Biografi Dan Profil Lengkap Jenderal Besar Abdul Haris Nasution Hingga Wafat

Biografi Dan Profil Lengkap Jenderal Besar Abdul Haris Nasution dan Peran Abdul Haris Nasution dalam Kemerdekaan Indonesia

InfoBiografi.ComJenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution ialah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi incaran dalam peristiwa G30S, namun yang menjadi korban justru putrinya yaitu Ade Irma Suryani Nasution dan juga ajudannya yaitu Kapten Czi. (Anumerta) Pierre Andreas Tendean. Abdul haris Nasution juga merupakan konseptor dwifungsi ABRI yang Ia sampaikan pada tahun 1958 dan kemudian dipaki selama pemerintahan presiden Soeharto.

Pada 5 Oktober 1997 atau pada saat ulang tahun ABRI, bersama dengan Soeharto dan Soedirman, Ia dianugrahi pangkat kehormatan Jenderal Besar.

Profil Singkat Abdul Haris Nasution

Nama: Jenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution
Lahir: Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 3 Desember 1918
Meninggal : Jakarta, 5 September 2000 (umur 81)
Pasangan : Johanna Sunarti
Anak:

  • Hendrianti Saharah
  • Ade Irma Suryani

Agama : Islam

Pendidikan :

  • HIS, Yogyakarta (1932)
  • HIK, Yogyakarta (1935)
  • AMS Bagian B, Jakarta (1938)
  • Akademi Militer, Bandung (1942)
  • Doktor HC dari Universitas Islam Sumatera Utara, Medan (Ilmu Ketatanegaraan, 1962)
  • Universitas Padjadjaran, Bandung (Ilmu Politik, 1962)
  • Universitas Andalas, Padang (Ilmu Negara 1962)
  • Universitas Mindanao, Filipina (1971)

Karier :

  • Guru di Bengkulu (1938)
  • Guru di Palembang (1939-1940)
  • Pegawai Kotapraja Bandung (1943)
  • Divisi III TKR/TRI, Bandung (1945-1946)
  • Divisi I Siliwangi, Bandung (1946-1948)
  • Wakil Panglima Besar/Kepala Staf Operasi MBAP, Yogyakarta (1948)
  • Panglima Komando Jawa (1948-1949)
  • KSAD (1949-1952)
  • KSAD (1955-1962)
  • Ketua Gabungan Kepala Staf (1955-1959)
  • Menteri Keamanan Nasional/Menko Polkam (1959-1966)
  • Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1962-1963)
  • Wakil Panglima Besar Komando Tertinggi (1965)
  • Ketua MPRS (1966-1972)

Profil Lengkap Abdul Haris Nasution

Kehidupan Awal

Abdul Haris Nasution Lahir di Desa Hutapungkut, Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 3 Desember 1918. Ia lahir dari keluarga batak muslim, Ia merupakan anak kedua dan anak laki-laki tertua di keluarganya. Ayah Nasution merupakan seorang pedagang dan juga anggota Sarekat Islam. Ayahnya yang sangat religius, menginginkan Nasution untuk belajar di sekolah agama namun sang ibu menginginkan agar dia sekolah kedokteran di Batavia. Setamat dari sekolah pada 1932, Ia mendapatkan beasiswa untuk belajar mengajar di Bukit Tinggi.

Pada tahun 1935, Nasution pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya dan Ia tinggal disana selama 3 tahun. Keinginannya untuk menjadi seorang guru lama kelamaan memudar saat ketertarikan dalam bidang politiknya tumbuh. Setelah lulus pada tahun 1937, Ia kembali ke Sumatera dan mengajar di Bengkulu. Setahun kemudian Ia pindah mengajar ke Tanjung Raja dekat Pelembang. Namun minatnya pada politik dan militer lebih besar.

Pada tahun 1940, Jerman Nazi menguasai Belanda dan pemerintah kolonial Belanda membentuk korps perwira cadangan yang menerima orang Indonesia. Kemudian Nasution bergabung dan dikirim ke Akademi Militer Bandung untuk pelatihan. Pada September 1940, Ia dipromosikan menjadi Kopral dan 3 bulan kemudian ia menjadi sersan. kemudian Ia menjadi seorang perwira di KNIL atau Koninklijk Nederlands-Indische Leger. Pada tahun 1942, Jepang menduduki Indonesia, lalu Nasution ditugaskan ke Surabaya untuk mempertahankan pelabuhan. Nasution kembali ke Bandung untuk bersembunyi karena takut ditangkap oleh Jepang. Tapi kemudian Ia membantu milisi Peta namun tidak benar-benar menjadi anggota.

Pejalanan Karier Militer

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Nasution bergabung dengan TKR atau tentara keamanan Rakyat dan pada Mei 1948 Ia diangkat menjadi Panglima Regional Divisi Siliwangi yang menjaga keamanan Jawa Barat. Pada tahun 1948, Nasution naik jabatan menjadi wakil Panglima TKR meskipun hanya berpangkat.

Pada tahun 1950, Nasution menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat dan T.B Simatupang menggantikan Soedirman yang telah meninggal sebagai Kelapa Staf Angkatan Perang. Pada tahun 1952, Nasution dan Simatupang memutuskan untuk mengadopsi kebijakan restrukturisasi dan reorganisasi ABRI untuk menciptakan tentara yang lebih kecil tetapi yang lebih modern dan profesional.

Pada 17 Oktober 1952, Nasution dan Simatupang memobilisasi pasukan mereka dalam unjuk kekuatan, mereka memprotes campur tangan sipil dalam urusan militer, pasukan Nasution dan Simatupang mengelilingi Istana Kepresidenan dan mengarahkan moncong meriam ke Istana dengan permintaan agar Soekarno membubarkan DPR. Lalu Soekarno keluar dari Istana Kepresidenan dan meyakinkan baik tentara dan warga sipil untuk pulang serta Nasution dan Simatupang telah dikalahkan. Nasution dan Simatupang kemudian diperiksa oleh Jaksa Agung Suprapto. Pada Desember 1952, mereka berdua kehilangan posisi di ABRI dan diberhentikan dari ikatan dinas.

Ketika bukan laki KSAD, Nasution menulis buku berjudul Pokok-Pokok Gerilya. Buku ini ditulis berdasarkan pengalamannya yang berjuang dan mengorganisir perang gerilya selama Perang Kemerdekaan Indonesia.

Setelah 3 tahun pengasingan. pada 27 Oktober 1955, Nasution diangkat kembali menjadi KSAD. Pada tahun 1958, Nasution menyampaikan pidato di Magelang, Jawa Tengah, Nasution menyatakan bahwa ABRI harus mengadopsi “jalan tengah” dalam pendekatan terhadap bangsa. Menurutnya, ABRI tidak harus di bawah kendali sipil. Pada saat yang sama, ABRI tidak boleh mendominasi bangsa dengan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kediktatoran militer.

Pada 5 Juli 1959, Soekarno mengeluarkan dekret yang menyatakan bahwa Indonesia sekarang akan kembali ke UUD 1945 yang asli. Ahmad Haris Nasution diangkat menjadi Menteri Pertahanan dan Keamanan di Kabinet Soekarno dan Ia tetap memegang jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Darat.

Pada Juli 1962, Soekarno mereorganisasi struktur. Kepala cabang Angkatan Bersenjata akan ditingkatkan dari kepala staf menjadi panglima, Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI dan Nasution ditunjuk sebagai kepala staf ABRI.

