah kematian suaminya, pada tahun 1880 ia kembali dilamar oleh Teuku umar. Pada awalnya Cut Nyak Dhien menolaknya, tapi karena Teuku Umar membolehkannya untuk ikut dalam medan perang, Akhirnya Cut Nyak Dhien setuju untuk menikah dengannya dan mereka di karuniai anak yang diberi nama Cut Gambang. Setelah itu mereka bersama-sama bertempur melawan Belanda.

Perlawaan terhadap Belanda dilanjutnya dengan perang gerilya dan dikorbankan secara fi’sabilillah. Sekitar pada tahun 1875, Teuku Umar melakukan gerakan dengan melakukan pendekatan terhadap Belanda dan hubungannya terhadap Belanda semakin kuat. Pada tanggal 30 september 1893, Teuku Umar dan pasukannya yang berjumlah 250 orang pergi ke Kutaraja dan menyerahkan diri kepada Belanda. Belanda sangat senang karena musuh yang dianggapnya berbahaya mau membantu mereka, sehingga mereka memberikan gelar pada Teuku umar dengan gelar Teuku Umar Johan Pahlawan, dan menjadikannya sebagai komandan unit pasukan Belanda dengan kekuasaan penuh.

Dibalik penyerahan dirinya, Teuku Umar merahasiakan rencananya untuk menipu Belanda, meskipun ia dituduh sebagai pengkhianat oleh orang Aceh. Bahkan, Cut Nyak Meutia datang menemui Cut Nyak Dhien dan memakinya karena Teuku Umar berkhianat untuk rakyat Aceh. Cut Nyak Dhien berusa memberikan penjelasan terhadap Cut Meutia bahwa suaminya akan kembali untuk melawan Belanda lagi.

Namun, Teuku Umar masih terus berhubungan dengan Belanda. Umar mencoba untuk mempelajari taktik Belanda, sementara pelan-pelan ia mengganti sebanyak mungkin orang Belanda di Unit yang ia kuasai. Ketika jumlah orang Aceh pada pasuka tersebut cukup, Teuku Umar mulai melakukan rencana palsu pada orang Belanda dan mengklaim bahwa ia ingin menyerang basis Aceh.

Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien pergi dengan semua pasukan dengan perlengkapan berat, senjata dan amunisi Belanda lalu mereka tidak pernah kembali. Penghiatan tersebut dikenal dengan Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar). Teuku Umar yang mengkhianati Belanda dan menyebabkan Belanda marah dan melancarkan operasi besar-besaran untuk menangkap Cut Nyak Dhien dan Teuku Umar.

Namun, gerilyawan kini dilengkapi perlengkapan dari Belanda. Mereka mulai menyerang Belanda sementara Jend. Van Swieten diganti. Penggantinya, adalah Jend. Jakobus Ludovicius Hubertus Pel, namun dengan cepat ia terbunuh dan pasukan Belanda berada pada kekacauan. Belanda lalu mencabut gelar Teuku Umar , membakar rumahnya, dan juga mengejar keberadaannya. Dien dan Umar terus menekan Belanda, lalu menyerang Banda Aceh (Kutaraja) dan Meulaboh (bekas basis Teuku Umar), sehingga Belanda terus-terusan mengganti jendral yang bertugas.

Unit “Marechaussee” lalu dikirim ke Aceh, mereka dianggap biadab dan sulit untuk di taklukkan oleh orang Aceh. Selain dianggap biadab, kebanyakan dari pasukan “De Marsose” merupakan orang ‘Tionghoa-Ambon’ yang dapat menghancurkan semua apa yang ada di jalannya. Akibatnya, pasukan Belanda merasa simpati kepada orang Aceh dan akhirnya Van der Heyden membubarkan unit “De Marsose”. Peristiwa ini menyebabkan kesuksekan jenderal selanjutnya karena banyak orang yang tidak ikut melakukan jihad karena kehilangan nyawa dan ketakutan masih tetap ada pada penduduk Aceh.

