Biografi Dan Profil Lengkap Adam Malik Wakil Presiden Ke-3 RI – Pelopor Terbentuknya ASEAN

Posted on

 Biografi dan Profil Lengkap Adam Malik Sebagai Wakil Presiden ke-3 RI dan Sebagai Pelopor Terbentuknya ASEAN – Pendidikan, Karir, Penghargaan dan Wafatnya Adam Malik

InfoBiografi.Com – Adam Malik Batubara atau lebih dikenal dengan Adam Malik merupakan pahlawan nasional indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri indonesia di beberapa depertemen diantaranya Ia pernah menjadi menteri luar negeri, selain menjadi menteri, adam malik juga pernah menjabat sebagai wakil presiden indonesia yang ketiga yang menjabat dari 23 Maret 1978 – 11 Maret 1983 pada masa pemerintahan presiden Soehato. Adam Malik merupakan putra dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis yang lahir di Pemantangsiantar, Sumatera Utara pada tanggal 22 Juli 1917. Adam Malik meninggal dunia pada 5 september 1984 di Bandung, Jawa Barat.

Profil Singkat

Nama: Adam Malik Batubara
Lahir: Pematangsiantar, 22 Juli 1917
Meninggal: Bandung, 5 September 1984
Ayah: Abdul Malik Batubara
Ibu : Salamah Lubis
Pasangan: Nelly Adam Malik (m. 1942–1984)
Anak: Otto Malik, Antarini Malik, Imron Malik, Budisita Malik, Ilham Malik

Latar Belakang dan Pendidikan Adam Malik

Adam Malik merupakan anak ketiga dari 10 bersaudara dari pasangan Abdul Malik Batubara dan Salamah Lubis. Ayah Adam Malik adalah seorang pedagang kaya di Pemantangsiantar. Adam Malik sangat gemar membaca, menonton film koboi dan juga gemar pada dunia fotografi.

Adam Malik menjalani pendidikan dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School) Pematangsiantar, kemudian Ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Agama Madrasah Sumatera Thawalib Parabek di Bukittinggi, tapi pendidikannya disana hanya ia jalani selama 6 bulan saja, Ia pulang ke kampungnya dan membantu orangtuanya berdagang.

Memulai Karier Politik

Saat masih berumur belasan tahun, pada tahun 1934 Adam Malik pernah di tangkap polisi Dinas Intel Politik dan ditahan selama 2 bulan karena Ia melanggar larangan perkumpulan. Saat berumur 17 tahun, Adam Malik sudah menjabat sebagai ketua Partindo di Pematangsiantar dari 1934 hingga 1935.

Keinginannya untuk maju dan berbakti pada bangsa mendorong Adam Malik untuk merantau ke Jakarta. Pada usia 20 tahun, Ia bersama dengan Soemanang, Sipahutar, Armijn Pane, Abdul Hakim, dan Pandu Kartawiguna memelopori berdirinya Kantor Berita Antara yang berada di Buiten Tijgerstraat 38 Noord Batavia (Jl. Pinangsia II Jakarta Utara) kemudian pindah ke Jalan Pos Utara 53 Pasar Baru, Jakarta Pusat. Dalam kantor tersebut Adam Malik menjabat sebagai Redaktur sekaligus Wakil Direktur.

Pada tahun 1940-1941 menjadi anggota Dewan Pimpinan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) di Jakarta. Pada 1945, menjadi anggota Pimpinan Gerakan Pemuda untuk persiapan Kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Pada tahun 1945, Ia menjadi anggota Pimpinan Gerakan Pemuda untuk persiapan kemerdekaan Indonesia di Jakarta.

Pada zaman pendudukan Jepang, Adam Malik aktif dalam bergerilya dalam gerakan pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Demi mendukung kepemimpinan Soekarno-Hatta, Adam Malik menggerakkan rakyat untuk berkumpul di lapangan Ikada, Jakarta. Adam Malik yang berperan sebagai perwakilan golongan pemuda dan juga sebagai pimpinan Komite Van Aksi, Adam malik terpilih sebagai Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat atau KNIP mulai dari tahun 1945 hingga 1947. KNIP tersebut memiliki tugas untuk mempersiapkan susunan pemerintahan Indonesia. Selain itu, Adam Malik juga merupakan pendiri dan anggota dari Partai Rakyat, pendiri Partai Murba, dan juga anggota parlemen.