Percobaan Penculikan Oleh Pasukan Gerakan 30 September

Pada pagi hari 1 Oktober 1965, pasukan yang menamai dirinya Gerakan 30 September mencoba untuk menculik 7 perwira Angkatan Darat yang anti komunis dan Nasution masuk dalam daftarnya. Pada pukul 04:00, pasukan yang dipimpin oleh Letnan latief untuk menangkap Nasution menuju rumah Nasution yang berada di jalan Teuku Umar no.40 dengan mengendarai empat truk dan dua mobil militer .

Penjaga rumah di pos jaga luar melihat kendaraan datang, namun setelah melihat yang datang adalah para tentara ia tidak curiga dan tidak menelepon atasannya yaitu Sersan Iskaq. Sersan Ishaq berada di ruang jaga di ruang depan bersama dengan 6 tentara dan beberapa di antaranya sedang tidur. Seorang penjaga sedang tidur di taman depan dan satu lagi sedang bertugas di bagian belakang rumah. Dalam sebuah pondok terpisah, dua ajudan Nasution sedang tidur yaitu seorang letnan muda bernama Pierre Tendean, dan ajun komisaris polisi Hamdan Mansjur.

Nasution dan istrinya terganggu oleh nyamuk dan terjaga. Nyonya Nasution yang mendengar pintu dibuka paksa ia bangun dari tempat tidur untuk memeriksa dan membuka pintu kamar tidur, ia melihat tentara Cakrabirawa dengan senjata siap menembak lalu ia berteriak pada suaminya. Nasution yang ingin melihatnya namun saat membuka pintutentara menembak ke arahnya. Sang istri menyuruh suaminya untuk keluar memalui pintu lain, Nasution berlari ke halaman rumah menuju dinding pemisah antara rumahnya dengan Kedutaan Besar Irak. Tentara menemukannya dan menembaknya namun meleset, lalu nia memanjat dinding dan Ia tidak dikejar.

Seluruh penghuni rumah termasuk ibu dan adik Nasution, Mardiah ketakutan, lalu ia berlari ke kamar Nasution dan membawa putri bungsu Nasution yaitu Irma yang baru berusia 5 tahun. Saat mencoba mencari tempat yang aman, seorang kopral penjaga istana melepaskan tembakan dan Irma tertembak dengan 3 peluru dipunggunggnya. Sementara putri Sulung Nasution, Hendrianti Saharah Lari bersama dengan pengasuhnya ke pondok ajudan dan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Ajudan Nasution yaitu Tendean mengambil senjatanya dan lari dari rum,ah namun baru beberapa langkah ia tertangkap. Setelah menyuruh suaminya pergi, Ia masuk ke rumah dan membawa putrinya yang terluka. Saat menelpon dokter pasukan cakrabirawa memaksa Ia untuk memberi tahu dimana suaminya lalu ia menjawab bahwa suaminya berada di luar kota. Pasukan cakrabirawa kemudian pergi dari rumah Nasution dan membawa Tendena bersama mereka. Nyonya Nasution kemudian ke rumah sakit pusat angkatan darat membawa putrinya yang terluka.

Nasution yang bersembunyi hingga pukul 06:00, saat kembali ke rumahnya dalam keadaan patah pergelangan kaki. Nasution menguruh ajudannya untuk membawanya ke Departemen Pertahanan dan Keamanan. Pada tanggal 2 Oktober pukul 06:00, Gerakan 30 September berhasil dikalahkan.

Beberapa Minggu setelah G30S, Nasution berusaha melobi Soekarno agar menjadikan Soeharto sebagai Panglima Nagkatan Darat dan pada 14 Oktober 1965, Soeharto diangkat sebagai Panglima Angkatan Darat. Pada Februari 1966, Nasution tidak lagi menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan dalam perombakan kabinet dan juga posisi Kepala Staf ABRI dihapuskan. Harapan untuk melakukan sesuatu telah hilang, para perwira dan juga gerakan mahasiswa berada dibelakang Soeharto, walaupun begitu Ia tetap menjadi tokoh yang dihormati. Nasution di nominasikan untuk posisi ketua MPRS oleh semua fraksi di MRPS dan ia menjadi ketua MPRS.

Walaupun di bantu oleh Nasution, Soeharto menganggap Nasution sebagai saingan. Pada 1969, Nasution dilarang berbicara di Akademi Militer dan Seskoad dan pada 1971 Nasution diberhentikan dari dinas militer. Pada tahun 1972, posisi Ketua MPRS digantikan oleh Idham Chalid. Karena jatuh dari kekuasaan tersebut, Ia mendapat julukan Gelandangan Politik.

Wafatnya Jenderal A.H. Nasution

Pada 6 September 2000, setelah menderita Stroke dan koma, Ahmad Haris Nasution meninggal. Kemudian Ia di makamkan di TMP Kalibata, Jakarta Selatan.

Biografi dan Profil Lengkap Jenderal Gatot Subroto – Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Biografi dan profil Lengkap Jenderal Gatot Soebroto sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional Indonesia

InfoBiografi.ComJenderal Gatot Soebroto merupakan tokoh pejuang militer Indonesia dalam merebut kemerdekaan dan Ia juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia. Jendral Gatot Soebroto lahir di Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah pada 10 Oktober 1907 dan Ia meninggal di Jakarta pada 11 Juni 1962 dan Ia dimakamkan di Ungaran, Semarang. Untuk lebih lanjut, simak ulasan lebih lengkap tentang biografi dan profil lengkap Jenderal Gagot Soebroto dibawah ini.

Profil Singkat

Nama : Jenderal Gatot Soebroto
Lahir : Banyumas, Jawa Tengah, 10 Oktober 1907
Meninggal : Jakarta, 11 Juni 1962 (umur 54)
Orang tua: Sayid Yudoyuwono
Anak: Bob Hasan
Pendidikan :

  • Europeesche Lagere School (ELS)
  • Holands Inlandse School (HIS)
  • Sekolah Militer, Magelang, 1923
  • Pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta)
  • Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

Pekerjaan :

  • Wakil Kepala Staff Angkatan Darat, 1953
  • Panglima Tentara & Teritorium (T & T) IV Diponegoro
  • Gubernur Militer Daerah Surakarata dan sekitarnya, 1945-1950
  • Panglima Corps. Polisi Militer, 1945-1950
  • Panglima divisi II, 1945-1950
  • Komandan Batalyon
  • Komandan kompi, Sumpyuh, Banyumas
  • Anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda)
  • Pegawai pemerintah

Agama : Buddha
Penghargaan : Pahlawan Kemerdekaan Nasional

Biografi Lengkap 

Masa Kecil Dan Pendidikan

Sejak kecil, Gatot Soebroto telah menunjukan sikap seorang pemimpin. Ia memiliki sifat pemberani, tegas, tanggung jawab dan pantang atas kesewenang-wenangan.

Saat masih bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), karena berkelahi dengan seorang anak Belanda, Ia dikeluarkan dari sekolah tersebut. Kemudian, Ia masuk ke Holands Inlandse School (HIS) dan menyelesaikan pendidikan formalnya disana. Setelah lulus dari HIS, Ia tidak melanjutkjan pendidikannya dan ia memilih bekerja sebagai pegawai. Namun karena tidak memuaskan jiwanya, di keluar dari pekerjaannya dan pada tahun 1923 Ia masuk ke sekolah militer di Magelang.