Kemudian Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz memanfaatkan ketakutan ini dan mulai menyewa orang Aceh untuk memata-matai pasukan pemberontak untuk mendapatkan informasi. Hingga akhirnya Belanda menemukan rencana Teuku Umar untuk menyerang Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899. Akhirnya Teuku Umar gugur tertembak peluru. Ketika Cut Gambang, anak Cut Nyak Dhien menangis karena kematian ayahnya, Cut Gambang ditampar oleh Ibunya yang lalu memeluknya dengan berkata :

“Sebagai perempuan Aceh, Kita tidak boleh menumpahkan air mata pada orang yang sudah syahid.”

setelah kematian dari suaminya, Cut Nyak Dhien lalu memimpin perlawanan melawan Belanda di daerah pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya dan mencoba melupakan suaminya. Pasukan yang dipimpin olehnya terus bertempur sampai kehancurannya yaitu tahun 1901, karena tentara Belanda sudah terbiasa berperang di medan daerah Aceh. Cut Nyak Dhien semakin tua, matanya sudah mulai rabun dan ia terkena penyakit encok dan jumlah pasukannya terus berkurang, serta sulitnya memperoleh makanan.

Penangkapan Cut Nyak Dhien oleh Belanda

Hal ini membuat iba para pasukan-pasukannya. Hingga akhirnya anak buah Cut Nyak Dhien yang bernama Pang Laot melaporkan lokasi markasnya kepada Belanda karena merasa iba, dan Belanda menyerang markas Cut Nyak Dhien di Beutong Le Sageu. Mereka terkejut dan bertempur mati-matian. Cut Nyak Dhien ditangkap dan dibawa ke Banda Aceh, namun karena Cut NYak Dhien memiliki penyakit rabun, akhirnya ia berhasil di tangkap. Cut Nyak Dhien berusaha mengambil rencong dan mencoba untuk melawan musuh. Sayangnya, aksi Dhien berhasil dihentikan oleh Belanda. Cut Gambang berhasil melarikan diri ke hutan dan meneruskan perlawanannya yang sudah dilakukan oleh Ayah dan Ibunya.

Setelah ditangka, Cut Nyak Dhien dibawa ke Banda Aceh dan dirawat di sana. Akhirnya penyakit rabun dan encok yang dideritanya berangsur sembuh. Namun, akhirnya Cut Nyak Dhien dibuang ke Sumedang, Jawa Barat, karena Belanda takut jika kehadirannya akan menciptakan semangat perlawanan dan juga karena ia terus berhubungan dengan pejuang yang belum tunduk.

Pengasingan dan Wafatnya Cut Nyak Dhien

pengasingan cut nyak dhien
Pengasingan Cut Nyak Dhien

Cut Nyak Dhien dibawa ke Sumedang bersama dengan beberapa tahanan politik Aceh lainnya dan menarik perhatian bupati Suriaatmaja. Selain itu, tahanan laki-laki juga menyatakan perhatian pada Cut Nyak Dhien, tetapi tentara Belanda dilarang mengungkapkan identitas tahanan.

Cut Nyak Dhien ditahan bersama ulama bernama Ilyas, Ilyas segera menyadari bahwa Cut Nyak Dhien merupakan ahli agama Islam, sehingga ia dijuluki sebagai “Ibu Perbu”. Namun pada tanggal 6 November 1908, Cut Nyak Dhien meninggal karena usianya yang sudah tua.

Makam “Ibu Perbu”, baru ditemukan pada tahun 1959 berdasarkan permintaan Gubernur Aceh saat itu, yaitu Ali Hasan. Pencarian dilakukan berdasarkan data yang ditemukan di Belanda.

Ibu Perbu, diakui oleh Presiden Soekarno sebagai Pahlawan Nasional Indonesia melalui SK Presiden RI No.106 Tahun 1964 pada tanggal 2 Mei 1964.


Demikianlah posting artikel kali ini tentang Biografi dan Profil Lengkap Cut Nyak Dhien yang dapat kami sampaikan, semoga dapat menjadi literatur yang bermanfaat bagi para pembaca.