Pada Akhir tahun 50-an, Adam Malik masuk pemerintahan sebagai duta besar luar biasa yang berkuasa penuh untuk Polandia dan Uni Soviet atas penunjukan oleh Ir. Soekarno. Kemudian, pada tahun 1962, Adam malik menjadi ketua Delegasi RI dalam perundingan Indonesia dengan Belanda untuk penyerahan Irian Barat karena kemampuannya berdiplomasi. Setelah itu, Adam Malik menjabat sebagai Menko Pelaksana Ekonomi Terpimpin. Saat terjadinya pengaruh Partai Komunis Indonesia yang menguat, Adam Malik bersama Roeslan Abdulgani dan Jenderal Nasution dianggap musuh PKI, mereka dicap sebagai trio sayap kanan yang kontra revolusi.

Pada saat terjadi pergantian rezim pemerintahan Orde Lama, posisi bersebrangan dengan kelompok kiri yang dipilih Adam Malik justru menguntungkan dirinya. Pada tahun 1966, Adam disebut-sebut dalam trio baru Soeharto-Sultan-Malik. Pada tahun yang sama, melalui televisi, Adam Malik menyatakan keluar dari Partai Murba, karena pendirian Partai Murba yang menentang masuknya modal asing. 4 tahun kemudian, Adam Malik bergabung dengan partai Golkar. Mulai dari tahun 1966 hingga 1977 Adam Malik menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri II / Menlu ad Interim dan Menlu RI.

Adam Malik yang menjadi Menlu dalam pemerintahan Orde Baru, memiliki peranan penting dalam berbagai perundingan dengan negara-negara lain termasuk rescheduling utang Indonesia peninggalan Orde Lama. Bersama dengan Menlu negara-negara ASEAN, Adam Malik mempelopori terbentuknya ASEAN tahun 1967. Adam Malik pernah dipercaya menjadi Ketua Sidang Majelis Umum PBB ke-26 di New York dan dia merupakan orang Asia kedua yang pernah memimpin sidang lembaga itu. Pada tahun 1977, Adam Malik terpilih menjadi Ketua DPR/MPR. Setelah tiga bulan, Ia terpilih menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia yang ke-3 menggantikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Wafatnya Adam Malik Dan Penghargaan Yang Diberikan Padanya

H.Adam Malik meninggal dunia di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever yang dideritanya. Jasad Adam Malik kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Sepeninggalannya, Istri dan juga anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum bernama Museum Adam Malik. Pemerintah juga memberikan berbagai tanda kehormatan. Atas jasa-jasanya, Adam Malik dianugerahi berbagai macam penghargaan, di antaranya adalah Bintang Mahaputera kl. IV pada tahun 1971, Bintang Adhi Perdana kl.II pada tahun 1973, dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1998.

Karir Adam malik

  • Wakil Ketua III Komite Nasional Indonesia Pusat (29 Agustus 1945 – Februari 1950)
  • Menteri Perdagangan Indonesia ke-15 (13 November 1963 – 27 Agustus 1964)
  • Menteri Luar Negeri Indonesia ke-11 (28 Maret 1966 – 23 Maret 1978)
  • Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ke-7 (1977–1978)
  • Wakil Presiden Indonesia ke-3 (23 Maret 1978 – 11 Maret 1983)

Penghargaan Adam Malik

  • Bintang Mahaputera kl. IV pada tahun 1971
  • Bintang Adhi Perdana kl.II pada tahun 1973
  • Pahlawan Nasional pada tahun 1998

Pendidikan Adam Malik

  • Hollandsch-Inlandsche School Pematangsiantar
  • Sekolah Agama Parabek di Bukittinggi