Perjalanan Karier Militer

Setelah menyelesaikan sekolah militer, Gatot menjadi anggota KNIL (Tentara Hindia Belanda) hingga akhir kependudukan Belanda di Indonesia. Saat perang dunia II bergejolak, Belanda berhasil ditaklukan oleh Jepang. Pada masa penjajahan Jepang, Gatot mengikuti pendidikan Pembela Tanah Air atau Peta di Bogor. Setelah tamat dari Peta kemudian ia diangkat menjadi komandan kompi di Sempyuh, Banyumas dan tidak lama setelah itu ia diangkat menjadi komandan batalyon.

Keikutsertaan Gatot Subroto dalam KNIL ataupun Peta, tidak membuatnya terindikasi menjadi kaki tangan pihak kolonial. Karena jiwa kebangsaan yang tinggi, dalam menjalankan tugas ia tetap membela rakyat kecil sehingga Ia sering mendapat teguran karena perlakuannya tersebut. Begitu besar rasa solidaritas yang dimiliki pada kaumnya, sebagian gaji yang diterima ia berikan pada keluarga orang yang mendapat hukuman dibawah pengawasannya. Pada masa pemerintahan Jepang, Ia menentang orang jepang yang melakukan tindakan kasar pada bawahannya. Gatot terkenal sebagai pemimpin yang perhatian perhatian pada bawahannya namun juga tegas terhadap bawahan yang tidak disiplin.

Dari kemerdekaan hingga pengakuan kedaulatan yaitu antara tahun 1945 hingga 1950, Ia dipercaya menjabat beberapa jabatan penting diantaranya Panglima Divisi II, Panglima Corps Polisi Militer, dan Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya.

Saat menjadi Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya, pada September 1948 terjadi pemberontakan PKI Madiun yang dipimpin oleh Muso dan hal tersebut dapat di atasi. Setelah pengakuan kedaulatan, Gatot makin dipercaya memegang tugas yang lebih tinggi, Ia diangkat menjadi Panglima Tentara & Teritorium (T & T) IV I Diponegoro.

Pada tahun 1953, Ia sempat mengundurkan diri dari dinas militer karena suatu hal. Namun, 3 tahun kemiudian Ia diaktifkan kembali dan diangkat menjadi Wakasad atau Wakil Staf Angkatan Darat. Di kalangan militer Ia dikenal sebagai pimpinan yang memiliki perhatikan besar pada pembinaan perwira muda. Menurut Gatot Soebroto, salah satu cara untuk membina perwira muda yaitu dengan menyatukan akademi militer setiap angkatan yaitu Angkatan Darat, Laut, dan Udara menjadi satu akademi. Gagasan tersebut kemudian terwujud dengan terbentuknya AKABRI atau Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Wafatnya Jenderal Gatot Soebroto

Pada tanggal 11 Juni 1962 di Jakarta Jenderal Gatot Subroto meninggal dunia di Jakarta, Ia meninggal pada usia 55 tahun. Kemudian Ia dimakamkan di desa Sidomulyo, kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Atas jasa-jasanya bagi negara, seminggu setelah kematiannya, Jenderal Gatot Subroto dinobatkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden RI No.222 Tahun 1962, tanggal 18 Juni 1962.

Biografi dan Profil Lengkap HOS Cokroaminoto – Pahlawan Pergerakan Nasional Indonesia

Biografi dan Profil Lengkap HOS Cokroaminoto – Pahlawan Pergerakan Nasional Indonesia dan Pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI)

InfoBiografi.Com Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto merupakan seorang pemimpin organisasi Sarekat Islam (SI). Tokoh yang lebih dikenal dengan H.O.S Cokroaminoto ini Lahir di Tegal Sari, Ponorogo, Jawa Timur pada 16 Agustus 1882 dan Ia meninggal pada 17 Desember 1934 di Yogyakarta. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai profil perjalanan  H.O.S Cokroaminoto  berikut ini InfoBiografi.Com akan memberikan informasi lengkap tentang biografi dan profil perjalanan  H.O.S Cokroaminoto. Simak ulasan dibawah ini.

Profil Singkat

Nama : Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto
Lahir : Ponorogo, Jawa Timur, 16 Agustus 1882
Meninggal : 17 Desember 1934, Yogyakarta
Kebangsaan : Indonesia
Agama : Islam
Orang tua : RM. Tjokroaminoto
Pasangan : Suharsikin
Anak:

  • Siti Oetari
  • Oetaryo Anwar Tjokroaminoto
  • Harsono Tjokroaminoto
  • Siti Islamiyah
  • Ahmad Suyud

Biografi Lengkap  H.O.S Cokroaminoto

Kehidupan Pribadi Cokroaminoto

HOS Cokroaminoto merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Ayah HOS Cokroaminoto yaitu R.M. Tjocroamiseno merupakan salah satu pejabat pemerintah pada saat itu. Sang kakek yang bernama R.M. Adipati Tjokronegoro pernah menjabat sebagai Bupati Ponorogo.

Cokroaminoto merupakan salah satu tokoh pergerakan Nasional yang gigih. Ia juga memiliki beberapa murid diantaranya Soekarno, Musso dan Kartosuwiryo. Tapi pemikiran yang tak sejalan membuat ketiga orang muridnya ini berselisih paham. Kemudian pada tahun 1912 tepatnya pada bulan Mei, Tjokroaminoto bergabung dalam kepengurusan Organisasi Sarekat Islam.

Selama hidupnya, HOS Cokroaminoto pernah menempuh pendidikan di OSVIA dan lulus pada tahun 1902. Setelah lulus, ia bekerja sebagai juru tulis di Ngawi. Tak lama kemudian, Cokroaminoto bekerja di perusahaan dagang di Surabaya. Disini Ia mulai tertarik dengan dunia politik. Sarekat Dagang Islam atau SDI pernah Ia masuki, akhirnya berubah menjadi SI (Sarekat Islam) dan Ia menjadi ketuanya pada 10 September 1912. Dengan kepemimpian yang baik, organisasi tersebut mengalami perkembangan yang signifikan, bahkan sempat membuat Belanda khawatir.

Sarekat Islam Massa Kepemimpinan H.O.S Cokroaminoto 

Selama bergabung dalam Sarekat, Ia bekerja keras memperjuangkan penegakan hak-hak manusia dan kehidupan masyarakat. Perjuangan ini dilakukan sekitar tahun 1912 hingga 1916, dan di akhir tahun tersebut Dewan Rakyat dibentuk. Cokroaminoto pun mengungkapkan beberapa gagasan penting, salah satunya adalah pembentukan pemerintahan sendiri. Puncaknya muncul mosi Cokroaminoto pada 25 November 1918. Inti dari mosi tersebut yaitu meminta kepada Belanda agar mereka mau mendirikan parlemen yang berisi anggota pilihan rakyat.

Hanya saja, tuntutan tersebut dinilai tidak masuk akal. HOS Cokroaminoto adalah tokoh besar yang menjadi inspirasi bagi banyak tokoh muda yang juga punya visi yang sama dalam pergerakan nasional. HOS Cokroaminoto dikenal sebagai sosok yang pandai bertutur kata dan suka melempar kritikan pedas kepada pemerintah Belanda yang dianggap sewenang-wenang. Karena usaha yang dilakukannya dan juga diduga terlibat dalam usaha penggulingan pemerintah Belanda, pada tahun 1920 Cokroaminoto dimasukkan ke dalam penjara.

Tujuh bulan berselang, Ia dibebaskan kembali dan di tunjuk menjadi anggota Volksraad, namun ia tidak bersedia. Pada 17 Desember 1934  H.O.S. Cokroaminoto meninggal di Yogyakarta pada usia 52 tahun,  setelah Ia jatuh sakit pasca mengikuti Kongres Sarekat Islam di Banjarmasin.

Kata-Kata H.O.S Cokroaminoto

  • Jika kalian ingin menjadi Pemimpin besar, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator.
  • Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat.

Biografi dan Profil Lengkap Agus Rahardjo – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Periode 2015-2019

Biografi dan Profil Lengkap Agus Rahardjo – Sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Periode 2015-2019 

InfoBiografi.Com Agus Rahardjo merupakan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang dilantik oleh -residen Joko Widodo pada tanggal 21 Desember 2015. Diangkatnya Agus Rahardjo sebagai ketua KPK didasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 133/P/2015 tentang Pengangkatan Pimpinan KPK masa bakti 2015-2019. Agus Rahardjo menggantikan ketua KPK sebelumnya yaitu Abraham Samad yang terpilih setelah komisi III DPR RI menggelar pemungutan suara untuk menentukan Ketua KPK selanjutnya. Agus Rahardjo terpilih setelah berhasil mengumpulkan 44 suara dan unggul diatas Irjen Pol Basariah Rahardjo yang hanya mengantongi suara sebanyak 10 dari total 54 suara. Untuk mengetahui lebih lengkap info biografi tentang Agus Rahardjo, simak ulasan dibawah ini.

Biografi singkat Agus Rahardjo

Nama : Ir. Agus Rahardjo , MSM
Tempat/ tanggal lahir : Magetan, 1956
Nama Orang Tua : Basoeki (Ayah), Suminah (Ibu)
Istri : Tutik Supriyati
Pendidikan TInggi:

  • (S1) Teknik Sipil, ITS Surabaya
  • (S2) Arthur D. Little Management Education Institute, Amerika Serikat

Karir:

  • Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik (2006)
  • Ketua LKPP (2010)
  • Ketua KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) (2015)

Biografi lengkap Agus Rahardjo

Profil Pendidikan dan Kehidupan Agus Rahardjo

Agus Rahardjo merupakan putra kedua dari pasangan Basoeki dan Suminah, beliau lahir di Magetan Jawa Timur pada tahun 1956. Sejak kecil Agus Rahardjo tinggal di Jl. Biliton, Desa Kepolorejo, Magetan, Jawa Timur.

Agus Rahardjo kecil menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kapolorejo di Magetan, dan melanjutkan pendidikan selanjutnya SMP dan SMA di Magetan. Setelah lulus dari pendidikan menengah atas, Agus Rahardjo melanjutkan studinya di ITS Surabaya dengan mengambil jurusan Teknik Sipil, karena ia bercita-cita menjadi seorang kontraktor.

Setelah berhasil lulus dari ITS Surabaya, Agus Rahardjo melanjutkan pendidikan lagi di luar negeri dengan belajar di Cambridge, Amerika Serikat tepatnya di Arthur D. Little Management Education Institute. Agus Rahardjo tinggal dan bekerja di Amerika Serikat selama lima tahun yaitu antara tahun 1995 hingga 1997 dan aktif sebagai pembicara di lembaga Internasional di Paris, Perancis.

Perjalanan Karir di Indonesia

Setelah kembali ke Indonesia, Agus Rahardjo kemudian menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan kemudian tinggal di Jakarta. Agus Rahardjo menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik (PPKPBJ) pada tahun 2006.

Pada tahun 2008 Agus Rahardjo menjadi sekretaris Lembaga Kebijakna Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yaitu lembaga non-kementrian dan kemudian Agus Rahardjo menjadi ketua LKPP 2 tahun kemudian untuk menggantikan Roestam Syarief. Selain itu Agus Rahardjo juga pernah menjabat sebagai direktur dari pendidikan Bappenas.

Terpilih Menjadi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Awal gabungnya Agus Rahardjo dengan Komisi Pemberantasan Korupsi dimulai ketika ia bergabung bersama ketua KPK saat itu yaitu Busyiro Muqodas untuk mendeklarasikan kegiatan Anti Korupsi. Hingga ketika Panitia Seleksi (Pansel) membuka pendaftaran seleksi pimpinan KPK, Agus Rahardjo termasuk dari 50 orang yang dihubungi khusus oleh Pansel untuk ikut mendaftar menjadi komisioner periode 2015-2019.

Kemudian Pansel melakukan eleksi administrasi, uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan oleh Komisi III DPR RI bersama dengan badan pemerintah lainnya yaitu PPATK, Polri, BIN dan Kejaksaan Agung. Dan pada tanggal 17 Desember 2015, Agus Rahardjo terpilih menjadi ketua KPK berdasarkan hasil pemungutan suara yang dilakukan oleh anggota DPR RI.

Pada tanggal 21 Desember 2015, Presiden RI Joko Widodo secara resmi melantik Agus Rahardjo menjadi ketua Komisi Pemberantasan Korupsi periode 2015-2019. Agus Rahardjo merupakan seorang Insinyur pertama yang mempimpin lembaga penegakan hukum tanpa latar belakang pendidikan tinggi formal hukum dan tanpa memliki pengalaman karir di bidang hukum di Indonesia.

Riwayat Perjalanan Karir Agus Rahardjo

  • Staf Perencanaan Pembangunan Bappenas (Anggota)
  • Bappenas Direktur Sistem dan Perencanaan Prosedur
  • Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang dan Jasa Publik (PPKPBJ) (Kepala) (2006)
  • Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)( Sekretaris Utama) (2008)
  • Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) ( Kepala) (2010)
  • Komisi Pemberantasan Korupsi Ketua (2015-2019)

Itulah penjabaran lengkap tentang Biografi dan Profil Lengkap Agus Rahardjo , semoga apa yang telah kami tulis dapat menjadi bahan bacaan yang berkualitas untuk para pembaca.

Biografi dan Profil Lengkap James Watt – Ilmuwan Penemu Mesin Uap

Biografi dan Profil Lengkap James Watt Penemu Mesin Uap dan Salah Satu Pendorong terjadinya Revolusi Industri,

InfoBiografi.Com James Watt merupakan seorang insinyur besar dari Skotlandia, Britania Raya. Pria kelahiran Greenock, Skotlandia, 19 Januari 1736 ini merupakan salah satu tokoh penemu penting yang pernah ada. Ia berhasil menciptakan mesin uap pertama yang efisien dan mesin uap tersebut menjadi salah satu pendorong terjadinya revolusi industri, khususnya di Britania dan Eropa pada umumnya. Ia meninggal di Birmingham, Inggris, 19 Agustus 1819. Untuk menghargai jasanya, nama belakangnya yaitu watt digunakan sebagai nama satuan daya, misalnya daya mesin dan daya listrik. Kali ini infobiografi.com akan membahas biografi James Watt dengan lengkap. Simak ulasan dibawah ini.

Profil Singkat James Watt

Nama :James Watt
Lahir: 30 Januari 1736, Greenock, Britania Raya
Meninggal: 25 Agustus 1819, Handsworth, West Midlands, Britania Raya
Orang tua: James Watt, Agnes Muirhead
Pasangan: Ann MacGregor (m. 1777–1819), Margaret Miller (m. 1764–1772)
Anak: Gregory Watt, James Watt Junior, Janet Watt, Margaret Watt.

Profil Lengkap James Watt

Penemuan Mesin Uap Oleh James watt

James Watt merupakan orang Skotlandia yang sering dihubungkan dengan penemu mesin uap dan juga tokoh kunci Revolusi Industri. Sebenarnya, Watt bukanlah orang pertama yang menciptakan mesin uap. Rancangan serupa pernah dilakukan oleh Hero dari Iskandariah pada awal tahun Masehi. Pada tahun 1686 Thomas Savery mematenkan sebuah mesin uap yang digunakan untuk memompa air, dan Pada tahun 1712, Thomas Newcomen pula mematenkan temuan serupa dengan versi yang lebih sempurna, namun mesin ciptaan Newcomen masih bermutu rendah, kurang efisien dan hanya dapat digunakan untuk pompa air dari tambang batubara.

Pada tahun 1764, Watt tertarik dengan mesin uap karena memperhatikan mesin uap buatan Newcome yang kurang efisien saat ia sedang membetulkannya. Meskipun hanya mendapat pendidikan sebagai tukang perkakas selama setahun, Ia memiliki bakat yang besar. Ia melakukan penyempurnaan-penyempurnaan pada mesin uap ciptaan Newcomen.

Pada tahun 1769, keberhasilan Watt yang pertama yaitu penambahan ruang terpisah yang diperkokoh dipatenkan. Ia juga membuat isolasi pemisah agar mencegah hilangnya panas pada silinder uap dan pada tahun 1782, ia menemukan mesin ganda. Dengan beberapa perbaikan kecil, pembaruan ini menghasilkan peningkatan efisiensi mesin uap dengan empat kali lipat atau lebih.

Pada tahun 1781, Watt menemukan seperangkat gerigi unhtuk mengubah gerak balik mesin menjadi gerak berputar. Pada 1788, Ia berhasil menciptakan pengontrol gaya gerak melingkar otomatis yang dapat membuat kecepatan mesin dapat diawasi secara otomatis. Pada 1790, Ia juga menciptakan alat pengukur tekanan. Selain itu Ia menciptakan alat penghitung kecepatan, alat petunjuk dan alat pengontrol uap.

Pada tahun 1775, Watt melakukan kerjasama dengan Metthew Boulton seorang insinyur dan juga pengusaha. Setelah 25 tahun, perusahaan mereka memprodukisi mesin uap dalam jumlah besar dan hal tersebut membuat mereka kaya raya. Mesin uap yang berkerja ganda temuan Watt pada 1769 itu, memiliki peranan penting dalam revolusi industri.

Lahirnya Revolusi Industri

Di samping manfaat tenaga untuk pabrik, mesin uap juga memiliki manfaat besar di bidang-bidang lain. Pada tahun 1783, Marquis de Jouffroy di Abbans berhasil menggunakan mesin uap sebagai penggerak kapal. Pada tahun 1804, Richard Trevithick menciptakan lokomotif uap pertama. Tak satu pun model-model pemula itu berhasil secara komersial. Dalam tempo beberapa puluh tahun, barulah baik kapal maupun kereta api menghasilkan revolusi baik di bidang pengangkutan darat maupun laut.

Revolusi Industri berlangsung hampir bersamaan dengan Revolusi Amerika maupun Perancis. Walaupun pada waktu itu tampak sepele, kini tampak jelas betapa Revolusi Industri itu seakan digariskan memiliki makna jauh lebih penting untuk kehidupan manusia dibanding arti penting revolusi politik. Oleh sebab itu, James Watt tergolong menjadi salah satu orang yang memiliki pengaruh penting dalam sejarah.

Biografi dan Profil Lengkap W.R. Soepratman – Pencipta Lagu Indonesia Raya

Biografi dan Profil Lengkap W.R. Soepratman Pahlawan Nasional Indonesia yang Menciptakan Lagu Indonesia Raya – Profil dan Sejarah Hidupnya

InfoBiografi.Com – Wage Rudolf Supratman atau W.R. Supratman merupakan Pahlawan nasional Indonesia & Ia merupakan pengarang lagu kebangsaan Indonesia yaitu Indonesia Raya. W.R. Soepratman Lahir di Somongari, Purworejo, 19 Maret 1903 dan Ia meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 17 Agustus 1938. Berikut biografi lengkapnya.

Biografi Singkat

Nama : Wage Rudolf Supratman
Lahir: Somongari, Purworejo, 19 Maret 1903
Meninggal: Surabaya, 17 Agustus 1938
Kebangsaan: Indonesia
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta
Orang tua: Djoemeno Senen Sastrosoehardjo, Siti Senen
Saudara Kandung :

  • Roekijem Soepratijah,
  • Roekinah Soepratirah,
  • Rebo,
  • Gijem Soepratinah,
  • Aminah,
  • Ngadini Soepratini,
  • Slamet,
  • Sarah.

Biografi dan Profil Lengkap

Kehidupan Pribadi W.R Soepratman

W.R Soepratman merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara dari pasangan Djoemeno Senen Sastrosoehardjo dan Siti Senen. Sang ayah merupakan seorang tentara KNIL Belanda.

Pada tahun 1914, Soepratman ikut Roekijem kakak sulungnya ke Makassar. Di Makassar Soepratman disekolahkan dan dibiayai oleh suami Roekijem yaitu Willem van Eldik.

Selanjutnya, selama tiga tahun Soepratman belajar bahasa Belanda di sekolah malam. Lalu, ia melanjutkan pendidikan ke Normaalschool di Makassar hingga selesai. Saat berumur n20 tahun, Ia dijadikan guru di Sekolah Angka 2. Dua tahun kemudian Ia mendapatkan ijazah Klein Ambtenaar.

Dalam beberapa waktu yang lama, Soepratman bekerja di sebuah perusahaan dagang. Kemudian, Ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai wartawan di harian Kaoem Moeda dan Kaoem Kita. Pekerjaan itu kemudian tetap ia lakukan saat telah tinggal di Jakarta. Pada waktu itu, Soepratman mulai tertarik dengan pergerakan nasional dan banyak bergaul dengan tokoh-tokoh pergerakan. Dalam bukunya yang berjudul Perawan Desa, Ia menuangkan rasa tidak senang dengan penjajahan namun kemudian buku itu disita dan dilarang beredar oleh pemerintah Belanda.

Soepratman dipindahkan ke kota Sengkang (ibukota Kabupaten Wajo merupakan salah satu kota kecil yang terletak di Provinsi Sulawesi Selatan). Di situ tidak lama, Ia meminta berhenti lali pulang ke Makassar. Kakak sulungnya yaitu Roekijem sangat senang sandiwara dan musik, banyak karyanya yang ditampilkan di mes militer. Selain itu, Roekijem juga senang bermain biola, kegemaran yang dimiliki sang kaka membuat Soepratman juga gemar bermain musik dan membaca buku musik.

W.R Soepratman tidak memiliki istri dan tidak pernah mengangkat anak.

Menciptakan Lagu “Indonesia Raya”

Saat tinggal di Makassar, Soepratman mendapatkan pelajaran tentang musik dari kakak iparnya. W.R Soepratman pandai bermain biola dan dapat menggubah lagu. Saat tinggal di Jakarta, Ia membaca sebuah karangan dalam majalah Timbul, penulis karangan tersebut menantang para ahli musik Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan.

Soepratman merasa tertantang dan ia mulai menggubah lagu. Pada tahun 1924, terciptalah lagu Indonesia raya yang pada saat itu Ia berumur 21 tahun dan berada di Bandung.

Pada malam penutupan Kongres Pemuda II di Jakarta pada 28 Oktober 1928, Soepratman memperdengarkan lagu ciptaannya secara instrumental didepan umum dan semua orang yang hadir terpukau mendengarkannya. Lagu Indonesia Raya kemudian dengan cepat menjadi terkenal , apabila ada partai yang mengadakan kongres maka lagu tersebut selalu dinyanyikan. Lagu Indonesia Raya merupakan perwujudan rasa persatuan dan keinginan untuk merdeka.

Wafatnya W.R. Soepratman

Karena menciptakan lagu Indonesia Raya, Soepratman menjadi buronan polisi Hindia Belanda hingga Ia jatuh sakit di Surabaya. Karena lagu ciptaannya yang berjudul “Matahari Terbit”, pada awal Agustus 1938, Soepratman ditangkap saat sedang menyiarkan lagu tersebut bersama para pandu di NIROM Jalan Embong Malang, Surabaya lalu Ia ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. W.R soepratman meninggal pada tanggal 17 Agustus 1938 karena sakit.

Setelah Indonesia Merdeka, Lagu Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Soepratman ditetapkan sebagai lagu kebangsaan. Namun sayangnya sang pencipta tidak dapat merasakan kemerdekaan tersebut.

Kontroversi Tempat dan Tanggal Lahirnya

Saat menjadi Presiden RI, Megawati Soekarno Putri menetapkan hari kelahiran W.R Soepratman yaitu 9 Maret diresmikan sebagai Hari Musik Nasional. Namun tanggal lahir tersebut sebenarnya masih diperdebatkan, karena ada pendapat yang menyatakan bahwa W.R Soepratman lahir pada tanggal 19 Maret 1903 di Dukuh Trembelang, Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Pendapat ini, selain didukung oleh keluarga Soepratman, dikuatkan pula dengan keputusan Pengadilan Negeri Purworejo pada 29 Maret 2007.

Karya W.R. Soepratman

Indonesia Raya


Ibu Kita Kartini

Biografi dan Profil Lengkap K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Presiden Indonesia Ke-4

Biografi dan Profil Lengkap K.H. Abdurrahman Wahid Presiden ke-4 RI –  Riwayat Perjalanan Pendidikan, Karir hingga menjadi Presiden RI

InfoBiografi.Com – Dr.(H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur merupakan salah satu tokoh muslim indonesia yang pernah menjabat sebagai Presiden Indonesia ke-4 yang memerintah dari tahun 1999 hingga tahun 2001. Gus Dur juga merupakan mantan ketua tanfidziyah atau badan eksekutif Nahdlatul Ulama (NU) dan juga pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Dur Merupakan anak dari pasangan K.H Abdul Wahid Hasjim dan Solichah yang lahir di Jombang, Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009 di Jakarta.

Biografi Singkat

Nama : Dr.(H.C.) K.H. Abdurrahman Wahid
Lahir : Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940
Meninggal : Jakarta, 30 Desember 2009
Ayah : K.H Abdul Wahid Hasjim
Ibu : Solichah
Pasangan : Sinta Nuriyah
Anak :

  • Alissa Qotrunnada
  • Zannuba Ariffah Chafsoh
  • Anita Hayatunnufus
  • Inayah Wulandari

Jabatan:
Presiden Indonesia Ke-4 (20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001)

Biografi dan Profil Lengkap

Kehidupan Awal Dan Pendidikan Gus Dur

Abdurrahman Wahid merupakan anak pertama dari 6 bersaudara dari pasangan K.H. Wahid Hasyim dan Solichah yang lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil.

Abdurrahman Wahid lahir dalam keluarga yang sangat terhormat di komunitas muslim Jawa Timur. Kakeknya dari sang ayah yaitu K.H. Hasyim Asyari merupakan tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, kakeknya dari sang ibu yaitu K.H. Bisri Syansuri merupakan pengajar di pesantren pertama yang mengajar kelas pada perempuan. Sang ayah yaitu K.H. Wahid Hasyim merupakan Menteri Agama pada tahun 1949 dan sang ibu merupakan putri dari pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang.

Abdurahman Wahid menikah dengan Sinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri: Alissa Qotrunnada, Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenni Wahid), Anita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.

Pada tahun 1944, Abdurrahman Wahid pindah ke Jakarta, karena ayahnya terpilih sebagai ketua pertama Partai Masyumi. Setelah deklarasi kemerdekaan Indonesia, Gus Dur kembali ke Jombang. Pada tahun 1949, Gusdur kembali lagi ke Jakarta karena ayahnya terpilih menjadi Menteri Agama. Gus Dur menempuh pendidikan dasarnya di SD KRIS sebelum pindah ke SD Matraman Perwari. Untuk menambah pengetahuan, oleh ayahnya Gus Dur di ajarkan ayahnya membaca buku nono–muslim, mjalah, dan juga koran. Pada tahun 1953, sang ayah meninggal dunia karena kecelakaan mobil.

Pada tahun 1954, Gus Dur melanjutkan pendidikannya di SMP, namun pada tahun itu, Gus Dur tidak naik kelas dan sang ibu mengirimnya ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan SMPnya sekaligus mengaji kepada KH. Ali MAksum di Pondok Pesantren Krapyak. Setelah lulus SMP pada tahun 1957, Gus Dur pindah ke Magelang dan memulai pendidikan muslimnya di Pesantren Tegalrejo, Ia termasuk murid berbakat dan Ia mampu menyelesaikan pendidikan pesantrennya hanya dalam waktu 2 tahun yang seharusnya adalah 4 tahun. Lalu pada tahun 1959, Ia pindah ke Pesantren Tambakberas di Jombang, sembari melanjutkan pendidikannya, ia juga menerima pekerjaan pertamanya sebagai guru dan nantinya menjadi seorang kepala seklah Madrasah.

Pada tahun 1963, Gus Dur mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama untuk belajar Studi Islam di Universitas Al Azhar Kairo Mesir. Kemudian pada November 1963, Ia berangkat ke Mesir. Walaupun fasih berbahasa Arab, Ia harus terpaksa mengikuti kelas remedial sebelum belajar Islam dan bahasa Arab, karena Ia tidak mampu membuktikan bahwa Ia fasih berbahasa Arab.

Pada akhir tahun 1964, Gus Dur berhasil lulus kelas remedial Arabnya. Dan pada tahun 1965 iamulai belajar tentang Studi Islam dan bahasa Arabnya. Di Mesir, Ia bekerja di Kedutaan Besar Indonesia. Saat ia bekerja terjadi peristiwa G30S, Kedutaan Besar Indonesia di Mesir diperintah untuk melakukan invesrigasi pada pelajar universitas dan memberikan laporan kedudukan politik mereka dan Gusdur diberi perintah tersebut, Ia ditugaskan untuk menulis laporan.

Gus Dur yang tidak setuju dengan metode pendidikan dan pekerjaannya pasca peristiwa G30S yang mengganggu dirinya, pada tahun 1966, Ia diberitahu bahwa Ia harus mengulang kembali belajarnya. Pendidikan prasarjana Wahid selamat karena beasiswa yang di terimanya di Universitas Baghdad, Irak. Pada tahun 1970, Gus Dur menyelesaikan pendidikannya di Universitas Baghdad dan Ia pergi ke Belanda untuk meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden, namun Ia harus menelan kekecewaan karena pendidikannya di Universitas Baghdad kurang di akui. Sebelum pulang ke Indonesia pada tahun 1971, Gus Dur pergi ke Jerman dan Perancis.

Awal Karier Gus Dur

Setelah kembali ke Jakarta, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yaitu sebuah organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. LP3ES mendirikan majalah Prisma dan Wahid menjadi salah satu kontributornya, sebagai kontributor ia berkeliling pesantren dan majalah di seluruh Jawa. Gusdur merasa prihatin dengan kemiskinan yang dialami pesantren.

Abdurrahman Wahid terus mengembangkan kariernya sebagai seorang jurnalis, artikel yang ditulisnya diterima baik dan kemudian Ia mulai mengembangkan reputasi sebagai komentator sosial. Karena hal tersebut, Gus Dur mendapat banyak undangan untuk membeikan seminar dan kuliah namun hal tersebut membuatnya harus bolak-balik Jakarta-Jombang.
Walaupun saat itu Ia telah memiliki karier yang sukses, Gus Dur masih merasa hidupnya sulit jika hanya menumpukan pada satu pekerjaan saja, lalu untuk menambah pendapatan Ia menjual kacang dan juga mengantar es.

Pada tahun 1974, Gus Dur mendapat pekerjaan tambahan sebagai Guru di Pesantren Tambakberas Jombang, satu tahun kemudian Ia mendapatkan pekerjaan tambahannya yaitu menjadi guru kitab Al-Hikmah. Pada tahun 1977, Gus Dur bergabung dengan Universitas Hasyim Asyari dan Ia sebagai dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan.

Bergabung Dengan Nahdlatul Ulama Dan Menjadi Ketua NU

Awalnya Gus Dur menolak untuk bergabung dengan Dewan Penasehat Agama NU sebanyak 2 kali, namun setelah kali ketiga kakaeknya Bisri Syansuri menawarinya, akhirnya Gus Dur mau bergabung. Bergabung dengan NU, Gus Dur mendapatkan pengalaman politik pertamanya yaitu Ia ikut berkampaye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yaitu sebuah partai islam yang merupakan gabungan dari 4 partai islam termasuk NU dalam Pemilu Legilatif 1982.

Banyak orang yang menganggap NU sebagai organisasi dalam keadaan terhenti. Setelah melalui diskusi, Dewan Penasehat Agama membentuk Tim tujuh yang diantaranya adalah Gus Dur, tim tersebut ditujukan untuk mengerjakan isu reformasi dan membantu mengaktifkan kembali NU.

Pada tanggal 2 mei 1982, para pejabat tinggi NU bertemu dengan ketua NU yaitu Idham Chalid, dan memintanya untuk mengundurkan diri sebagai ketua. Awalnya Idham menolak mundur dari jabatannya namun akibat tekanan akhirnya Idham mundur.
Pada tahun 1983, Soeharto kembali terpilih menjadi presiden untuk ke empat kalinya dan memulai mengambil langkah untuk membuat pancasila sebagai Ideologi Negara. Wahid menjadi anggota kelompok yang ditugaskan untuk menyiapkan respon NU terhadap isu tersebut dan Ia kemudian berkonsultasi dengan bacaa seperti sunnah dan Quran sebagai pembenaran dan pada Oktober 1983, Gusdur menyimpulkan agar NU menerima Pancasila sebagai Ideologi Negara. Setelah itu untuk mengaktifkan kembali NU, Gus Dur mundur dari PPP dan partai politik.

Pada Musyawarah Nasional 1984, banyak orang yang menyuarakan agar Gus Dur menjadi nominasi ketua NU yang baru, Gus Dur mau menerima nominasi tersebut asalakan Ia mendapatkan wewenang penuh dalam memilih pengurus yang akan bekerja padanya. Akhirnya, Gus Dur terpilih menjadi ketua umum PBNU, namun permintaannya untuk memilih sendiri pengurus dibawah kepemimpinannya tidak dipenuhi.

Pada tahun 1985, Gus Dur ditunjuk Soeharto untuk menjadi Indoktrinator Pancasila. Pada tahun 1987, Gusdur lebih menunjukan dukungannya terhadap rezim orde baru dengan mengkritik PPP dalam pemilu legislatif 1987 dan Ia memperkuat partai Golkar, kemudianIa menjadi anggota MPR mewakili Golkar.

Selama masa jabatan pertama sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Dur tetap fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan Ia berhasil meningkatkan kualitas sistem pendidikan pesantren hingga dapat menandingi sekolah sekuler. Pada tahun 1987, Gus Dur mendirikan kelompok belajar di Probolinggo, Jawa Timur untuk menyediakan forum individu sependirian dalam NU untuk mendiskusikan dan menyediakan interpretasi teks Muslim.

Pada Musyawarah Nasional 1989, Gus Dur terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU. Pada Desember 1990, berdiri Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia yang diketuai oleh B.J. Habibie. Pada tahun 1991, beberapa anggota ICMI mengajak Gus Dur bergabung namun Gus Dur menolak karena Ia menganggap ICMI mendukung sektarianisme yang akan membuat Soeharto menjadi tetap kuat. Gus Dur melakukan perlawanan terhadap ICMI dengan membentuk Forum Demokrasi.

Pada Maret 1992, Gus Dur berencana mengadakan Musyawarah Besar untuk merayakan ulang tahun NU ke-66 dan mengulang pernyataan dukungan NU terhadap Pancasila. Namun, Soeharto menghalangi acara tersebut dengan memerintahkan polisi untuk mengembalikan bus berisi anggota NU ketika mereka tiba di Jakarta. Selama masa jabatan kedua sebagai ketua NU, ide liberal Gus Dur mulai mengubah banyak pendukungnya menjadi tidak setuju. Gus Dur terus mendorong dialog antar agama dan bahkan menerima undangan mengunjungi Israel pada Oktober 1994.

Pada Musyawarah Nasional 1994, Gus Dur kembali terpilih menjadi Ketua NU dan Ia mulai melakukan aliansi politik dengan Megawati Soekarno Putri. Pada November 1996, Wahid dan Soeharto bertemu pertama kalinya sejak pemilihan kembali Gus Dur sebagai ketua NU. Pada tanggal 19 Mei 1998, Gus Dur bersama dengan delapan pemimpin penting dari komunitas Muslim, dipanggil ke kediaman Soeharto untuk memberikan konsep Komite Reformasi namun mereka semua menolaknya.

Pembentukan PKB dan Pernyataan Ciganjur

Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri dari jabatan presiden, setelah itu mulai muncul partai politik baru seperti PAN dan PDI-P. Pada Juni 1998, banyak orang komunitas NU mengusulkan agar Gus Dur mendirikan partai politik dan permintaan tersebut mulai ditanggapi pada bulan Juli, Wahid menyetujui pembentukan PKB dan menjadi Ketua Dewan Penasihat dengan Matori Abdul Djalil sebagai ketua partai.

Pada November 1998, Di Ciganjur Gus Dur bersama dengan Megawati, Amien, dan Sultan Hamengkubuwono X kembali menyatakan komitmen mereka untuk reformasi. Pada 7 Februari 1999, PKB secara resmi menyatakan Gus Dur sebagai kandidat pemilihan presiden.

Terpilih Menjadi Presiden RI

Pada Juni 1999, partai PKB ikut serta dalam pemilu legislatif, PKB memenangkan 12% suara dengan PDI-P memenangkan 33% suara. Namun, karena PDI-P tidak memiliki kursi mayoritas penuh, lalu membentuk aliansi dengan PKB. Pada bulan Juli, Amien Rais membentuk Poros tengah yaitu koalisi partai-partai Muslim.

Pada 7 Oktober 1999, Amien dan Poros Tengah secara resmi mengumumkan bahwa Abdurrahman Wahid yang akan dicalonkan sebagai presiden. Pada 19 Oktober 1999, MPR menolak pidato pertanggungjawaban Habibie. Pada 20 Oktober 1999, MPR kembali berkumpul untuk mulai memilih presiden baru, kemudian Abdurrahman Wahid terpilih menjadi Presiden Indonesia ke-4 dengan perolehan 373 suara.

Pada masa pemerintahannya, Ia membentuk Kabinet Persatuan Nasional yaitu kabinet koalisi yang anggotanya berasal dari berbagai partai politik, seperti : PDI-P, PKB, Golkar, PPP, PAN, dan Partai Keadilan (PK) termasuk juga Non-partisan dan TNI. Kemudian Gus Dur melakukan dua reformasi pemerintahan, reformasi pertama yaitu membubarkan Departemen Penerangan, senjata utama rezim Soeharto dalam menguasai media dan reformasi kedua yaitu membubarkan Departemen Sosial yang korup.

Gus Dur berencana memberikan referendum kepada Aceh. Namun referendum tersebut bukan untuk menentukan kemerdekaan melainkan untuk menentukan otonomi.

Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2004, dimana rakyat memilih secara langsung, PKB memilih Gus Dur sebagai calon presiden. Namun, Gus Dur gagal melewati pemeriksaan medis dan KPU menolaknya sebagai kandidat Capres.

Wafatnya Gus Dur

Pada hari Rabu, 30 Desember 2009, Gus dur meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, pada pukul 18.45 akibat komplikasi penyakit yang dideritanya sejak lama. Menurut sang adik, Salahuddin Wahid, Gus Dur meninggal akibat sumbatan pada arterinya.

Buku Karya K.H Abdurrahman Wahid

Berikut adalah beberapa buku karya Gus Dur :

  • Islam dalam Cinta dan Fakta
  • Sebuah Dialog Mencari Kejelasan; Gus Dur Diadili Kiai-Kiai
  • Tabayun Gus Dur, Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural
  • Islam, Negara, dan Demokrasi
  • PRISMA PEMIKIRAN GUS DUR
  • Pergulatan Negara, Agama, dan Kebudayaan
  • Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser
  • Mengatasi Krisis Ekonomi: Membangun Ekonomi Kelautan, Tinjauan Sejarah dan Perspektif Ekonomi
  • Gus Dur Bertutur
  • 90 Menit Bersama Gus Dur
  • Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat
  • Khazanah Kiai Bisri Syansuri; Pecinta Fiqh Sepanjang Hayat
  • Sekedar Mendahului, Bunga Rampai Kata Pengantar
  • Umat Bertanya Gus Dur Menjawab
  • Tuhan Tidak Perlu Dibela
  • Islamku Islam Anda Islam Kita

Biografi dan Profil Samuel F.B Morse – Pencipta Telegraf dan Penemu Kode Morse

Biografi dan Profil Samuel F.B Morse Sebagai Bapak Penemu Kode Morse yang sering digunakan dalam kegiatan Pramuka

InfoBiografi.Com – Samuel Finley Breese Morse atau lebih dikenal dengan Samuel Morse merupakan seorang penemu yang berasal dari Amerika Serikat yang lahir di Charlestown, Massachusetts, Amerika Serikat pada 27 April 1791. Samuel Morse terkenal berkat temuannya yaitu Telegraf dan juga ciptaannya bersama dengan asistennya Alexander Bain yaitu alphabet khusus untuk telegraf yang disebut dengan kode Morse.

Biografi Singkat

Nama : Samuel Finley Breese Morse
Lahir: Charlestown, Boston, Massachusetts, Amerika, 27 April 1791
Meninggal: New York, Amerika, 2 April 1872
Pasangan:

  • Lucretia Walker (m. 1818–1825)
  • Elizabeth Griswold (m. 1848–1872)

Anak:

  • William Morse
  • James Morse
  • Susan Morse
  • Charles Morse
  • Edward Morse
  • Samuel Morse
  • Cornelia Morse

Profil Samuel Morse

Kehidupan Samuel Morse

Saat berumur 4 tahun, Morse sangat gemar menggambar, Ia mulai mencoba menggambar wajah gurunya. Pada saat berumur 14 tahun, Morse mencoba mendapatkan uang sakunya sendiri dengan cara menggambar wajah teman-teman serta orang-orang yang ada di kotanya.

Saat menempuh pendidikan di Yale Collage, Morse bukanlah siswa yang pandai, ketertarikan pada sains timbul pada saat ia mengikuti kuliah tentang perkembangan terbaru kelistrikan. Tapi ia lebih merasa nyaman jika ia mnggambar potret-potret miniatur.

Pada suatu hari, Morse mengirimkan surat pada orang tuanya tentang keinginan Morse yang ingin menjadi pwlukis. Orang tua Morse tidak yakin dengan pilihan anaknya yang ingin menjadi seorang pelukis, mereka berpikir apakah Morse dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menjadi seorang pelukis. Orang tua Morse lalu menyuruh Morse menjadi penjual buku dan akhirnya Morse menjadi penjual buku namun tetap saja pada malam harinya Morse tetap melukis.

Menyadari kecintaan sang anak pada dunia seni, orang tua Morse mencoba mencari dan mengumpulkan uang untuk menyekolahkan Morse di sekolah seni di London.

Saat Morse berada di Royal Academy di Londen, guru selalu mengatakan bahwa Morse selalu belum mengerjakan tugasnya hingga sekitar 20 tugas gambar yang belum ia selesaikan dan hal tersebut tetap berulang. Akhirnya morse membuat model patung herkules dari tanah liat dan sang guru menyukai karyanya tersebut dan menyuruh Morse untuk menyertakannya dalam lomba, dalam lomba yang ia ikuti ia berhasil mendapatkan mendali emas.

Pada tahun 1818, Morse menikah dan memiliki 2 putra dan seorang putri. Pada tahun 1825, sang istri meninggal dunia karena serangan jantung. Morse tidak mengetahui apa yang terjadi pada sang istri dan kapan sang istri mninggal hingga hal tersebut membuatnya hampir putus asa dalam melukis.

Setelah itu, Morse dan beberapa orang pelukis lainnya mencoba mendirikan National Academy dan ialah yang menjadi presiden. Morse bekerja melukis dari pukul tujuh pagi hingga tengah malam. Morse berhasil terpilih sebagai pelukis di ruangan bundar di Capitol, Amerika. Satu dari empat lukisan dinding yang terpajang merupakan hasil karyanya.

Pada Oktober 1832, Morse bersama anak-anak dan kakak iparnya kembali ke Eropa untuk melanjutkan kariernya dalam dunia lukis. Morse dan keluarganya berlayar pulang kembali dari Eropa dengan kapal bernama Sully. Saat itu, Morse mendengar percakapan tentang penelitian elektromagnet yang baru ditemukan, dan kemudian muncul dalam benaknya tentang konsep telegraf elektrik.

Penemuan Telegraf dan Kode Morse Serta Wafatnya Samuel Morse

Pada tahun 1835, Samuel Morse berhasil menciptakan telegraf pertamanya yang kemudian dioprasikan di gedung Universitas New York tempat ia mengajar seni. Pada tahun 1837, Morse dengan bantuan teman-temannya mengajukan hak paten atas telegraf barunya yang dilengkapi dengan penjelasan sandi yang terdiri yang terdiri dari titik dan garis yang mewakili angka dan mengubah angka tersebut menjadi kata-kata. Sandi tersebut disebut dengan Kode Morse.

Pada 24 Mei 1844, Morse mengirimkan pesan pertama melalui telegrafi Amerika, dari Washington ke Baltimore, dengan menggunakan kode Morse dengan kata: “What hath God wrought”.

Pada 2 April 1872 di New York, pada usia 80 tahun Morse meninggal dunia akibat penyakit pneumonia yang dideritanya. Kemudian Ia dimakamkan di pemakaman Greenwood, Brooklyn.

Kode Morse
Kode Morse